Diandra

Diandra
Masalah


__ADS_3

Sinar matahari menembus langsung kaca kamar Dirga setelah Bi Siti membuka gorden jendelanya. Dirga sendiri masih terlentang di tempat tidurnya dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Dirga menggeliat ketika membuka matanya perlahan, sinar matahari itu memancar tepat ke arah matanya.


“Bangun, udah pagi. Nak Dirga sekolah sana,” suruh Bi Siti.


“Emang sekarang jam berapa, Bi?” tanya Dirga. Kedua matanya sudah terbuka lebar.


“Udah jam enam, bangun cepat.”


Dirga beranjak dari kasurnya, dia tidak perlu jauh-jauh turun ke lantai satu untuk pergi ke kamar mandi, di kamarnya ini sudah tersedia kamar mandi pribadinya sendiri, jadi setiap harinya dia mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya. Sudah sekitar dua mingguan Dirga hanya tinggal bersama Bi Siti di rumah sebesar ini. Bagi sebagian orang mungkin akan senang berada di rumah sebesar ini sendirian atau berdua dengan orang lain selain orang tua, bisa melakukan apa pun bebas gak akan ada yang melarang, tapi bagi Dirga ini tidak seperti yang orang bayangkan. Dia sendiri bahkan sudah muak dengan kesunyian di rumahnya, kalaupun itu ramai, pasti sedang ada keributan.


Segera Dirga menuju kamar mandinya setelah Bi Siti keluar dari kamarnya. Dengan santai Dirga mandi sambil bernyanyi-nyanyi gak karuan. Dia tidak menghiraukan jam yang terus berputar, hingga dia sendiri pun sadar kalau harus pergi ke sekolah hari ini. Dengan tergesa-gesa Dirga segera mandi.


Keluar dari kamar mandi, Dirga langsung mengambil seragam sekolahnya. Dirga berpakaian seperti biasanya ketika mau pergi ke sekolah. Dia mengambil ponsel dan kunci mobilnya yang terletak di atas meja, lalu turun menuju garasi rumahnya.


Setelah berada di dalam mobil, Dirga menyalakan mesin mobilnya, kemudian dia langsung pergi meninggalkan rumahnya menuju sekolahan. Dengan kecepatan standar Dirga mengendarai mobil di sepanjang jalan.


***


“Ehh, lo lihat Dirga, nggak?” tanya Ayu pada Udik yang baru saja masuk kelas.


Udik celangak-celinguk melihat di sekitarnya. “Mungkin dia belum datang kali. Lo tungguin aja, kalau gak ada, ya, Dirga pasti bolos lagi. Kan, mudah,” ucap Udik dengan santainya.


Ayu menepuk kepala Udik secara refleks setelah Udik asal bicara di hadapannya. “Lo kan temannya, masa gak tahu Dirga masuk apa nggak.”


“Kami kan gak serumah, wajar kalau gue gak tahu.”


Rafika berjalan memasuki kelas dengan senyum semringah ditunjukkan pada teman-temannya. Ada apa hari ini dengan Rafika? Rafika terlihat senyum-senyum sendiri kurang jelas, Ayu pun dibuat bingung. Rafika menyuruh Ayu untuk keluar dari kursinya agar dia bisa duduk di kursinya. Ayu keluar, dan Rafika langsung duduk di kursinya. Senyumnya sekarang sudah memudar ketika melihat kursi bagian belakang di samping Udik masih kosong.


“Dik, sebelah lo mana?” tanya Rafika pada Udik yang sudah duduk di kursinya.


“Gak tahu gue. Ehh, hari ini ada apaan, kok kalian berdua nanyain Dirga?” tanya balik Udik penasaran.


“Gak apa-apa, wajarlah kalau teman nanyain teman lainnya.” Rafika kembali menghadap ke depan.


Beberapa saat kemudian orang yang mereka cari berjalan memasuki kelas. Dirga baru saja datang berdua dengan Rahman. Semua murid menyapa Dirga yang datang dengan tampilan kerennya, tapi menurut Ayu gak keren sih kalau baju dikeluarkan. Dirga tersenyum pada mereka semua. Rahman berjalan menuju kursinya, sedangkan Dirga masih berdiri di dekat meja Ayu.


