
Semenjak malam itu. Ticia tidak mau lagi menemui Varen. Berkali-kali Varen datang ke rumahnya. Ticia tetap tidak mau menemuinya. Chat atau telepon juga tidak direspon oleh Ticia.Seakan dia benar-benar ingin lenyap dari kehidupan Varen.
Semenjak itu juga. Hubungan Varen dengan papanya kembali memanas. Varen tidak lagi mau bertemu dengan papanya. Setiap kali papanya pulang. Dia hanya akan mengurung diri di dalam kamar.
Karenanya, Dina menjadi khawatir dengan anaknya. Dua hari sekali dia akan pulang untuk melihat anaknya. Dina tahu banget. Jika anaknya sedang sedih akibat putus cinta.
Sore itu sewaktu dia pulang. Kebetulan Darwis juga pulang. Dina mengajak Darwis untuk berdiskusi tentang anak mereka. Dina tidak tega melihat anaknya yang tidak memiliki semangat.
"Mas, apa tidak bisa kamu batalin perjodohan Gio dengan Rose? Aku nggak tega melihat Gio kayak gini terus." ucap Dina dengan sedih.
"Aku sebenarnya juga tidak tega, ma. Makanya kemarin-kemarin aku tawarin saham aku ke Jane, tapi dia kekeh nggak mau. Dia maunya, aku nikah sama dia, atau Gio yang nikah sama Rose." jawab Darwis yang sebenarnya bingung dengan semua yang terjadi.
Berawal dari dia yang membatalkan rencana pernikahannya dengan Jane. Sampai-sampai harus melibat kebahagiaan anaknya.
"Ma, apa sebenarnya malah bagus ya, jika Gio putus sama Ticia saat ini? Karena baik sekarang atau nanti, mereka juga akan berpisah kan?" tanya Darwis.
"Mas, meskipin kelak mereka juga akan berpisah, tapi setidaknya mereka berpisah karena sama-sama sadar akan perbedaan mereka. Bukan karena paksaan seperti saat ini atau adanya orang ketiga." Dina lebih mengerti apa yang dirasakan anaknya.
"Meskipun aku nggak yakin, lukanya akan sama atau nggak." imbuh Dina ragu.
Dalam pemikiran Dina. Semisal Varen dan Ticia putus karena sadar akan perbedaan mereka. Setidaknya mereka akan lebih ikhlas melepaskan. Dan lukanya pun mungkin tidak sesakit saat putus secara sepihak seperti saat ini.
Berbeda dengan pemikiran Darwis. Dia tidak mau anaknya akan jatuh terlalu dalam. Di dalam hubungan berbeda agama tersebut. Darwis takut, jika mereka putus. Lukanya akan terasa sangat menyakitkan. Karena mereka sudah terlalu dalam mencintai.
Tapi, setelah mendengar penjelasan istrinya. Darwis merasa sedikit menyesal. Kenapa dia harus memutuskan hal yang penting itu secara sepihak. Dia tidak menyangka akan melukai anaknya sampai seperti itu.
"Mas, biarin aku ketemu dengan Jane! Aku akan mencoba bernegosiasi sama dia. Kalau dia masih bersikeras, kamu nikahin aja dia!" ucap Dina.
"Sebenarnya dari awal aku nggak cinta sama Jane. Waktu itu cuma merasa kesepian, dan dia datang. Memberi semangat, memberi dukungan, dan perhatian." gumam Darwis kembali merasa bersalah. Karena hatinya yang rapuh. Mengakibatkan semua ini harus terjadi.
****
Varen tidak pernah menyerah sedikitpun. Setiap hari dia akan datang ke rumah Ticia. Memberikan sepucuk surat yang dia tulis dengan tangannya sendiri.
Setiap kali Ticia tidak mau menemuinya. Dia akan menitipkan surat itu kepada pembantu rumah tangga di rumah Ticia.
Mungkin sudah seminggu lebih sejak kejadian malam itu. Ditambah lagi dengan liburan kenaikan kelas. Membuat Varen benar-benar tidak kuat menahan rasa rindunya kepada wanita yang masih dia anggap sebagai kekasih.
__ADS_1
"Mbak nitip buat Leticia ya!" ucap Varen sembari memberikan bingkisan kecil berbentuk kotak.
"Non Ticia-nya tidak ada di rumah den," ucap pembantu rumah tangga Ticia.
"Ke..kemana mbak?" Varen pun kaget.
"Semalam, non Ticia sama bapak, sama ibuk, pergi ke rumah orang tua bapak, karena bapaknya bapak meninggal,"
"Boleh minta alamatnya nggak mbak?"
