Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
10. Memprovokasi Lelaki Konyol


__ADS_3

"Kalau gitu besok pulang sekolah, lo harus nonton gue tanding!" ucap Varen dengan sedikit memaksa.


"Ish, maksa!" kata Ticia. Sebenarnya dia juga sudah memiliki rencana dengan Indah dan Anabella untuk menonton pertandingan basket antar sekolah itu.


"Gue udah ada janji," imbuh Ticia dengan sedikit melirik Varen, dia ingin tahu gimana reaksi Varen.


Dan benar saja, Varen dengan cepat langsung beraksi. Dia bertanya Ticia punya janji dengan siapa. "Janji sama cowok apa cewek?" tanya Varen dengan wajah kesal.


"Em.. Rahasia.." Ticia seolah ingin menguji batas sabar Varen.


"Udah ah kak, gue mau balik ke kelas." lanjut Tucia sebelum Varen bertanya lebih jauh lagi. Ticia bisa melihat dari wajah Varen kalau Varen merasa sangat kesal.


"Tapi temen-temen lo belum balik?" ucap Varen seolah tidak rela jika Ticia pergi. Dia ingin tahu dengan siapa Ticia memiliki janji.


"Biarin aja, lama soalnya.." jawab Ticia sembari berjalan keluar kantin.


Akan tetapi dengan langkah cepat, Varen mengikuti Ticia. Bahkan waktu Ticia pergi ke toilet dulu sebeljm ke kelasnya. Varen juga rela menunggu Ticia di depan toilet wanita.


"Ya ampun.. Kakak ngapain disini? Mau ngintip ya?" seru Ticia kaget, karena Varen ada di depan pintu toilet yang dia gunakan.


"Lo punya janji sama siapa?" tanya Varen masih belum bisa move on dari rasa penasarannya.


Ticia hanya tersenyum kecil melihat Varen yang begitu sangat penasaran. Akan tetapi dia masih aja jail. Ticia tidak mau menjawab pertanyaan Varen, malah berjalan meninggalkan Varen begitu aja.


"Hei, Leticia!!" seru Varen masih saja mengikuti Ticia sampai di kelas Ticia. Varen kemudian duduk di sebelah Ticia, tepatnya tempat duduk Indah.


Saat itu beberapa orang yang ada di dalam kelas menjadi heboh. Mereka berbisik-bisik membicarakan Varen yang ada di dalam kelas mereka. Dan ada beberapa siswi yang merasa tidak suka melihat kedekatan Varen dengan Ticia. Mereka adalah sekelompok siswi yang satu kelas dengan Ticia.


Mereka menamai geng mereka dengan sebutan girlfriend. Terdiri dari empat cewek yang semuanya cantik. Mereka selalu menargetkan cowok yang populer sebagai incaran mereka. Akan tetapi tak satupun dari keempat cewek itu yang bisa mendekati Varen dan teman-temannya. Bahkan sama sekali mereka tidak dilirik. Itulah sebabnya, kenapa mereka tidak suka melihat kedekatan Varen dengan Ticia, yang notabene-nya adalah seorang siswi baru.

__ADS_1


"Apa sih bagusnya tuh orang? Bisa-bisanya kak Varen terus-terusan kejar dia?" gumam Risma, pentolan dari geng itu dengan sedikit sinis.


"Iya, padahal kalau dilihat-lihat, masih cantikan lo," sahut salah seorang temannya.


"Bener, bener.." yang lain setuju-setuju aja.


Sementara Ticia sedikit tidak enak dengan tatapan teman-teman satu kelasnya. Berbeda dengan Varen yang terkesan biasa saja, dan seolah tidak peduli dengan tatapan adik-adik kelasnya.


Mungkin Varen sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Secara kan dia termasuk salah satu cowok terpopuler di sekolahnya.


"Kak Varen kenapa kesini sih?" Ticia sudah mulai tidak nyaman dengan tatapan dari teman-temannya.


"Balik ke kelas kakak nggak?!" pinta Ticia sembari menarik lengan baju Varen supaya buruan berdiri dan pergi.


"Lo punya janji sama siapa besok?" Pertanyaan itu terus yang Varen ucapkan. Bahkan dia sama sekali tidak bergeming dari tempat ia duduk.


"Sama temen." jawab Ticia sembari memutar bola matanya.


"Cewek atau cowok?"


