Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
86. Bertemu Teman Lama


__ADS_3

"Cia, nanti kamu ada acara nggak?" tanya ayah Ticia.


"Emm, nggak sih yah, cuma ibadah pemuda aja, kenapa emangnya?" tanya Ticia. Tumben-tumbenan ayahnya tanya seperti itu.


"Nggak, nanti malam temen ayah mau ke rumah, kalau kamu nggak ada acara, bagus dong, jadi kamu bisa sekalian kenalan sama temennya ayah."


"Temen ayah?" Ticia mengerutkan keningnya. Tidak biasanya keluarga Ticia menerima tamu di rumah. Biasanya mereka akan bertemu di luar.


"Iya, om Krisna, kamu ingat nggak? Yang dulu kamu suka main ke rumahnya waktu kecil dan nggak mau pulang." ayah Ticia mencoba mengingatkan kembali memori masa kecil Ticia.


"Oh, iya, aku inget, papanya Grace kan?" Ticia akhirnya kembali teringat akan teman masa kecilnya dulu.


Tapi kemudian Ticia merasa aneh. Bukannya teman ayahnya yang nama Krisna itu ada di Kalimantan. Apa jangan-jangan mereka akan pindah di kota yang sama dengan Ticia juga.


"Om Krisna tahu kita pindah kesini?" tanya Ticia curiga.


"Tahu dong, makanya dia mau mampir ke rumah kita. Dia lagi liburan kesini katanya, sama istri barunya."


"Istri baru?"


"Iya, mamanya Grace udah lama meninggal katanya, dan sekarang om Krisna udah nikah lagi." jelas ayahnya.


Sementara Ticia yang tidak mengerti dunia orang dewasa hanya manggut-manggut saja. Tapi dia beneran kangen sama teman masa kecilnya itu. Sudah lama tidak saling tanya kabar. Sejak mereka berpisah kayaknya.


"Kamu juga ingat Samuel? Kakaknya Grace?" Ticia mengerutkan keningnya.


Iya, dia masih ingat jelas lelaki yang sempat dia taksir itu. Senyuman malu-malu Ticia pun mengembang dibibir tipisnya. Ticia menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


"Dia akan kuliah disini." ucap ayahnya lagi.


"Kak Sam kuliah disini?" Ticia setengah melongo mendengar penjelasan ayahnya. Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan lelaki yang pernah mengisi masa kecilnya.


...


Seperti apa katanya. Ticia tidak pergi kemana-mana. Dia hanya nonton drama korea di kamar setelah pulang dari sekolah. Hari ini Varen ada meeting dengan klien papanya. Jadinya, Ticia tidak banyak chattingan dengan Varen juga.


Sementara di dapur. Para pembantunya sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk perjamuan nanti malam. Dibantu oleh ibunya Ticia yang juga sedang libur karena weekend.


"Sudah siap buk?" tanya ayah Ticia.


"Hampir yah," jawabnya sambil memasukan adonan roti ke dalam loyang.


"Ya udah, ini Krisna tiba di bandara. Ayah mau jemput dia." ucap ayah Ticia sekalian pamit kepada istrinya.

__ADS_1


"Ya udah, ibu habis ini juga mau siap-siap." jawab ibu Ticia. Sementara ayah Ticia pergi menjemput temannya di bandara.


Sekitar satu setengah jam kemudian. Ayah Ticia sudah tiba di rumah bersama temannya.


"Leticia?" sapa Grace dengan kagum karena Ticia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.


"Grace?" gumam Ticia juga dengan kagum dengan penampilan teman lamanya itu yang berubah drastis.


Kemudian kedua teman lama tersebut saling berpelukan dan mengungkapkan kebahagiaan masing-masing. Karena pada akhirnya mereka bisa tertemu kembali. Setelah sekian lama terpisah.


"Lo cantik banget Cia sekarang? Meskipun dulu juga cantik sih, tapi sekarang lo bener-bener sangat cantik." puji Grace.


"Ah, lo juga cantik banget tahu, modis juga." puji Ticia balik. Dia memperhatikan benar-benar penampilan Grace. Dan Ticia sangat kagum. Grace sangat fashionable. Mirip seperti model.


"Kak Sam," Ticia juga menyapa kakak lelaki Grace yang masih saja berwajah dingin. Tidak berubah sama sekali dari dulu.


Samuel hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya sedikit. Tanpa menyapa balik Ticia.


