
Keesokan paginya.
Varen bergegas ke rumah Ticia tanpa sarapan terlebih dahulu. Matanya masih mengantuk saat dia memaksakan untuk membawa motornya. Sering kali dia menguap saat perjalanan ke rumah Ticia.
Pikiran yang kacau membuatnya semalaman tidak bisa tertidur. Akibatnya, pagi harinya dia merasa sangat mengantuk.
Akan tetapi, ketika dia sampai di rumah Ticia. Dia harus menelan kekecewaan karena Ticia sudah berangkat ke sekolah lebih awal. Ticia berangkat bersama ibunya yang harus ke kantor lebih pagi karena ada meeting.
Dengan kecepatan tinggi, Varen mengendarai motor sportnya menuju sekolah. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah ingin segera ketemu sang kekasih. Dan menjelaskan alasan kenapa dia tidak bisa datang tadi malam.
Begitu sampai di sekolah. Dengan tergesa-gesa, Varen memarkirkan motornya. Kemudian dia berlari menuju kelas Ticia. Disana, dia pun tidak menemukan dimana kekasihnya berada. Lalu Varen berlari ke kantin. Tapi tetap saja dia tidak melihat Ticia ada di kantin bersama Indah dan Anabella.
"Ticia dimana In, An?" tanya Varen dengan nafas ngos-ngosan karena terus berlari mencari Ticia.
Akan tetapi, Indah maupun Anabella tidak ada yang menjawab pertanyaan Varen. Sampai akhirnya Rose yang memberitahu Varen, kalau Ticia sedang ke UKS karena kepalanya pusing.
Akibat kecelakaan semalam. Kepala Ticia masih merasakan pusing. Jadi Ticia memilih untuk istirahat di UKS. Dan kalau tidak kunjung sembuh. Dia memutuskan untuk pulang, istirahat di rumah.
Tanpa mengucap sepatah kata pun. Varen bergegas menuju UKS. Selain dia ingin menjelaskan kepada Ticia. Dia juga khawatir ketika Rose bilang, semalam Ticia kecelakaan. Pikiran Varen semakin tak karuan.
Ketika Varen berlari ke UKS. Dari belakang dia melihat Ticia yang sedang dituntun oleh Roman. Melihat pacarnya di sentuh oleh lelaki lain. Maka murkalah Varen.
Dengan langkah cepat Varen mendekati Ticia dan Roman. Lalu tanpa peringatan, Varen menarik pundak Roman. Brukk. Varen memukul Roman tepat di hidungnya. Akibatnya membuat hidung Roman berdarah.
Tentu saja perbuatan Varen tersebut membuat Roman kaget. Bukan hanya Roman, tapi juga Ticia yang ada di sebelahnya.
"Lo apa-apaan sih kak? Main pukul orang sembarangan!" Ticia menjadi marah karena tindakan Varen yang brutal.
__ADS_1
"Lo nggak apa-apa kan kak?" tanya Ticia sembari membantu Roman berdiri.
Melihat pacarnya lebih perhatian kepada lelaki lain. Membuat Varen semakin marah. Dia memukul Roman untuk kedua kalinya. Roman kembali terjatuh karena pukulan Varen yang cukup keras.
"Kak Varen!!!" seru Ticia dengan marah.
"Gue udah bilang berapa kali ke lo, jangan pernah sentuh pacar gue!" ucap Varen dengan marah. Varen bahkan sudah mengangkat tinjunya lagi, hendak memukul Roman lagi. Tapi tangan Varen ditahan oleh temannya yang berusaha melerai perkelahian tersebut.
Dengan marah Ticia menatap Varen. Ticia kecewa lagi, karena Varen tidak bisa menepati janjinya. Untuk tidak membully atau memukul temannya sembarangan.
"Udah merasa jadi jagoan?" tanya Ticia sembari melotot.
"Gue nggak suka lo di sentuh lelaki lain, apalagi laki-laki buaya kayak dia." seru Varen masih dengan sedikit marah. Akan tetapi, ketika melihat dahi Ticia yang terbalut perban. Maka luluhlah kemarahan Varen. Dan berubah menjadi kekhawatiran.
