Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
63. Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Dina telah mengatur waktu untuk bertemu dengan Jane. Mereka berdua adalah teman lama. Dina ingin membujuk Jane supaya mau menerima saham yang ditawarkan oleh Darwis. Karena Dina tidak tahan melihat anaknya terus-terusan menyalahkan papanya.


Sore itu di kafe dekat kantor Jane. Dina menunggu kedatangan Jane. Setelah lima belas berlalu, Jane nampak berjalan dengan terburu-buru.


"Maaf, tadi ada masalah dikit." ucap Jane sembati menarik kursi untuknya duduk.


"Nggak apa kok, mau pesen apa?" tanya Dina masih dengan ramah.


"Kopi aja," jawab Jane sang pecinta kopi.


Tanpa basa basi lagi. Dina mengutarakan maksudnya bertemu dengan Jane. Dengan alasan dia tidak ingin memaksa anaknya dalam menentukan masa depannya. Dina meminta Jane untuk menerima saham yang Darwis tawarkan.


Akan tetapi, ternyata permintaan Dina tersebut membuat Jane menjadi sedikit geram. Kenapa dia bisa meminta menjodohkan anak-anak mereka. Karena, Rosalinda mengatakan jika dia sejak lama sudah menyukai Varen. Sebagai seorang ibu, Jane ingin membahagiakan anaknya. Kebetulan ada insiden dia dan Darwis itu.


"Apa kamu pikir aku orang yang mentingin harta daripada kebahagiain anak?" tanya Jane dengan nada sedikit naik.


"Kalau bukan karena Rose suka sama Gio, aku juga nggak akan ngajuin permintaan seperti itu." lanjut Jane dengan kesal.


"Aku akui, aku cinta sama mas Darwis udah dari dulu, tapi dia lebih milih kamu, its ok. Terus kamu pergi, aku yang kasih mas Darwis semangat sampai akhirnya dia menyadari perasaanku, lalu kamu datang lagi, dan hancurkan rencana pernikahan kita. Sekarang, kamu juga minta aku buat batalin perjodohan anak-anak kita? Kamu tuh egois tahu nggak, yang kamu tahu hanya kebahagiaan kamu sendiri." Jane mengutarakan kekecewaannya terhadap Dina.


"Tapi Gio tidak mencintai Rose. Dan lagi, aku sama mas Darwis juga belum cerai secara resmi, kalaupun kalian menikah, itu hanya bisa nikah siri."


"Aku nggak peduli. Yang penting aku bisa miliki mas Darwis. Susah payah aku pisahin kalian,"


"Pisahin aku sama mas Darwis? Maksudnya?" Dina salah fokus dengan ucapan akhir Jane.


Jane terdiam. Dia menyadari kesalahan bicaranya. Karena hatinya dipenuhi amarah. Jane jadi tidak sadar telah mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan.

__ADS_1


"Jadi kamu yang sengaja fitnah aku? kamu yang kasih foto itu ke mas Darwis?" tanya Dina lagi dengan marah.


"Jawab Jane!!" Dina bahkan menggebrak meja yang ada di depannya.


"Iya. Aku yang kirim foto itu ke mas Darwis. Aku juga yang bilang ke mas Darwis tentang hubungan kamu dengan Leo." Tidak ada pilihan lain. Akhirnya Jane mengakui semua rencananya untuk memisahkan Dina dengan Darwis.


Jane dengan amarah yang meledak-ledak juga mengatakan kecemburuannya terhadap hidup Dina. Hidup yang hancur karena suaminya selingkuh disaat dia mencapai kesuksesan. Dan akhirnya memilih untuk bercerai di saat anaknya masih kecil.


Melihat hidup Dina yang lebih bahagia bersama suami dan anaknya selama bertahun-tahun, membuat Jane menjadi iri. Kemudian memiliki rencana jahat tersebut.


Ketika dia hampir berhasil merebut suami Dina. Tapi tiba-tiba semua yang dia rencanakan gagal. Dia kembali menyalahkan Dina atas semua itu.


"Aku sudah cukup terima saat mas Darwis lebih memilih kamu, tapi kenapa anak aku juga tidak kamu perbolehkan bahagia?" tanya Jane dengan marah.


