Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
18. Salah Paham


__ADS_3

Ticia sudah tahu dari awal jika Tika memiliki perasaan yang lebih dari sahabat ke Varen. Ticia hanya terdiam mendengar ungkapan hati Tika. Dia juga seorang wanita, dia tahu apa yang Tika rasakan saat ini. Akan tetapi itu bukan alasan untuk dia menjadi egois.


"Cinta itu tidak bisa dipaksa!"


"Lo bisa ngomong itu dengan mudah karena Gio suka sama lo. Lo nggak pernah tahu rasanya gue.. Gue kehilangan kedua orang tua gue, dan sekarang gue kehilangan lelaki yang gue suka. Hah..." Emosi Tika tidak bisa terkendali.


Ticia menatap Tika dengan iba. Terlihat jelas butiran cairan putih mengalir dari kedua matanya yang sayu. "Gue memang nggak tahu apa yang lo rasain, yang gue tahu setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Dan mereka memiliki pilihan untuk bahagia atau terpuruk dengan masalah itu." ucap Ticia mengusap air mata Tika.


Akan tetapi dengan kasar Tika menepis tangan Ticia. "Nggak usah sok baik!!" ucapnya.


"Jangan salahin orang lain jika apa yang lo mau, nggak bisa lo dapetin. Karena itu akan membuat lo menjadi semakin egois. Kak Varen juga nggak punya kewajiban buat menuhin ambisi lo, soal perasaan tidak ada seorangpun yang bisa memaksa."


"Belagu banget lo?"


"Terserah kalau lo mikir gue kayak gitu. Gue cuma nasehatin lo aja." Ticia hendak meninggalkan Tika, tapi Tika menahan tangannya. Dengan menangis Tika memohon supaya Ticia mau menjauhi Varen.


Ticia terdiam sejenak, "Oke, gue akan-"


"Akan apa?" tiba-tiba Ticia dan Tika di kagetkan oleh seseorang yang seperti sudah lama berada disitu. Tapi mereka tidak tahu. Seseorang itu adalah Varen.


"Gio.."


"Kak Varen.."


Varen melangkah mendekati Ticia dan Tika. Dari raut wajahnya terlihat jika Varen sedang marah. Mungkin kecewa kepada Tika yang berusaha menjauhkannya dari Ticia. Atau mungkin kecewa kepada Ticia yang mau menuruti permintaan Tika.


"Lo akan apa? Akan jauhin gue?" tanya Varen dengan nada marah.

__ADS_1


"Gue kecewa sama lo Tik! Gue kira dengan kejadian kemarin lo bakal mikir tentang perasaan gue, tapi ternyata lo tega.."


"Bukan gitu maksud gue Gi-"


"Dan lo Cia, gue merasa perjuangan gue buat lo hanya sia-sia. Gue bodoh sudah mencintai orang yang nggak pernah suka sama gue sama sekali." Belum sempat Ticia membuka mulut, Varen sudah balik badan meninggalkan Ticia dan Tika.


"Kak, dengerin gue dulu! Gue tadi belum sempat jawab permintaan kak Tika, dengerin dulu gue lanjutin!" pinta Ticia berusaha menahan tangan Varen.


"Nggak perlu dilanjutin! Gue udah tahu apa yang ingin lo katakan. Hati gue sakit, Cia." ucap Varen sembari menatap mata Ticia dengan berkaca-kaca. Varen lalu menarik tangannya dan meninggalkan tempat itu dengan kecewa.


"Gi..." Tika berusaha mengejar Varen.


"Harusnya lo dengerin gue dulu, gue nggak mau jauhin lo." gumam Ticia seorang diri. Faktanya yang ingin Ticia ucapkan bukan akan menjauhi Varen, tapi akan menasehatin Varen supaya tidak marah sama teman-temannya. Karena untuk menjauhi Varen, dia tidak mampu. Entah kenapa. Mungkin karena dia sudah mulai menyukai lelaki bertubuh tinggi itu. Tapi belum sempat dia ngomong, Varen sudah salah paham duluan.


Di kelas 11 TB 2, Varen mengambil tasnya dan pindah di samping Nathan. Kebetulan bangku di samping Nathan kosong. Semua orang di kelas itu tidak ada yang mau duduk semeja dengan Nathan. Mungkin karena Nathan dianggap aneh.


