
Tika kembali mendatangi Ticia ke kelasnya. Tapi kali ini dia tidak sendiri, dia datang bersama Rafa dan Iqbal. Entah apa yang ingin mereka katakan kepada Ticia. Apakah mereka akan meminta Ticia menjauhi Varen lagi. Entahlah.
Sebenarnya Ticia agak males sih menanggapi Tika. Tapi karena disitu juga ada Iqbal dan Rafa yang selama ini baik ke dia. Makanya Ticia mau tak mau harus menanggapi mereka.
"Kenapa lagi kak?" tanya Ticia dengan sedikit malas. Dia baru aja sampai, dan baru memasukan tasnya ke laci mejanya.
Tika awalnya ragu untuk ngomong. Tapi di sebelahnya, Iqbal dan Rafa menyenggol lengannya berkali-kali, sambil menganggukan kepalanya. Lama sekali Tika hanya terdiam. Sebelum akhirnya Ticia beranjak dari tempat duduknya hendak pergi ke kantin menyusul kedua sahabatnya. "Kalau nggak mau ngomong, jangan ganggu gue! Maaf gue mau ke kantin." Ticia tidak sabar menunggu Tika atau kedua teman Tika berbicara.
Ticia bukannya mau kasar atau apa. Tapi dia tidak lagi mau punya urusan dengan Tika. Terakhir mereka ribut, itu mengakibatkan kesalahpahaman antara dirinya dengan Varen.
"Tunggu Cia!!" tahan Rafa ketika Ticia hendak berjalan keluar kelas. Ticia pun menghentikan langkah kecilnya.
"Buruan ngomong!" bisik Rafa yang cukup terdengar jelas oleh Ticia.
"Buruan Tik!" giliran Iqbal yang berbisik dan masih terdengar oleh Ticia.
"Ada apa sih kak?" tanya Ticia penasaran.
Rafa dan Iqbal hanya tersenyum canggung sembari terus menyenggol tangan Tika. Berharap Tika buruan ngomong apa yang ingin dia katakan.
"Buruan Tik!" desak Rafa lagi sudah tidak sabar.
Tika lalu menatap Ticia. Dan Ticia juga menatapnya. Akan tetapi mulut Tika masih belum mau terbuka. Setelah akhirnya untuk kedua kalinya Ticia menghela nafas dan berbalik badan, hendak berjalan keluar. Barulah Tika mau membuka mulutnya.
"Tunggu, gue mau minta maaf.." kata Tika.
Ticia kembali berbalik badan dan memandang Tika yang sepertinya malu harus mengucapkan kata itu kepada Ticia. Ticia mengerutkan keningnya, "Maaf untuk?" tanyanya.
__ADS_1
"Maaf karena gue udah maksa lo buat jauhin Gio. Gue sadar cinta itu tidak bisa dipaksa. Urusan hati itu tidak bisa diatur." jawabnya mulai lancar.
Ticia hanya menganggukan kepalanya pelan, "Terus?" tanyanya lagi.
"Lo mau maafin gue nggak?" Tika sedikit kesal dengan sikap masa bodoh-nya Ticia.
"Maafin nggak ya? Lo aja nggak tulus minta maafnya," ucap Ticia, membuat Tika tambah kesal. Tapi dia sadar, dia datang untuk minta maaf bukan untuk cari ribut lagi.
Melihat raut wajah kesal Tika, membuat Ticia tersenyum senang. "Iya, gue maafin. Gitu aja mau nangis.." ledek Ticia sembari tertawa. Tapi setelah itu Ticia memeluk Tika yang mulai kembali marah.
Tika sempat terkejut dengan pelukan Ticia. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum lalu berbalik memeluk Ticia. "Maafin gue juga ya kak," ucap Ticia.
Tika pun tersenyum dan menganggukan kepalanya, sambil masih saling berpelukan. Disebelah mereka ada Rafa dan Iqbal yang tersenyum senang melihat pemandangan tersebut.
Setelah berunding selama sehari. Mereka bertiga kemudian sepakat untuk meminta maaf pada Ticia. Mereka berharap jika setelah mereka meminta maaf. Varen akan mau kembali berteman dengan mereka. Karena setelah perdebatan waktu itu, Varen sudah tidak mau lagi nongkrong dan membalas chat mereka. Hanya saja jika di sekolah dia masih mau ngomong. Tapi sudah tidak sedekat seperti dulu.
