Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
35. Ancaman Varen


__ADS_3

Ticia kembali ke kelas dengan perasaan yang lebih baik. Sebelum gurunya datang, Ticia masih sempat makan camilan yang dibelikan oleh Varen sebelumnya.


Indah bertanya darimana aja Ticia. Dia menjawab dari kelas 11 TB 2, tepatnya kelas Varen. Anabella kemudian juga bertanya kenapa tadi di kantin, Ticia tiba-tiba marah.


Ticia berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia sedikit melirik ke arah Rose yang sudah kembali ke tempat duduk. Tanpa kata pun, Anabella paham. Jika semua itu ada kaitannya dengan murid baru tersebut.


Sejujurnya Anabella sempat curiga kenapa Rose selalu saja mengikuti Ticia dan Varen kemana-mana. Juga setiap kali berbicara dengan Varen, seperti orang yang sudah lama kenal.


Hanya saja, Anabella tidak tahu apa hubungan Varen dengan Rosalinda.


Sementara Indah menatap Ticia, kemudian menatap Anabella dengan bingung. Dirinya tidak tahu apa yang di maksud dengan gerakan mata Ticia. Dan juga anggukan kepala Anabella.


"Kenapa sih?" tanya Indah semakin penasaran.


"Huss, anak kecil nggak perlu ikut campur!" ucap Ticia dengan sedikit tersenyum.


"Hei, lo ama gue masih tua gue tauk..." protes Indah, tidak terima dikatain anak kecil.


"Akhirnya ngaku juga kalau dia tua, An.." ucap Ticia lagi dengan terbahak.


Memang dari ketiga sahabat itu. Indah adalah yang paling tua. Dulu dia telat masuk sekolah. Dikarenakan Indah dulu orangnya sangat pemalu. Dia masih belum mau masuk sekolah padahal umurnya sudah saatnya masuk ke taman kanak-kanak.


"Sialan lo.." gerutu Indah dengan tersenyum. Dia tahu jika apa yang diucapkan Ticia dan Anabella hanyalah sebuah candaan.


Kenyataannya, meskipun umurnya lebih tua dari kedua sahabatnya. Dia yang paling kekanakan diantara ketiga-nya. Tapi terkadang dia juga bisa menempatkan dirinya sebagai sebagai seorang kakak untuk Ticia dan Anabella.


...


Rose memandang Ticia yang sedang bercanda dengan kedua temannya. Dia penasaran, kenapa cewek seperti Ticia bisa dapatin hati dan cinta Varen.

__ADS_1


Cewek seperti dia?


Maksudnya, seorang cewek yang sedikit tomboy, terlihat dari cara bicaranya yang suka ceplas ceplos. Seorang wanita yang tidak memperhatikan penampilan. Maksudnya, biasanya seorang wanita akan lebih suka memakai make up untuk menunjukan kecantikannya. Tapi Ticia tidak sama sekali.


Entah karena Ticia tidak suka, atau tidak mampu beli. Tapi, untuk poin kedua kayaknya bukan. Dia termasuk anak dari keluarga yang mampu. ayahnya Manager, dan ibunya seorang konsultan di sebuah perusahaan besar.


Atau mungkin Ticia hanya ingin tampil biasa saja. Karena tujuan utamanya ialah sekolah. Bukan mencari pacar. Entahlah. Tapi jika melihat kebelakang. Setiap kali keluar rumah dia juga akan dandan, meskipun hanya riasan tipis.


Dalam hati Rose berkata, seharusnya Varen hanya boleh menjadi miliknya.


Saat guru masuk ke dalam kelas. Ticia sudah kembali tenang di tempat duduknya. Ticia mengeluarkan buku catatannya dan mulai mencatat pelajaran yang diberikan oleh guru yang mengajar pada waktu itu.


"Cia.." tiba-tiba Rose menyenggol lengannya pelan, dan memanggilnya pelan juga.


Ticia pun menoleh sesaat,"kenapa?" tanyanya sambil masih fokus mencatat.


"Lo tadi marah sama kak Gio, gara-gara tadi pagi?" tanya Rose dengan nada bersalah.


"Iya, gue yang salah kok. Gue terlalu kekanak-kanakan." Ticia ingin Rose merasa lebih baik. Karena kenyataannya Ticia memang kekanakan yang tiba-tiba marah tanpa mendengar penjelasan dari Varen.