“Pagi, Dirga. Lo hari ini keren, Di,” puji Ayu akan penampilan temannya itu yang terlihat keren. “Tapi bajunya dimasukkan, nakalnya jangan kelihatan banget, Di.”


“Ahh, setiap hari juga cara berpakaian gue gini mulu, Yu,” bela Dirga pada dirinya sendiri.


“Dasinya benerin tuh, Di.”


Dirga menatap dasinya yang menurut Ayu kurang rapi. Dirga hendak merapikan dasinya dengan sendiri, namun Rafika secara langsung membantunya untuk merapikan dasi itu. Dirga tercengang melihat keberanian Rafika yang langsung merapikan dasinya. Tidak ada orang yang menyuruh Rafika untuk membantu Dirga merapikan dasinya, itu murni inisiatif dia sendiri.


“Udah,” ucapnya setelah selesai merapikan dasi Dirga. “ Besok rapikan sendiri dasi lo, Di,” lanjut Rafika. Dia tersenyum sebentar di hadapan Dirga yang masih terdiam.


“Assalamualaikum,” sapa guru yang baru saja masuk ke kelas mereka.


Spontan Dirga langsung tersadar dari lamunannya, dia segera menuju kursinya untuk mengikuti pelajaran hari ini.


Seperti hari-hari biasanya, Dirga hanya mengeluarkan buku dan alat tulis tanpa menyentuhnya sama sekali. Sekarang dia lebih memilih bermain game di ponselnya secara diam-diam. Tasnya ditaruh ke atas meja agar posisinya saat bermain game tidak begitu terlihat, sesekali juga Dirga seolah-olah sedang mencatat sesuatu di bukunya, padahal itu tidak benar dilakukan.


Rafika hari ini mulai memperhatikan Dirga, hal itu menjadikan Dirga sendiri seperti anak kecil yang belum tahu cara berpakaian rapi saat di sekolah. Namun, Dirga tidak marah akan sikap yang ditunjukkan Rafika padanya, tapi itu sedikit berlebihan karena Dirga tidak terlalu suka diperhatikan berlebihan.


Kalau lo emang mau jadi teman dekat gue, lo harus tahu apa yang harus lo lakuin agar gue nyaman berteman sama lo, ucap Dirga dalam hati sambil menatap ke arah Rafika yang sedang fokus menyalin materi di papan tulis.


Dirga sendiri masih terfokus pada ponsel miliknya, namun sekarang dia tidak lagi bermain game, dia hanya membuka whatsapp. Dirga membaca status dari beberapa kontak yang ada di whatsapp-nya, termasuk juga status yang ditulis oleh Rafika.


“Jangan pernah memendam masalah itu sendirian, atau lo akan menjadi sulit menjalani kehidupan”


Status yang ditulis Rafika itu sama seperti masalah yang saat ini sedang dialami oleh Dirga. Entah itu status memang ditujukan untuk dia, atau Rafika menulisnya hanya sekadar iseng. Pastinya kehidupan Dirga saat ini memang sangat sulit, terbukti setiap saat dia harus memikirkan masalah keluarganya, belum lagi ditambah masalah pribadinya sendiri. Kebebasan yang dia inginkan bukan memiliki segalanya tanpa ada yang melarang, tapi kebebasan untuk merasakan bahagia di lingkungan keluarga. Hanya itu yang Dirga harapkan sampai saat ini.


Sepanjang pelajaran berlangsung Dirga sama sekali tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar, dia asyik dengan kesibukannya sendiri. Tidak ada temannya yang berani menegur dia kecuali ketahuan guru yang sedang mengajar, karena Dirga akan lebih marah kepada temannya kalau dia diganggu saat sedang nyaman. Ponsel memiliki waktu yang banyak bersama Dirga setiap harinya, di rumah atau di sekolah sama saja, Dirga terus menyibukkan diri dengan ponselnya sendiri. Hal itulah yang terkadang membuat teman-temannya merasa kesal dengan Dirga saat lagi berkumpul atau ngobrol.


