Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
26. Memasak Untuk Calon Istri


__ADS_3

Varen menunggu Ticia di depan gereja tempat Ticia beribadah bersama ayah dan ibunya. Tepat pukul 09.00 WIB, Varen sudah yiba di depan gereja tersebut.


Di dalam mobil berwarna merah, Varen memandang beberapa orang yang kekuar dan masuk gereja tersebut. Matanya menyapu semua sudut tempat. Tapi wanita yang dia cari belum juga terlihat.


Ketika tanpa sengaja dia melihat sepasang kekasih berpengangan tangan dan masuk ke dalam gereja terbesar di kota tersebut. Varen tak hentinya menatap mereka. Sudut bibirnya pun ikut mengembang, manakala sepasang kekasih tersebut terlihat sedang bercanda satu sama lain.


Pikiran melayang dalam sebuah angan-angan yang selama beberapa hari terakhir mengganggu pikirannya. Sebelum akhirnya di tersadar karena kaca mobilnya diketuk oleh seseorang, yaitu Ticia.


Sebelumnya Varen sudah mengirim pesan ke Ticia. Varen mengatakan kalau dirinya menunggu Ticia di dalam sebuah mobil berwarna merah di depan gereja. Ticia bisa dengan mudah menemukannya, karena sudah hafal dengan mobil milik Varen. Pasalnya bukan pertama kali itu saja Varen membawa mobil. Mungkin sudah keempat kalinya Varen menjemput Ticia menggunakan mobil.


Tuk tuk tuk


Varen sempat terkejut. Lalu kemudian dia membuka pintunya yang dia kunci dari dalam. Ticia pun masuk ke dalam mobil tersebut. "Ayah sama ibuk?" tanya Varen saat Ticia masuk ke dalam mobilnya.


"Masih di dalam, masih mengobrol sama tim pendoa. Tapi gue tadi udah pamit kok kalau mau ke rumah kakak.." jawab Ticia dengan senyuman indahnya yang menyejukan.


"Kak Vava beli apa?" tanya Ticia ketika melihat kantong plastik di kursi belakang. 'Vava' adalah panggilan kesayangan Ticia untuk sang kekasih.


"Oh itu, beli sayur dan bahan yang lain, gue mau masakin calon istri gue.." jawab Varen sambil menjalankan mobilnya pelan. Karena di depannya masih banyak jemaat gereja tersebut yang menyebrang.


"Kak Vava udah punya calon istri?" tanya Ticia dengan syok.


"Hmm, gue cinta banget sama calon istri gue, dia bukan hanya cantik, tapi cantik banget, punya senyuman yang khas, nggak jaim, nggemesin, baik hati, pokoknya hanya ada satu orang di dunia ini yang kayak dia.."


"Kenalin dong!"


Varen menoleh dan menatap Ticia dengan tersenyum senang. Wanita itu benar-benar membuat Varen tergila-gila. Bagaimana tidak, ketika Varen mencoba menggodanya, wanita itu sama sekali tidak marah. Akan tetapi malah bertingkah konyol. Apalagi kalau marah, dia akan luluh hanya karena camilan kesukaannya.

__ADS_1


"Malah senyum.. Gue kan pengen tahu siapa calon istri lo, siapa tahu gue memiliki kriteria buat rebut lo dari dia.." ucap Ticia sambil memainkan alisnya. Varen tertawa mendengar ucapan Ticia tersebut.


"Ihh, gemes banget deh," Varen mencubit pipi Ticia yang sedikit chubi, dengan gemas.


Varen kemudian memberitahu Ticia. Jika beberapa hari terakhir, Risma selalu memaksa Varen untuk memberikan nomer wa-nya. Akan tetapi Varen selalu menolaknya.


"Kenapa nggak mau kasih?" tanya Ticia senang, tapi dia juga penasaran alasan kenapa Varen menolak memberikan nomernya ke Risma.


"Karena gue kan udah punya lo, gue nggak mau kasih kesempatan siapapun merusak hubungan kita. Gue nggak mau jauh dari lo," jawaban Varen tersebut membuat Ticia tersenyum bahagia.