Setengah jam kemudian. Honda Brio berwarna merah bersiul menuju alamat yang diberikan oleh pembantu rumah tangga Ticia.
"Rumahnya di lereng gunung, masih daerah pedesaan, dan cukup jauh jaraknya dari sini."
"Nggak apa mbak, sejauh apapun, aku pasti akan kejar dia."
"Namanya desanya Mojo den, nanti tanya saja rumah bapak Karto, beliau dulu seorang pendeta di desa tersebut,"
Berbekal informasi dari pembantu rumah tangga Ticia. Varen dengan yakin menuju tempat tersebut. Varen tahu jika Ticia pasti sangat sedih sekarang. Ticia pernah bercerita kepadanya. Kalau Ticia sewaktu kecil tinggal bersama kakek dan neneknya. Sebelum ayah dan ibunya sukses di kota. Ticia juga mengatakan kalau mereka juga sangat dekat.
"Oh iya tahu, adik lurus saja, nanti belok kiri, nanti ketemu gereja kecil, rumah pendeta itu ada di sebelah kanan gereja itu."
"Terima kasih pak,"
Tak perlu waktu lama. Varen menemukan rumah kakek Ticia. Ketika dia tiba, sudah jam dua siang. Kelihatannya jenazah sudah dimakamkan. Karena tidak terlihat pelayat yang ada di sekitar rumah. Hanya ada beberapa orang yang sedang melepas tenda.
Varen lalu memarkirkan mobilnya di halaman gereja tersebut. Kemudian dia berjalan menuju rumah kakek Ticia.
"Loh Varen?" ucap ayah Ticia yang saat itu baru dari luar dan hendak pulang.
"Kamu sendirian?" tanya ayah Ticia lagi.
"Iya yah,"
Ayah Ticia lalu mengajak Varen untuk masuk ke dalam rumah. Saat itu Ticia sedang membantu ibunya dan juga adik ayahnya membereskan rumah.
"Cia, dicari Varen." seru ayah Ticia ketika masuk ke dalam rumah. Tentu saja itu membuat Ticia menjadi kaget. Tapi, Ticia berpikir jika ayahnya hanya menggodanya saja. Jadi dia masih meneruskan pekerjaannya rumah dan kamar kakeknya.
__ADS_1
"Leticia!!" ayahnya kembali berseru.
"Apa sih yah?" mata Ticia membulat tatkala melihat sosok lelaki yang duduk di ruang tamu bersama ayah dan om-nya, adik dari ayahnya.
"Kak Vava, eh, kak Varen?"
Varen tersenyum senang melihat gadis yang dia rindukan. Akhirnya dia bisa melihat gadis itu lagi. Gadis yang memenuhi pikirannya selama ini. Yang pastinya, gadis yang dia cintai dan dia rindukan.
"Bikinin minum buat Varen!" perintah ayahnya.
"Iya," Ticia tidak pernah berani membantah perintah ayahnya.
Beberapa saat kemudian dia keluar dari dapur dengan membawa minuman untuk Varen. Pada saat dia berjalan menuju ruang tamu. Dia mendengar permintaan Varen yang ingin menginap disana.
"Nggak boleh!" sahut Ticia tidak menyetujui permintaan Varen.
"Yah, disini sudah nggak ada kamar lagi." ucap Ticia sembari meletakan minuman Varen dengan melotot kepada Varen.
"Aku bisa kok yah tidur di sofa." ucap Varen cepat.
"Lagipula kan ini udah mau sore yah, aku capek banget, tadi kesini tanpa istirahat sekalipun." Varen meregangkan tubuhnya.
Karena kasihan melihat Varen yang nampak capek sekali. Lagipula perjalanan untuk sampai ke desa tersebut memerlukan waktu kurang lebih tiga jam. Jika Varen hanya memerlukan waktu dua jam. Berarti Varen ngebut dan tidak istirahat sama sekali.
Ayah Ticia pun mengizinkan Varen menginap. Tentu saja ide itu ditentang oleh Ticia dengan alasan sudah tidak ada kamar.
"Nanti Varen biar tidur sama om," ucap om Ticia yang berumur tidak jauh Ticia.
"Tapi om, ntar apa kata orang?"
"Nanti kalau ada yang nanya, bilang aja dia temen om." jawab om Ticia dengan santai.
"Tapi-"
"Yaudah Va, kamu istirahat aja di kamar Daniel!" perintah ayah Ticia.
Varen pun tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1