Hanya saja, Ticia tidak tahu maksud terselubung, kenapa Rose menceritakan semua kepadanya. Dan membuatnya berpikir, jika Rose adalah wanita special untuk Varen sebelumnya.


Rose yang tahu jika rencananya tidak berhasil. Hanya bisa bersikap seolah dia merasa bersalah di depan Varen dan Ticia. Selanjutnya, dia akan memikirkan lagi cara supaya bisa membuat hubungan Varen dan Ticia menjadi renggang.


****


Di kelas, Varen berpindah tempat dengan temannya lagi. Kali ini Varen duduk disebelah Roman. Maksud dia mendekati Roman. Untuk memperingati Roman supaya jangan lagi mengganggu pacarnya.


Roman yang tidak mau berurusan dengan Varen dan gengnya. Hanya berdalih jika dirinya hanya bercanda. Roman juga mengatakan jika Ticia bukanlah tipe idealnya.

__ADS_1


Faktanya, jika bukan karena Varen sudah lebih dulu mendapatkan Ticia. Dia memiliki minat untuk mengejar Ticia. Selain karena kagum dengan kecantikan Ticia yang berbeda dengan wanita lainya. Roman juga sangat menyukai Ticia karena keberaniannya.


Bukan rahasia lagi di sekolah itu. Jika rumor tentang Ticia yang melawan kakak kelas mereka sudah menyebar. Mereka juga akhirnya tahu jika Ticia adalah seorang juara karate di kota sebelumnya.


"Ingat! Lo boleh rayu semua cewek yang lo mau, tapi jangan pernah lo rayu cewek gue!" Varen memperingati Roman. Ucapan Varen sebenarnya terdengar lembut. Tapi penekanan intonasinya yang membuat Roman sedikit merinding.


Roman kenal dengan Varen sejak kelas 10. Dia sudah cukup tahu bagaimana Varen ketika dia marah. Dan Roman tidak mau membangunkan harimau yang sedang tertidur.


"Iya, tenang aja. Gue cuma bercanda kok sama cewek lo.." jawab Roman berusaha bersikap biasa saja. Padahal sebenarnya dia sedikit menggigil karena ancaman Varen.


Setelah merasa perasaannya tenang. Varen kembali berpindah tempat di samping Nathan. Tepat, di saat dia sedang berjalan menuju tempat duduknya. Bu Endah kembali menegur Varen.


"Kalau mau jalan-jalan di Mall, bukan di kelas.." ucap Bu Endah.


"Raf, diajak bu Endah kencan tuh, diajak jalan-jalan ke Mall.." bukannya takut karena di tegur oleh gurunya. Varen justru malah ngelawak dengan mengatakan kalau Rafa diajak kencan oleh gurunya.


Maka kehebohan tidak bisa lagi terhindari. Semua murid di kelas tersebut tertawa menanggapi gurauan Varen. Pasalnya, gurauan seperti itu tidaklah hanya sekali. Mengingat bu Endah yang masih belum menikah walaupun usianya sudah memasuki kepala empat. Membuat dia sering kali jadi bahan candaan murid-muridnya.


Bahkan tak jarang dari muridnya yang juga merayu bu guru dengan tubuh sedikit tambun tersebut. Tentu saja semua itu hanyalah candaan saja.


Sebagai seseorang yang memilih untuk tidak menikah. Tentunya bu Endah sadar jika semua itu pasti akan terjadi. Akan tetapi, dirinya tidak pernah menganggap penting omongan orang. Atau dia tidak pernah memasukan ke dalam hati omongan orang. Yang hanya bisa menilai dari luarnya saja.


Menghadapi candaan murid-muridnya pun. Dia sangatlah santai. Dia paham jika sebagai anak muda yang ada hanyalah apa yang bisa membuatnya tertawa, tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Dirinya juga pernah muda. Dan pernah di posisi murid-muridnya saat ini.


Tok tok tok


"Udah jangan berisik! Cepat selesain tugas kalian! Kalau nggak selesai, kalian nggak boleh pulang.." ucap bu Endah.

__ADS_1


"Huu......" bukan meredakan keributan, ancamannya justru membuat keributan yang lebih parah lagi.


__ADS_2