Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
24. Fakta Cowok Sesungguhnya


__ADS_3

"Nagapin kalian tertawa? Kalian ngejek kita?" tanya Risma dengan sewot.


Ticia bersama kedua sahabatnya kembali saling pandang dan tersenyum lagi. "Terserah kita dong mau ketawa, mau nangis kek, ngapa lo yang sewot?" ucap Ticia sembari menggelengkan kepalanya pelan dan masih dengan tersenyum.


"Jangan belagu deh lo, mentang-mentang bisa dapetin kak Varen. Gue yakin kak Varen cuma main-main aja sama lo.." kata Risma sengit. Sejujurnya Risma masih belum terima, jika anak baru seperti Ticia bisa mengalahkannya mendapatkan hati pria terpopuler di sekolah mereka.


"Biasa aja kali ngomongnya, nggak usah pakai nangis gitu!" ucap Ticia masih dengan santai menanggapi hinaan Risma.


"Brengs*k, lo nantangin gue?" Risma mulai kehilangan kesabarannya. Dia terprovokasi dengan ucapan Ticia. Padahal awalnya dia yang ingin memprovokasi Ticia. Tapi malah dia sendiri yang terprovokasi.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Beruntung pak guru yang mengajar masuk tepat waktu sebelum terjadi keributan.


Risma melotot dan mengacungkan jari tengahnya ke Ticia, dengan mengatakan: "awas lo!".


Sementara Ticia hanya tersenyum sinis sembari memutar bola matanya. Seolah dia berkata 'gue nggak takut' melalui gerak tubuhnya. Setelah itu mereka fokus mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru yang mengajar pagi itu.


"Cia, lo nggak takut kalau Risma bakal gangguin hubungan lo sama kak Varen?" tanya Indah yang sudah takut duluan. Indah tahu seperti apa Risma. Dia akan melakukan apapun supaya bisa dekat dengan pria-pria populer di sekolah mereka. Indah juga sudah kenal Risma lama. Meskipun tidak satu sekolah sewaktu SMP. Tapi SMP mereka berdua berdeketan. Jadi secara tidak sengaja mereka mengenal satu sama lain.


"Nggaklah, gue ama kak Varen udah berkomitmen kok. Kalaupun dia nanti akan tergoda dengan wanita lain, ya mungkin karena dia bukan yang terbaik buat gue." Ticia adalah orang yang optimis, dan selalu berpikir positif. Dia tidak akan terganggu dengan pemikiran yang belum ada faktanya.


"Gue nggak mau mikir negatif tentang kak Varen, karena gue nggak mau bikin masalah untuk hubungan kita yang sebenarnya baik-baik saja." imbuhnya sembari terus menggerakan tangannya untuk mencatat pelajaran di papan tulis.


"Gue setuju sama Ticia. Cowok itu akan merasa tidak nyaman jika kita terus curiga yang nggak jelas ke mereka, itu adalah salah satu penyebab kenapa cowok sering sekali hilang tanpa kabar. Ya karena mereka bosen dengan kita yang selalu berpikiran negatif ke mereka. Cemburu sih boleh, tapi jangan sampai nuduh juga." sahut Anabella panjang kali lebar.


Ya, mungkin benar apa yang dikatakan Anabella. Alasan kenapa cowok sering ngilang tanpa kasih kabar. Ninggalin pas sayang-sayanganya atau istilah kerennya ghosting. Salah satu faktornya ialah karena cewek sering nuduh nggak jelas. Selalu berpikiran negatif, padahal itu hanya ketakutannya saja. Dan mengakibatkan pertengkaran terus menurus.


Sejatinya seorang cowok akan lebih suka menghadapi kemanjaan cewek, daripada tuduhan mereka. Dimata cowok, cewek yang manja itu imut. Tapi cewek yang suka bikin ribut itu membosankan.

__ADS_1


"Tumben pinter?" ucap Ticia sembari tertawa.


"Iya kayak lo pernah pacaran aja.." Indah mengolok Anabella sembari tertawa. Membuat Anabella manyun karena sampai sekarang dia masih aja jomblo. Padahal kedua sahabatnya sudah punya pacar masing-masing.


"Belum pernah pacaran nggak masalah, ntar sekali punya pacar yang ganteng yak!" ucap Ticia. Akan tetapi Indah yang merasa tersindir dengan ucapan Ticia. Maka dengan keras Indah memukul lengan Ticia, membuat Ticia kesakitan.


