Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
94. Jangan Korbankan Kebahagiaanku


__ADS_3

Dina sedang berbelanja ke supermarket sendirian. Suaminya sedang bekerja sementara anaknya ada latihan basket katanya. Dina sudah terbiasa pergi sendirian. Jadi itu bukan hal yang sulit untuk dia.


Tanpa sengaja, dia juga bertemu dengan Rosalinda yang sedang berbelanja juga. Rosalinda yang menyapa Dina duluan. Karena dia yang pertama kali melihat Dina.


"Tante sendirian?" tanya Rosalimda yang juga terlihat sendiri.


"Iya, cuma beli kebutuhan dapur sama daging kesukaan Gio sama papanya." jawab Dina masih dengan memilih-milih apa aja yang ingin dia beli.


"Kamu sendirian Rose?" tanya Dina balik.


"Iya tan, cuman beli kebutuhan wanita, kebetulan udah tanggalnya." Rosalinda menunjukan belanjaannya kepada Dina. Dan benar saja, di keranjang hanya ada beberapa barang kebutuhan wanita.


"Kak Gio semenjak punya pacar memang agak berbeda ya tan? Kayaknya dia dulu nurut banget sama tante, sekarang udah nggak mau nemenin tante belanja." ucap Rosalinda sok tahu tentang kehidupan Varen. Padahal dia tidak melihat tumbuh kembang Varen. Karena dia hidup di desa.


Maksud dari perkataan Rosalinda itu jelas. Dia ingin memprovokasi mamanya Varen. Supaya berpikiran negatif ke pacarnya Varen.


Akan tetapi Rosalinda lupa. Jika mamanya Varen juga pernah muda dulu. Jadi secara tidak langsung dia sangat memahami anaknya. Lagipula apa yang diucapkan Rosalinda itu hanyalah kata provokatif. Dan, Dina sadar itu.


"Iya Gio berubah banget semenjak punya pacar. Dia lebih suka ibadah sekarang, lebih tahu sopan santun, dan lebih menjadi anak rumahan sekarang." ucap Dina yang justru secara tidak langsung mengatakan jika Ticia mampu merubah Varen menjadi lebi baik.


"Iya kah tante?" Rosalinda merasa sangat malu dengan perkataan provokatifnya yang tidak mempan sama sekali kepada Dina.


Dina hanya menganggukan kepalanya dan masih sibuk memilih-milih bahan makanan yang dia butuhkan.


Sementara Rosalinda yang sebenarnya sudah selesai berbelanja memilih untuk menunggu Dina. Begitu Dina selesai dan menuju kasir. Dengan sok cari perhatian Rosalinda membantu Dina mendorong troli belanjaan Dina.


"Eh, nggak usah Rose, tante bisa sendiri!" ucap Dina kaget karena Rosalinda menyerobot trolinya.


"Nggak apa tante, biar aku bantuin." ucap Rosalinda sembari mendorong troli itu ke arah kasir.


Dina pun hanya bisa membiarkan Rosalinda melakukan apa yang dia mau. Dina berjalan di belakang Rosalinda yang sedang antri di kasir.

__ADS_1


"Biar tante sekalian yang bayar!" saat petugas kasir membungkus barang milik Rosalinda.


"Nggak usah tante!" Rosalinda menolak.


"Udah nggak apa-apa, anggap aja ucapan terima kasih tante, karena kamu udah bantuain tante dorong kereta belanjaan tante!" Dina memaksa.


Selain membayari belanjaan Rosalinda. Dina juga memenuhi keinginan Rosalinda yang mengajaknya makan dulu sebelum pulang.


Kebetulan di area supermarket tersebut ada sebuah restoran yang sederhana tapi makanannya sangat enak. Apalagi ada jajanan jadul yang sangat Dina sukai.


Rosalinda membantu Dina memasukan belajaannya dulu ke dalam mobil. Supaya tidak ribet membawa belanjaan yang cukup banyak tersebut.


Karena tidak mendapat parkir. Jadinya Dina memarkirkan mobilnya di seberang jalan. Dimana tempat tersebut juga termasuk area parkir supermarket.


Ketika Dina sedang menyebrang. Tiba-tiba dari samping melaju sebuah motor dengan cukup kencang. Motor itu datang dari belakang mobil yang berjalan pelan, memberikan jalan untuk Dina dan Rosalinda.