"Hah," Ticia sempat menghela nafasnya sembari memutar bola matanya sedikit. Ticia tidak menyangka juga sih. Jika Samuel akan selalu dingin seperti itu setelah sekian lama.


Makan malam itu berjalan dengan cukup hangat. Meja makan itu dipenuhi dengan canda tawa. Dan juga kenangan-kenangan yang menjadi topik utama di meja tersebut.


"Om nginep dimana?" tanya Ticia ketika teman ayahnya hendak pamit.


"Vareno Hotel?" Ticia pun membulat matanya.


"Iya, hotel baru, yang pemiliknya masih sangat muda itu loh, tahu kan? sempat menjadi perbincangan di dunia bisnis juga."


Ticia tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya. "Iya, tahu om." jawabnya.


Gimana tidak tahu. Orang pemiliknya itu adalah pacarnya.


Krisna kemudian meminta tolong Ticia supaya menemani Samuel keliling kota tersebut. Seperti yang dikatakan ayahnya sebelumnya. Samuel akan kuliah di kota tersebut. Makanya Krisna ingin anaknya lebih mengenal kota itu.


Ticia sempat mau menolak. Tapi ayah dan ibunya menatapnya tajam. Mungkin mereka sungkang jika Ticia menolak permintaan temannya.


Akhirnya Ticia mengiyakan permintaan teman ayahnya. Tapi dia juga akan meminta izin Varen. Supaya nanti tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


*Di kamar Ticia*


Ticia melihat ponselnya yang dia tinggal di kamar sewaktu makan malam tadi. Dia melihat begitu banyak chat masuk dan juga panggilan tidak terjawab.


Dari siapa lagi, kalau bukan dari sang kekasih, Varen.

__ADS_1


Ticia pun tersenyum melihat isi chat tersebut. "Ish, kok gemes." gumamnya sembari tersenyum.


Tak lama kemudian. Masuk satu pesan lagi dari Varen. Setelah membaca pesan tersebut. Ticia kemudian berlari keluar dari kamarnya.


Dia terburu-buru ingin bertemu dengan kekasihnya. Karena pesan terakhir tadi mengatakan jika Varen sudah ada di depan rumah Ticia.


"Kok disini?" tanya Ticia dengan senang.


"Lo nggak balas chat gue, juga nggak angkat telepon gue." ucap Varen dengan manja.


"Iya maaf, tadi ada temen ayah beserta keluarganya mampir ke rumah. Udah meetingnya?"


"Udah, bosen banget tahu nggak." gerutu Varen sambil menarik dasinya sedikit.


Melihat penampilan formal Varen. Ticia pun tersenyum. "Cocok jadi bos-bos gitu." ucapnya.


"Lo lebih suka gue pakai pakaian kayak gini, atau casual gitu?" tanya Varen sambil bersandar di mobil bagian depan.


"Gue sih mau gimana pun lo, gue suka aja." jawab Ticia yang membuat Varen tersenyum.


"Udah makan belum? Tadi ibu masak banyak."


"Udah tadi sama papa dan kliennya."


Ticia menatap Varen yang terlihat lebih ganteng memakai pakaian kantor seperti itu. Apalagi dasi Varen yang sedikit dilonggarkan. Seperti CEO yang bad boy gitu.


"Yank, besok gue nggak bisa main,"


"Kenapa?" Varen bertanya dengan cepat.


"Setelah dari gereja, gue harus nemenin anaknya temen ayah keliling kota, dia kan mau kuliah disini, biar hafal lokasi-lokasi disini katanya." Ticia tidak menyembunyikan apapun dari Varen.


Memang setelah mereka balikan lagi. Mereka tidak mau menyembunyikan apapun dari pasangannya. Mereka akan selalu mendiskusikan apa yang mungkin menjadi permasalahan dalam hubungan mereka.


"Cowok atau cewek?"


"Co..wok." Ticia menjawab dengan ragu-ragu. Dia tahu Varen pasti tidak akan mengizinkannya.


"Nggak boleh." jawab Varen dengan cepat.


"Gue sebenarnya juga nggak mau, tapi ayah sama ibu yang maksa."


"Atau gimana kalau lo ikut?" Varen mengangguk dengan cepat mendengar ide Ticia.

__ADS_1


Dia tidak mau membiarkan kekasihnya pergi bersama lelaki lain. Makin kesini, Varen memang semakin posesif. Mungkin karena dia terlalu takut kehilangan Ticia.


__ADS_2