
Sampai di rumah Rosalinda. Varen meyakinkan diri untuk berkata jujur kepada Rosalinda tentang perasaannya selama ini. Perasaan yang tidak bisa dipaksakan.
"Kak, maafin gue, gue nggak bermaksud bikin kak Gio marah, gue cuma nggak suka lihat kak Gio akrab dengan Ticia." ucap Rosalinda dengan wajah yang memelas.
Varen kembali menarik nafas dan berusaha untuk tidak lagi marah. "Gue mau numpang sholat boleh?" tanya Varen. Dia baru ingat jika dia belum sholat dzuhur.
"Boleh kak, ke kamar gue aja!" ucap Rosalinda mengantar Varen ke kamarnya.
"Lo nggak mau sholat sekalian?" tanya Varen.
"Nggak kak, gue halangan." jawab Rosalinda berbohong.
Ketika Varen sedang khusyuk berdoa. Rosalinda mengunci pintu kamarnya. Dia bahkan membuka bajunya ketika Varen sudah selesai berdoa.
Saat Varen berdiri. Tiba-tiba Rosalinda melemparkan dirinya ke pelukan Varen. Melihat Rosalinda yang hanya memakai dalaman dan memeluknya. Membuat Varen spontan mendorong Rosalinda sampai terlempar ke kasur.
"Lo apa-apaan sih Rose?!" seru Varen dengan marah.
Rosalinda kembali memeluk Varen saat Varen hendak membuka pintu kamarnya. Varen merasakan di punggungnya sesuatu yang empuk.
"Kak Gio, gue cinta sama lo. Gue rela serahin diri gue ke kak Gio." ucap Rosalinda masih memeluk Varen dari belakang.
"Lepasin Rose!" ucap Varen sedikit geram. Varen tidak menyangka jika Rosalinda akan bertindak sejauh ini.
Varen kembali berbalik dan mendorong Rosalinda menjauh. Tapi Rosalinda malah menariknya. Sehingga mereka berdua terlempar dan jatuh bersama.
Rosalinda terus menahan Varen yang terjatuh diatasnya. Bahkan berusaha mencium Varen. Tapi Varen berusaha untuk menghindar.
"Jangan buat gue ilfil sama lo!" ucap Varen dengan marah.
"Gue cuma mau tegasin kalau gue nggak bisa buka hati gue buat lo. Gue minta maaf," ucap Varen.
Tentu saja ucapan Varen tersebut membuat Rosalinda menjadi marah. Dia berdiri dan menatap Varen dengan tajam.
"Kak Gio cuma mainin perasaan gue selama ini?" tanya Rosalinda dengan marah.
"Maafin gue, gue udah berusaha, tapi tetap nggak bisa buka hati gue buat lo." ucap Varen masih terlihat santai. Dia mengalihkan pandangannya karena tidak mau melihat Rosalinda yang hanya memakai br* saja.
Rosalinda menatap Varen yang mengalihkan pandangannya. Dia pun tersenyum kecil. Rosalinda mengira jika mungkin Varen kurang tertarik kepadanya saat ini, karena dia tidak membuka semuanya.
__ADS_1
Maka dari itu. Rosalinda membuka br*-nya. Berharap Varen tidak bisa menahan hawa napsunya. "Lihat gue kak!" pinta Rosalinda.
"Gue mau lihat, apa kak Gio juga masih kuat lihat gue kayak gini!" Rosalinda berkata dengan yakin jika Varen tidak akan tahan.
Varen menoleh, dia menatap Rosalinda yang bertelanj*ng dada di depannya. Varen juga melihat bu*h dad* Rosalinda yang menjulang dan lebih besar dari wanita seusianya.
Saat Varen menatapnya. Rosalinda sudah sangat yakin kalau Varen pasti sudah tergoda olehnya. Makanya senyuman di bibirnya mulai mengembang.
Rosalinda yakin jika lelaki tidak akan tahan dengan godaan yang seperti itu. Lalu kemudian Rosalinda membuka semuanya di depan Varen. Tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
"Gue serahkan semuanya buat lo kak," ucap Rosalinda dengan tersenyum. Dia yakin Varen pasti tidak akan kuat melihat itu.
"Jangan pernah lakuin hal bodoh ini lagi, gue nggak cinta sama lo, dan mungkin tidak akan pernah cinta. Lo seorang cewek, harusnya lo bisa lebih menjaga itu semua untuk suami lo kelak!" ucap Varen dengan sangat dingin.
Varen kemudian membuka pintu kamar Rosalinda dan segera pergi meninggalkan Rosalinda yang marah sambil berteriak tidak jelas. Varen mempercepat langkahnya dan buru-buru masuk ke dalam mobil.
Barulah, saat di dalam mobil. Varen menghela nafas berkali-kali. Dia mengatur perasaannya yang kacau. Karena biar bagaimanapun, dia masih seorang lelaki normal.
