
Kebahagiaan sepasang kekasih tersebut jatuh dimata Risalinda. Dari jarak yang kurang lebih empat meter jauhnya. Rose menatap Varen dan Ticia yang sedang berpelukan dengan mesranya.
Saat itu harus diakui. Jika ada sesuatu yang sepertinya menusuk ke dalam hati Rose. Rasa sakit yang tak bisa terkendali di dalam hatinya. Sakit yang menusuk bagai puluhan jarum menancap tepat di dasar hatinya.
Rose menatap tajam sepasang kekasih yang saling bercanda satu sama lain dengan bahagia. Rasanya dia ingin menarik rambut wanita yang bercanda dengan lelaki kesayangannya. Rasa cemburu yang tak bisa dia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, Rose mengepalkan tinjunya supaya bisa menahan amarahnya.
Di dalam hatinya terus-terusan mengatakan, bahwa suatu saat. Dia yang akan ada di posisi Ticia saat ini. Dia yakin suatu saat. Dirinya akan mampu merebut Varen dari Ticia.
"Tidak ada seorang lelaki yang akan menolak kelembutan dan kecantikan." gumamnya seorang diri. Dengan senyuman sinisnya. Rose meredakan amarahnya. Setelah itu dia berjalan mendekat kemudian gabung dengan Ticia dan yang lainya.
....
Karena lelah. Varen dan teman-teman lainnya tidak mengadakan acara makan-makan seperti biasa. Melainkan mengubahnya menjadi makan malam di sebuah kafe milik tantenya Tika yang baru opening.
Sebelum malam tiba, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat.
Setelah mengantar Ticia pulang ke rumah. Varen juga pulang karena sangat lelah. Sebelumnya dia mandi dan makan, lalu kembali ke kamar untuk beristirahat.
Belum dia benar-benar tertidur. Pintu kamarnya diketuk oleh pembantu di rumahnya. Dengan langkah malas, Varen membuka pintu kamarnya. Matanya pun masih enggan terbuka. "Kenapa bi?" tanyanya dengan lemas.
"Di bawah ada temennya den Gio."
"Siapa?"
"Saya tidak tahu namanya, den." jawab pembantu rumah tangga yang baru bekerja di rumah Varen selama satu setengah tahun.
Varen mengerutkan keningnya. Dia menebak jika orang itu belum pernah ke rumahnya sebelumnya. Jika sudah, pasti pembantunya setidaknya tahu namanya.
Lalu siapa teman yang datang mencarinya?
Masih dengan bertanya-tanya. Varen meminta pembantunya menyampaikan kepada temannya tersebut untuk menunggu sebentar.
__ADS_1
Varen kembali masuk hanya untuk mengecek ponselnya. Setelah itu dia meninggalkan ponselnya diatas meja belajarnya. Karena tidak ada pesan masuk sama sekali juga. Lalu, buru-buru turun untuk melihat siapa yang mencarinya.
Saat hendak menuruni anak tangga. Mata Varen sempat menyipit. Varen kaget, karena ternyata yang mencarinya adalah Rosalinda. Pantas saja, jika pembantu baru di rumahnya tidak mengenalnya.
Meskipun akan menjadi saudara. Tapi karena Varen belum merestui hubungan papanya dengan mamanya Rose. Jadi papanya Varen juga belum membawa Rose dan mamanya makan malam di rumah.
"Kenapa Rose?" tanya Varen. Sebenarnya dia malas meladeni Rose. Tapi dia juga tidak punya alasan untuk mengusir Rose dari rumahnya.
"Enggak kak, cuma mau nyampaiin pesan mama." jawab Rose.
Varen mengerutkan keningnya mendengar jawaban Rose. Setelah akhirnya Rose meneruskan perkataannya. "Hari ini kan om Darwis ulang tahun, mama punya rencana bikin kejutan kecil untuk om Darwis. Jadi mama minta kak Gio buat ikut makan malam nanti," jelas Rose.
Varen terperanjat. Dia hampir lupa jika hari ini papanya ulang tahun. Sudah dua tahun dia tidak merayakan ulang tahun papanya. Dia lalu berpikir sejenak. Apakah ini waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan yang kembali renggang. Akibat insiden beberapa bulan lalu.
Setelah mempertimbangkan dengan baik. Varen akhirnya setuju untuk membantu mamanya Rose bikin kejutan ulang tahun untuk papanya. Lagipula Ticia juga bilang kalau dia tidak bisa ikut acara nanti malam. Karena ada tugas banyak, katanya.
