Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
28. First Kiss


__ADS_3

"Kak! Kok ngalamun sih?" panggilan Ticia menyadarkan Varen dari lamunan panjangnya.


"Eh, iya, udah lama gue belajar masak.." jawab Varen dengan tersenyum kecil.


"Kak, mama sama papa kakak nggak di rumah? Kok daritadi gue nggak lihat mereka?" Ticia penasaran. Karena sudah hampir satu setengah jam dia di rumah Varen. Tapi sama sekali tidak melihat papa dan mamanya.


Apa mungkin ke kantor. Tapi nggaklah, ini kan hari minggu. Atau mungkin ada urusan di luar kota. Entahlah.


Mendengar pertanyaan Ticia, Varen pun kembali terdiam. Raut wajahnya bertambah suram. Ticia merasa aneh dengan Varen yang sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kak Vava sakit?" tanya Ticia lagi.


"Enggak, enggak kok. Gue baik-baik saja.." jawab Varen sambil memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing yang tiba-tiba dia rasakan. Karena emosi yang tak terkendali membuat Varen sedikit merasa pusing.


"Cia," Varen tetiba memeluk Ticia dengan erat. Tentu saja itu membuat Ticia semakin bingung.


"Kenapa sih?" Ticia juga memeluk Varen. Dia bahkan bisa merasakan kesedihan Varen.


Akhirnya Varen menceritakan semuanya kepada Ticia. Mulai dari kepergian mamanya dan juga perubahan sikap papanya yang menjadi arogan. Juga tentang kesendiriannya selama dua tahun terakhir.


Semenjak mamanya pergi. Hidup Varen seakan hancur berantakan. Bukan hanya kehilangan sosok mama. Tapi Varen juga kehilangan sosok papa, dan kasih sayang kedua orang tuanya.


Mendengar cerita Varen. Tanpa sengaja air mata Ticia mengalir dengan sangat deras. Ticia tahu rasanya kehilangan orang yang disayang.


Apa yang Varen rasakan itu jauh lebih sakit dibanding dirinya. Dia kehilangan kakak yang meninggalkan dunia. Jelas itu menyakitkan, tapi setidaknya dia bisa menerima kenyataan jika dunianya dan kakaknya sudah berbeda.


Sedangkan Varen, dia kehilangan kasih sayang orang tua dimana kedua orang tuanya masih hidup. Meskipun dia tidak yakin apakah mamanya masih hidup. Tapi selama dia belum melihat makam mamanya dengan matanya sendiri. Varen tidak akan pernah percaya jika mamanya telah tiada.


Yang menyakitkan untuk Varen ialah dia bisa melihat papa tapi dia seolah tidak bisa lagi memiliki mereka. Ada tapi seolah tidak ada.

__ADS_1


Ticia memeluk Varen dengan erat. Dengan air mata yang terus mengalir, seolah bisa merasakan sakitnya.


"Jangan sedih, ada gue yang akan selalu menyayangi lo!" Ticia mengusap air mata Varen yang juga tidak bisa bertahan.


"Janji, jangan pernah jauhin gue!" Ticia pun mengangguk dan kembali memeluk Varen dengan erat.


"Gue cinta sama lo, sayank.." bisik Varen juga tak kalah sedihnya.


Varen tahu, tak seharusnya dia menceritakan semuanya ke Ticia. Karena dia tidak ingin wanita yang dia cintai sedih. Tapi Varen juga tidak tahan menyimpannya sendiri.


Beruntung dia memiliki kekasih yang begitu sangat baik. Yang mampu menguatkan dia ketika terpuruk karena masa lalu yang pahit. Wanita yang kelihatan dingin tapi sangat hangat di dalam.


Suasana menjadi semakin indah. Dan tanpa sadar Varen maju mendekat ke wajah Ticia. Mereka saling bertatapan mesra. Kemudian tiba-tiba kepala Varen semakin mendekat. Sampai bibirnya menyentuh bibir Ticia.


Sementara Ticia memejamkan matanya. Dia sepertinya tahu apa yang akan Varen lakukan. Dan dia sama sekali tidak menolak.


Bibir Varen sampai menyentuh ke bibir Ticia. Varen sedikit tersenyum ketika melihat Ticia memejamkan matanya. Dia pun semakin mendekat dan mengecup bibir Ticia lembut. Tidak ada penolakan dari Ticia. Akhirnya Varen mencium bibir Ticia. Dia memasukan lidahnya ke mulutnya kecil Ticia.


