
Setelah mendengar penjelasan Rosalinda tentang masa kecil mereka. Pikiran Ticia menjadi agak kacau. Dia mulai meragukan Varen. Akan tetapi hati nuraninya menolak keraguan tersebut.
Selama jam istirahat, Ticia sepenuhnya mengabaikan Varen. Ketika Varen bertanya, dia akan menjawab singkat saja. Varen bukannya cowok yang tidak berperasaan. Dia tahu pacarnya sedang bete. Tapi dia tidak tahu apa penyebabnya.
Dan karena penasaran. Varen pun mulai bertanya. "Kenapa sih manyun terus?" tanyanya dengan lembut sembari menarik pipi temben Ticia.
"Sakit ah,," Ticia tanpa sengaja menepis tangan Varen. Tentunya itu membuat Varen mengernyitkan keningnya.
"Lo kenapa yank?" tanya Varen lagi masih dengan lembut.
"Gue mau balik ke kelas, gue udah kenyang.." Ticia tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kantin.
Varen merasa aneh dengan sikap Ticia yang berbeda dari biasanya. Bahkan tadi pagi aja dia masih bersikap biasa. Tapi kenapa sekarang berbeda.
Varen yakin ada sesuatu yang membuat pacarnya bersikap tidak seperti biasa. Varen menatap makanan Ticia pun tidak berkurang sama sekali. "Lo kenapa sih yank?" serunya lagi ketika Ticia pergi begitu saja.
Varen pun ikutan berdiri dan hendak mengejar Ticia. Akan tetapi tangannya ditahan oleh Rose yang terus-terusan mengikuti Ticia dan Varen. "Ticia kenapa kak?" tanyanya.
"Nggak tahu, tiba-tiba dia kayak bete, kayaknya marah, tapi kenapa dia marah?" Varen merasa bingung dengan sikap kekasihnya.
"Apa mungkin dia marah karena tadi waktu di kelas-" Rose tidak melanjutkan perkataannya membuat Varen penasaran.
"Di kelas kenapa?" tanya Varen cepat.
"Tadi di kelas dia terus-terusan memaksa gue buat ceritain hubungan masa kecil. Jadi gue ceritain semua, termasuk perpisahan kita." jelas Rose.
Varen memicingkan matanya. Dia mencoba mengingat perpisahan antara dirinya dengan Rose pada saat mereka masih kecil. Begitu Varen mengingatnya. Varen langsung menarik tangannya dan berlari menyusul pacarnya.
__ADS_1
Varen jadi semakin yakin jika sang kekasih sedang marah karena cemburu. Varen pun berusaha mengejar dan akan menjelaskannya. Tapi sebelum dia menyusul ke kelas Ticia. Varen membelikan camilan kesukaan Ticia dulu beserta minumannya.
Varen yakin jika kekasihnya pasti lapar sekarang. Karena biasanya Ticia makan banyak baru bisa kenyang. Sedangkan ini tadi, dia bahkan tidak menyentuh makanannya.
Saat Varen masuk ke dalam kelas Ticia. Dia melihat sang kekasih sedang bersedih. Ticia menempelkan kepalanya di meja sambil memasang headset. Sepertinya sedang mendengarkan musik.
Varen melangkah pelan menuju tempat duduk Ticia. Ketika Varen duduk di sebelah Ticia. Ticia masih belum ngeh jika ada seseorang disampingnya. Posisi kepala Ticia pada saat itu menghadap ke tembok yang ada di sebelah kirinya.
Varen menjawil telinga Ticia. Dan baru saat itulah Ticia mulai menengok ke kanan. Ketika melihat Varen tersenyum sembari mengangkat tangannya pun Ticia hanya biasa saja. Dia justru kembali ke posisi awalnya.
"Yank," Varen menarik pundak Ticia supaya Ticia mau menoleh. Akan tetapi dengan cepat Ticia menarik pundaknya.
Varen hanya menghela nafas dengan sikap kekasihnya tersebut. Setelah beberapa saat terdiam. Varen mulai membuka mulutnya. "Gue tahu, mungkin saat ini lo sedang marah sama gue. Lo mungkin mulai ragu dengan cinta gue. Tapi disini gue akan jelasin semua. Apa yang lo denger dari Rosalinda itu hanyalah rasa suka sebagai adik." ucap Varen berusaha menjelaskan meskipun mungkin Ticia tidak mau mendengarnya.
