Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
66. Roman Kembali


__ADS_3

Sewaktu jam istirahat. Di kantin, Varen yang biasanya selalu dingin kepada adik-adik kelasnya. Kini mulai berubah. Varen terlihat berbeda dari sebelumnya. Ketika adik kelas yang menyukainya mendekat. Varen tidak lagi mengabaikan mereka. Saat diajak bicarapun, Varen mau menjawab.


Saat itu Rose juga ada di kantin. Rose merasa kesal melihat Varen dekat dengan wanita lain. Tapi dia bisa marah kepada mereka. Rose tidak mau Varen akan ilfil dengan sikap posesifnya.


"Rose!" Varen melambaikan tangannya.


Pada saat bersamaan. Ticia muncul bersama Indah dan Anabella. Dan Ticia pasti mendengar panggilan Varen ke Rose.


Sikap Varen itu membuat teman-temannya menjadi kaget. Apalagi saat itu ada Ticia. Dan Varen justru terlihat dekat dengan adik kelas. Bahkan memanggil Rosalinda yang sama sekali tidak pernah dia lirik.


Ketika Rose mendekat ke meja Varen. Ticia hanya meliriknya saja. Ticia berusaha untuk menenangkan perasaannya sendiri.


"Cia!" seru Tika sambil melambaikan tangannya. Akan tetapi Ticia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dan lebih memilih untuk duduk di meja yang tidak jauh dari meja Varen. Karena hanya meja itu yang tersisa.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Ticia.


"Biasa." jawab Indah.


"Gue ikut sama lo!" ucap Anabella meninggalkan Indah seorang diri.


Sebenarnya Anabella hanya ingin bertanya ada apa sebenarnya dengan perubahan Varen yang tiba-tiba. Dia merasa aneh, karena kemarin Varen masih berusaha untuk mendekati Ticia. Tidak mungkin kan jika perasaan bisa berubah dengan begitu cepat.


"Cia, ada apa sih sebenarnya?" tanya Anabella sembari menoleh ke arah meja Varen.


"Nggak ada apa-apa, dia kan juga berhak bahagia." jawab Ticia juga melirik ke arah meja Varen.


Anabella merangkul sahabatnya untuk memberikan semangat kepada Ticia. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Ticia. Betapa dilemanya Ticia saat ini. "Yang sabar," ucap Anabella.


Saat Ticia kembali ke mejanya dengan membawa nampan makanan. Tiba-tiba datanglah Roman dan merebut nampan tersebut. "Biar gue bawain." ucap Roman.


"Makasih." jawab Ticia masih kaget sebenarnya dengan kedatangan Roman yang entah darimana.


Roman kemudian duduk bersama Ticia dan kedua temannya. "Lo kemana aja sih kak, kok gue kayak jarang banget ketemu sama lo?" tanya Ticia.

__ADS_1


"Gue ada kok, kenapa? Kangen?" tanya Roman dengan cukup keras. Dan mungkin terdengar oleh Varen yang tidak jauh dari mereka.


"Emm, kangen gombalan manis lo." jawab Ticia sembari minum dengan sedikit tersenyum.


Dari mejanya, Varen menoleh dan melihat Ticia yang sedang ngobrol akrab dengan Roman. Bahkan mereka juga tertawa dengan bahagianya. Tentunya itu membuat Varen kesal. Tapi Varen mencoba menahan amarahnya.


Tika sedari tadi memperhatikan perilaku tak biasa Varen. Kemudian dia merasa aneh dengan sikap Ticia yang tidak mau mendekat saat dia memanggilnya. Sekarang, dia juga merasa aneh. Kenapa Varen bisa begitu tenang, ketika Ticia di dekati lelaki lain. Melihat dari sifat Varen yang posesif terhadap Ticia. Rasanya itu aneh. Akhirnya Tika menyadari ada sesuatu yang dia tidak tahu dari hubungan Ticia dan Varen.


Tettttt Tettt


Bel masuk pun berbunyi. Buru-buru Ticia menghabiskan makanannya. Tapi ketika Ticia hendak berdiri. Tiba-tiba ada salah seorang temannya mendekat. Teman itu memberikan kepada Ticia minuman dan camilan kesukaan Ticia.


"Ini buat lo." ucap teman tersebut.


"Lah, gue nggak pesen. Mungkin lo salah orang." ucap Ticia yang merasa tidak memesannya.