Lama dan semakin lama kedua remaja itu saling berciuman. Seolah mereka tidak mau melepas satu sama lain. Air liur sudah membasahi pipi mereka masing-masing.


Meskipun masih sama-sama kaku. Tapi sepasang kekasih tersebut menikmatinya. Maklum aja, itu pengalaman pertama buat mereka berdua. Sama-sama baru merasakan ciuman.


****


Di ruang CEO hotel milik keluarga Varen.


Papanya Varen sedang sibuk dengan pekerjaannya. Papanya Varen orangnya memang sangat gila kerja. Tapi tetiba pintu ruangannya terbuka dan masuklah seorang wanita setengah baya. Wanita tersebut berjalan mendekat ke kursi papanya Varen. Wanita tersebut lalu memeluk papanya Varen. Sepertinya hubungan mereka sangat dekat.


"Mas, kapan kamu akan ngomong sama Gio tentang hubungan kita?" tanya wanita tadi.

__ADS_1


Papanya Varen seketika menghentikan rutinitasnya, kemudian mengerutkan keningnya. "Sabar dulu! Anak itu masih sedih dengan kepergian mamanya, jadi mungkin butuh waktu untuk memberitahu dia tentang hubungan kita.." jawab papanya Varen sembari menarik hidung wanita tersebut.


"Aku udah nggak sabar nikah sama kamu!" wanita itu bermanja sembari mencium pipi papanya Varen. Kalau di lihat dari nada bicara dan perilakunya sih, sepertinya wanita tersebut memiliki hubungan special dengan papanya Varen.


Papanya Varen hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya. Di dalam hati kecilnya. Papanya Varen sebenarnya masih mencintai mamanya Varen. Tapi hatinya sudah terlalu sakit dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh mamanya Varen.


"Gimana kalau kita makan malam bersama dengan anak-anak kita juga!" ucap wanita itu tadi.


"Boleh, bentar aku hubungi Gio dulu.."


Papanya Varen mencoba menelepon Varen tapi tidak diterima oleh Varen. Kemudian papanya menengok jam di tangannya. Dia menebak jika anak semata wayangnya tersebut masih belajar di sekolah.


Papanya Varen kemudian memutuskan untuk pulang dan menunggu anaknya. Karena sudah lama dia juga tidak pulang ke rumah.


"Gimana mas?"


"Nggak diangkat, mungkin dia masih belajar. Nanti aku mau pulang, aka bakal ajak dia. Kamu tenang aja, pilih tempat yang kamu suka buat acara kita nanti malam!" papanya Varen berkata sembari memberikan sebuah kartu debit untuk wanita tersebut. Dengan senang hati, wanita tersebut menerima kartu itu dan kemudian pamit.


Sedangkan pikiran papanya Varen mulai kacau. Saat dia berusaha menelepon anaknya tadi. Tanpa sengaja dia melihat foto yang dipajang Varen untuk profil wa-nya. Sekilas papanya Varen melihat foto itu dan kaget.


Foto tersebut adalah foto Ticia. Apa yang membuat papanya Varen kaget, karena Ticia mirip dengan mamanya Varen ketika masih muda. Bahkan untuk memastikan, papanya Varen sampai kembali melihat foto tersebut.


Papanya Varen bahkan berpikir jika foto itu memang istrinya. Mungkin diedit oleh anaknya, karena anaknya kangen sama mamanya, pikirnya.


Papanya Varen terduduk di kursi empuknya dengan pandangan kosong. Dalam lubuk hatinya, harus diakui. Jika dia sangat merindukan wanita yang sudah dia nikahi selama 19 tahun tersebut. Suka duka mereka lalui bersama. Dari penolakan orang tuanya sampai akhirnya mereka menikah. Semua masih terekam jelas diingatnya.


Tapi nostalgia tersebut hanyalah sementara. Setelah kemudian papanya Varen teringat kejadian dua tahun yang lalu, yang menghancurkan semua kebahagiaannya, menghancurkan masa depannya.


"Kenapa kamu tega?" mengingat semua itu membuat papanya Varen kehilangan kendali. Tanpa sengaja dia melempar gelas yang ada di depannya.

__ADS_1


Pyarrrr gelas tersebut hancur berkeping-keping. Seperti hatinya yang telah hancur karena sebuah pengkhianatan.


__ADS_2