"Cewek, puas?" Barulah setelah Ticia memberitahu kalau itu perempuan, Varen mulai tersenyum kecil. Tapi dia masih tidak mau balik ke kelasnya, meskipun bel masuk juga sudah berbunyi. Dan si pemiliki kursi juga sudah kembali ke kelas.


Dan tak lama kemudian guru pun juga masuk ke kelas. Melihat guru yang masuk membuat Ticia menjadi panik. Dia berulang kali menarik baju Varen, dan memintanya untuk kembali ke kelasnya sendiri. Tapi Varen tetap saja tidak mau bergerak.


"Buruan keluar kak!" pinta Ticia dengan panik.


"Itu Varen kenapa ada disini? Kelas kamu mana?" seru bu Dini yang ternyata adalah wali kelas Varen.


"Tuh kak, buruan keluar!" Ticia semakin panik.

__ADS_1


"Janji dulu kalau besok lo akan nonton gue tanding!" ucap Varen sembari menatap Ticia.


"Ya udah kalau nggak mau, gue nggak mau pergi!" ancam Varen. Ticia menoleh ke gurunya yang meminta Varen untuk segera kembali ke kelasnya. Tapi Varen malah berkata kalau dia akan keluar jika Ticia menyetujui permintaannya.


"Varen, ini sudah waktunya belajar, kalau kamu nggak keluar sekarang, ibu panggilkan pak Joko biar kamu dihukum lari keliling halaman sampai pulang sekolah!" ujar bu Dini.


Ticia yang tidak tega jika Varen akan dihukum, akhirnya menjawab permintaan Varen. "Iya, besok gue nonton. Sekarang lo kembali ke kelas lo!" ucap Ticia, tentu saja itu membuat Varen tersenyum bahagia.


"Oke kalau gitu, belajar yang bener!!" ucap Varen sembari menyentuh kepala Ticia dengan lembut. Setelah akhirnya dia keluar dari kelas Ticia dengan senyuman yang mengembang.


Akhirnya Ticia bisa menghela nafasnya. Dia menyadari jika tidak seharusnya dia memprovokasi lelaki konyol itu. Tapi kemudian Ticia tersenyum senang, ketika teringat sentuhan lembut Varen dan senyuman manisnya.


"Kenapa lo senyum-senyum gitu?" tanya Indah membuyarkan lamunan Ticia.


"Nggak, nggak apa-apa kok.." jawab Ticia gugup.


"Kak Varen so sweet banget ya?" Indah juga terpukau dengan perlakuan Varen terhadap sahabatnya. Sementara Ticia hanya tersenyum mendengar perkataan Indah. Karena bu Dini sudah kembali menegurnya untuk fokus dengan pelajaran.


Sepanjang pelajaran berlangsung, Ticia tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Sesekali dia akan tersenyum saat teringat betapa konyolnya Varen. Ticia menyadari satu hal, selain ganteng. Varen juga memiliki sisi yang sangat lembut sebagai seorang cowok yang terkesan cool.


Ticia kemudian teringat dengan kertas yang tadi pagi dia terima dari Varen. Ticia mengeluarkan kertas itu dari dalam saku roknya. Tanpa sepengetahuan bu Dini, Ticia membuka lembar kertas itu dan mulai membacanya.


Ticia sangat kagum dengan tulisan yang begitu rapi dari Varen. Bukan hanya tulisannya yang rapi, tapi isi dari puisi itu begitu sangat romantis. Ticia tidak menyangka jika lelaki dingin itu bisa begitu sangat romantis.


Ticia kembali tersenyum setelah membaca puisi yang khusus Varen kirimkan untuk dirinya.


Melihat Ticia tersenyum seorang diri lagi. Indah pun penasaran dan mulai mengintip secara diam-diam. Indah juga ikutan tersenyum setelah membaca tulisan di kertas itu. "Uh, so sweet.." lirih Indah, tapi mampu di dengar oleh Ticia.


Seketika Ticia menoleh dan mendapati Indah tengah cengar cengir tanpa berdosa. "Lo ngintip?" omel Ticia.

__ADS_1


"Dikit doang, kak Varen romantis juga ya?"Ticia hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya.


Dari senyuman Ticia, Indah bisa melihat dengan jelas. Jika Ticia sepertinya mulai tertarik dengan Varen. Wanita manapun juga akan meleleh jika diperlakukan dengan baik dan romantis oleh cowok. Apalagi cowok itu adalah salah satu cowok terpopuler.


__ADS_2