***


Sekarang sudah jam pulang sekolah. Dirga langsung menuju parkiran setelah tadi berpamitan dengan teman-temannya bahwa dia akan pulang duluan. Dirga langsung masuk ke mobilnya, dia memutar mobilnya dan segera meninggalkan area sekolah.


Sesampainya di rumah, Dirga sudah dibuat kurang nyaman dengan keributan kedua orang tuanya yang entah kapan pulang dari kerjaannya, Dirga menerobos kedua orang tuanya yang sedang bertengkar di ruang tamu, dia bergegas menuju kamarnya.

__ADS_1


“Lihat itu sikap anakmu! Dia sama sekali gak pedulikan orang tuanya! Ini semua gara-gara kamu yang gak pernah ada waktu buat Dirga!”


“Jangan salahin aku dong. Coba kamu mikir sendiri, kamu juga baru pulang dari luar kota, mana pernah perhatian sama Dirga. Bisanya cuma marah, marah, dan marah.”


Dari kamar pun Dirga masih saja mendengar kedua orang tuanya bertengkar. Suasana saat ini sungguh mengganggu perasaannya, Dirga tidak bisa berlama-lama tinggal di rumah ini kalau ada kedua orang tuanya. Dia mengganti pakaiannya, dan langsung turun menuju Papanya yang sedari tadi memanggil dia.


“Ada apa, Pa?” tanya Dirga tanpa melihat wajah Papanya.


“Ini kamu lihat! Lihat ini!” Papanya menunjukkan beberapa amplop surat panggilan yang menumpuk kepada Dirga.


“Udah, nggak usah repot-repot dateng, itu gak penting, Pa,” jawab Dirga dengan beraninya.


“Mau berapa kali Papa bilang, jangan membuat masalah di sekolah!” Papanya terus membentak dia tanpa tahu kenapa Dirga mendapatkan surat panggilan itu.


Tindakan Dirga kali ini sangat berani, dia mengambil beberapa amplop surat panggilan itu dari tangan Papanya. Berjalan mendekati tempat sampah yang ada di depan rumahnya, Dirga membuang semuanya tanpa banyak bicara lagi. Kemudian dia kembali lagi ke hadapan Papanya.


Wulandari, mama Dirga, hanya terdiam melihat kelakuan anaknya yang begitu. Dia sudah pusing dengan semua permasalahan yang terjadi di keluarganya. Duduk di sofa mencoba menenangkan dirinya sendiri.


“Mama mau ke kamar dulu,” ucapnya sesaat, lalu menuju kamarnya karena pusing mendengarkan ocehan dari suaminya terus-menerus.


“Terserah kamu!” hardik Bastian, papa Dirga..


“Selesai, kan? Jadi Papa gak perlu dateng ke sekolah untuk menghadiri surat panggilan itu! Dirga gak akan buat Papa repot-repot dateng ke sekolahan minta agar anaknya dimaafkan karena sudah berbuat salah. Gak perlu, Pa,” ucap Dirga di hadapan Papanya.


Setelah Dirga dengan berani mengatakan hal itu, Bastian dengan emosi hampir saja menampar Dirga. Beruntung saja dia masih bisa menahan tangannya yang saat ini ingin sekali menampar mulut anaknya itu, tapi dia sadar karena Dirga anak satu-satunya mereka.


“Kenapa gak jadi, Pa? Silakan, silakan kalau mau nampar Dirga! Dirga terima!” Mata Dirga mulai berkaca-kaca setelah dia hampir saja mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan.


Dirga kembali ke kamarnya. Dia mengambil beberapa pakaian sehari-harinya, dan juga seragam sekolahnya, Dirga memasukkan semuanya ke dalam tas. Kemudian dia turun lagi. Tanpa pamit terlebih dahulu, Dirga pergi begitu saja dari rumahnya dengan menggunakan mobilnya. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, Dirga tidak lagi mengkhawatirkan keselamatannya. Pemikirannya saat ini sangat kacau. Dirga terus menambah kecepatan mobilnya.


