
...HAPPY READING...
...----------------...
Diandra terkekeh ketika melihat wajah Radit memerah, merasa ketakutan akibat ulah ibunya.
“Momy, kasihan Anak orang mau mati Momy kerjain!” ucap Diandra terkekeh.
Radit sangat kesal lantaran dia merasa terdzolimi oleh sikap genit ibunya Diandra.
“Hahaha... maaf, Tante enggak serius kok Dit! Tante hanya menguji kamu saja, sebagai teman kencan Anak Tante, kamu cukup baiklah!” seru Sessi terkekeh melihat wajah ketakutan dari Radit, setelah ia menilanya.
“Huh. Untung saja Tante orang tua, kalau tidak saya sudah sangat marah!” ujar Radit.
“Ya sudah ayo kita pergi, jadi kan kita ke rumah Nenek kamu?” ujar Diandra.
“Jadilah, saya sudah membayarmu!” ketus Radit.
Kemudian mereka pergi, menuju basement, sementara Melissa mengikuti mereka, lantaran Melissa sangat cemburu dengan Diandra yang dikiranya adalah Andara.
‘Andara? Lagi-lagi dia! Enggak di Istanbul, sekarang di Jakarta. Dia pun terus saja nempel-nempel dengan Radit,' ucapnya dalam hati.
Melissa mengetik sesuatu di ponsel, mengklik salah satu aplikasi layangan jasa rental mobil, sengaja dia pesan setelah tahu Radit akan mengenalkan pacarnya itu ke nenek yang bernama Milloma.
Kini Radit sudah berada di dalam mobil, segera keluar dari basement menuju mansion mewah milik nenek angkatnya, Milloma.
“Ingat ya, setelah di sana kamu panggil aku sayang, dan satu lagi. Kamu harus mengaku dirimu Andara, bukan Diandra, kamu paham kan!” ujar Radit.
Diandra tidak terima dengan perintah Radit, mengharuskan dirinya berpura-pura jadi orang lain.
“Kenapa aku harus mengaku namaku Andara? Kalau untuk memanggilmu sayang it’s oke itu tidak masalah, tapi kalau harus jadi orang lain aku tidak mau!” tukasnya.
“Hey... kamu saya bayar, jadi kamu harus nurut apa perintah saya. Lagi pula ini hanya kali ini saja!” ucap Radit.
“Ingat ya, saya tidak mau di bantah, paham!” sentak Radit.
“Iya-iya, saya paham,” ucap Diandra dengan segala kekesalannya.
‘Huh. Menyebalkan sekali orang ini,' batinnya.
Sementara Melissa masih terus mengikuti, tanpa Radit sadari Melissa menguntitnya.
Hingga Radit memasuki kawasan elit di daerah Jakarta Selatan.
__ADS_1
Mata Diandra terbelalak membulat sempurna, setelah di suguhi pemandangan mansion megah bergaya Eropa.
“Ayo cepat turun, kamu mau di sini terus? Ingat ya kamu ini saya bayar!” tukasnya menyadarkan lamunan Diandra.
“Iya saya juga tahu Anda membayar saya untuk ini!” seru Diandra melangkahkan kaki jenjangnya, dari dalam mobil.
Sementara Radit telah melangkah lebih dulu, meninggalkan Diandra yang sedikit kesusahan berjalan, akibat high heel’snya.
“Tuan, apa kau tidak ingin menggandengku!” teriak Diandra memanggil Radit.
Seketika langkah Radit terhenti, berbalik menghampiri Diandra lagi.
“Sudah kukatakan, jangan panggil aku Tuan, panggil aku sayang. Nanti penyamarannya terbongkar!” ucap Radit berbisik di telinga Diandra penuh penekanan.
“Iya maafkan saya, bukannya agar terlihat lebih meyakinkan, kau harus menggandeng saya,” ujar Diandra mencari alasan yang tepat dalam meminta bantuan, agar tak terdengar memohon.
Radit terdiam, berusaha mencerna ucapan Diandra yang terdengar memerintah, setelah ia menelaah omongan Diandra cukup masuk akal baginya.
“Idemu cukup bagus, ayo gandeng tangan saya,” ucap Radit menyodorkan tangannya.
Padahal sebenarnya Diandra memang sengaja, melakukan itu lantaran dia kesusahan dalam melangkahkan kakinya.
‘Tumben Pria menyebalkan ini menurut,' batinya terkekeh.
KLEK. Suara pintu terbuka, seorang nenek tua namun masih terlihat cantik menyambut kedatangan mereka.
“Akhirnya kalian datang juga,” ucap Milloma menyambut kedatangannya.
