
Cinta itu tidak bisa ditebak. Kapan dia akan jatuh, dan dihati siapa dia akan terjatuh. Terkadang juga cinta datang tanpa permisi. Sama seperti cinta Varen kepada wanita bernama lengkap Leticia Putri Keinara tersebut.
Pertama kali melihat wanita itu. Hati Varen sudah merasakan hal yang aneh. Keberanian wanita itu membuat Varen semakin penasaran. Membuat Varen semakin ingin mengenal lebih dalam lagi.
Sikap acuh tak acuh wanita itu, justru menerobos masuk ke dalam hati Varen. Kepolosan dan kecantikan wanita itu jugalah yang membuat Varen ingin memiliki wanita itu seutuhnya.
Tidak peduli dengan perbedaan yang menjadi jembatan diantara mereka. Yang dia tahu, dia merasa bahagia bersama wanita itu. Bahkan memberanikan diri untuk menyeberangi jembatan itu. Karena yang ada dalam hatinya. Dia ingin memiliki wanita itu. Nyaman, saat bersama wanita itu.
Kenyamanan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Kenyamanan yang tak dia dapatkan dari para gadis yang mencoba mendekatinya.
Mungkin bisa dikatakan jika para gadis tersebut lebih cantik daripada Ticia. Tapi, itulah cinta. Disaat kita berada di tengah taman bunga yang indah. Tetapi mata kita hanya tertuju pada sebuah bunga yang menurut orang, bunga itu berduri. Tapi bagi kita dia nampak lebih indah.
Segala yang nampak indah. Tidak ada artinya dibanding satu orang yang kita suka. Sama halnya dengan, ketika orang bilang jika mawar itu berduri. Tapi bagi pecinta mawar. Keindahannya mampu menutup duri tersebut.
Itulah cinta.
Itu malam hari saat Varen dan Ticia turun dari mobil dan berjalan ke padang rumput tempat favorit mereka. Setiap kali mereka keluar, mereka akan pergi ke tempat itu untuk melihat bintang yang bertebaran dengan sangat indah. Karena dari tempat itu, bintang-bintang dapat terlihat dengan indahnya.
Mata Ticia menyipit melihat sesosok orang yang juga berada di tempat tersebut. Dari perawakannya, sepertinya Ticia merasa tidak asing.
"Kak, itu kayaknya ada orang," ucap Ticia menyenggol tangan Varen.
"Iya, itu kayak nggak asing," Varen mencoba memikirkan siapa sosok tersebut. Dari postur tubuhnya, mereka berdua yakin jika itu seorang perempuan.
Ketika mereka berjalan semakin mendekat. Akhirnya mereka sadar jika sosok perempuan tersebut memang mereka kenal. "Rose..." gumam Ticia dan Varen bersamaan.
Seketika sosok perempuan itu menoleh. Benar saja jika wanita tersebut adalah Rosalinda. Dengan tersenyum Rose menyeka air matanya. "Kak Gio.. Ticia.." ucapnya dengan suara serak.
"Lo ngapain disini? Lo nangis?" tanya Ticia semakin mendekat.
"Nggak kok." Rose berusaha tersenyum di depan Ticia dan Varen.
__ADS_1
"Kak Gio masih ingat tempat ini?" tanya Rose ke Varen yang sepertinya tidak suka melihat Rosalinda di tempat itu.
Mendengar pertanyaan Rosalinda ke Varen, membuat Ticia seketika menoleh ke arah Varen. Dari raut wajah Varen. Ticia bisa melihat jika Varen tidak suka dengan keberadaan Rosalinda. Apalagi pertanyaan yang ditanyakan oleh Rosalinda.
Akan tetapi, melihat itu membuat Ticia semakin penasaran. Varen pernah bilang, jika tempat tersebut tempat favoritnya dengan seseorang yang berarti dalam hidupnya. Apakah seseorang yang dimaksud adalah Rosalinda.
Meskipun Varen sudah menjelaskan semua kepada Ticia. Tapi Ticia masih saja merasa ada yang Varen sembunyikan dari dia. Dan entah kenapa, Ticia selalu merasa cemburu kepada Rosalinda.
"Rose, gue jelasin sekali lagi. Perasaan gue ke lo, itu hanya perasaan sebagai kakak. Dulu sampai sekarang, perasaan itu tetap sama. Perasaan kakak ke adik, nggak lebih." ucap Varen dengan sangat dingin.
Mendengar perkataan Varen membuat hati Rosalinda menjadi semakin sakit. Bagaimana anak dan bapak bisa sama-sama melukai hatinya. Bapaknya dengan tanpa berperasaan membuat mamanya hampir depresi. Dan anaknya terus-terusan mengatakan penolakannya.