Walaupun Bastian bukan orang tua kandungnya, tapi Dirga tetap menganggap dia sebagai orang tuanya. Dirga tidak mau kalau Wulandari, mamanya, kembali harus merasakan kegagalan dalam berumah tangga seperti dulu. Cukup satu kali Dirga melihat orang tuanya kecewa karena sudah gagal membina rumah tangga bersama papa kandungnya. Dirga tidak menyangka kalau suami mamanya yang sekarang ini ternyata kelakuannya hampir sama seperti orang tuanya dulu, selalu marah-marah, hanya mementingkan kerjaan, tidak pernah ada waktu untuk keluarga, selalu menyalahkan orang lain, tidak pernah ingin mengalah―imbasnya pada Dirga sendiri, dia kurang diperhatikan.


Hal yang juga dibenci oleh Dirga adalah perubahan sikap mamanya. Dulu, Wulandari sangat perhatian pada Dirga, apa pun akan dia lakukan untuk anaknya, apa pun akan dituruti asal Dirga senang, tapi sekarang sifatnya sama saja seperti suaminya yang sekarang ini. Broken home membuat Dirga kurang mendapatkan perhatian, dia harus mencari kebahagiaan di luar rumah dengan melakukan hal-hal yang menurutnya menyenangkan, membuat dia nyaman.


Dirga ternyata menuju kosan Rahman. Dia memarkirkan mobilnya di depan kosan Rahman, lalu keluar dari mobil dan langsung duduk di kursi yang berada di teras. Tidak lama kemudian Rahman keluar karena sudah mengetahui bahwa ada Dirga yang datang.


Rahman menatap Dirga dengan khawatir.


“Udah lo gak usah tahu, Man,” jawab Dirga.


“Gue nanyanya serius, Di. Kalau ada masalah ceritain, jangan dipendam sendirian.” Rahman terus membujuk Dirga agar menceritakan permasalahan yang sedang dia alami.


Wajah Dirga masih terlihat murung, melamun sendirian tidak jelas. Kesal? Pasti! Dirga pasti sangat kesal dengan kejadian di rumahnya tadi, dia bahkan tidak tahu setelah ini mau ngapain lagi. Dirga mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Bukan ini yang gue mau” Dirga menuliskan status di whatsapp-nya.


Dalam hitungan detik, Dirga langsung mendapatkan pesan dari seseorang. Dia membukanya, pesan itu ternyata dari Rafika.


“Lo kenapa, Di?”


Rafika langsung menanyakan keadaan Dirga setelah melihat status temannya itu yang terlihat sedang ada masalah.


“Gak apa-apa kok, Ra. Tenang, gue baik-baik aja.”


Dirga membalas pesan yang dikirimkan Rafika tadi. Ada apa dengan Dirga kali ini? Sekarang dia sudah mau membalas pesan dari Rafika. Dirga benar-benar menganggap kalau mereka sudah berteman sekarang.


Pesan kembali masuk di ponsel Dirga. Itu masih dari Rafika.


“Cerita aja, gak apa-apa. Gue siap dengerin cerita lo kok, Di.”


“Gak usah. Kan, gue pernah bilang kalau lo gak usah terlibat dalam masalah gue. Jadi gue minta lo ataupun yang lainnya jangan sampai terlibat ya, Ra.”


Rahman hanya menyaksikan Dirga berbalas pesan dengan seseorang di ponselnya. Rahman sendiri sudah tahu gimana sikap Dirga kalau sedang dalam masalah, malahan kalau sedang ada masalah di keluarganya, Dirga pasti pergi ke kosan Rahman untuk menenangkan diri. Di kosan Rahman hanya ada dia sendiri, jadi Dirga tidak akan mendengarkan suara keributan dari siapa pun, dia bisa menenangkan dirinya.


Dirga menaruh ponselnya di atas meja dekatnya. Kemudian dia menyandarkan kepalanya ke dinding dengan kaki selonjoran di atas meja, Dirga mulai memejamkan matanya. Entahlah, sekarang dia mau ngapain lagi setelah keributan di rumahnya tadi.


Mimpi mulai merasukinya, kini Dirga sudah benar-benar tertidur pulas. Rahman membiarkan temannya itu tidur di kursi sambil selonjoran, dia sendiri tidak berani membangunkan Dirga karena takut akan dimarahinya nanti.


