Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
96. Move On


__ADS_3

Ticia menjalankan mobil masih dengan air mata yang mengalir. Tak tahu kemana harus pergi. Pokoknya dia melaju kemana hatinya ingin pergi tanpa tujuan.


Di sebelahnya, Anabella memperhatikan Ticia dengan iba. Sesekali Anabella memegang tangan Ticia. Seolah ingin mengatakan 'masih ada gue'.


"An, ke rumah gue mau nggak?" tanya Ticia dengan suara parau karena terlalu lama menangis.


"Iya," Anabella tersenyum dan menganggukan kepalanya. Mungkin saat ini Ticia ingin curhat kepadanya. Jadi kemanapun Ticia membawanya. Anabella akan ikut aja.


Setelah tahu tujuan yang jelas. Ticia mulai memutar arah dan menuju rumahnya. Hatinya masih sangat sakit mengingat apa yang baru saja terjadi dengan kisah cintanya.


Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah Ticia. Ticia langsung menarik Anabella ke kamarnya. Di dalam kamar, tangisan Ticia kembali pecah.


Sebagai seorang sahabat, Anabella memberikan pelukannya untuk Ticia. Meski dia sebenarnya bingung apa yang terjadi dengan Ticia. Anabella tidak memaksa Ticia untuk cerita. Tapi selalu memberikan pelukannya untuk Ticia.


Satu hal yang pasti. Ticia sedih pasti karena Varen. Karena, sebelumnya dia berkata ingin menjenguk mamanya Varen.


Selama hampir sejam Ticia terus saja menangis. Matanya pun sampai bengkak. Selama itu juga Anabella selalu di samping Ticia. Masih menunggu apakah Ticia mau bercerita kepadanya.


Ticia mengusap air matanya menggunakan tissue. "Sorry An, lo gue anggurin." ucapnya dengan suara serak.


"Nggak apa-apa kok, lo kenapa?" mendengar pertanyaan Anabella, Ticia kembali meneteskan air matanya.


Anabella merasa sedih untuk itu. Dia menarik Ticia ke dalam pelukannya lagi. Anabella mengusap-usap punggung Ticia supaya Ticia merasa tenang.


"Kak Varen mutusin gue An," kali ini Ticia mau mengatakan apa yang terjadi. Ticia berkata dengan tersedu.


"Kok bisa?" Anabella terkejut dengan ucapan Ticia. Walaupun dia sudah menebak jika Ticia dan Varen bertengkar. Tapi, Anabella tidak menduga jika Varen akan memutuskan hubungan mereka.


Anabella bisa melihat jika Varen sangat mencintai Ticia. Lantas kenapa Varen tiba-tiba memutuskan Ticia. Itu yang mengejutkan Anabella.


"Dia lihat gue bareng sama Davin, dia mengira gue khianatin dia."


"Loh emang lo ketemu sama Davin?" Anabella memotong perkataan Ticia.


"Iya, waktu lo periksa tadi, gue nggak sengaja ketemu Davin. Kak Vava nuduh gue nggak peduli dengan mama, nuduh gue selingkuh," lanjut Ticia kembali menangis.

__ADS_1


"Dan ternyata mamanya kecelakaan saat bersama Rose, dan Rose mengorbankan nyawanya untuk melindungi mamanya."


"Jadi dia akhirnya memilih Rose, dan mutusin lo?" Anabella sudah mulai tersulut amarahnya. Apa yang Varen lakukan sangat tidak adil untuk Ticia, menurutnya.


Bukankah jika Ticia yang bersama dengan mamanya saat itu. Ticia juga akan melakukan hal yang sama.


"Mungkin karena dia cemburu gue jalan sama Davin, tapi kan gue nggak sengaja ketemu sama dia. Dan gue ke rumah sakit sama lo, dia nggak percaya, dia masih aja nuduh kalau gue selingkuh." Ticia lagi-lagi tidak kuat ketika menceritakan apa yang terjadi kepada Anabella.


"Ya udah, jangan lagi dipikirkan! Mungkin saat ini kak Varen sedang kacau pikirannya, jadi dia tidak bisa mengontrol emosinya." meski dia kecewa dengan keputusan Varen. Tapi Anabella tidak mau menyiram bensin ke dalam api.


Ticia memeluk Anabella. Dia sangat bersyukur memiliki sahabat yang sangat peduli kepadanya. Mungkin cintanya boleh hancur. Tapi hidupnya juga harus terus berjalan.


****


Keesokan paginya.


Ticia ke sekolah kembali diantar oleh sopirnya. Dia memutuskan untuk terus menjalani hidupnya. Move on.


