Diandra

Diandra
Bab 40


__ADS_3

Tok Tok Tok


"Masuk"


"Maaf Bu, ada tamu untuk Ibu"


Dian menatap sekertarisnya, "Bukankah aku tidak ada janji temu dengan siapapun hari ini?"


"Benar Bu. Tapi tamu ini memaksa ingin bertemu dengan Anda"


"Baiklah. Suruh dia masuk"


Dian kembali mengecek laporan persiapan pembukaan cabang hotel miliknya. Tak lama, wanita itu menatap ke arah pintu ketika mendengar pintu terbuka. Netranya cukup terkejut melihat siapa yang datang.


"Ada angin apa seorang pengusaha terkenal seperti Anda datang menemui saya, Tuan Aditama" tanya Dian sinis


Aditama menatap putrinya, "Papa ingin-"


"Papa? Apa aku tidak salah dengar? Anda baru saja mengatakan Papa? Papa siapa yang Anda maksud? Saya tidak punya Papa sejak beberapa tahun yang lalu!" potong Dian cepat


Deg


Perih. Tentu saja. Sebagai seorang Ayah yang masih hidup tapi keberadaannya tidak di akui, tentu saja Aditama merasa sedih. Tapi Dian memang pantas berkata demikian. Aditama memang bukankah Papa yang baik. Dia bahkan meninggalkan Dian dan Denata begitu saja. Tanpa nafkah, tanpa kabar. Pantas jika Dian menganggapnya sudah mati.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu" ucap Aditama lirih


"Sepuluh menit. Silahkan bicara hal yang penting saja. Saya sibuk!" Dian berkata dengan angkuh


Aditama duduk di sofa, sementara Dian masih duduk di kursinya. Perempuan itu enggan menghampiri Papanya. Hanya tatapan dingin yang Dian berikan pada pria yang dulu menjadi cinta pertamanya itu.

__ADS_1


Aditama menghela nafas, "Mungkin ini terdengar egois, tapi kalau boleh aku meminta, bisakah kamu membatalkan pernikahanmu dengan Gama"


Deg


Dian menatap Aditama tak percaya. Setelah bertahun - tahun membuatnya terluka. Menjadikannya seorang gadis yang tidak memiliki kasih sayang serta sosok seorang ayah. Kini tanpa malu Aditama datang dan meminta Dian membatalkan pernikahannya. Meski tujuan Dian menikahi Gama hanya untuk membuat Cilla terluka. Tapi melihat Aditama rela datang dan memohon padanya seperti ini, Dian yakin jika Aditama benar - benar menyayangi putri hasil selingkuhannya itu. Padahal jika pria itu ingat, Dian juga putrinya.


"Anda ingin saya membatalkan pernikahan saya? Atas dasar apa Anda berhak meminta hal itu?!"


Aditama menatap Dian, "Putriku-" pria itu menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah Dian berubah. "Cilla mencintai Gama"


Dian tertawa masam, "Wah ... Rupanya ada seorang Ayah yang sedang memperjuangkan cinta putrinya. Aku jadi terharu" Dian beranjak dari kursinya. Wanita itu berjalan ke arah sofa lalu duduk di seberang Papanya. Calon istri Gama itu menatap lekat Papanya. Benci, rindu, kecewa, marah, semua bercampur menjadi satu.


"Baiklah. Aku akan membatalkan pernikahanku dengan Gama", Aditama menatap Dian tak percaya, seulas senyum terbit dari bibirnya. Rupanya putri pertamanya itu masih baik hati seperti dulu. Dian selalu mementingkan kebahagiaan orang lain di banding dirinya sendiri. "Tapi aku mau Anda menyerahkan kepemilikan perkebunan Anda seluruhnya pada saya!"


Deg


Senyum tadi luntur bercampur rasa kaget yang luar biasa. "K-kamu minta seluruh perkebunan?"


Aditama terlihat menghela nafas, sungguh pilihan yang berat. Tapi sebagai seoarang Ayah, kebahagiaan putrinya jauh lebih penting daripada harta. "A-aku akan memberikan yang kamu minta"


Lagi - lagi Dian menatap Papanya tak percaya. Wanita cantik itu tertawa miris. "Anda rela kehilangan semuanya hanya untuk di tukar dengan satu kebahagiaan?"


