
Siang itu di dalam sebuah ruangan yang besar. Terdengar teriakan dari para pendukung dari kedua belah tim. Siang itu adalah pertandingan semi final antara sekolah Varen dengan sekolah lain.
Skor yang terus berkejaran. Membuat para pemain harus makin gencar mencari poin. Demi kemenangan sekolah masing-masing.
Pelatih dari kedua tim pun meminta para pemainnya untuk terus berkonsentrasi. "Fokus..Fokus.." seperti itu teriakan dari pelatih kedua tim.
Varen beserta pemain lainnya juga selalu saling mengingatkan dan mensupport. Tidak ada waktu untuk menyalahkan ketika bola mampu di rebut pemain lawan. Akan tetapi mereka akan selalu mengingatkan untuk tetap menjaga fokus mereka.
Bukan hanya pelatih dan juga pemain. Para penonton pun harap-harap cemas dengan hasil pertandingan kali ini.
Ticia yang biasanya nonton di tempat duduk para penonton. Kali ini dia ditemani Indah dan Anabella, memilih maju ke depan. Mereka sengaja menyaksikan pertandingan dari jarak dekat.
Ticia ingin memberi dukungan untuk kekasihnya dari jarak dekat. Ketika Varen gelisah karena poin timnya tertinggal. Di saat itu Ticia akan berseru dengan lantang, "Semangat sayank!!" meskipun tidak bisa merubah skor. Tapi setidaknya akan membuat Varen lebih bersemangat. Karena banyak orang menggantungkan harapan kepadanya dan teman setim-nya.
Ucapan semangat bukan hanya ditujukan untuk Varen. Tapi juga teman setimnya yang lain.
"Kak Digta, semangat!!" teriakan semangat juga terdengar dari raungan Risma. Setelah sekian lama berusaha mendekati Varen. Tapi diabaikan. Risma sepertinya mengubah target incarannya. Digta, yang dia pilih sebagai incarannya.
"Kak Gio, semangat!!" Rose tidak mau kalah dengan Ticia untuk menarik simpati Varen.
Mendengar Rose berteriak untuk memberikan semangat kepada Varen. Tika sempat menoleh ke arah Rose dan juga ke arah Ticia. Tika takut jika perhatian Rose itu akan membuat Ticia salah paham.
Faktanya, Ticia hanya sempat saling pandang dengan Indah dan Anabella. Setelah itu dia hanya tersenyum kecil. Ticia sudah tahu semua dari penjelasan Varen sebelumnya.
Juga sebagai sesama wanita. Ticia bisa melihat jika Rose memiliki ketertarikan kepada Varen. Tapi, Ticia tidak mau ambil pusing. Mereka punya hak suka kepada siapapun. Asalkan kekasihnya tidak tertarik kepada mereka semua.
__ADS_1
Dalam sebuah hubungan, kepercayaan sangatlah penting. Jika kepercayaan tidak ada, maka hubungan itu hanya akan menimbulkan masalah dan perdebatan.
"Lo merasa nggak sih, kalau anak baru itu kayaknya suka sama Gio?" Tika tidak bisa menyembunyikan kecurigaannya. Dia lantas bertanya kepada Iqbal yang ada tepat di sampingnya.
"Katanya sih dia teman masa kecil Gio." jawab Iqbal sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Gue juga udah tahu soal itu. Tapi dari sudut pandang gue, dia kayaknya suka sama Gio." ucap Tika sambil kembali menatap Rose yang bersikap sedikit centil dengan selalu memainkan rambutnya.
"Lo tahu sendiri kan Gio keren banget, siapa yang nggak suka coba?" Tika setuju dengan perkataan Iqbal. Dia mengakui jika Varen memanglah cowok yamg sempurna. Wajahnya yang tampan, perawakannya yang ideal membuatnya semakin menawan. Juga karena style yang modis, menambah keren penampilannya.
Tika juga sadar jika dia sempat menyukai lelaki yang hanya menganggapnya teman itu. Tika tidak bisa menolak pesona menawan dari seorang Varen. Yang akhirnya membuat Tika jatuh cinta.
Tapi itu cerita beberapa bulan yang lalu. Setelah akhirnya dia sadar. Jika cinta tak bisa dipaksakan.