"Acara nanti malam?" Rose bertanya dengan ragu.
Setelah itu Rose pamit pulang. Dia dan mamanya akan bersiap-siap. Sementara Varen kembali ke kamar. Melanjutkan tidur siangnya.
Tepat pukul enam sore. Varen mulai bersiap untuk pergi ke kafe yang telah diberitahu Rose sebelumnya. Dia sempat mampir ke sebuah toko arloji. Dia membeli kado untuk hadiah ulang tahun papanya. Karena papanya penyuka arloji.
Tak lama kemudian Varen sampai di tempat dimana dia janjian dengan Rose dan mamanya sebelumnya. Varen lalu gabung bersama mereka. Dan ternyata disana juga sudah ada papanya.
Melihat Varen datang, maka tersenyumlah papanya Varen. Ternyata Varenlah surprise untuk papanya. Apalagi saat Varen mengucapkan ucapan dan doa untuk papanya. Serta memberikan sebuah kado untuk papanya.
Kebahagiaan menyelimuti papanya Varen. Dengan menangis, dia mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada Varen. Karena mau datang untuk merayakan ulang tahunnya.
Darwis tak kuasa membendung rasa bahagianya. Dia memeluk Varen berkali-kali, dan menciumi anak semata wayangnya tersebut.
"Papa bahagia banget kamu mau datang untuk merayakan ulang tahun papa. Makasih sayank!" ucap papanya Varen.
__ADS_1
"Makasih ya Jane, Rose.." ucapnya kepada Rosalinda dan mamanya.
"Iya mas, kita kan akan jadi keluarga." ucap Jane.
Seketika mood Varen berubah mendengar pernyataan mamanya Rose. Akan tetapi, Varen tidak mau merusak moment bahagia papanya. Varen hanya memilih untuk diam, dan tidak menanggapi ucapan mamanya Rose.
Rose memanfaatkan mood Varen yang tidak stabil untuk bisa lebih dekat dengan Varen. Rose bersikap lembut kepada Varen. Bahkan terkesan perhatian.
"Kak, gue sebenarnya juga nggak setuju dengan pernikahan mama dengan om Darwis." bisik Rose yang membuat Varen membulatkan matanya. Selama ini Varen tidak melihat Rose menentang rencana pernikahan orang tua mereka. Kenapa sekarang dia bilang kalau dia tidak setuju.
"Gimana kalau kita cari tempat untuk membahas rencana menggagalkan rencana pernikahan mereka." ucap Rose lagi sembari menatap papanya Varen dan mamanya yang asyik mengobrol.
Varen tidak menjawab, tapi hanya menganggukan kepalanya.
"Maaf om, ma, aku sama kak Gio mau jalan-jalan bentar boleh kan?" pamit Rose. Dan dengan senang hati. Darwis dan Jane mengizinkan anak-anak mereka untuk pergi berdua. Mereka berpikir jika anak-anak mereka sedang hubungan persaudaraan.
"Kalau gitu, nanti pulang biar diantar sama Gio aja, Roa!" seru papanya Varen.
"Iya, om.." Rose lalu menarik Varen menjauh dari orang tua mereka.
Rose tidak mau menyia-nyiakan kesempatan sama sekali. Dia sengaja meminta Varen menemaninya main di Mall yang tak jauh dari kafe tempat mereka makan tadi.
Sementara Varen tidak curiga sama sekali. Dia terlalu antusias menentang rencana pernikahan papanya dengan mamanya Rose. Jadi, Varen harus menyiptakan kedekatan dengan Rose. Sebelum mereka kerja sama untuk menggagalkan pernikahan orang tua mereka.
Rose menggandeng tangan Varen selama jalan-jalan di Mall. Meskipun Varen selalu berusaha untuk melepaskan tangannya. Tapi Rose tidak peduli. Dia akan menggandeng tangan Varen lagi, begitu Varen melepaskannya. Begitu seterusnya.
Dan ketika Varen antri untuk membeilkannya es krim. Tanpa sepengetahuan Varen, Rose memgambil video. Dimana dalam video itu, Varen berjalan menuju ke arahnya setelah antri beli es krim untuknya.
"Makasih kak," ucap Rose dengan manja.
Varen tidak sadar hal itu. Karena ponsel Rose yang hanya di letakan di atas meja dengan posisi miring. Varen tidak sadar, jika ternyata Rose merekamnya.
__ADS_1
Dan lebih parahnya, Rose mengunggah video tersebut ke story wa-nya.