Diandra

Diandra
Bab 61


__ADS_3

"Maaf Tante, Diandra sedang tidak ada di rumah" jelas Rani pada Hastari


"Kenapa Dian sering sekali tidak ada di rumah? Apa benar kabar yang beredar bahwa dia akan segera menikah?" suara Ibu Saka itu terdengar lirih. Jujur, dia masih berharap Dian bisa menjadi menantunya kembali


"Kabar itu memang benar. Dian akan menikah minggu ini"


Hastari terlihat layu, harapannya untuk kembali memiliki menantu Diandra pupus sudah.


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu. Tolong sampaikan padanya jika aku datang"


Rani mengangguk, "Nanti aku sampaikan"


Hastari melangkah meninggalkan rumah Dian dengan perasaan sedih. Lebih tepatnya kecewa. Tidak hanya perasaannya yang galau, kini dirinya juga merasa bimbang dan takut. Menantunya belum bebas, ditambah Saka akan di penjarakan. Tentu sebagai orang tua, Ia merasa khawatir. Hanya dia satu - satunya orang yang bisa ia mintai pertolongan. Tapi akhir - akhir ini, susah sekali untuk menemui mantan menantunya itu.


Hastari pulang menggunakan kendaraan umum. Kini, ia harus terbiasa dengan hawa panas dan juga berdesak - desakan dengan penumpang lain jika angkot yang dia naiki sedang ramai. Selain itu, kini ia benar - benar harus menghemat pengeluaran. Untuk makan pun hanya lauk sederhana. Hingga saat ini, Saka tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Meski memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang bagus, entah kenapa semua kantor juga perusahaan menolak dirinya.


"Bu, sudah sampai" tegur si sopir angkot


"Ah, iya Pak. Ini ongkosnya, terima kasih"


Wanita paruh baya itu turun dari angkot lalu berjalan beberapa meter menuju ke rumahnya. Panas terik matahari sudah biasa menemani kesehariannya.


"Bun, Bunda darimana saja?" tanya Saka yang berada di teras rumah


"Bunda ke rumahnya Diandra"


"Untuk apa lagi Bunda kesana? Dian tidak akan membantu kita!"


Hastari menatap Saka dengan kesal, "Setidaknya Bunda masih berusaha! Bunda masih berniat membantumu juga istrimu saja kamu harusnya bersyukur!"


Saka terlihat menghela nafas, "Bun, Dian bukan lagi menantu Bunda. Dia sudah berubah, Bun. Apa lagi yang Bunda harapkan? Lihat keadaan kita sekarang? Semua ini pasti karena dia!"


"Semua tidak akan seperti ini jika kamu menjadi suami yang setia!! Sekarang lihat! Bagaimana keadaan kita? Susah, Ka! Susah!! Itu karena kamu tidak bersyukur dengan apa yang kamu miliki! Makanya Allah memberimu teguran!"


"Semua yang terjadi adalah takdir, Bun! Kita tidak bisa menghindarinya!!"


"Ya, semua yang terjadi adalah takdir! Dan Bunda tidak menyesal semua ini terjadi. Setidaknya kamu bisa mengerti, bahwa semua perbuatan jahat pasti akan kembali pada pelakunya!"


Saka dan Hastari sama - sama terdiam beberapa saat. Wanita paruh baya itu menatap putranya. Saka terlihat stres dan tertekan. Jelas! Bukan perkara mudah menghadapi masalah mereka yang terlalu mendadak. Kehidupan mereka menurun drastis bahkan bisa di bilang sulit.


"Apa tidak ada penyesalan sedikitpun dihatimu, Ka?" tanya Hastari pelan


Saka menatap Bundanya dengan lekat, "Tentu aku menyesal, Bun. Sangat! Jika saja waktu bisa diputar, aku akan berfikir seribu kali untuk mengkhianati Dian"


"Apa kamu menyesal karena sekarang kamu tahu jika Dian adalah orang kaya?"


Saka menatap Bundanya tak percaya, "Kenapa Bunda bertanya seperti itu? Bunda jelas tahu, aku bukanlah pria seperti itu! Bahkan sejak awal, aku berjuang keras meski sebenarnya Dianlah yang berada di belakangku!" Saka menghela nafas, "Sampai sekarang, aku masih belum bisa melupakan Dian, Bun. Jujur ... Aku masih mencintainya"

__ADS_1


Hastari tertawa masam, "Bagaimana bisa kamu mengatakan kamu masih mencintai Dian padahal kamu tidur berkali - kali dengan Vika! Apa kamu menganggap Vika adalah Dian saat berhubungan dengannya?" sindir Hastari


Saka terdiam, "Itu adalah kesalahan yang aku sesali sampai saat ini" lirihnya pelan


"Diandra akan menikah minggu ini!"