Berkali-kali ponsel Dirga berbunyi, tapi tidak ada yang mengangkatnya. Itu telepon dari Rafika dan beberapa pesan dari Ayu. Jangankan membuka, Rahman sendiri pun juga tidak berani menyentuh ponsel milik Dirga. Sama saja, dia takut kalau nanti kena marah.


Rahman mendapati ponselnya bergetar. Dia melihat Udik meneleponnya.

__ADS_1


“Ada apa, Dik?” tanya Rahman setelah menerima telepon dari Udik.


“Dirga ada di kosan lo, gak?”


“Iya, Dirga di kosan gue. Emangnya kenapa, Dik?”


“Enggak apa-apa, ini Ayu dan Rafika nanyain dia mulu dari tadi. Katanya Dirga gak ngangkat telepon dari Rafika, pesan Ayu juga gak dibalas olehnya. Kenapa? Bilang sama Dirga terima telepon dari Rafika atau balas pesan dari Ayu, gue udah gak tahan denger ocehan mereka, Man.”


Rahman tertawa sebentar mendengarkan keluh Udik.


“Wajar Dirga nggak ngangkat telepon dari Rafika, dan balas pesan dari Ayu, lah orangnya juga udah tidur.” Rahman kembali tertawa dengan puas.


“Man, gue dan Rafika ke kosan lo sekarang.”


Terdengar suara Ayu yang bilang bahwa dia akan ke kosan Rahman sebelum teleponnya tadi ditutup.


Rahman duduk santai di luar sambil memainkan ponselnya.


Benar saja, Ayu dan Rafika benar-benar datang ke kosan Rahman untuk melihat keadaan Dirga. Setelah status yang dibuat Dirga tadi, teman-temannya sangat khawatir tentang keadaan Dirga. Mereka tahu kalau Dirga baru saja ada masalah, makanya mereka segera ingin menemuinya, sekalian ingin tahu masalah apa yang Dirga alami sekarang ini.


Kedatangan Ayu dan Rafika sontak membuat Dirga terbangun dari tidurnya. Suara berisik dari mereka berdua membuat kenyamanan Dirga terganggu. Dia membuka matanya, dan melihat sudah ada Ayu dan Rafika di dekatnya. Dirga membetulkan cara duduknya, kakinya diturunkan.


“Lo ada masalah, Di? Cerita ke kita, jangan dipendam sendirian.” Ayu langsung bertanya ingin sekali mendengarkan masalah yang sedang dialami Dirga.


“Di, lo harus cerita ke kita tentang masalah lo,” pinta Rafika.


Dirga melihat ke arah mereka berdua. Menghela napasnya panjang. “Udah, gak penting juga.”


“Gue takut kalau lo jadi frustrasi, Di.” Mata Ayu mulai berkaca-kaca. Dia benar-benar serius dengan perkataannya kali ini.


“Udah, lo nggak usah sampai segitunya kali. Gue baik-baik aja. Tenang, ini cuma masalah utang gue sama seseorang, kalian gak perlu khawatir,” ucap Dirga diiringi dengan tawa kecil darinya. Dirga terpaksa tertawa untuk menutupi kesedihannya, dia masih tetap tidak mau bercerita kepada teman-temannya.


“Udah, gue tahu lo gak bakalan minjem uang sama orang lain. Lo itu punya banyak uang, gak mungkin lo ngutang ke orang lain.” Ayu yang sudah tahu dengan keluarga Dirga tetap tidak percaya bahwa Dirga beralasan punya masalah utang.


Dirga tertawa tanpa sebab. Kelihatannya apa yang dibilang Ayu tadi lucu menurutnya, padahal tawa paksa itu tidak bisa ditutupi.


“Lo nggak usah maksain buat tersenyum, Di,” kata Rafika.


Seketika tawa Dirga terhenti mendengar perkataan dari Rafika. Dirga menatap Rafika dengan tatapan yang tak biasa. Mereka saling pandang. Lo gak akan tahu, Ra, apa yang sedang gue rasain saat ini. Lo berbeda dari gue, Ra. Jangan buat gue terus dikekang oleh sikap lo itu, ucap Dirga dalam hatinya. Kemudian dia berpaling lagi ke arah lain, dan kembali menyandarkan kepalanya ke dinding. Tangannya meraih ponselnya di atas meja.