"Seorang Ayah pasti rela melakukan apapun demi putrinya"


Duar


Hancur sudah perasaan Dian. Kekecewaannya pada Aditama semakin menjadi. Setelah sekian lama, bukan kata rindu yang pria itu ucapkan. Lagi! Sekali lagi pria di hadapannya menusuk dirinya dengan belati tajam tak kasat mata. Sakit tak berdarah yang begitu memilukan.


"Hebat! Sangat hebat. Aku salut dengan pengorbanan Anda Tuan Aditama. Anda adalah Papa terbaik untuk Cilla. Dia pasti bangga memiliki Papa seperti Anda. Orang di luar sana pun akan berpikir bahwa Anda adalah Papa terbaik yang ada di dunia ini. Tapi bagi saya-"

__ADS_1


Aditama menatap lekat putrinya, putri yang dia sia - siakan selama bertahun - tahun.


"Bagi saya, Anda tak lebih seperti seorang pecundang!"


Deg


"Anda pria terjahat di muka bumi ini!" tatapan Aditama berubah sendu, "Anda sadar sedang berbicara dengan siapa? Meski saya membenci Anda, saya marah pada Anda! Tapi dalam diri saya tetap mengalir darah Anda kalau Anda lupa!!"


Deg


Tubuh Aditama bergetar, hatinya seketika merasa bersalah pada Dian. Ia pikir, masalah ini akan mudah. Aditama beranggapan, Dian rela melepas calon suaminya untuk adiknya sendiri. Ia lupa jika apa yang ia lakukan akan menyakiti perasaan Dian.


"Setelah sepuluh tahun, Anda datang hanya untuk menghancurkanku lagi. Seorang Ayah datang meminta kebahagiaan putrinya pada putrinya yang lain? Ah bukan, bukan putrinya yang lain. Istilah yang tepat adalah putri yang sudah Anda buang! Putri yang Anda tinggalkan begitu saja tanpa nafkah! Putri yang tanpa pernah Anda lihat sama sekali keadaannya! Anda sungguh tidak tahu malu Tuan Aditama! Anda luar biasa kejam!"


Aditama tak mampu berkata apa - apa lagi. Hanya tatapan sendu yang dia berikan.


"Dengarkan aku Tuan Aditama yang terhormat. Aku ... Diandra Veronica Abraham, tidak akan pernah membatalkan pernikahanku dengan Gama Mahaditya! Aku tidak akan memberikan milikku pada orang lain! Dan aku pastikan, aku tidak akan mengulang kisah pilu Mama kandungku! Jika putrimu berusaha menjadi istrimu seperti di masa lalu. Maka aku tidak akan segan - segan membuatnya lenyap dari dunia ini!"


"Di ... Kenapa kamu berubah menjadi seperti ini? Diandra yang aku kenal bukanlah wanita yang jahat"


Dian tertawa, "Semua orang bisa berubah, Tuan. Pengalaman hidup mengajarkan kita banyak hal! Bukankah hidup itu kejam?! Anda tentu tidak lupa jika Anda rela menelantarkan istri dan anak Anda demi wanita lain. Istri Anda yang sering di puji dan di sanjung orang tak lebih dari pelakor yang merebut kebahagiaan saya dan Mama! Jadi, persetan dengan penderitaan yang putri Anda alami! Aku tidak peduli, sama seperti Anda yang tidak peduli dengan kehidupanku sepuluh tahun ini"


"Nak-"


"Silahkan pergi dari sini! Waktu Anda sudah habis!"


Aditama menghela nafas, pria itu berdiri. Menatap sekali lagi putri pertamanya itu, lalu mulai melangkah keluar.


"Silahkan coba untuk menggagalkan pernikahan saya. Dan saya pastikan, putri kesayangan Anda tidak akan pernah melihat dunia lagi!"

__ADS_1


Deg


Aditama melangkah dengan lemas, "Dan satu lagi!" pria paruh baya itu menghentikan langkahnya. "Katakan pada istri tercinta Anda. Jangan menjadi wanita tamak. Cukup Anda saja yang dia ambil. Gama, aku tidak akan pernah melepaskannya!"


__ADS_2