Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
59. Ada Apa Dengan Anabella


__ADS_3

Liburan kenaikan kelas telah usai. Waktunya kembali ke sekolah. Rasa rindu pun menyelimuti Indah dan juga Anabella. Pasalnya selama dua minggu lebih mereka libur. Sama sekali mereka tidak bertemu dengan Ticia.


Begitu juga Ticia yang sangat merindukan kedua sahabatnya tersebut. Dan ternyata mereka masih sekelas. Betapa bahagianya mereka.


Di kelas baru, mereka berbincang dan mengobrol dengan penuh bahagia. Mereka saling bercerita tentang kegiatan mereka selama liburan.


"Cia, maaf, waktu kakek lo meninggal, kita nggak kesana!" ucap Indah merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa, orang rumah kakek gue juga jauh banget." Ticia memaklumi teman-temannya.


Lagi asyik mengobrol. Tiba-tiba muncullah Rosalinda di dalam kelas tersebut. Ternyata Rosalinda juga masih satu kelas dengan mereka. Bukan hanya Rosalinda, tapi juga GirlFriend yang masih sekelas dengan mereka.


"Cia, gue boleh nggak duduk sebelah lo lagi?" tanya Rosalinda.


"Maaf Ros, Ticia duduk sama gue! Lo duduk sebelah Indah aja!" sahut Anabella.


"Oh, ya udah," Rosalinda akhirnya duduk di sebelah Indah. Sebenarnya Indah tidak suka duduk sebelahan dengan Rosalinda. Setelah malam yang menyakitkan untuk sahabatny, Ticia. Indah dan Anabella merasa jika Rosalinda telah menusuk Ticia dari belakang. Mereka juga berpikir, jika Rosalinda adalah orang munafik yang berpura-pura baik.


"Cia, lo masih marah karena om Darwis jodohin gue sama kak Gio?" tanya Rosalinda, tiba-tiba dua membalikan badannya.


Ticia yang ada di belakangnya menjadi kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari Rosalinda. "Eh, nggak kok. Gue nggak marah." jawabnya dengan sedikit kaget.


"Itu rencana om Darwis sama mama gue. Gue nggak tahu apa-apa soal itu. Gue juga kaget." ucap Rosalinda lagi.


Tapi mendengar penjelasan Rosalinda. Membuat Indah dan Anabella memutar bola mata mereka. Mereka jelas tahu, bagaimana ekspresi Rosalinda saat papanya Varen mengumumkan pertunangan mereka. Dengan sangat jelas, Indah dan Anabella melihat senyum di bibir Rosalinda malam itu. Nggak ada yang namanya ekspresi kaget.


"Kenapa kaget? Harusnya lo seneng dong, bisa dijodohin sama lelaki sekeren dan seganteng kak Varen?" tanya Indah dengan memutar bola matanya. Pertanyaan itu sepertinya sindiran buat Rosalinda.


"Kak Gio kan udah punya Ticia, gue nggak mungkin dong, bahagia di atas derita temen gue." jawab Rosalinda. Dia sebenarnya juga merasa kesal dengan Indah yang selalu saja memojokannya.

__ADS_1


"Gue udah putus sama kak Varen. Jadi lo nggak perlu sungkan lagi. Kalian cocok kok." sahut Ticia dengan tersenyum kecil. Dan terlihat jelas senyuman itu, senyuman yang dipaksakan.


Perkataan Ticia itu membuat Rosalinda kaget. Bukan hanya Rosalinda. Tapi juga Indah dan Anabella. Mereka berdua tidak tahu sama sekali dengan putusnya hubungan Ticia dan Varen.


"Lo putus? Kapan?" tanya Anabella mendahului Indah yang masih terkejut.


"Setelah malam itu, gue mutusin buat mengakhiri hubungan kita. Dia kan juga berhak bahagia." jawab Ticia masih terlihat santai. Tapi sebetulnya dia sedikit gemetar.


"Kantin yuk!" Ticia kemudian memilih bangkit dari tempat duduknya. Dia tidak mau terus membahas hubungannya dengan Varen. Dia takut jika dia tidak kuat menahan kesedihannya.


Ticia bersama kedua sahabatnya keluar dari kelas itu. Meninggalkan Rosalinda yang ingin di kelas saja, katanya. Melihat Ticia dan kedua temannya keluar dari kelas. Senyuman dibibir Rosalinda mengembang. Akhirnya...