"Yeyyy..." sorakan bahagia terdengar dari tribun sebelah kanan. Dimana tempat tersebut, diisi oleh teman sekolah Varen. Pertandingan sengit siang itu dimenangkan oleh Varen dan timnya. Dengan selisih skor sangatlah tipis.
Pelukan solidaritas diberikan oleh tim lawan. Mengingat sebuah pertandingan memang harus ada yang kalah dan yang menang. Dan kegagalan dalam sebuah permainan bukanlah akhir dari segalanya.
Varen dan teman setimnya bersama pelatih. Sangat mengapresiasi sikap ksatria dari tim lawan. Yang mau mengakui kekalahan dengan lapang dada.
Dari pinggir lapangan. Senyuman bangga Ticia mengembang untuk kemenangan sang kekasih bersama timnya. Langkah kecilnya tidak lagi bisa tertahan. Ticia bergegas menuju tengah lapangan untuk memberikan selamat kepada sang kekasih. Karena berhasil membawa sekolahnya masuk ke dalam final.
"Selamat ya kak Gio.." dari belakang Ticia, Rose berlari mendahuluinya. Seketika, langkah Ticia terhenti. Dipandangnyalah Rose yang tiba-tiba berlari dan memeluk Varen.
Jelas jika Varen tidak siap dengan apa yang dilakukan Rose. Dia tampak terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu.
__ADS_1
"Makasih Ros," ucap Varen dengan segera melepaskan tangan Rose yang ada dilehernya. Varen tidak mau ada kesalahpahaman diantara dia dengan Ticia.
Tapi terlambat. Ticia sudah melihat semua itu dan sepertinya sedikit kesal. Ticia tidak lagi meneruskan langkahnya. Tapi memilih berdiri di tempat dan menyaksikan semuanya.
"Cia,," lirih Anabella yang berada tepat di sampingnya.
"Apa sih maksud anak baru itu?" sewot Indah yang merasa tidak terima dengan perilaku Rose. Indah yakin jika Rose sengaja melakukan semua itu. Dia juga curiga jika Rose mendekati Ticia karena memiliki motif tersembunyi.
Ticia tidak menanggapi kekesalan Indah. Dia masih terpaku dan menatap sang kekasih. Dan begitu Varen menoleh. Dia melihat Ticia yang hanya berdiri ditempatnya.
Jarak dari tempatnya berdiri, kurang lebih sekitar empat meter. Melihat sang kekasih yang hanya terpaku di tempatnya. Varen tahu, jika pasti Ticia sudah melihat dirinya yang dipeluk oleh Rosalinda barusan.
Tanpa pikir panjang, dan tak menghiraukan ucapan selamat dari yang lain. Varen berlari kecil ke arah dimana kekasihnya berada.
"Akhirnya sekolah kita masuk ke final, yank.." serunya sembari memeluk erat sang kekasih.
"Selamat ya kak.." ucap Ticia mengesampingkan kekesalannya. Dia tidak ingin kebahagiaan Varen akan ternoda oleh kekesalan yang sebenarnya bukan Varen yang menyebabkannya kesal.
"Makasih sayank.." ucap Varen masih dengan erat memeluk sang kekasih. Bahkan saking senangnya. Varen mencium pipi Ticia di depan umum.
"Kak Vava, malu ah.." Ticia memukul pelan tangan Varen dengan wajah yang memerah. Bukan hanya dilihat oleh guru dan teman-temannya. Tapi juga dilihat oleh murid dari sekolah lain.
"Kalau bukan karena lo, mungkin gue nggak akan sesemangat ini." ucap Varen sambil menatap Ticia dengan senyuman yang mengembang. Wajah tampannya tampak bersinar. Memancarkan ketampanan yang mampu menghipnotis para wanita yang memandangnya.
"Terima kasih karena sudah menjadi alasan untuk gue terus bahagia. Gue cinta banget sama lo sayank." ucap Varen lagi. Tentu saja ucapan manis itu membuat Ticia melebarkan senyumannya.
__ADS_1
Tak hanya Ticia yang bahagia mendengar ucapan manis Varen. Tapi kedua sahabat Ticia pun sangat bahagia mendengar gombalan Varen kepada sahabatnya. Indah dan Anabella melebarkan matanya dengan menggigit bibir bawah mereka karena menahan senyumannya.
"Gombal banget sih," Ticia menutup wajah tampan Varen dengan telapak tangannya. Menutup perasaan bahagianya.