Dirga benar-benar kaget saat melihat banyak telepon masuk dari Rafika dan beberapa pesan dari Ayu selama dia tidur tadi. Jari telunjuknya mulai menekan pesan yang dikirimkan oleh Ayu. Kemudian dihapusnya setelah semuanya dibaca. Notifikasi panggilan masuk dari Rafika juga dia hapus begitu saja.


“Dirga!” seru Ayu.


“Ayolah, Di ... lo jangan jadi pengecut gini, Di,” ujar Rahman seketika bilang bahwa sikap Dirga yang sekarang ini menunjukkan bahwa dia pengecut.


Dirga mengangkat tubuhnya, dia berdiri di hadapan Rahman. “Lo bilang gue pengecut! Lo gak tahu apa yang gue rasain, Man. Lo gak tahu gimana sakitnya gue saat berada di rumah! Lo gak akan pernah ngerasain hal yang sama seperti gue, Man! Lo gak akan pernah.” Perkataan Dirga itu terhenti. Dia kembali duduk di kursinya dengan rasa kesal yang menghampirinya. “Sorry, Man. Sorry, gue udah marah-marah sama lo. Gue gak tahu lagi harus gimana, Man.” Dirga meminta maaf atas amarahnya tadi.


“Lo gak seharusnya bersikap begitu, Di,” kata Ayu mengingatkan Dirga.


“Sabar, Di. Gue dan semuanya pasti bantu lo, kok. Kami semua teman lo, jadi apa pun masalah lo, kami siap membantu.” Rafika menawarkan bantuan pada Dirga.


Waktu terus berganti, cuaca cerah tadi siang kini mulai berganti gelap malam. Ayu dan Rafika segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan, Dirga memilih untuk tetap berada di kosan Rahman entah sampai kapan.


“Lo mau di sini, Di?” tanya Rahman memastikan.


“Iya, gue tinggal di kosan lo dulu.”


“Ya udah. Seragam sekolah dibawa, kan?”


“Ahh, bolos aja besok.”


“Jangan, Di! Lo gak harus bolos. Pokoknya lo harus sekolah besok, seragam gue satunya ada.” Rahman rela meminjamkan seragam sekolah satunya lagi untuk dipakai Dirga, agar temannya itu tetap bersekolah, jangan sampai bolos. “Nakal boleh, tapi bolos sekolah jangan,” lanjut Rahman.


“Kayak lo gak pernah bolos aja, Man,” cibir Dirga. “Tenang, gue udah bawa pakaian.” Dirga menuju mobilnya untuk mengambil tasnya, sekaligus sepatu sekolahnya.


“Bawa masuk aja, Di,” suruh Rahman setelah Dirga mengambil barang-barangnya di mobil.


Mereka berdua masuk ke kosan Rahman. Memang, tempat tinggal Rahman ini kecil jika dibandingkan dengan tempat tinggalnya Dirga. Bahkan, kosan Rahman ini hanya ada ruang depan, dan dapur saja, namun Rahman sendiri sudah bersyukur karena bisa hidup di Jakarta ini, meskipun dia di kosan hanya sendirian.

__ADS_1


Rahman ini hidup di Jakarta sendirian, dia berasal dari Sumatera, tepatnya di Palembang. Sebenarnya sih ada tantenya di Jakarta ini, tapi tantenya itu jarang sekali menemui dia. Kalaupun tantenya ke kosan Rahman, itupun hanya mengantarkan uang yang dikirimkan oleh orang tuanya. Kosan Rahman dan tantenya jauh, tapi kalau ada apa-apa Rahman masih meminta bantuan pada tantenya itu.


Dirga sangat bersyukur punya teman sebaik Rahman yang mau menerima dia tinggal di tempatnya. Terkadang, Dirga dan Udik sering sekali berkumpul di kosan Rahman hanya untuk nongkrong-nongkrong biasa. Mungkin, keberuntungan Dirga hanya mendapatkan teman-teman yang baik, keberuntungannya tidak menular kepada keluarganya. Berharap, berharap, dan terus berharap agar suatu saat dirinya bisa merasakan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga layaknya orang-orang lain.


__ADS_2