"Jane, kamu harus sadar jika Gio tidak mencintai Rose. Jika dipaksa, takutnya apa yang menimpa kamu sekarang, itu juga yang akan Rose rasain." Dina masih berkata dengan lembut. Meskipun dalam hatinya dia merasa sangat marah.


"Jadi semua itu rencana kamu, Jane?" tanya Darwis tiba-tiba yang membuat Dina dan Jane kaget. Mereka tidak menyadari keberadaan Darwis sebelumnya.


"Mas Darwis?" ucap Dina dan Jane bersamaan.


"Kamu sengaja misahin aku sama Dina?" tanya Darwis lagi dengan mata yang melotot. Jane merasa ngeri melihat tatapan Darwis yang menakutkan.


"Mas, aku bisa jelasin semua!" ucap Jane.


"Aku udah denger semua. Jadi, karena kamu yang udah buat aku sama Dina jadi bertengkar, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu lagi. Anggap apa itu sebagai kompensasi yang aku berikan untuk kamu. Jadi untuk perjodohan Gio dengan Rose, itu tidak bisa lagi dilanjutkan jika Gio tidak menginginkannya." ucap Darwis kemudian menarik tangan Dina keluar dari kafe tersebut. Meninggalkan Jane yang merasa terpukul dengan keputusan Darwis. Karena itu sama saja dengan membatalkan rencana menjodohkan anaknya dengan anak Darwis.


Darwis membukakan pintu mobil untuk Dina. Sepanjang perjalanan Dina dan Darwis sama-sama terdiam. Setelah mengetahui kebenaran atas kejadian dua tahun lalu yang membuat mereka bertengkar hebat. Dina dan Darwis bingung mau memulai permintaan maaf dari mana.

__ADS_1


Dina dan Darwis sama-sama merasa bersalah satu sama lain. Darwis terlalu percaya apa yang dikatakan orang lain. Sementara Dina merasa bersalah karena tidak berpikir panjang, meninggalkan anak dan suaminya begitu saja.


"Mas, mobil aku gimana?" tanya Dina mulai membuka percakapan.


"Nanti, biar assisten aku yang bawa ke rumah." jawab Darwis terdengar sedikit agak gugup.


"Ma, maafin aku ya karena tidak percaya sama kamu waktu itu?" ucap Darwis meminta maaf atas kejadian dua tahun lalu.


"Maafin aku juga ya mas, aku seorang istri dan ibu yang tidak baik, aku ninggalin kamu sama Gio begitu aja." Dina mulai merasa bersalah.


"Kita lupain itu, kita lanjutin lagi perjalanan rumah tangga kita yang sempat berhenti karena kamu keliling dunia, sekarang kalau kamu mau keliling dunia, kamu harus janji ajak aku sama Gio." ucap Darwis dengan candaannya yang garing. Sama seperti dua puluh tahun yang lalu, saat mereka kenal satu sama lain. Tapi anehnya, candaan Darwis itu mampu membuat Dina tertawa.


Darwis dan Dina sama-sama tertawa ketika mengenang awal mereka kenal sampai pacaran.


Darwis lalu meraih tangan Dina dan menggenggamnya. Tangan itulah yang selalu menguatkannya dalam menghadapi kerasnya dunia bisnis pada waktu itu.


"Makasih ya ma, untuk maaf kamu." ucap Darwis sambil mencium tangan Dina dengan penuh kasih sayang.


"Kita bilang ke Gio kalau dia nggak akan lagi dijodoh-jodohin. Em, dia pasti bahagia sekali." ucap Dina tidak sabar melihat anaknya kembali tersenyum.


"Aku jadi merasa bersalah sama Gio dan Leticia," Darwis menyadari kesalahannya dan mulai menyesal.


"Gio pasti mengerti kok,"


"Gimana kalau kita dinner dulu? Udah lama kan kita tidak dinner berdua?" ajak Darwis. Dia ingin merayakan kebahagiaannya bisa kembali bersatu dengan istrinya.


"Boleh, anak kita kan juga udah dewasa. Nggak apalah sekali-sekali ditinggal. Biar kita bisa berduaan." Dina setuju dengan usulan Darwis. Dia juga merasa kangen dengan moment seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2