
"Ticia kenapa sih kok kayaknya lesu gitu?" gumam Anabella merasa aneh melihat Ticia yang tidak seperti biasanya.
"Iya nggak seperti biasanya dia?" Indah juga merasa aneh dengan sikap Ticia. Yang biasanya ceria dan cerewet tetiba menjadi pendiem dan tak bersemangat.
"Cia..Cia, lo kenapa sih? Lo sakit?" tanya Indah sambil menendang kursi Ticia yang ada di depannya.
Akan tetapi, Ticia tidak bergeming sedikitpun. Dia hanya menoleh beberapa detik, kemudian kembali menempelkan kepalanya ke meja. Sikap Ticia itu benar-benar membuat Anabella dan Indah merasa aneh.
"Ke kantin yuk, mumpung belum bel!" ajak Indah. Dia bermaksud membuat Ticia kembali bersemangat. Biasanya Ticia akan antusias setiap kali diajak ke kantin. Selain dia bisa beli camilan kesukaannya. Dia bisa bertemu dengan pacarnya juga.
Eits, tunggu sebentar. Tumben Ticia sampai di sekolah pagi-pagi sekali. Dan tumben dia tidak bareng dengan Varen.
"Lo marahan sama kak Varen?" tanya Indah menebak-nebak.
"Gue yakin lo pasti lagi marahan sama kak Varen." Indah semakin yakin karena Ticia tidak menjawab pertanyaannya. Tapi malah bertambah sedih.
"Beneran lo marahan sama kak Varen?" Anabella juga semakin penasaran.
"Udah ah, sana! Katanya mau ke kantin? Gue lagi nggak enak badan, gue nggak ikut." ucap Ticia mendorong kedua sahabatnya menjauh.
Dia beneran lagi males ke kantin. Tidak ada semangat pergi kemana-mana. Andai saja tidak sedang test. Ticia lebih memilih di rumah. Pikirannya sangat kacau, setelah pertemuannya dengan papanya Varen kemarin.
"Cia..." dari depan kelas, Varen berlari sambil berteriak memanggil Ticia.
"Lo kenapa nggak tungguin gue?" tanya Varen dengan nafas ngos-ngosan. Sepertinya dia terburu-buru ke sekolah karena ditinggal oleh Ticia. Dan kemudian tergesa-gesa berlari mencari Ticia ke kelasnya.
"Kalian mau ke kantin kan? Gue ikut!" ucap Ticia sembari berdiri. Kemudian Ticia menggandeng tangan Indah dan Anabella buru-buru pergi ke kantin.
Indah dan Anabella menjadi yakin jika Ticia memang sedang bertengkar dengan Varen. Terlihat banget Ticia ingin menghindari Varen.
"Cia, lo kenapa sih?" Varen mengikuti Ticia yang meninggalkan kelasnya.
"Hei," Varen meraih tangan Ticia untuk menghentikan langkahnya.
"Dari kemarin lo nggak pernah balas chat gue, telepon juga nggak pernah lo angkat, tadi pagi juga kenapa lo nggak nungguin gue?" tanya Varen sedikit menahan emosinya. Dia tidak tahu kenapa dan ada apa dengan kekasihnya tersebut.
__ADS_1
"Kak, mending kita jaga jarak dulu deh!"
"Tapi kenapa?" Varen dengan cepat memotong perkataan Ticia. Dia tidak bisa terima dengan perkataan Ticia yang meminta mereka jaga jarak.
"Gue mau fokus test dulu. Gue takut nggak naik kelas." jawab Ticia. Akhirnya dia bisa merasa lega. Karena sudah menemukan alasan yang pas untuk menjauh dari Varen.
Sungguh, buat Ticia itu juga pilihan yang sulit. Tapi Ticia juga harus berani menghadapi kenyataan. Jika hubungan mereka tidak akan pernah berujung.
"Nggak, gue tahu bukan itu alasannya. Jujur sama gue! Lo kenapa?" tanya Varen masih tidak terima dengan jawaban yang diberikan oleh Ticia.
"Gue mau fokus test." jawab Ticia mengulangi perkataannya sebelumnya.
"Tolong kerja samanya! Gue beneran takut nggak naik kelas." ucap Ticia kemudian menarik tangannya. Setelah itu dia berbalik dan menggandeng tangan Indah dan Anabella lagi.
Sesaat, Ticia memejamkan matanya sambil menghela nafas dalam. Berusaha kuat dan tidak menangis di depan Varen dan teman-temannya.
Tapi Varen yakin. Ada sesuatu yang membuat Ticia seperti sekarang. Ada sesuatu yang Ticia sembunyikan dari dirinya.
