
...HAPPY READING...
...----------------...
"Sangat menyebalkan. Kenapa coba Radit tidak menjemputku! Awas saja kalau aku sudah sampai di apartemennya!" gerutu Zevania masih di dalam taksi.
Kurang lebih memakan waktu perjalanan satu jam, Zevania telah sampai di apartemennya Radit.
Zevania turun dari taksi, meminta sopir taksi menurunkan semua barang-barang dari bagasi.
"Pak tolong turunkan barang-barang saya ya!" ucap Zevania memerintah.
"Baik Nona!" jawab sang sopir membuka bagasi mobil.
Setelah semuanya selesai sopir itu pergi meninggalkan kawasan apartemen elit itu.
Perlahan Zevania melangkah memasuki apartemen, lalu menaiki lift langsung menuju ke lantai tempat unit apartemen sepupunya itu terletak.
TING-NONG-TING-NONG. Bunyi bel mbuyarkan Melissa yang sedang menonton televisi, di ruang tengah.
Dengan sigap Melissa langsung menuju pintu, ia sangat antusias lantaran Radit putra tirinya itu telah pulang.
KLEK. Pintu dibuka oleh Melissa, ia tercengang ketika melihat seseorang yang tak diharapkannya.
"Tante!" ucap Zevania terkejut.
"Kamu, mau ngapain?" tanya Melissa terhadap Zevania, keponakannya.
"Justru aku yang nanya sama Tante, Tante ngapain di Indonesia? Bukannya kata Om Tante liburan ke Paris!" ujar Zevania.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya," ucap Melissa mengitarkan pandangan ke sekeliling.
Kemudian bertanya pada Zevania.
"Raditnya mana?" tanya Melissa.
"Aku yang harusnya nanya begitu, Kenapa Radit tidak menjemputku ke bandara! Aku sudah pegal menunggu di sana!" ujar Zevania memasuki apartemen.
"Ke mana ya anak itu?" gumam Melissa.
"Kenapa juga harus ada Zevania di sini!" gumamnya malas.
Kemudian Zevania terduduk di sofa, menyandarkan kepalanya.
Di ikuti oleh Melissa turut duduk di samping Zevania.
"Rencana kamu datang ke Indonesia, untuk liburan atau menetap di sini?" tanya Melissa tiba-tiba bertanya, hingga membuat Zevania heran.
"Aku mau menetap di Indonesia, mau berkarir di sini, saingan di TURKEY terlalu berat. Tua sedikit fansku pada kabur," ujar Zevania beralasan.
Padahal sebenarnya dia datang ke Indo, bukan karena alasan itu.
__ADS_1
"Hah. Kau ini pasti akan merepotkan Radit lagi!" tukas Melissa terlihat tak menyukai kedatangan Zevania.
"Kamu tahukan, Andara juga ada di Indonesia!" ujarnya.
Sontak saja hal itu membuat Zevania membelalakkan matanya.
"Tante jangan aneh-aneh deh, Dara itu di Istanbul. Untuk apa juga dia ke Indo," kata Zevania menimpali tantenya.
"Kamu ini di kasih tahu gak percaya!" ujar Melissa.
"Mana mungkin aku percaya sama Tante, Tante kan selalu banyak bohongnya!" ledek Zevania terhadap Melissa.
"Kamu ini, ya sudah kalau tidak percaya! Bye Tante mau tidur!" gerutu Melissa, berjalan menuju kamarnya.
"What's... aku ditinggalkan sendirian gitu?" ujar Zevania.
"Aku tidur di mana Tante?" tanyanya.
"Kamu cari saja kamar, di mana yang kamu mau! Lagi pula ini apartemen luas!" ujar Melissa mulai tenggelam ke balik kamarnya.
"Huh. Wanita tua itu, selalu saja seperti itu padaku, padahalkan aku keponakannya," gumam Zevania mendorong kopernya masuk kedalam kamar.
Sementara Radit dengan lemah, mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit untuk mengobati lukanya.
Dengan sekali belokkan Radit masuk ke area rumah Sakit, hingga iya menabrak tiang yang jadi penopang rumah sakit itu.
DUAR. Suara mobil menabrak tiang rumah sakit.
Sementara Radit terkulai lemah di dalam mobilnya.
Para tim medis pun berdatangan, menolong Radit. Mengeluarkan Radit dari dalam mobil itu.
Dengan segera Radit di tangani, dimasukkan ke dalam Ruang ICU.
***
*ISTANBUL TURKEY*
Renita membantu mengemas barang-barang kakaknya. Ia sangat senang lantaran akhirnya Andara bisa kembali ke rumah.
