Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
90. Backstreet


__ADS_3

Sepulang sekolah Varen membawa Ticia ke taman yang tidak jauh dari rumah Ticia. Tidak tega melihat kekasihnya murung sepanjang hari. Varen berinisiatif menghibur kekasihnya di taman bunga yang cukup indah.


Ticia menyenderkan kepalanya di tubuh Varen. Sementara Varen mendekap kekasihnya dengan erat. Sesekali Varen mencium puncak kepala Ticia.


"Gue takut kak," lirih Ticia.


"Kita berjuang bersama ya?" ucap Varen menenangkan Ticia. Walaupun sebenarnya dia juga takut. Takut kehilangan wanita bernama lengkap Leticia Putri Keinara tersebut.


"Kita harus siap mulai dari sekarang, siap untuk melepas satu sama lain." ucap Ticia lagi dengan suara serak. Tidak berani membayangkan seandainya mereka pisah kelak. Siap atau tidak semua itu pasti akan terjadi.


Varen mempererat pelukannya. Ketakutan yang sama membayangi dirinya. Dia juga tidak bisa menjanjikan apapun untuk Ticia. Karena dia sadar, mereka berbeda.


"Biarkanlah untuk saat ini semua berjalan seperti ini. Seandainya ayah nggak restui hubungan kita, lo mau kan backstreet?" Ticia menganggukan kepalanya. Dia setuju dengan ide Varen.


Meskipun harus menjalani hubungan rahasia. Ticia tidak masalah untuk itu. Yang terpenting dia masih bisa bersama Varen.


Hari semakin sore. Daun-daun berjatuhan. Burung-burung beterbangan kesana kemari. Tapi sinar matahari masih terasa menyengat dikulit.


Ticia ingin pulang. Dan Varen dengan senang mengantarnya ke rumah.


Tadi ketika sopir menjemputnya di sekolah. Ticia beralasan ada tugas kelompok di rumah temannya. Jadi sopir pulang dengan tangan. Dan pastinya, ayahnya sudah mengetahui itu.


Makanya, ketika Ticia melihat ponselnya ada begitu banyak pesan dari ayah. Sepertinya ayahnya sudah curiga jika Ticia berbohong.


Untungnya Ticia masih menyimpan video saat dia belajar bersama dengan Anabella dan Indah beberapa waktu lalu. Ticia mengirim video tersebut ke ayahnya.


"Ya udah cepat pulang!" tulis ayahnya melalui pesan wa.


Bisa sedikit bernafas lega. Bahkan masih bisa mampir untuk makan siang dulu juga.


"Jangan murung terus dong!" ucap Varen sembari mengusap pipi Ticia menggunakan ibu jarinya.


"Lo harus tetap makan, biar nggak sakit!" imbuhnya sambil menyodorkan makanan ke mulut Ticia.


Ticia masih saja murung. Meskipun dia tersenyum. Tapi tetap saja wajahnya terlihat sangat murung. Terlihat jelas jika senyuman itu senyuman yang dipaksakan.


Ticia membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapkan oleh Varen. Dengan sangat perhatian Varen juga mengelap sisa makanan yang ada di sudut bibir Ticia.


Selesai makan Varen kemudian mengantar Ticia pulang. Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan rumah Ticia.


"Makasih ya kak," ucap Ticia sembari memberikan helm kepada Varen.

__ADS_1


"Iya sayank," Varen menerima helm tersebut. Tangan kirinya membenahi rambut Ticia yang sedikit berantakan.


"Ehem.." terdengar suara deheman dari rumah Ticia. Varen dan Ticia pun menoleh ke sumber suara tersebut.


"Ayah." gumam Ticia dan Varen bersamaan.


Ticia sempat kaget ketika melihat ayahnya. Dia pikir ayahnya masih di kantor. Makanya dia masih sempat mampir makan dulu.


Sementara Varen, awalnya dia kaget melihat ayah Ticia yang sudah ada di rumah jam segini. Tapi kemudian dia tersenyum senang. Mungkin ini kesempatan untuk dia menjelaskan semua. Supaya dia masih bisa mendapatkan restu untuk memacari Ticia.


Varen melepas helmnya. Dia turun dari motor dan mulai menyalami ayah Ticia. Sedangkan ayah Ticia juga tidak berniat menolak kesopanan Varen.


"Yah, Varen mau ngomong sama ayah." ucap Varen tanpa basa basi.


"Mau ngomong kalau semalam saya salah lihat gitu?"


"Bukan yah, semalam ayah memang nggak salah lihat, itu memang aku, tapi itu tidak seperti yang ayah bayangin."


"Aku ke tempat itu karena nemenin temen aku aja yah, Varen juga nggak mabuk," imbuh Varen menjelaskan kepada ayah Ticia. Berharap ayah Ticia percaya sama dia dan mau merestui hubungannya.