"Awas tan!!" Rosalinda mendorong Dina menjauh. Agar supaya salah satu dari mereka bisa selamat. Tapi naas, baik Dina maupun Rosalinda. Kedua sama-sama terluka.


Dina berteriak dengan sangat kencang ketika melihat Rosalinda tertabrak untuk kedua kalinya. Dina histeris melihat keadaan Rosalinda. Sementara dia tidak bisa berdiri karena kakinya yang terserempet motor tadi.


Beberapa saat kemudian Dina dan Rosalinda di bawa ke rumah sakit terdekat. Sementara pengendara motor dan pengemudi mobil tersebut telah diamankan pihak berwajib.


Dina pingsan karena sangat kaget. Dengan matanya sendiri dia melihat Rosalinda dua kali tertabrak di depan matanya.


Rosalinda pun masih dalam perawatan. Dia kritis.


Selang sejam kemudian Varen bersama Darwis tiba di rumah sakit. Dina masih belum sadarkan diri.


Ketakutan, kepanikan melanda ayah dan anak tersebut. Akan tetapi dokter memberitahu jika keadaan Dina baik-baik saja. Hanya luka di kaki, dan juga trauma saja. Itu yang mengakibatkan Dina pingsan.


Dokter juga mengatakan jika yang terluka parah adalah seorang wanita yang dibawa bersama Dina.

__ADS_1


"Seorang wanita?" Darwis mengerutkan keningnya.


"Iya, dia sekarang masih dalam perawatan di ruang ICCU." karena penasaran, Varen dan Darwis pun melihat siapa yang bersama dengan Dina saat kejadian itu.


"Itu bukannya Rose?" gumam Varen. Meskipun hanya melihat dari luar. Varen tahu jika wanita itu adalah Rosalinda.


Kemelut mulai terjadi di dalam hatinya. Varen takut jika Rosalinda akan memanfaatkan situasi ini seperti sebelumnya.


"Pa, kalau Rose yang ternyata nolongin mama, ketika dia bangun dan meminta balasan budi, Gio nggak mau jadi korban lagi!" ucap Gio langsung kepada papanya.


Darwis terdiam. Dia sangat apa yang dikhawatirkan anaknya. Dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mempertaruhkan kebahagiaan anaknya. Dia juga akan mendiskusikan hal itu kepada istrinya. Setelah istrinya bangun nanti.


Jane datang setelah lebih dari dua jam anaknya di rawat. Dengan berlari dia mencari dimana anaknya. Dengan menangis pula Jane meminta dokter menyelamatkan anaknya.


Jane sangat tertekan melihat kondisi anaknya. Bagaimana tidak. Rosalinda adalah anaknya satu-satunya. Sebagai seorang ibu, tentunya tidak akan tega melihat kondisi anaknya sekarang.


"Kamu harus sabar Jane! Rose pasti akan baik-baik saja!" ucap Darwis memberi semangat untuk Jane.


"Rose anak aku satu-satunya mas, aku nggak tega melihat dia kayak gini. Kalau bisa biar aku aja yang menggantikan dia." tangisan Jane pecah dalam pelukan Darwis.


Ya, harus diakui. Meskipun Jane sangat licik. Tapi dia adalah seorang ibu yang baik. Seorang ibu yang sangat mencintai anaknya.


"Ini kenapa bisa kayak gini? Kenapa Rose bisa bareng sama Dina?" tanya Jane bingung.


"Kata Dina, mereka tidak sengaja ketemu di supermarket." jawab Darwis singkat. Dia tidak memberitahu keseluruhan apa yang terjadi.


Dengan sikap dan temtramen Jane. Darwis yakin, Jane akan menyalahkan Dina. Dan kembali memanfaatkan keadaan. Darwis berjanji untuk tidak mempertaruhkan kebahagiaan anaknya.


Bagi Darwis, kebahagiaan istri dan anaknya adalah yang paling utama. Tidak peduli dengan keadaan orang lain. Yang paling penting, anak dan istrinya bahagia.


Egois memang. Tapi itu yang harus dia lakukan sebagai ayah dan seorang suami.

__ADS_1


Sudah cukup dia melihat kesedihan anaknya pada waktu itu. Dia tidak akan lagi menjadi alasan penderitaan anaknya.


__ADS_2