"Gue udah lama kepengen punya adik, dan saat itu Rosalinda hadir. Sumpah gue cuma nganggep dia sebagai adik gue. Dan seperti yang gue katakan sebelumnya, kalau untuk pertama kalinya gue jatuh cinta sama wanita yaitu lo.." Saat itu sebenarnya Ticia sudah mematikan musiknya. Jadi dia bisa mendengar jelas penjelasan Varen. Tapi saat itu Ticia lebih memilih untuk diam. Dia takut jika ketika dia marah. Apa yang akan dia ucapkan adalah emosi sesaat.
Melihat Ticia yang tidak merespon sama sekali membuat Varen sedikit sedih. Dengan memainkan rambut Ticia, Varen memohon supaya Ticia tidak marah sama dia.
Akan tetapi, Ticia masih saja diam. Baru saat Varen sudah keluar dari kelasnya. Ticia menatap camilan dan minuman yang ada di samping mejanya. Ticia tersenyum tipis. Dia mulai menyesal telah mengabaikan Varen hanya karena rasa cemburu.
Ticia juga sadar, jika tidak seharusnya dia bertanya tentang masa kecil Varen dan Rose. Jika akhirnya dia akan cemburu sendiri.
"Kak Varen!!!" ketika dia mulai tersadar. Dia mulai mengejar Varen sampai ke depan kelas Varen.
Saat dia hendak masuk ke dalam. Dia dicegat oleh Roman yang mengeluarkan seribu satu jurus playboy-nya. Kata-kata yang diucapkan oleh Roman sangatlah manis. Pantas jika dia menyandang status playboy kelas kakap. Siapapun wanita yang tidak tahu rekam jejak Roman. Pasti akan jatuh cinta dengan mulut manis Roman.
Saat Varen menoleh keluar. Tepat di depan pintu kelasnya. Varen melihat Ticia sedang berbicara dengan Roman. Karena tidak mau kekasihnya terlena dengan mulut manis Roman. Varen pun buru-buru berdiri dan mendekati Ticia.
__ADS_1
"Nggak usah rayu-rayu cewek gue, atau lo akan tahu akibatnya!!" ucap Varen yang langsung membuat Roman menciut. Dia tahu seperti apa kejamnya Varen saat marah.
"Nggak kok cuma bercanda doang.. Ya kan Cia?" dalihnya kemudian berjalan masuk ke kelas.
"Dibilangin jangan sering kesini, nggak dengerin.." Varen menjewer telinga Ticia pelan.
"Kenapa? Udah nggak marah lagi?" tanya Varen menatap Ticia yang merasa bersalah.
"Maafin gue!" ucap Ticia lalu memeluk Varen.
"Iya, lain kali jangan asal ngambek aja ya! Kalau gue punya salah, ngomong!" Varen membalas pelukan Ticia. Dia juga mengelus rambut panjang Ticia. Juga mencium puncak kepala Ticia. Varen bahkan tidak peduli dengan tatapan teman-temannya yang berlalu lalang.
"Iya, maaf.." Ticia menganggukan kepalanya dalam pelukan hangat sang kekasih.
"Ya udah lupain aja, yang penting lo udah nggak marah lagi!" lagi lagi Ticia hanya menganggukan kepalanya berulang kali.
"Ehem..." tiba-tiba terdengar suara deheman seseorang yang begitu dengan. Varen dan Ticia pun menoleh. Dan betapa kagetnya mereka ketika tahu jika seseorang tersebut adalah bu Endah, salah satu guru di sekolah tersebut.
Varen dan Ticia pun sama-sama tersenyum tanpa dosa. Dan masih saling berpelukan.
"Kenapa nggak masuk ke kelas? Nggak denger udah bel? Dan kamu, kelas kamu bukan disini kan?" tanya bu Endah dengan tegas.
"Iya bu," ucap Ticia dengan tersenyum kecil.
"Ya udah balik ke kelas kamu sekarang! Malah masih pelukan.." seketika Ticia melepaskan pelukannya dan mendorong pelan tubuh Varen. Sesaat kemudian, Ticia ambil langkah seribu balik ke kelasnya. Sebelum guru killer itu semakin marah dan memberi mereka hukuman.
"Ah bu Endah ganggu aja!" gumam Varen sambil berjalan masuk ke kelas, setelah Ticia pergi.
__ADS_1
"Ganggu apanya? Ini waktunya belajar bukan pacaran.." meskipun dia sangat galak. Tapi bu Endah selalu kewalahan menghadapi Varen dan teman-temannya.
"Kayak bu Endah nggak pernah muda aja!" gerutu Varen. Sementara bu Endah memilih tidak meladeni Varen. Dia hanya menggelengkan kepalanya saja. Nggak ngerti lagi dengan muridnya yang satu itu.