Setibanya di rumah Varen. Ticia menatap penuh kagum melihat kemegahan rumah Varen. Ticia tak pernah menyangka jika ternyata orang tua Varen sekaya itu. Tapi Varen selalu bersikap seolah dia bukan dari keluarga kaya raya. Hebat dan salut.


"Lo tunggu disini aja ya! Gue mau masak bentar." ucap Varen menyuruh Ticia menunggu di kursi samping kolam renang.


Ticia pun nurut. Ticia memberikan kesempatan Varen untuk menunjukan bakatnya. Juga untuk melihat apakah Varen menyerap ilmu dengan baik dari gurunya di sekolah. Sambil main game Ticia menunggu Varen memasak untuk dirinya.


Varen dengan senang hati melakukan pekerjaanya. Memasak adalah bakat yang tersembunyi dari pemuda bertubuh tinggi tersebut. Sesuai jurusan yang dia ambil di sekolah kejuruannya. Juga bakat yang dituruni dari mamanya.


"Loh den, biar bibi aja!" ucap Bi Suti, assisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah orang tua Varen. Bi Suti jugalah yang sejak kecil merawat Varen.


"Nggak papa bi, biar Gio aja.. Bi Suti tolong buatin minuman buat pacar aku aja, dia ada di samping kolam renang!" ujar Varen kepada Bi Suti.


"Pacar den Gio?" tanya Bi Suti terkejut. Itu pertama kalinya anak majikannya membawa seorang pacar pulang ke rumah. Biasa yang sering datang adalah Tika. Teman Varen dan juga karena keluarga mereka yang sudah saling mengenal.


"He em.." Varen menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Masih dengan melakukan kegiatannya.


Bi Suti lalu membuat minuman sesuai permintaan Varen yaitu jus jeruk, serta membawakan Ticia sekantong besar camilan yang Varen belikan sebelumnya.

__ADS_1


"Makasih mbak.." ucap Ticia saat Bi Suti meletakam minuman tersebut di meja yang ada di samping Ticia.


"Non ini pacarnya den Gio?" tanya Bi Suti penasaran.


"Iya mbak, nama aku Leticia." jawab Ticia dengan tersenyum sopan.


"Saya Bi Suti non, ya udah bibi ke dapur dulu ya non.." pamit Bi Suti kemudian berbalik. Bi Suti senang melihat Ticia. Menurutnya Ticia anaknya cantik dan juga sopan.


Setengah jam berlalu. Tapi Varen belum juga menampakan dirinya. Ticia yang mulai jenuh pun menyusul Varen ke dapur. Ticia mencari dimana dapur berada.


"Ini baunya kok enak banget.." Ticia mengikuti sumber bau tersebut. Maka sampailah dia di dapur rumah tersebut. Ticia melihat Varen sedang menata makanan yang telah ia buat di sebuah piring.


"Emm, baunya enak banget.." Ticia tiba-tiba menyomot makanan tersebut membuat Varen kaget.


"Emm benar-benar enak.." puji Ticia kemudian menyomot lagi.


Varen kemudian mengajak Ticia kembali ke tempat sebelumnya. Varen membawa dua piring makanan utama, sementara Ticia membawa dua piring makanan penutup.


"Ini kak Vava sendiri yang buat?" Ticia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.


"Iya." Varen meminta Ticia untuk segera makan. Dengan senang hati Ticia melahap makanan tersebut. Ticia benar-benar kaget dengan keterampilan memasak sang kekasih.


"Nggak sia-sia ya ilmu yang diberikan guru di sekolah.." ucap Ticia membuat Varen tersenyum kecil.


"Gue benar-benar nggak nyangka, selain jago olahraga, lo juga jago banget masak." Ticia seperti tidak mau berhenti makan.


"Sejak kapan sih kak, lo bisa masak?" lanjutnya sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Ticia, Varen mulai terdiam. Pikirannya melayang ke masa beberapa waktu silam. Dimana dia dulu sering banget mengganggu mamanya yang selalu sibuk di dapur. Mamanya sangat jago memasak. Dia dulu adalah juru masak di hotel milik kakeknya Varen sebelum menikah dengan papanya.


__ADS_2