"Semalam lo kecelakaan? Kenapa nggak kasih kabar ke gue? Sakit nggak?" Varen berkata dengan lembut, sembari mengulurkan tangannya hendak menyentuh kepala Ticia. Tapi dengan cepat Ticia menghindari sentuhan Varen.
"Jangan sentuh gue! Mulai sekarang nggak usah sok perhatian sama gue, nggak usah lagi bersikap sok lembut ke gue!"
"Mana mungkin inget, orang perginya aja sama cinta pertama." sindir Ticia.
"Cinta pertama apaan sih?" Varen awalnya tidak mengerti apa maksud dari ucapan Ticia. Tapi setelah dia berpikir lagi. Akhirnya Varen tahu maksud perkataan Ticia. Cinta pertama itu merujuk kepada Rosalinda.
"Oh, gue tahu sekarang. Yank, gue kan udah pernah jelasin, perasaan gue ke Rose itu cuma sebatas perasaan ke adik, nggak lebih. Lo juga tahu, Rose akan jadi saudara tiri gue."
"Oh, saudara tiri ya, bukannya lo nentang pernikahan papa lo dengan mamanya Rose ya? Lagipula katanya ngerayain ultah papa lo, tapi kok dua-duaan di Mall, ngantriin beli es krim lagi."
"Lo tahu darimana?" tanya Varen yang terkejut, kenapa Ticia bisa tahu soal kejadian di Mall tadi malam.
__ADS_1
"Nggak penting gue tahu darimana, yang jelas gue mohon jangan ganggu gue lagi, sampai kapanpun lo nggak akan pernah bisa berubah." Ticia menarik tangan Roman masuk ke dalam UKS.
Ticia mengobati luka di wajah Roman karena pukulan dari Varen. Dia juga minta maaf atas nama Varen. "Maafin kak Varen ya kak, mungkin dia kesel ama gue, jadi lo yang kena sasaran." ucap Ticia sembari memberikan obat merah ke luka Roman.
"Nggak apa-apa kok, aduh.." Roman mengerang ketika lukanya di berikan obat merah.
"Yank," Varen mengikuti Ticia ke dalam UKS. Varen kembali kesal melihat Ticia yang sedang mengobati Roman. Tapi Varen berusaha untuk menahan amarahnya. Dia tidak mau semakin membuat Ticia marah.
"Ngapain kak Varen kesini? Kak Varen sakit juga?" tanya Ticia dengan sewot.
"Kalau nggak ada keperluan, silahkan keluar!" ucap Ticia lagi masih dengan sewot.
"Iya Varen, kalau nggak ada kepentingan disini, silahkan keluar!" guru yang ada di UKS pun menyuruh Varen keluar. Supaya tidak memenuhi ruangan.
Dengan sedikit kesal Varen keluar dari UKS. Saat dia berjalan menuju kelasnya. Dia melihat jendela yang pecah. Dengan sengaja Varen menekan tangannya ke kaca yang pecah tersebut. Maka dari tangannya keluarlah darah segar.
Demi supaya bisa dekat dengan kekasihnya. Varen rela melukai tangannya sendiri.
"Kenapa lagi Varen?" tanya guru yang baru keluar dari ruangan tersebut.
"Yank!" Varen sengaja menunjukan tangannya yang berdarah kepada Ticia. Tentu saja melihat darah mengalir dari tangan Varen. Membuat Ticia menjadi panik.
"Kok bisa kayak gini sih? Kenapa ini kak?" tanya Ticia dengan panik. Tanpa sengaja, Ticia menarik Varen dan mengabaikan Roman yang masih ada di ruangan tersebut.
Melihat Ticia yang begitu panik. Membuat Varen tersenyum senang. Ternyata trik yang dia gunakan benar-benar berhasil.
Berbanding terbalik dengan Roman. Dia merasa canggung berada diantara sepasang kekasih tersebut. Maka tanpa berpikir lagi. Roman pamit, dan keluar dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Kak Roman udah baikan?" tanya Ticia mulai sadar jika di tempat itu masih ada Roman.
"Udah kok," jawab Roman singkat lalu keluar dari ruangan tersebut. Dia juga merasa tidak enak dengan tatapan tajam dari Varen.