Mengingat itu membuat Rosalinda semakin emosi. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu. "Gue tahu kok kak, gue kesini cuma lagi pengen nenangin diri aja. Beberapa hari terakhir gue banyak pikiran, karena masalah mama dan om Darwis." jawabnya menahan rasa sakit di hatinya.
Melihat Rosalinda yang begitu menyedihkan membuat Ticia menjadi merasa kasihan. "Yang sabar ya, Rose!" ucap Ticia sambil mengelus-elus lengan Rosalinda.
"Makasih," ucap Rosalinda dengan senyuman yang tersirat. Entah itu senyuman terima kasih atau senyuman amarah. Karena gelap jadi tidak bisa terlihat dengan jelas.
Pagi itu mentari bersinar belum terlalu tinggi. Burung masih berkicauan dengan merdu. Seorang remaja menangis sesegukan di depan makam orang tuanya.
Dia adalah Tika. Anak malang yang di tinggal pergi kedua orang tuanya secara bersamaan karena sebuah kecelakaan. "Mama sama papa yang tenang ya disana, Tika udah ikhlas kok melepas kalian." ucapnya sembari menyeka air matanya.
Saat Tika hendak berjalan meninggalkan makam kedua orang tuanya. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang. "Aduh.." serunya. Tika terjatuh dan merasakan memar di sikunya.
"Punya mata nggak sih lo!!" serunya dengan marah.
"Ma..maaf." ucap pemuda yang tidak sengaja bertabrakan dengan Tika tersebut.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya. Berniat membantu Tika untuk berdiri. Akan tetapi, Tika yang merasa kesal, menepis tangan pemuda tersebut. "Gue bisa berdiri sendiri." ucap Tika dengan nada kesal.
"Cupu?" gumam Tika lagi ketika tahu jika pemuda yang menabraknya tadi adalah Nathan, teman sekelasnya.
__ADS_1
Nathan hanya menundukan kepalanya seperti biasanya. Nathan juga sedikit terkejut bisa ketemu Tika di pemakaman. Tapi kemudian Nathan teringat jika kedua orang tua telah meninggal bersamaan.
"Ngapain lo kesini? Orang tua lo juga dimakamin disini?" tanya Tika dengan suara cempreng khas-nya.
"I..iya, ibu gue juga dimakamin disini." jawab Nathan dengan gugup. Itu pertama kalinya dia berbicara berdua saja dengan Tika.
"Ibu lo udah lama meninggal?" tanya Tika berubah menjadi lembut.
"I..ya, sejak gue masih TK." Nathan masih saja gugup, meskipun Tika sudah bersikap lembut.
"Terus ibu-ibu yang sering ke sekolah itu?"
"Itu adik ibu gue, tapi sekarang jadi ibu tiri gue." jawab Nathan sudah mulai biasa saat bicara dengan Tika.
Kedua pemuda-pemudi tersebut berjalan bersama keluar dari tempat pemakaman tersebut. Tapi tidak ada yang berbicara sampai di depan kendaraan mereka.
"Kalau gitu gue duluan, gue buru-buru mau ke gereja." pamit Nathan, kemudian naik ke motor matic-nya.
Tapi sebelum dia menghidupkan motornya. Nathan berkata kepada Tika, "Jangan sedih lagi, mungkin Tuhan sengaja melakukan semua itu sesuai dengan keinginan orang tua lo."
"Maksudnya?" tanya Tika tidak paham dengan ucapan Nathan.
"Mungkin, dulu sewaktu orang tua lo masih hidup. Mereka berjanji untuk sehidup semati, dan Tuhan mengabulkan doa mereka. Mungkin semua ini memang keinginan mereka untuk menepati janji masing-masing. Gue yakin mereka bahagia disana. Jadi lo jangan sedih lagi! Jalan lo masih panjang, jalani hidup lo dengan bahagia, mungkin itu juga keinginan mereka." jawab Nathan yang sudah tidak merasa gugup sama sekali.
Setelah mengatakan hal tersebut. Nathan mulai menjalankan motornya meninggalkan Tika yang terpaku dengan perkataan Nathan barusan.
'jalan lo masih panjang, jalani hidup lo dengan bahagia, mungkin itu juga keinginan kedua orang tua lo'
Perkataan itu yang memenuhi pikiran Tika. Sampai dia masuk ke dalam mobil pun. Perkataan Nathan masih saja memenuhi pikirannya.
"Si cupu bener, gue harus jalani hidup gue dengan bahagia, dengan begitu papa sama mama pasti juga bahagia disana." gumam Tika seorang diri.
__ADS_1