"Ini memang buat lo kok." jawabnya sedikit menggerakan kepalanya ke arah meja Varen.


Akhirnya Ticia pun paham, dari siapa minuman dan camilan itu. "Balikin aja ke dia, bilang ke dia, mulai sekarang gue nggak suka minuman dan camilan ini!" bisik Ticia.


"Ntar siang nonton sekolah kita tanding nggak?" tanya Roman berjalan di sebelah Ticia.


"Nggak," jawab Ticia cepat.


"Kenapa? Apa takut nggak bisa move on?" Ticia menghentikan langkahnya, kemudian menatap Roman tajam.


"Siapa bilang gue nggak bisa move on?" tanya Ticia.


"Kalau gitu, ntar nonton bareng gue!" tantang Roman.


"Oke." jawab Ticia cepat. Dia tidak mau dianggap gagal move on oleh Roman dan juga teman-temannya yang lain. Meskipun sebenarnya, dia memang belum bisa move on dari Varen.


....

__ADS_1


Pertandingan siang itu sebenarnya hanyalah pertandingan persahabatan, untuk memeriahkan acara pentas seni yang diadakan oleh SMA Tunas Bangsa. Dan tempatnya juga di sekolah Tunas Bangsa.


Ticia datang bersama Roman dan juga kedua sahabatnya, Indah dan Anabella.


"Anj*r, cowok-cowok Tunas Bangsa cakep-cakep bener." ucap Indah yang selalu heboh ketika melihat cowok bening.


"Inget kak Arka!" Anabella mencoba membuat Indah sadar kalau Indah sudah memiliki pacar.


"Gue udah seminggu nggak ketemu sama dia, gue kangen." ucap Indah tiba-tiba menjadi sedih. Karena kesibukan Arka dengan tugas kuliahnya. Arka tidak ada waktu untuk bertemu dengan Indah. Mereka hanya komunikasi melalui hape saja.


"Dia kan memang lagi sibuk. Jangan lebay ah." ucap Anabella sambil mendorong kepala Indah pelan.


"Lo belum pernah pacaran sih, jadi nggak tahu sakitnya menahan rindu." ucap Indah.


"Ya nggak Cia? Nahan rindu itu rasanya sakit banget ya?" imbuh Indah bertanya kepada Ticia.


"Sakitnya tidak sebanding dengan sakitnya dipermainkan." sahut Varen yang entah datang darimana. Tapi tiba-tiba ada di belakang mereka. Varen mengatakan itu sambil menatap Ticia yang ada di sebelah Roman.


"Kak Varen.." gumam Indah Anabella bersamaan. Mereka kaget dengan kemunculan Varen yang tiba-tiba.


Sesaat kemudian Rosalinda juga muncul. "Kak Gio, gue cariin ternyata disini." ucapnya dengan manja. Bahkan juga menggandeng lengan Varen.


"Eh, Ticia, Indah, Anabella, ada kak siapa sih namanya?" Rosalinda baru sadar jika ada Ticia dan yang lain di tempat itu juga.


"Roman," jawab Roman sambil tersenyum.


"Oh ya kak Roman, kenalin gue Rosalinda." Rosalinda memperkenal dirinya.


Ticia sempat melirik tangan Rosalinda yang menggandeng lengan Varen. Dia juga menyadari jika Rosalinda berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya dia terkesan pemalu. Tapi sekarang, dia malah terlihat sedikit agresif dan sepertinya merasa bangga bisa dekat dengan Varen.


Bukan hanya Ticia yang merasakan perubahan Rosalinda yang mendadak itu. Tapi juga Indah dan Anabella. Mereka juga merasa Rosalinda yang sekarang terlihat agresif. Bukan hanya kepada Varen, tapi juga teman yang lain.


"Kita duluan ya," pamit Rosalinda sembari menarik tangan Varen.

__ADS_1


"Hmm." Anabella bersenandung. Dia terlalu malas melihat Rosalinda yang seperti bangga bisa dekat dengan Varen. Anabella juga merasa jika Rosalinda sedang pamer kemesraan di depan Ticia. Dan juga tidak menyangka dengan perubahan sikap Anabella yang begitu cepat.


Padahal itu baru sehari Varen mencoba mendekatinya. Tapi Rosalinda sudah terlihat sangat posesif terhadap Varen. Mungkin takut jika Varen akan kembali tergoda oleh pesona Ticia.


__ADS_2