Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
45. Kebahagiaan Varen


__ADS_3

Sementara Varen dan Ticia jalan-jalan ke pantai. Papanya Varen ternyata juga datang ke restoran milik Dina. Darwis datang seorang diri dengan maksud membujuk istrinya supaya mau pulang.


Ketika Darwis memarkirkan mobilnya di depan resto milik Dina. Dia sempat memicingkan matanya, melihat mobil yang mirip dengan mobil anaknya. Dan setelah melihat plat nomor mobil tersebut. Darwis jadi yakin jika itu memang mobil milik putranya.


Saat itu kebetulan Dina baru saja hendak keluar. Dina pun berpapasan dengan Darwis yang sedang berjalan memasuki restonya. "Mas Darwis?" gumamnya terkejut ketika melihat Darwis berjalan ke berlawanan arah dengannya.


"Gio disini?" tanya Darwis dengan tersenyum kecil.


"Iya, tapi sekarang dia baru jalan-jalan sama pacarnya." jawab Dina dengan begitu dingin.


"Leticia juga ikut kesini?"


"Mas udah kenal sama pacarnya Gio?" Darwis pun menganggukan kepalanya.


"Mas kenapa kesini?" tanya Dina masih dengan sangat dingin.


"Nggak kenapa-napa, mau main aja. Kamu kan tahu aku suka banget sama suasana pantai." jawab Darwis sembari tersenyum.


"Kamu mau kemana, ma?" tanya Darwis ketika Dina tidak lagi bertanya tapi malah berjalan meninggalkannya.


"Mau pulang, mandi.." jawab Dina sambil terus berjalan menjauh.


Darwis pun mengikuti Dina sampai di tempat tinggal Dina. Rumah dengan desain modern, berada tidak jauh dari bibir pantai. Dan tidak jauh dari resto miliknya. Rumah yang cukup besar tersebut, hanya memiliki seorang pembantu di dalamnya.


Awalnya Dina marah saat tahu Darwis mengikutinya. Tapi karena Darwis ngeyel, jadi Dina hanya membiarkan Darwis mengikutinya sampai rumah.


"Mbak, tolong buatin minum buat tamu saya ya!" ucap Dina saat masuk ke dalam rumah.


Dina lalu meminta Darwis untuk menunggunya di ruang tamu. Sementara dirinya naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Dina ingin segera mandi karena badanya udah lengket semua.


Tapi tanpa sepengetahuan Dina. Darwis mengikutinya sampai ke kamarnya. Darwis masuk ke kamar Dina yang cukup luas.


Terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Darwis bisa melihat bayangan seseorang yang sedang mandi di dalam kamar mandi. Gambaran siluet itu membuat Darwis tersenyum.

__ADS_1


Sudah dua tahun, sejak Dina pergi. Darwis selalu menekan kebutuhan biologisnya. Meskipun Jane selalu menggodanya, tapi Darwis bahkan sama sekali tidak tergoda.


Entah apa yang membuatnya punya niatan menikahi Jane. Apa karena dia beneran suka sama Jane. Atau hanya karena dia merasa berhutang budi. Karena selama dia terpuruk akibat kepergiaan Dina. Jane yang selalu menyemangatinya.


Dina yang telah selesai mandi keluar dari kamar mandi. Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat Darwis berdiri di depannya dengan tatapan tajam. Tatapan yang masih sama seperti dulu. Tatapan yang membuatnya rela menyerahkan seluruh hidupnya kepada pria tersebut.


"Mas..Mas..Darwis, kenapa kamu disini?" tanyanya dengan tangan yang spontan menutupi bagian tubuhnya yang tidak tertutupi handuk.


"Ma, aku kangen sama kamu.." ucap Darwis berjalan mendekati Dina. Secara spontan, Dina mundur perlahan.


Darwis pun dengan cepat memeluk Dina dengan erat. Darwis juga menciumi pipi sampai ke leher Dina dengan ganas.


"Mas,, tolong jangan kayak gini!" ucap Dina sedikit mendorong tubuh Darwis.


Akan tetapi Darwis seolah tidak mendengarkan permohonan Dina. Dia terus saja mencium Dina dari pipi, bibir, sampai ke leher Dina. Anehnya, meskipun pikiran Dina menolak perilaku Darwis. Tapi hatinya tidak ingin menghentikan tindakan lelaki yang masih menjadi suaminya tersebut.