"Sakit banget, anj*r..." seru Ticia sambil memegangi lengannya yang sakit karena pukulan Indah.


"Sorry, sorry.." Indah meminta maaf sembari cekikikan.


Siang harinya sepulang sekolah. Ticia bersama Anabella datang ke tempat dimana sekolah mereka kembali tanding. Mereka hanya bersua tanpa Indah. Karena Indah diajak pacarnya ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas.


Sesampainya di lapangan yang ada di dalam sebuah gor tersebut. Ticia mencari dimana kekasihnya berada. Ketika Ticia sedang mencari-cari. Tiba-tiba Anabella menyenggol lengannya. Anabella memberitahu Ticia dimana Varen berada.


"Lah ngapain sih tuh si Risma?" gumam Anabella sewot.


Risma sengaja mendekati tim basket sekolahnya dengan membawakan mereka minuman. Seolah Risma ingin membuat anggota tim basket sekolahnya terpesona dengan kebaikannya. Padahal niatnya hanya satu. Risma ingin mendekati Varen, karena Risma selalu terobsesi dengan cowok-cowok populer. Bukan hanya ada Risma saja disana. Tapi juga ada teman-teman Risma yang lain, yang tak kalah centilnya dari si pentolan geng.


"Kak!" panggil Ticia.


"Yank," seketika Varen menoleh ke sumber suara dan mulai mendekat ke Ticia.


"Belum mulai? Masih lama?" tanya Ticia.


"Bentar lagi sih kayaknya, baru nunggu tim lawan ganti baju." jawab Varen mengajak Ticia duduk di tempat duduk pemain cadangan.


Varen dan Ticia serta Anabella mengobrol dengan bahagia sambil nunggu pertandingan di mulai. Tak lama kemudian Tika dan Iqbal pun mendekat. Melihat kedekatan sang kekasih dengan sahabatnya membuat Varen semoat terkejut.

__ADS_1


"Kalian udah baikan?" tanya Varen mengerutkan keningnya.


"Iya, dia sekarang adik gue!" jawab Tika sembari merangkul Ticia.


"Gue juga minta maaf ya Gi, gue nggak bisa ngertiin perasaan lo. Tapi gue janji mulai sekarang gue dukung kok apapun yang buat lo bahagia, ya kan Bal?" lanjut Tika meminta maaf kepada Varen juga.


"Iya Gi, maafin kita ya!" sahut Iqbal.


Varen pun tersenyum senang melihat itu semua. Varen dan Iqbal lalu saling berjabat tangan dan berpelukan. Varen juga minta maaf karena semoat marah dan menjauh. "Sorry kalau gue nggak balas chat kalian." ucap Varen.


"Iya nggak apa-apa, kita tahu kok, lo pasti sibuk chattingan sama Ticia. Namanya juga baru jadian. Btw lo nggak mau traktir kita gitu sebagai pajak jadian?" ucap Iqbal.


"Selesai tanding kita makan di tempat biasa kita nongkrong!" ucap Varen.


"Ditraktir nih?" tanya Iqbal dengan senang.


"Nggaklah bayar sendiri-sendiri dong.." jawab Varen cepat, secepat raut wajah Iqbal yang berubah dari senang ke cemberut.


"Tuh Cia, lo masih mau sama Gio? Orangnya pelit gitu." Iqbal berkata dengan mendengus.


"Pelit kalau sama kalian, kalau sama dia, apapun akan gue berikan dong, jangankan cuma makan, hati dan cinta gue aja gue kasih ke dia dengan cuma-cuma.." ucap Varen dengan tersenyum bangga sembari memainkan alisnya.


"Hais, pinter gombal sekarang.." sahut Tika dengan tersenyum senang.


Sementara Varen dan Ticia hanya tersenyum manis dan saling pandang. Sumpah, itu membuat Anabella yang ada di samping Ticia menjadi baper sendiri melihat keuwuan pasangan tersebut. Meskipun mereka hanya saling diam. Tapi mata mereka menjelaskan segalanya. Betapa mereka saling mencintai satu sama lain.


Anabella tersenyum senang. Sambil menyenggol lengan Ticia dengan sikutnya pelan. "Ciee..." ucapnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2