
Malam harinya setelah mahrib, Varen menjemput Ticia dan mengantar ke rumah Indah. Tentu saja kehadiran Varen membuat Indah menjadi riang gembira. "Lo dianter kak Varen kesininya?" tanyanya kepada Ticia.
"Heem, dia ngeyel mau nganter gue," jawab Ticia sembari menoleh ke arah Varen yang sedang asyik main game di pojokan.
"Kalian udah jadian?" tanya Anabella. Dan Ticia hanya menggelengkan kepalanya pelan, sembari sekali-kali dia menoleh ke arah Varen yang heboh dengan hape-nya.
"Gue setuju jika seandainya kalian jadian, gue ikhlas kok.." ucap Indah dengan konyol. Indah tidak beneran suka sama Varen. Dia hanya merasa senang aja rumahnya didatangi oleh lelaki terpopuler di sekolahnya.
"Udah nggak usah ngaco, mending kita belajar biar nggak kemalaman nanti selesainya!" Ticia sengaja mengalihkan topik pembicaraan tentang Varen. Dia sebenarnya juga bisa merasa jika Varen sangatlah perhatian terhadapnya. Akan tetapi, Ticia tidak berani menaruh harapan yang tak pasti setelah kejadian bersama Vincent waktu itu.
Dua jam lebih telah berlalu. Akhirnya Ticia, Indah dan Anabella selesai dengan tugas kelompok mereka. "Akhirnya.." Ticia meregangkan otot-otot ditubuhnya setelah dua jam lebih dia spaneng dengan tugasnya.
"Kak Varen cool banget ya?" Indah kembali terpesona oleh ketampanan Varen.
"Lebih cool mana sama kak Arka?" tanya Anabella.
"Jelas kak Arka-lah dia kan cowok gue, tapi kak Varen lebih ganteng, huhuhu..." Anabella mendorong kepala Indah pelan. Anabella tidak habis pikir, bisa-bisanya Indah lebih muji cowok lain ketimbang cowoknya sendiri.
"Tapi kak Varen emang ganteng banget,," giliran Anabella yang bertingkah konyol.
"Apaan sih kalian, kalau gitu gue ajak dia pulang aja, biar kalian nggak gila gini.." sahut Ticia tak habis pikir dengan tingkah kedua temannya.
"Ah ngomong aja kalau lo nggak rela!" Indah mendorong pelan tubuh Ticia sedang membereskan alat tulisnya.
"Iya ngomong aja kalau lo cemburu, kita kagum sama ketampanan kak Varen, pakai sok-sokan ngatain kita gila.. huuu." sahut Anabella gantian mengolok Ticia.
"Emang kalian gila, weeekk.." Ticia dengan cepat berdiri dan menjulurkan lidahnya ke Indah dan Anabella. Setelah itu dia berlari menuju dimana Varen duduk.
"Yuk pulang!" ajak Ticia.
"Udah selesai?" Varen mendongakan kepalanya serta menghentikan permainan game-nya. Ticia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Varen.
__ADS_1
Setelah pamitan, Ticia dan Varen pun meninggalkan rumah Indah. Sementara Anabella pulang jalan kaki, karena rumahnya tidaklah jauh dari rumah Indah.
"Langsung pulang atau kemana dulu?" Belum sempat Ticia menjawab, tiba-tiba Varen menghentikan motornya karena ada panggilan masuk.
"Gue angkat telepon bentar?" Ticia hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Ticia sadar tak punya hak melarang Varen melakukan apapun.
"Di rumah sakit mana?" Seketika Varen menjadi panik setelah menerima panggilan itu.
"..."
"Gue kesana sekarang!" ucap Varen langsung mematikan teleponnya.
"Kenapa? Lo ada urusan? Gue pulang naik taxi aka kalau gitu, nggak apa kok.." ucap Ticia sadar diri.
"Lo keberatan nggak kalau ikut gue ke rumah sakit? Orang tua Tika kecelakaan, dan gue sebagai sahabat perlu buat hibur dia." Varen tentu saja tidak rela jika Ticia pulang sendirian naik taxi. Makanya dia ajak Ticia untuk ikut dengan dirinya ke rumah sakit.