Sebagai sahabat yang sudah lama bersama. Tentunya mereka merasa bersalah kepada Varen. Bukan hanya karena tidak mau ngertiin perasaan Varen. Tapi juga sempat memaksa Ticia untuk menjauhi Varen.
"Oh ya Cia, tolong bilang ke Gio dong, supaya jangan jauhin kita. Jujur gue sedih melihat Gio udah nggak mau lagi nongkrong sama kita, nggak mau balas chat kita juga." ucap Iqbal.
"Oh, jadi deketin gue cuma mau manfaatin gue nih?" ucap Ticia yang membuat Rafa dan Iqbal jadi gelagapan.
"Bukan gitu maksudnya. Kan Gio marah karena masalah siang itu. Jadi kita memutuskan untuk memintaa maaf sama lo, supaya Gio tidak lagi marah." Iqbal berkata sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya.
"Meskipun begitu kita tulus kok minta maaf sama lo." sahut Rafa yang juga tidak mau membuat Ticia jadi salah paham. Sedangkan Tika hanya menganggukan kepalanya.
"Gue cuma bercanda kali, iya ntar gue bilang ke dia, supaya mau lagi nongkrong sama kalian." ucap Ticia dengan tersenyum, membuat ketiga remaja itu menghela nafas lega.
__ADS_1
"Atau kalau nggak, lo ikut sekalian aja, nongkrong bareng kita? Gue jadi ada temennya buat ngobrol," ucap Tika dengan senang. Selama ini memang hanya dia wanita satu-satunya di dalam geng yang beranggotakan lima orang tersebut.
"Yak, nanti coba gue ngomong ke dia. Btw, dia kemana sih?" tanya Ticia penasaran. Setelah mereka berpisah di parkiran pagi tadi, tumben-tumbenan Varen tidak nyamperin dia ke kelas. Biasanya dia akan muncul tiba-tiba kayak hantu.
"Oh, lagi ngomongin strategi buat persiapan tanding nanti siang." jawab Rafa.
"Lah, bukannya lo juga anggota ya? Kenapa nggak ikut rapat?" tanya Ticia.
"Ah, gue mah nggak usah rapat segala juga udah tahu gue, gue kan jenius.." ucap Rafa memuji dirinya sendiri. Setelah itu dia mendapat hadiah geplakan dari Iqbal.
"Sok lo!" sewot Iqbal.
"Ish," Tika dan Ticia mendengus bersamaan mendengar kepedean Rafa. Sedangkan Rafa sendiri malah cengar cengir nggak jelas.
Ticia kemudian pamit hendak ke kantin menyusul sahabatnya sebelum bel masuk berbunyi. Dan sekalian ketiga teman Varen itu juga berpamitan kembali ke kelas mereka. Tak lupa mereka juga berterima kasih, karena Ticia sudah mau memaafkan mereka.
Ketika sampai di kantin, Ticia melihat kekasihnya sedang makan bersama seorang wanita. Wanita tersebut ternyata adalah Risma, pentolan GirlFriend.
"Katanya rapat," gumam Ticia sedikit kesal.
Lalu dengan langkah cepat Ticia mendekati Varen. Tanpa peringatan sebelumnya, Ticia menarik telinga Varen dan membuatnya kaaget sekaligus kesakitan.
"Genit lo ya, katanya rapat, taunya malah dua-duaan sama cewek lain.." ucap Ticia kesal dan semakin gemes menarik telinga Varen.
Risma yang kaget dengan perbuatan Ticia ke Varen, mulai marah. "Lo apa-apaan sih Cia! Hak kak Varen dong mau dua-duaan sama siapa aja, kok lo yang ribet!" ucapnya sembari menahan tangan Ticia supaya tidak lagi menarik telinga Varen.
"Orang kak Varen juga seneng-seneng aja deket ama gue.." imbuh Risma. Risma maaih belum tahu jika Varen dan Ticia sudah pacaran.
__ADS_1
"Oh, seneng bisa dua-duaan sama cewek lain? Seneng?" Ticia semakin kuat menarik telinga Varen sembari melotot.
"Aw, nggak sayank. Gue tadi cariin lo kesini, tapi lo nya nggak ada, karena gue laper jadi gue makan sekalian. Gue tadi sendiri kok, beneran.. Aw,, sakit yank.." Barulah setelah Varen memanggil Ticia dengan sebutan 'yank'. Risma baru tahu jika merema berdua sudah pacaran.