“Iya Nek, maafkan kami. Kami telat sedikit,” ujar Radit, lalu memperkenalkan Diandra pada neneknya.
“O-iya... kenalin Nek, ini Andara. Dia sudah jauh-jauh loh dari Istanbul hanya untuk bertemu dengan Nenek,” ucap Radit seraya tersenyum.
“Owh, begitu rupanya!” ujar Milloma.
“Tapi kok, Nenek rasa perah lihat dia di mana yah?” ucap Milloma sambil berpikir.
Namun dengan segera Radit meyakinkan neneknya, bahwa kekasihnya itu memang Andara dari Turkey.
“Pastilah Nenek pernah lihat dia, Andara kan model internasional Nek!” seru Radit meyakinkan Milloma.
Diandra yang kesal dengan ulah Radit, akhirnya ia ikut bicara.
“Tentu Oma pernah melihat saya, banyak orang bilang saya mirip Diandra yang cantik itu, artis multitalenta asal indo,” kata Diandra memuji dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara Radit, menatap Diandra sampai memelototinya, agar tidak bertindak sesukanya, tapi Diandra tidak memedulikan sikap Radit.
“Ah ya, betul sekali Diandra yang artis peran itu kan yah,” ujar Milloma.
“Iya Oma, Diandra artis peran itu, saya suka dengan aktingnya yang memukau Oma, bahkan dia terkenal hingga ke mancanegara,” ucapnya lagi-lagi memuji dirinya sendiri.
Radit yang tidak terima akan hal itu, langsung menimpali lagi perkataan Diandra.
“Ah enggak sayang, menurutku lebih keren kamulah. Secara kamu kan model internasional, Diandra mah apaan hanya butiran debu, jauh dari kamu apa coba prestasinya Diandra dia artis modal tampang doang, pasti itu wajahnya tiruan,” ledek Radit terhadap Diandra.
Kemudian Diandra membalas lagi ledekkan Radit terhadap, dirinya.
“Tapi aku suka sama Diandra sayang, dia banyak kok prestasinya. Dia cantik energik, sedangkan aku jauh deh dari kata itu!” tukasnya.
“Aduh... kenapa kalian jadi bahas soal artis itu si, itu tidak penting. Yang terpenting ayo kita masuk dan makan bersama!” ujar Milloma mengajak Radit dan Diandra untuk masuk.
Diandra di suguhkan dengan kekagumannya lagi, pemandangan yang sangat fantastis baginya, bisa melihat meja makan yang panjang bak di dalam cerita kerajaan berlatar di Eropa.
Hidangan sangat lezat menggoda jiwa bar-barnya.
KRIUK-KRIUK. Suara panggilan alam menyadarkan Milloma dan Radit, menoleh secara bersamaan kepada Diandra.
“Kamu lapar?” tanya Milloma terhadap Diandra, yang dikiranya Andara.
Diandra hanya nyengir, sambil menggaruk tangannya yang tak gatal, sementara Radit sangat kesal dengan tindakan Diandra yang memalukan baginya.
“Maaf Nek, beginikah Andara dia memang kampungan ketika sedang lapar,” ucap Radit, menatap datar pada Diandra.
‘What’s, kampungan? Dasar Pria gila, seenaknya saja dia mengataiku,' batin Diandra kesal.
“Enggak apa-apa kampungan itu wajar, Nenek juga dulu kampungan kok,” ucap Milloma terkekeh.
“Ayo Andara, silakan duduk. Kita makan bersama, habiskan makanan yang sudah Nenek hidangkan untuk kalian santap,” kata Milloma dengan raut wajah gembira.
“Iya Nek, Diandra pasti habiskan, kalau boleh nanti pas pulang Diandra bungkus yah!” ucap Diandra keceplosan, membuka jati dirinya di hadapan Milloma.
Mata Radit membulat sempurna, ketika Diandra melontarkan kata-katanya, Diandra yang sadar dengan ulahnya, langsung melarat ucapannya.
“Maksud Andara, terkadang saya merasa seperti ingin jadi Diandra yang multitalenta itu, Oma!” ralatnya seraya tersenyum.
“Owh begitu, lebih baik jadi diri sendiri sayang. Nenek suka kok dengan gaya kamu yang blak-blakan seperti ini, semoga kamu berjodoh dengan Cucu Nenek ini,” ucap Milloma tersenyum.
Radit menghela nafasnya lega, setelah melihat Milloma tidak mencurigai gerak-gerik Diandra, yang berbanding terbalik dengan tingkah Andara kekasihnya, yang tinggal di Istanbul Turkey.
__ADS_1
‘Huh... untung saja,' batin Radit menghela nafasnya lega.