"Boleh." jawab Ticia. Lalu tanpa butuh waktu lama, Varen melajukan motornya menuju rumah sakit dimana orang tua Tika dirawat.
Begitu melihat Varen datang. Tika langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari memeluk Varen. "Gi..." sedunya.
"Yang sabar, orang tua lo pasti akan baik-baik saja.." Varen menenangkan Tika dengan balik memeluk Tika dan mengelus lembut lengan Tika.
"Gue takut Gi,"
"Nggak usah takut, ada gue, ada anak-anak juga." Varen kembali mencoba menenangkan Tika.
Sementara disisi lain, Ticia melihat Varen berpelukan dengan Tika. Seketika dia menghentikan langkahnya. Dia tidak mau merusak moment itu. Ticia tahu, jika saat ini Tika membutuhkan banyak perhatian. Maka dari itu, Ticia cukup berdiri agak jauh dari Varen dan teman-temannya.
Ticia bahkan sudah balik kanan, sebelum akhirnya Varen memanggilnya. Dan Ticia pun kembali berbalik. Dia tersenyum manis ke arah Varen dan teman-temannya.
"Lo mau kemana?" tanya Varen sambil berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Gue, e..e..mau pulang, udah malem, takut dicariin ayah." jawab Ticia sedikit gugup.
"Gue anter!"
"Nggak..nggak perlu, gue bisa pulang sendiri. Lo kan juga harus temenin kak Tika." jawab Ticia sembari menatap Tika yang sudah melotot ke arahnya.
"Lo pergi sama gue, dan pulang juga harus sama gue!" Varen tidak membiarkan Ticia pupang sendirian. Dia terlalu khawatir.
Tapi, bersamaan dengan itu. Dokter yang menangani orang tua Tika mengabarkan bahwa kedua orang tua Tika tidak bisa diselamatkan. Maka histeris-lah Tika mendengar berita itu.
"Nggak mungkin!! Ini semua pasti bohong, mama sama papa saya nggak mungkin meninggalkan dok?" ucap Tika tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Rafa, Iqbal, dan juga Digta berusaha menenangkan Tika. Tapi tak seorangpun dari ketiga lelaki itu mampu meredakan emosi Tika. Mereka secara bergantian memeluk dan menenangkan Tika. Tapi tetap saja tak berhasil. Sampai akhirnya Varen maju dan memeluk Tika.
Baru, saat Varen memeluknya. Tika mulai sedikit tenang, tapi masih saja tak bisa berhenti menangis. "Bilang ke gue kalau semua ini bohong, Gi!" ucapnya sembari tersedu.
"Lo harus kuat! Gue tahu lo orangnya kuat!" ucap Varen masih memeluk Tika yang terus saja menangis.
Tetap di posisinya, Ticia merasakan hatinya seperti tertusuk tatkala melihat Varen memeluk Tika. Meskipun dia tahu, Tika adalah satu-satunya teman wanita yang dekat dengan Varen. Tapi tetap saja, mereka lawan jenis.
Ticia hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Jujur, dia ingin juga memeluk Tika dan memberinya semangat. Akan tetapi mengingat kejadian kemarin-kemarin. Ticia menyadari jika orang tak ingin Tika lihat adalah dirinya.
Maka diam-diam Ticia mundur beberapa langkah, dan akhirnya keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Varen. Ticia pun kemudian memilih untuk naik taxi pulangnya.
Di dalam taxi, Ticia teringat betapa berartinya Varen untuk Tika. Disaat temannya yang lain tidak mampu menenangkannya. Tapi Varen bisa, hanya dengan sekali pelukan.
Sebagai sesama wanita. Ticia menyadari perasaan Tika untuk Varen. Dan setelah mengingat-ingat lagi beberapa kejadian yang telah terjadi. Alasan kenapa Tika suka kepada dirinya ialah karena rasa cemburu.
"Gue kok ngerasa jadi orang ketiga diantara hubungan mereka," gumam Ticia seorang diri.
"Apa gue nggak usah deket-deket lagi aja ya sama Varen." Ticia bingung apa yang akan dia lakukan ke depannya.
__ADS_1