Deg


"A-apa yang Bunda katakan?"


"Gosip yang beredar bukanlah berita bohong. Diandra akan menikah lusa"


Saka tertawa kecut, "Ternyata begitu mudahnya aku dilupakan"


"Kamu saja mudah melupakannya! Bahkan saat masih menjadi suaminya! Wajar kalau sekarang Dian menemukan pria lain!"


Nyeri, begitulah perasaan Saka sekarang. Penyesalan tak henti membayangi dirinya. Mendengar Dian akan menikah, ada rasa kesal, marah, sedih dan juga kecewa.


"Tidak perlu menyesali semuanya. Bukankah ini yang kamu pilih?"


Saka menghembuskan nafas berat, "Aku akan mengunjungi Vika"


🍀🍀🍀


[Baiklah, terima kasih atas informasinya]


Saat ini mereka sedang makan di salah satu cafe yang tak jauh dari galery Darwin. "Bukan hal penting"


Dian mengangguk kemudian melanjutkan makannya.


"Kenapa kamu makan seperti anak kecil?" Gama mengusap sudut bibir Dian yang terkena saos.


Dian menatap Gama, "Ah, ada saosnya ya?"


Gama terkekeh, "Jika dalam drama, si wanita akan merasa malu. Pipinya merona dan merasa gugup. Kenapa kamu biasa saja?"


Dian tertawa, "Kamu berharap akan ada adegan seperti di dalam drama? Astaga, aku bukan remaja lagi Tuan Gama. Jangan berharap hal yang konyol seperti itu. Tidak cocok dengan usia kita!"


Gama menatap Dian lekat, "Kamu memang berbeda dengan wanita lainnya"


"Oh ya? Seberapa banyak hal yang kamu tahu tentang wanita? Dan seberapa banyak wanita yang kamu kenal?"


Pertanyaan Dian membuat Gama tertawa, "Kenapa kamu ingin tahu, kamu cemburu?"


"Cemburu? Tentu saja tidak! Yang harus kamu garis bawahi adalah aku bukan seorang remaja yang sedang dalam masa kasmaran. Dan aku juga tidak mencintaimu. Jadi tidak ada yang namanya cemburu!"


Gama mengangguk, "Baiklah. Tidak masalah untuk sekarang kamu belum memiliki rasa cemburu. Tapi aku pastikan nanti, kamu tidak akan bisa jauh dariku bahkan sejengkalpun!"

__ADS_1


"Rasa percaya dirimu selalu saja tinggi"


"Itu sebuah keharusan"


Dian dan Gama kembali melanjutkan makan siang mereka. Hingga dering ponsel milik Gama kembali membuat perhatian keduanya terganggu


[Ya, Ma]


Gama melirik Dian sekilas, [Baiklah, aku akan segera pulang]


"Ada masalah apa lagi?"


"Sebaiknya kita segera pulang. Nyonya Livia kembali membuat ulah"


Dian memutar bola mata malas, "Kapan dia tidak pernah membuat masalah! Dasar wanita tua!"


"Sebaiknya simpan energi dan pikiranmu untuk menghadapinya nanti"


"Dia belum benar - benar tahu sedang berhadapan dengan siapa! Jika dia bisa selicin belut. Maka aku akan selicin ular!" Dian tersenyum menyeringai


Keduanya memutuskan pulang. Entah kali ini apa lagi yang wanita itu perbuat. Yang jelas, baik Gama maupun Diandra tidak akan tinggal diam jika Livia melakukan hal di luar batas.


Begitu mobil memasuki komplek, suasana ramai terlihat di depan rumah Aditama.


Mama dan Papa Gama tampak menunggu kedatangan anak dan calon menantunya di depan teras.


"Ada apa ini, Ma, Pa?" tanya Gama seketika ia baru turun dari mobil


"Livia membuat gempar seluruh warga komplek!"


"Memangnya apa yang dia lakukan, Ma?" tanya Dian


"Lihat ini!" Clara memberikan undangan pernikahan pada Dian dan Gama, "Dia menyebar undangan pernikahan atas nama Cilla dan Gama!"


"Bagaimana bisa dia melakukan hal ini? Menggelikan!" komen Dian


Gama melihat undangan itu kemudian wajahnya berubah kesal, "Ini tidak bisa di biarkan!"


"Biarkan saja, Gam" cegah Dian


"Jadi maksudmu aku harus menikahi Cilla?" tanya Gama kesal


"Kamu harus menikah besok!"


🍀🍀🍀


Ini bagaimana ceritanya hayo?

__ADS_1


__ADS_2