"Gi, gue bisa jelasin semua!" ucap Tika menahan tangan Varen yang hendak pindah tempat duduk. Akan tetapi Varen sama sekali tidak mau melihat atau menjawab perkataan Tika.


"Va..Va..Varen,," ucap Nathan dengan gugup ketika Varen duduk di sebelahnya.


"Gue duduk di sebelah lo nggak apa-apa kan?" tanya Varen.


"I...iya." Nathan tidak berani menolak permintaan Varen. Kalau sampai nolak, dia tau-lah apa yang akan terjadi.


"Gi, emang hari ini ada ulangan ya?" tanya Rafa mendekat ke bangku Nathan dan Varen.


"Nggak, emang kenapa?" tanya Varen balik.

__ADS_1


"Lah, lo kok pindah di sebelah si cupu?" sahut Iqbal sembari duduk di meja depan Nathan.


"Pengen aja duduk samping si cupu." jawab Varen. Dia tidak terjebak oleh pertanyaan temannya yang sepertinya sedang mencari tahu apa yang sedang terjadi antara dirinya dengan Tika.


Sementara itu Ticia tiba di depan kelas Varen. Sebelum masuk ke kelas tersebut, ada beberapa siswa yang menggodanya dengan mengatakan jika Ticia itu cantik. Akan tetapi Ticia sama sekali tidak menanggapi godaan dari kakak kelasnya tersebut.


Dan dari dalam kelas, Varen melihat wanita yang dia sukai sedang digoda di depan kelasnya oleh teman-teman sekelasnya. Varen merasa tidak suka melihat itu, tapi dia berusaha tenang. Justru malah Rafa yang berjalan mendekat dan menegur teman-temannya.


"Nyariin siapa Cia?" tanya Rafa.


"Kak Varen??"


"Ada, yuk masuk!" ajak Rafa. Dan tentu saja itu membuat teman-temannya yang menggoda Ticia tadi menjadi sedikit kesal. Tapi mereka juga tidak berani melawan Varen dan gengnya.


Ticia masuk ke dalam kelas dan langsung menghampiri dimana Varen berada. Ticia meminta Varen untuk mau mendengarkan penjelasannya. Akan tetapi Varen bersikeras tidak mau mendengar apapun dari mulut Ticia.


"Please kak!" mohon Ticia dengan sedih.


"Nggak.." jawab Varen singkat tanpa mau menatap Ticia. Mungkin dia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya ketika menatap Ticia.


Ticia tidak lagi bisa memaksa Varen karena bel masuk sudah berbunyi. Dengan langkah sedih Ticia berjalan keluar dari kelas Varen. Dan sesampainya di depan kelas, dia digoda lagi oleh beberapa teman sekelas Varen. Mereka berkata ingin mengantar Ticia pulang, nanti siang. Ada juga yang minta nomer telepon Ticia, juga alamat rumahnya.


Melihat itu Varen menjadi marah. Dia berdiri dan langsung menarik tangan Ticia melewati teman-temannya yang menghalangi jalan Ticia. Begitu Varen menarik tangannya, beberapa teman sekelasnya dengan rela memberi mereka jalan.


"Nggak usah datang ke kelas gue lagi!" ucap Varen tak jauh dari kelasnya, setelah melepaskan tangan Ticia.


Varen bukannya nggak suka Ticia datang mencarinya. Tapi Varen tidak tahan ingin menghajar teman-temannya yang berani menggoda Ticia di depannya.

__ADS_1


"Kalau lo mau dengerin gue, gue nggak akan ke kelas lo lagi.." ucap Ticia meraih tangan Varen. Seketika Varen terdiam ketika tangan lembut Ticia menyentuh tangannya.


"Udah bel, waktunya belajar.." Varen menarik tangannya, lalu berbalik badan dan meninggalkan Ticia tanpa menoleh. Sementara Ticia hanya menghela nafas melihat kedinginan Varen. Tapi meskipun Varen terlihat dingin, tapi suaranya masih terdengar sangat lembut ketika berbicara dengan Ticia.


__ADS_2