Di kantin. Ticia sedang menunggu Indah dan Anabella yang sedang memesan makanan. Tiba-tiba seorang lelaki mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Lelaki tersebut sudah pasti adalah Varen.


"Hai yank," sapa Varen dengan tersenyum senang. Sepertinya di sedang dalam mood yang sangat baik.


"Tolonglah, jangan panggil yank terus! Kita kan cuma temen, ntar kalau ada yang mau ngedeketin gue jadi kabur lagi, disangka gue punya pacar." pinta Ticia dengan sedikit memonyongkan bibirnya.


"Biarin aja, biar lo nggak laku. Jadi cuma gue yang akan jadi cowok lo." jawab Varen dengan konyol.


"Cia, jangan lagi ngomong kalau kita itu berteman. Sampai kapanpun gue nggak mau putus dari lo! Gue cinta sama lo." ucap Varen meraih tangan Ticia.


"Kak, kita harus berani menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama. Jadi, berteman lebih baik daripada bermusuhan." jawab Ticia terlihat santai saat mengatakan mereka hanya teman.


Tapi, berbeda dengan Varen. Dia merasa emosi setiap kali Ticia hanya menganggapnya sebagai teman. Akan tetapi, sekuat mungkin Varen mencoba menahan amarahnya. Dia tahu, Ticia tidak suka dengan lelaki kasar. Jadi dia berusaha menekan amarahnya.


"Terserah lo, pokoknya bagi gue, lo tetap pacar gue."


"Kak, lo berhak bahagia, lo ganteng, baik, gue yakin banyak wanita yang ingin jadi pacar lo." ucap Ticia.

__ADS_1


"Apa lo termasuk dalam banyaknya wanita itu?" tanya Varen sembari menatap Ticia dengan lekat.


Ticia terdiam. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Varen lagi. Karena tanpa dia menjawab. Varen pasti juga sudah tahu jawabannya.


"Eh, ada kak Varen.." ucap Indah yang baru saja kembali dengan membawa makanan yang mereka bertiga pesan.


"Kak Varen udah pesan makanan? Biar gue yang pesenin!" Anabella bertingkah genit kepada Varen.


Tentu saja sikap Anabella tersebut membuat Ticia melotot. Begitu juga Indah yang langsung mencubit tangan Anabella. "Lo ngapain genit sama kak Varen?" bisik Indah dengan kesal.


"Dia kan mantan pacar sahabat lo, dan kayaknya mereka juga masih sama-sama suka." bisik Indah lagi.


Akan tetapi, Anabella sepertinya mengabaikan peringatan Indah. Entah apa yang ada di dalam pikiran Anabella. Kenapa tetiba dia bertingkah genit kepada Varen. Jelas-jelas dia adalah mantan pacar sahabatnya.


"Atau biar gue temenin mesan makanan yuk!" Anabella menarik tangan Varen.


Varen yang kaget hanya bisa menurut apa kata Anabella. Sementara Indah dan Ticia hanya melotot menyaksikan itu semua. Mereka berdua bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Anabella. Kenapa dia yang biasa pemalu, menjadi sangat agresif.


"Anabella kenapa sih?" tanya Indah dengan sedikit kesal melihat tingkah sahabatnya.


"Mungkin suka kali dia sama kak Varen." jawab Ticia terlihat biasa tapi dari nada bicaranya terdengar kesal.


"Nggak mungkin, gue kenal bener dia. Dia nggak akan mau nusuk temennya sendiri." Indah tidak percaya kalau Anabella akan melakukan hal yang seperti itu.


"Udah biarin aja, lagipula gue juga udah putus sama kak Varen." Ticia menikmati makanan yang ada di depannya dengan sedikit kesal. Sesekali dia akan melirik ke arah Anabella dan Varen yang sedang ngobrol sambil menunggu pesanan mereka.


Indah juga tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Anabella yang sedang ngobrol dengan Varen. Indah merasa sedikit kesal dengan Anabella. Kenapa Anabella harus melakukan hal itu. Jelas-jelas itu akan membuat persahabatan mereka akan kacau. Kenapa dari sekian banyak lelaki, harus Varen yang jadi incarannya.


Indah juga sadar akan ketampanan dan kepopuleran Varen di sekolahnya. Tapi biar bagaimanapun, lelaki itu adalah mantan pacar sahabatnya sendiri. Apa yang sebenarnya Anabella inginkan.

__ADS_1


__ADS_2