"Putuskan hubungan kalian! saya nggak mau anak saya pacaran sama orang yang suka mabuk-mabukan, suka kehidupan malam." ucap ayah Ticia dengan berbalik badan.


"Ticia masuk!" perintah ayahnya.


"Leticia!!" seru ayahnya lagi.


"Yah, percaya sama Varen. Varen cinta sama Ticia." ucap Varen menahan tangan ayah Ticia ketika ayah Ticia hendak melangkah.


"Kalian berbeda, dan tidak akan pernah bisa bersatu! Silahkan pulang, dan lupakan anak saya!"


"Nggak yah, Varen cinta sama Ticia." Varen tidak terima dengan keputusan ayah Ticia.


"Jangan kayak gini yah!" mohon Ticia kepada ayahnya.


Akan tetapi ayah Ticia kekeh dengan keputusannya. Dia menarik paksa tangan Ticia supaya masuk ke dalam. Sementara Ticia berusaha melepaskan tangan ayahnya. Ticia meronta sambil sesekali melihat Varen yang juga terus memanggil ayahnya.


"Yah, Ticia cinta sama kak Varen, Ticia nggak mau putus sama kak Varen!" ucap Ticia sudah mulai menangis.


Tapi ayah Ticia tetap tidak terpengaruh dengan tangisan anaknya. Juga tidak terpengaruh dengan teriakan Varen yang terus mangatakan jika dia mencintai putrinya.


Dengan tanpa melihat, ayah Ticia menutup pintu rumahnya untuk Varen.

__ADS_1


"Yah, aku cinta sama Ticia, aku nggak akan mau putus dari dia." seru Varen di depan pintu rumah Ticia. Dia juga mengetuk-ngetuk pintu rumah Ticia. Berharap ayah Ticia mau berbelas kasih kepadanya.


Berkali-kali dia melakukan hal yang sama. Tapi, ayah Ticia sama sekali tidak mengubah pendiriannya. Dia tidak membukakan pintu untuk Varen.


Akan tetapi, tak lama dia mendapat pesan dari Ticia. Di pesan tersebut Ticia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ticia juga meminta Varen untuk pulang. Juga meminta maaf atas perilaku ayahnya.


"Jaga diri baik-baik, gue cinta sama lo." tulisnya membalas pesan dari kekasihnya.


Setelah menerima pesan tersebut. Varen memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sambil memikirkan cara lain untuk membujuk ayah Ticia.


Penyesalan yang datang selalu di akhir. Tapi, jika dia menolak ajakan Digta waktu itu. Dia juga merasa tidak enak. Hanya saja, siapa sangka jika ayah Ticia melihat dia keluar dari club malam itu.


Di rumah, Varen terlihat sangat murung. Seperti banyak beban di pikirannya. Dan Dina melihat itu, merasa kasihan kepada anaknya.


"Kamu kenapa Gi? Kok kayak banyak pikiran gitu?" tanya mamanya.


Varen yang hanya main-main sendok di meja makan pun terkejut dengan pertanyaan mamanya. Dia melirik mamanya kemudian berekspresi dingin kembali.


Dina dan Darwis pun saling berpandangan. Mereka bingung ada apa dengan anak semata wayangnya. Dan menebak jika anaknya sedang marahan dengan pacarnya.


"Kamu bertengkar sama Ticia?" tanya Dina menduga.


"Nggak," jawab Varen dengan lemas.


Varen meletakan sendok makannya. Dia tidak menyentuh makan malamnya. Kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Makan dulu sayank!" pinta papanya dengan lembut. Darwis yakin jika anaknya sedang bertengkar dengan pacarnya.


"Gio nggak lapar." ucap Varen lalu meninggalkan ruang makan dan naik menuju kamarnya.


Dina merasa aneh dengan sikap anaknya. Dia menyiapkan makan malam untuk Varen dan membawanya ke kamar Varen.


Ketika masuk ke kamar Varen. Dina melihat anaknya yang melamun, duduk diatas kasur. Dina meletakan nampan makanan di meja depan sofa yang ada di kamar Varen.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dina duduk di sebelah anaknya.


"Marahan sama Ticia?" lanjutnya.


"Nggak ma. Semalam Gio ke club malam karena permintaan Digta, lah ayah Ticia tahu Gio kesana, dia marah, dan minta Gio buat putus sama Ticia."


"Gio nggak mau putus ma, Gio cinta sama Ticia. Gio ke club juga nggak mabuk-mabukan, kesana cuma dengerin curhatan Digta aja." Varen memeluk mamanya.

__ADS_1


"Kamu udah jelasin ke ayahnya Ticia?" Varen menganggukan kepalanya cepat.


"Ya udah kalau gitu, yang paling penting Ticia percaya sama kamu, kalian kan bisa backstreet juga. Nanti kalau ayahnya Ticia udah nggak marah, dia pasti akan restui hubungan kalian lagi kok." Dina berusaha menenangkan perasaan anaknya.


__ADS_2