....


Saat Varen dan Ticia kembali ke resto milik mamanya Varen. Varen merasa terkejut ketika melihat papanya sudah ada di tempat itu juga. Varen melihat papanya yang sedang makan. Sementara mamanya masih sibuk melayani para pelanggan.


"Eh, kamu nak. Iya, papa suntuk di rumah. Lagipula di hotel juga nggak ada kerjaan." jawab Darwis sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Darwis juga tidak lupa menyapa Ticia. Dan meminta Ticia serta anaknya untuk duduk bersama mereka.


"Papa sendirian?" tanya Varen karena tidak melihat siapapun bersama papanya.


"He em," Darwis masih dengan santai menjawab pertanyaan Varen, sambil terus memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Tak lama kemudian Dina mendekat dan menyuruh karyawannya menyiapkan makanan untuk anaknya dan pacar anaknya. Sementara Dina terlihat sedikit canggung duduk bersama dengan Darwis.


Setelah kejadian sejam yang lalu. Dina menjadi agak salah tingkah ketika Darwis menatapnya. Makanya, ketika Darwis makan. Dina justru menyibukan dirinya dengan pekerjaan.


Melihat tingkah mamanya yang aneh. Juga papanya yang selalu menatap mamanya. Membuat Varen menjadi penasaran. Apa yang terjadi antara papa dan mamanya sebelum dia kembali.

__ADS_1


"Gio seneng deh, akhirnya kita bisa makan satu meja lagi. Gio akan lebih bahagia, jika papa sama mama bisa kembali tinggal satu rumah lagi, sama Gio." ucap Varen yang membuat Dina dan Darwis saling berpandangan.


"Papa sih maunya juga gitu. Tapi mama kamu lebih memilih tinggal disini," sahut papanya Varen.


"Disini kan aku juga kerja, bukannya pacaran kan." ucap mamanya Varen.


"Udah punya suami ganteng gini, masih niat punya pacar?" tanya Darwis sambil tersenyum menatap Dina.


"Ish, udah tua masih aja narsis." olok Dina sambil bergidik.


"Biarin tua, tapi masih oke, buktinya tadi kamu aja kewa-" dengan cepat Dina menutup mulut Darwis dengan tangannya. Darwis menatap wajah Dina yang begitu dekat dengan dia. Darwis melihat wajah Dina yang memerah.


"Jangan bahas itu!" bisik Dina sembari melotot ke arah Darwis.


Bersamaan dengan itu, makanan untuk Varen dan Ticia sudah jadi. Dina pun mempersilahkan Varen dan Ticia untuk menikmati hidangan tersebut. Sementara dirinya kembali menyambut para pelanggan yang datang ke tempat tersebut.


"Mama masih cantik ya pa?" tanya Varen saat dia melihat papanya terus-terusan memandangi papanya.


"Banget, dia sama sekali tidak pernah berubah, masih aja cantik dan baik.." jawab Darwis masih dengan memandangi Dina.


Ticia pun hanya tersenyum melihat papa dan mamanya Varen yang seperti anak muda yang sedang pedekate. Dimana papanya Varen terus-terusan memandangi mamanya Varen. Dan mamanya Varen yang terlihat selalu salah tingkah karena terus-terusan ditatap oleh papanya Varen.


Ticia hanya menyenggol lengan Varen dengan sikunya sembari menggerakan kepalanya ke arah papanya Varen.


"Pa, kenapa sih papa sama mama harus pisah?" tanya Varen yang membuat Darwis seketika menoleh menatap anaknya yang terlihat sedih.


"Gio nggak mau kalau harus milih salah satu dari kalian."


"Kamu tenang aja sayank, papa akan kejar mama kamu lagi, supaya keluarga kita bisa bersatu lagi." ucap Darwis membuat Varen seketika menjadi bahagia.


"Papa serius?" Darwis menganggukan kepalanya dengan yakin.


"Terus tante Jane?" pertanyaan Varen itu membuat wajah Darwis berubah seketika. Tapi sesaat kemudian dia berkata kepada anaknya. Jika dalam waktu dekat dia akan membahas tentang pembatalan rencana pernikahan mereka.

__ADS_1


Meskipun Darwis yakin, Jane pasti akan sangat murka. Tapi Darwis tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Dia masih sangat mencintai istrinya. Dan ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anaknya.


__ADS_2