"Gue nggak nyangka dia seberani itu." gumamnya masih berusaha mengatur irama jantungnya.
"Kalau gue nggak cepet pergi, mungkin gue nggak akan bisa menahannya." gumamnya seorang diri sambil mengemudikan mobilnya.
Ticia masih mengobrol dengan mamanya Varen di rumah Varen. Dina memintanya untuk mampir setelah dia mengantar Dina pulang. Dina masih belum puas ngobrol dengan Ticia.
Ketika Varen pulang. Ticia dan Dina sedang sibuk di dapur. Saat itu Ticia minta diajarin cara membuat roti. Melihat kedekatan mamanya dengan Ticia membuat Varen tersenyum senang.
"Yeyyy, rotinya jadi. Emm, baunya enak banget tan." ucap Ticia bersorak bahagia. Ini pertama kalinya dia memasak di dapur.
"Kita cobain yuk!" Dina juga terlihat sangat bahagia. Dia merasa memiliki seorang anak perempuan.
Saat Ticia hendak menyuapi Dina roti yang dia buat. Tiba-tiba Varen menyerobot. Dia meraih tangan Ticia dan menuntunnya ke mulut Varen. Jadi tanpa sengaja Ticia justru menyuapi Varen.
"Emm, enak banget. Calon istri gue emang hebat deh." puji Varen yang membuat Ticia jadi salah fokus dengan kata 'calon istri'.
"Kak Vava bikin kaget aja!" omel Ticia sambil memukul lengan Varen pelan.
"Kamu pulang sendiri?" tanya Dina sambil menoleh ke belakang, ke kanan, dan ke kiri.
"Hmm," Varen bersenandung.
__ADS_1
"Ma, boleh nggak aku ngorbol berdua sama Ticia?" Varen meminta izin dari mamanya.
Dina menatap anaknya. Kemudian mengerti apa yang anaknya inginkan. Dia pun memberi waktu kepada anaknya dan Ticia supaya bisa ngobrol berdua.
"Kalau gitu, mama ke kamar dulu, mau telepon papa kamu!" pamit Dina. Hari itu Darwis sedang ada kerjaan diluar kota.
Varen mengajak Ticia mengobrol di samping kolam renang. Tempat yang biasa mereka sering ngobrol dulu. Dan juga tempat favorit Ticia ketika main di rumah Varen.
Ticia dan Varen sedikit merasa canggung satu sama lain. Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. Setelah akhirnya Varen membuka suaranya dengan memuji roti buatan Ticia.
"Roti yang lo buat enak." ucap Varen sambil menggigit roti tersebut.
"Masa sih?" Varen menganggukan kepalanya dan masih memakan roti itu.
"Cia, gue udah jujur ke Rosalinda. Gue tidak bisa terus-terusan bohongin dia, kalau sebenarnya gue nggak pernah cinta sama dia." ucap Varen sempat membuat Ticia menoleh kaget.
"Gue nggak yakin apakah Rosalinda terluka atau nggak. Tapi yang jelas gue nggak mau memberi dia harapan yang palsu." lanjut Varen.
Tapi, tidak seperti yang Varen harapan. Respon Ticia justru biasa saja. Dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Padahal yang diharapakan Varen. Ticia akan kaget dan bahagia. Tapi ternyata Ticia terlihat biasa saja.
"Sebenarnya kalaupun gue nolak perjodohan itu, keluarga gue juga akan kembali utuh. Karena mamanya Rose udah bikin mama sama papa hampir pisah. Dan papa bisa maafin dia, sebagai kompensasi yang papa janjikan kepada tante Jane." jelas Varen. Dia berharap Ticia akan kaget dan bahagia. Karena akhirnya mereka bisa kembali bersama.
"Gue udah tahu dari tante Dina tadi." jawab Ticia kembali membuat Varen merasa tidak puas.
"Jadi kita bisa balikan lagi kan?" tanya Varen tanpa basa basi.
"Karena jujur, gue masih cinta sama lo, gue nggak bisa lupain lo." imbuh Varen.
Ticia kembali terdiam. Dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Jujur, dia juga masih mencintai lelaki itu. Tapi apakah dia akan kembali menjalani hubungan yang tak berujung itu.
"Jawab sayank! Kita bisa balikan lagi kan?" Varen meraih tangan Ticia. Dia berharap Ticia akan memberinya kesempatan.
"Setidaknya kita jalani dulu, demi cinta kita, please!" mohon Varen.
"Kalau lo bisa buat gue jatuh cinta lagi sama lo, gue kasih lo kesempatan." ucap Ticia dengan tersenyum. Dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Dan memutuskan untuk kembali menyebrangi jembatan itu. Setidaknya sampai dia benar-benar sadar jika mereka tidak bisa bersatu.
Tapi, untuk sementara waktu biarkan cinta itu kembali bersama. Toh juga mereka masih terlalu muda untuk membahas tentang pernikahan.
__ADS_1
'Jalani saja dulu'.