Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
29. Bertemu Calon Mertua Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

Ketika pulang sekolah, Varen kaget melihat papanya yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya. Varen bisa melihat kelelahan di wajah papanya. Varen tidak mau mengganggu istirahat papanya. Dia ke kamarnya, ganti baju kemudian balik lagi ke ruang tamu.


Dan ketila dia mengambil minum di dapur. Bi Suti bilang kalau papanya sedang menunggunya. Varen pun mengernyitkan keningnya. "Tumben papa nungguin gue?" gumamnya sebelum meminum air yang ada di tangannya.


Varen kembali ke ruang tamu. Saat dia kembali, papanya sudah bangun. Dengan tersenyum papanya menepuk sofa empuk di sampingnya. Maksudnya, meminta anaknya duduk di sebelahnya.


"Tumben papa pulang?" tanya Varen sembari berjalan dan duduk di sebelah papanya.


"Papa kangen sama kamu Gi," jawaban papanya membuat Varen seketika menoleh. Dia merasa aneh dengan jawaban papanya yang tidak seperti biasanya.


"Papa salah minum obat atau gimana?" Varen tidak langsung mempercayai perkataan papanya. Karena itu sangat aneh, sudah dua tahun papanya tidak pernah mengatakan hal seperti itu.


Mendengar pertanyaan Varen, papanya menjadi tersenyum. Dia sadar jika mungkin putranya merasa aneh dengan perkataannya. Sudah dua tahun lamanya dia tidak menemani putranya bahkan sudah tidak lagi memberikan anaknya perhatian.


"Nggak, papa sadar pakai banget kok. Oh ya Gi, kamu udah makan belum? Gimana kalau papa masakin makanan kesukaan kamu?" ucap papanya dengan antusias.


"Gio udah makan sama temen tadi pa,"


"Temen atau pacar?" goda papanya dengan tersenyum kecil.


"Kalau gitu lomba renang yuk Gi! Udah lama kan nggak lomba renang? Kalau kamu bisa kalahin papa, nanti papa beliin sepatu basket yang kamu mau," ucap papanya sambil tersenyum.


"Boleh," Varen langsung menjawab. Tapi belum juga dia berkata lagi, papanya sudah berlari duluan ke kolam renang yang ada di samping rumahnya.


"Ish, papa curang.." seru Varen kemudian berlari mengikuti papanya yang sudah duluan sampai di tepi kolam renang.


Sesuatu yang Varen pertimbangkan bukanlah sepatu yang dijanjikan papanya. Tapi moment kebersamaan yang sudah lama hilang. Dulu sebelum semua berubah seperti sekarang. Varen dan papanya sering banget lomba renang, bercanda bersama untuk menciptalan kedekatan.


Pernah saat itu ketika Varen berumur 13 tahun. Varen yang lomba renang dengan papanya, sedikit mengerjai papanya. Varen berpura-pura tenggelam karena kakinya kram. Papanya langsung panik seketika. Papanya yang sudah hampir sampai ujung, harus kembali lagi untuk menolong anaknya.


Begitu papanya sudah dekat dengan dia. Varen langsung mendahului papanya dengan tertawa puas karena berhasil mengalahkan papanya untuk pertama kalinya.


Sejak saat itu Varen tahu jika papanya sangat menyayanginya.


Byurrrr....


Varen melompat kolam duluan disaat papanya sedang membuka baju kantornya. "Curang..." serunya sambil terburu-buru melepas baju kantornya dan menyisakan celana pendeknya.


Byurrrr...

__ADS_1


Papanya Varen melompat menyusul anaknya yang sudah hampir sampai di ujung.


"Yeyyy Gio menang..." seru Varen merasa sangat bahagia. Tak lama kemudian papanya sampai juga diujung.


"Gimana pa? Jangan lupa janji papa ya!" ucap Varen dengan bangga karena bisa mengalahkan papanya.


"Kamu curang.. Dasar.." ucap papanya sambil tersenyum sambil menciprati anaknya dengan sedikit air.


"Gi, kamu ingat nggak waktu kamu masih kecil, kamu pernah berpura-pura tenggelam?" Varen tersenyum mengingat masa itu.


"Maafin papa ya Gi, kalau papa sering kasar sama kamu sekarang, papa jarang pulang karena banyak pekerjaan.." ucap papanya dengan sedih.


"Nggak apa-apa pa, Gio cuma mau tanya, mama kemana sih pa? Kenapa mama tiba-tiba pergi?" tanya Varen.