****
Selama seminggu juga Ticia menahan diri untuk tidak membalas chat dari Varen. Dia ingin membiasakan diri tanpa Varen. Meskipun harus diakui, jika Ticia sangat merindukan Varen.
Hari itu, Darwis mengadakan pesta untuk grand opening hotel barunya. Dia mengundang semua koleganya. Dan juga mengundang teman-teman anaknya. Karena hotel barunya tersebut akan dia wariskan untuk anak semata wayangnya secara resmi di depan umum. Darwis ingin teman-teman Varen juga merasakan kebahagiaan Varen.
Ticia mempertimbangkan untuk datang atau tidak. Tapi dia kepengen menyaksikan kebahagian Varen. Selama lebih dari dua jam. Ticia membolak-balikan tubuhnya di kasur. Dia masih bingung akan hadir atau tidak ke acara yang diadakan oleh papanya Varen.
Drrtttt ponsel Ticia bergetar. Ada pesan masuk dari Varen.
"Udah siap belum? Gue udah ada di depan rumah lo." tulis Varen dalam pesannya.
Belum selesai Ticia membaca pesan tersebut. Panggilan masuk dari Varen. Setelah seminggu tidak menerima panggilan dari Varen. Akhirnya Ticia mau menerima telepon Varen. Rasa kangen menuntun tangannya memencet tombol berwarna hijau di ponselnya.
"Iya." ucapnya.
"Lihat ke bawah! Gue udah nungguin lo." ucap Varen dari seberang telepon.
__ADS_1
Ticia berjalan menuju jendela kamarnya. Dengan segera membuka tirai jendelanya. Di bawah, dia melihat Varen yang sedang bersandar di pintu mobilnya. Dengan memakai jas hitam, membuat penampilan Varen terlihat begitu keren.
Tanpa sadar Ticia tersenyum melihat penampilan Varen yang mirip cowok kantoran.
"Buruan turun! Gue udah nunggu sejam lebih ini." ucap Varen lagi.
"Eh, iya, bentar.." jawab Ticia.
Lima belas menit kemudian Ticia keluar dengan mengenakan dress pendek berwarna biru tua. Memakai sepatu pesta berhak kurang lebih 5 centimeter dengan warna senada dengan dressnya. Make up yang tidak terlalu menor, menambah kecantikan natural Ticia.
Ketika Ticia berjalan menuju mobil Varen. Mata Varen tidak berhenti memandang Ticia. Itu pertama kalinya Varen melihat Ticia memakai dress. Dan itu sangatlah anggun.
"Kenapa sih lihatin mulu?" Ticia sedikit risi dengan pandangan Varen.
"Lo cantik banget tahu." puji Varen lalu menarik tangan Ticia.
"Gue kangen banget sama lo," Varen memeluk Ticia dengan erat. Varen juga mengecup kening Ticia dengan lembut. Dia benar-benar kangen dengan kekasihnya tersebut.
Meskipun setiap hari masih sering ketemu. Tapi mereka tidak saling mengobrol. Ticia selalu menghindarinya setiap kali dia mendekat.
Ticia tidak menjawab. Juga tidak membalas pelukan Varen. "Buruan! Ntar telat." ucap Ticia dengan sedikit dingin.
Varen kemudian melepaskan pelukannya. Lalu membukakan pintu mobil untuk Ticia.
Sepanjang perjalanan menuju tempat acara. Ticia hanya diam terus-terusan. Meskipun Varen mengajaknya ngobrol, tapi Ticia akan tetap diam saja.
"Lo kenapa sih sebenarnya?" tanya Varen sambil meraih tangan Ticia. Varen mencium tangan Ticia dengan lembut.
"Jangan giniin gue dong yank!" lirih Varen yang sudah tidak kuat dengan kedinginan Ticia.
Akan tetapi, Ticia masih kekeh tidak mau membuka mulutnya. Sampai mereka tiba di tempat acara. Ticia tetap saja tidak mau ngomong.
Varen kembali menghela nafasnya menahan amarahnya. "Lo ganteng pakai pakaian kayak gitu, kayak CEO-CEO ganteng gitu." ucap Ticia ketika Varen hendak membuka pintu mobilnya.
Varen seketika menoleh dan tersenyum mendengar pujian kekasihnya. Lalu dengan hati senang, dia membukakan pintu mobil untuk Ticia. Varen juga meminta Ticia menggandeng tangannya. Dan itu dikabulkan oleh Ticia. Membuat Varen tersenyum bahagia.
__ADS_1
Dengan senyuman bahagia. Varen dan Ticia memasuki ruangan tempat pesta itu digelar.