"Kak... aku seneng, banget. Akhirnya Kakak bisa pulang ke rumah lagi, mulai sekarang Kakak tidak boleh bepergian sendiri lagi ya! Aku takut Kakak bertemu dengan si bajingan itu lagi!" ucap Renita.
"Iya... mulai sekarang ke manapun Kakak pergi, kamu harus jadi asisten Kakak ya?" ucap Andara terkekeh.
"Enggak bisa gitu juga kali Kak!" timpal Renita terhadap Andara, sekilas menatap Hameed ayahnya.
"Dad's... kayaknya mulai sekarang, Daddy harus suruh Anak buah Daddy untuk menjaga Kak Dara deh!" ucapnya.
"Iya nanti Daddy suruh orang untuk jagain Kakakmu!" seru Hameed tersenyum melihat tingkah kedua putrinya.
"Bener tuh Mas kata Renita! Kita harus jaga Putri kita yang ekstra cantik ini!" puji Nessa mengusap puncak kepala Andara.
__ADS_1
"Apa si Mama, berlebihan deh!" ujar Andara.
"Loh... kok berlebihan sih! Enggak sayang, enggak berlebihan. Ini demi keamanan kamu," ucap Nessa sambil memasukkan beberapa pakaian ke dalam tasnya.
Sementara dari luar Terlihat Alexander, sedang menatap pada keberadaan keluarga yang tengah bercanda ria itu.
"Aku akan pastikan kamu menjadi milikku, Andara. Aku yakin... suatu saat kau bisa mencintaiku," gumam Alexander menatap nanar dari balik pintu kaca.
"Sudah yuuk kita pulang!" ajak Hameed kepada keluarganya.
Satu keluarga itu pun keluar dari dalam ruangan itu, segera meninggalkan rumah sakit.
Nessa terlihat mendorong Andara, yang duduk di kursi Roda.
Sedangkan Alexander, bersembunyi di balik tembok ketika mereka keluar dari ruang perawatan.
"Tidak hari ini, aku yakin. Suatu saat aku akan mendapatkan cintamu Dara!" ucap Alexander menatap kepergian satu keluarga itu.
Kini Hameed dan keluarganya telah sampai di
mobilnya, ia membuka pintu untuk Nessa istrinya.
Lalu membantu Andara untuk masuk ke kursi penumpang, kemudian melipat kursi roda dan memasukkan ke bagasi.
Sementara Renita membawa Mobilnya sendiri.
"Kalian sudah siap untuk pulang?" ucap Hameed terhadap istri dan anaknya.
"Siap Dad's..." sahut Nessa.
Andara hanya tersenyum melihat orang tuanya, sudah tidak muda lagi namun masih selalu terlihat romantis. Layaknya anak kemaren sore yang baru menikah.
'Andai saja kamu ada di sini Dit,' batin Andara mengingat Radit.
'Tapi kini aku sadar, aku tidak pantas untuk menjadi calon istrimu! Aku sudah ternoda, aku bukan wanita terhormat lagi, aku sudah tidak suci lagi!' lirih Andara dalam hatinya melamun.
Buliran bening jatuh melintas pipi putihnya, yang masih terlihat pucat pasi.
Andara menyesali semua kebodohannya, karena telah percaya begitu saja pada Alexander.
Padahal Radit selalu memperingatkan, kalau Alexander tak sebaik yang nampak. Wajahnya hanya topeng untuk menutupi kebusukannya.
Nessa menatap wajah Andara dari spion, ia menyadari jika putrinya itu sedang sangat rapuh.
"Nak... sudahlah, kamu jangan menangisi masalah yang sudah berlalu sayang, kamu cepat pulih ya. Kalau kamu sudah pulih kita akan pindah ke Indonesia! Memulai kehidupan di sana, mudah-mudahan di lingkungan yang baru kamu bisa memulai semuanya dari awal lagi!" ujar Nessa berusaha menguatkan Andara.
"Iya Ma! Makasih ya... Mama sudah baik sama Andara, meskipun terkadang Dara selalu membangkang pada Mama!" lirih.
"Dad's... maafkan atas kecerobohan Dara ya, Dara tidak bisa menjaga kehormatan Dara sendiri!" lirih.
"Kamu ngomong apa sayang... Daddy tidak pernah menyalahkan kamu, kamu yang sabar ya!" ucap Hameed di sela mengemudi.
__ADS_1
Saat Hameed membelokkan kemudinya, tiba-tiba saja
DUAR...