Papanya hanya terdiam mendengar pertanyaan Varen. Sejujurnya dia juga tidak tahu kemana istrinya pergi. Untuk alasan kenapa istrinya pergi, dia tidak mau mengatakan yany sebenarnya kepada Varen. Alasannya dia ingin membuat Varen membenci mamanya, jika tahu mamanya berkhianat.


"Papa juga nggak tahu kemana mama kamu pergi," jawabnya sedih.


"Oh ya, buruan ganti baju! Kita ke Mall beli sepatu buat kamu, terus kita makan malam bersama!" tidak mau terus-terusan bersedih, papanya Gio mengalihkan pembicaraan.


"Oke, Gio boleh ngajak pacar Gio nggak pa?"


"Iya boleh," jawabnya tersenyum. Akhirnya dia paham jika wanita yang ada di foto profil Varen bukanlah foto istrinya melainkan foto kekasihnya.


"Pacar kamu...mirip dengan mama kamu ya?" tanyanya menghentikan langkah Varen.


Varen memicingkan matanya. Varen menduga jika papanya tahu dari foto profilnya. Ternyata bukan hanya dia saja yang berpikir seperti itu. "Iya, sama-sama cantik dan baik, yang terpenting sama-sama menyayangi Gio." jawab Varen sambil tersenyum.


****


Varen bersama papanya menjemput Ticia di rumahnya. Ticia sempat kaget ketika melihat Varen bersama papanya. Tadinya Varen tidak bilang jika mereka akan pergi bersama papanya.


"Om," Ticia memberi salam kepada papanya Varen.


Setelah itu mereka berangkat ke Mall dengan Varen yang mengemudikan mobilnya. Ticia duduk di depan, di samping Varen. Dia merasakan jika papanya Varen terus menatapnya. Itu membuatnya menjadi berpikir apakah papanya Varen tidak menyukainya.


Sementara papanya Varen masih saja menatap Ticia dengan tajam. Bukan karena dia tidak menyukai gadis itu. Tapi karena terlalu terkejut melihat Ticia yang mirip banget dengan mamanya Varen waktu masih muda. Dan itu mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka.


"Kata Gio kamu baru pindah ke kota ini setengah tahun, sebelumnya kamu tinggal dimana?" tanya papanya Varen.

__ADS_1


"Em.. aku tinggal dikota M om sebelumnya." papanya Varen seperti terkejut mendengar jawaban Ticia.


"Sudah lama pacaran sama Gio?"


"Baru dua bulan sih om,"


"Kamu yang sabar ya ngadepin Gio, dia anaknya manja dan posesif.." ucap papanya dengan tersenyum kecil.


"Kan sama kayak papa," sahut Varen cepat.


"Termasuk sama-sama ganteng kan?" ucap papanya lagi dengan tersenyum lebar kali ini.


"Hais, papa narsis.." gerutu Varen.


"Sama kayak lo dong, lo juga narsis.." olok Ticia dengan tersenyum juga.


"Tapi kan emang bener kalau gue tuh ganteng,," ucap Varen dengan bangga.


"Iyain aja Cia, biar dia seneng.." sahut papanya yang membuat Ticia tersenyum. Ternyata papanya Varen tidak seserem yang dia pikir. Ticia merasa santai sekarang.


"Papa gitu ah,,," rengek Varen dengan lucu.


"Iya, anak papa memang yang paling ganteng. Siapa dulu dong papanya.." ketiga orang yang ada di dalam mobil tersebut kemudian tertawa bersama. Suasana pun menjadi lebih akrab.


Ketiga orang tersebut lalu jalan-jalan berkeliling Mall tersebut. Papanya Varen senang melihat anaknya yang bisa tertawa lepas bersama pacarnya. Varen memang memiliki sikap seperti papanya. Ketika dia jatuh cinta, dia akan berusaha membahagiakan wanita tersebut.


Saat Varen sedang bercanda dengan Ticia waktu memilih sepatu. Papanya Varen terus memperhatikan mereka berdua. Tanpa sengaja diapun tersenyum melihat Varen yang terlihat begitu sangat bahagia.


"Sudah lama papa nggak lihat kamu tertawa lepas seperti itu Gi," gumamnya seorang diri sembari tersenyum kecil.


"Udah?" tanyanya ketika Varen mendekat.


"Udah pa,"


"Kamu nggak beli sekalian Cia? Biar om yang beliin sekalian,"


"Enggak om, Leticia masih punya sepatu kok, makasih tawarannya om.."


"Dia nggak akan mau pa, dibeliin Gio aja nggak mau, apalagi papa.." ucap Gio sedikit mendengus.

__ADS_1


"..." papanya Varen mengernyitkan dahinya sambil tersenyum kecil, kemudian menuju kasir untuk membayar sepatu anaknya.


__ADS_2