Dengan langkah kecil Ticia berjalan menuju kelasnya yang berada di paling ujung. Saat dia sedang berjalan melewati halaman sekolah. Dari belakang Varen berjalan mendahuluinya. Tidak menyapa juga tidak menoleh ke arah.


Tentu saja tatapan aneh dan bisik-bisik tetangga dia dengar. Menertawakan dia yang sudah tidak lagi dengan Varen. Karena Varen sudah mencuekin dia. Terbukti dengan Varen yang berjalan tanpa menyapanya.


Ticia tersenyum kecil. Dia sadar semua resiko itu. Bukankah itu wajar jika pacaran kemudian putus. Apa yang mereka tertawakan.


"Woi.." tiba-tiba dari arah belakang Iqbal menepuk pundak Ticia.


"Lemes banget lo? Tumben nggak bareng Gio? Dia kayaknya udah datang kan?" Iqbal melihat motor Varen sudah terparkir di halaman sekolah.


"Nggak tahu, ngapain tanya gue, emang gue emaknya?" Ticia berkata dengan sewot.


"Yaelah gitu aja ngegas, kalian kan lengket terus kayak perangko," Ticia menjadi sedih kembali. Dia tidak menjawab pertanyaan Iqbal dan terus berjalan ke kelasnya.


"Ditanya malah diem aja!" Iqbal mengacak-acak rambut Ticia sebelum berlari ke kelasnya.


"Kak Iqbal!!!" tentu saja Ticia mencak-mencak karena kelakuan Iqbal.

__ADS_1


Iqbal berlari dengan menjulurkan lidahnya. Sementara Ticia tidak berniat untuk mengejar Iqbal. Karena kelas mereka juga tidak searah. Dan lagi, karena Ticia tidak mood bercanda untuk saat ini.


Ticia mengubah arah, tidak jadi ke kelas. Tapi dia pergi ke toilet dulu. Di toilet tanpa sengaja dia mendengar obrolan yamg sepertinya adik kelasnya. Para adik kelas itu sedang membicarakan Varen yang katanya mengajak salah satu dari mereka pulang bareng.


"Serius?"


"Iya, gue juga kaget tadi kak Varen ngajak gue pulang bareng. Ntar lo bawa mobil gue ya!"


"Tapi bukannya kak Varen sudah punay pacar ya?"


"Bodo amat, mau dia udah punya pacar, gue nggak akan lepasin kesempatan ini, jika gue harus jadi selingkuhan dia pun gue rela kok." obrolan itu menjadi semakin heboh.


Ticia merasakan sakit di hatinya mendengar obrolan itu. Dia tidak jadi melangkahkan kakinya masuk ke dalam toilet. Langsung balik kanan gitu aja.


Tanpa sadar Ticia menyentuh cincin yang ada di jari manis tangan kirinya. Cincin itu adalah pemberian Varen beberapa waktu lalu.


Ticia melihat dan menyentuh cincin tersebut. Hatinya bagai dihujam ribuan panah. Sakit. Sakit sekali.


Pada saat itu juga dari arah berlawanan. Varen berjalan dengan wajah yang sangat dingin. Tidak mau melihat Ticia sama sekali. Varen melewati Ticia begitu saja.


"Tunggu kak!" ucap Ticia menghentikan langkah Varen. Ticia dia juga menahan lengan Varen.


Ticia dan Varen sama-sama berbalik. Pada akhirnya mereka saling berhadapan. Dari jarak dekat, Ticia melihat mata Varen yang bengkak.


Begitu juga sebaliknya. Dari jarak dekat, Varen melihat jelas mata Ticia yang bengkak. Tapi Varen tetap mengeraskan hatinya untuk tidak peduli dengan Ticia.


Ticia melepas kalung yang dia kenakan. Kalung itu juga pemberian dari Varen. Kemudian melepas cincin yang dia kenakan juga.


Ticia memberikan kalung dan cincin itu kepada Varen. Bukan memberikan tapi mengembalikan tepatnya. "Terima kasih untuk semuanya, semoga kita akan mendapatkan kebahagiaan kita masing-masing." hati Ticia berdenyut ketika mengucapkan kata-kata itu. Ticia meraih tangan Varen dan meletakan kalung dan cincin itu ke tangan Varen.


Kemudian dengan cepat Ticia berbalik dan berlari meninggalkan Varen yang masih terpaku di tempatnya. Dengan menghilangnya punggung Ticia. Berakhir sudah hubungan mereka berdua.


Varen memegang erat kalung dan cincin yang Ticia kembalikan kepadanya. Dia merasa marah karena perkataan Ticia barusan.


"Kebahagiaan? Bahkan gue tidak tahu apa itu bahagia." gumam Varen seorang diri dengan masih sangat erat mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2