Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
25. Mata Menceritakan Segalanya


__ADS_3

Varen benar-benar berada dalam mood yang sangat bagus. Dia bisa dengan mudah menambah skor untuk tim-nya. Mungkin dia ingin menunjukan kepada Ticia kalau dia pantas menjadi pacarnya. Setiap kali dia menambah skor. Dia akan selalu melihat ke arah dimana Ticia duduk. Bahkan sesekali dia mengedipkan matanya dengan genit ke arah Ticia. Juga melakukan cium di udara dengan jarinya.


Tentu saja tindakan Varen itu membuat fans-fansnya berteriak histeris. Bisa dibilang itu pertama kalinya Varen melakukan hal seperti itu. Biasanya dia akan selalu bersikap cool.


Termasuk Girl Friend tak kalah histeris. Akan tetapi setelah mereka tahu jika apa yang Varen lakukan itu untuk Ticia. Maka sewot-lah mereka dengan wajah sinis melihat ke arah Ticia.


"Apa sih yang dia punya? Sampai kak Varen segitunya," gumam Risma kesal.


Berbeda dengan Ticia yang selalu mengembangkan senyuman di wajahnya. Ticia bahagia dan memerah wajahnya setiap kali Varen melakukan cium di udara kepadanya. Apalagi ketika mendengar teriakan histeris dari para fans Varen. Ticia merasa menjadi wanita paling bahagia. Karena dimana semua wanita mendambakan dan ingin mendapatkan Varen. Sebaliknya Ticia bisa mendapatkan cinta Varen.


"Kak Varen kelihatan cinta banget sama lo," ucap Anabella yang terus memperhatikan Varen dan Ticia. Anabella bisa melihat betapa kedua orang tersebut saling jatuh cinta.


Ticia tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia terlalu bahagia sampai tak bisa berkata-kata.


"Gue nggak nyangka Gio benar-benar berubah sekarang. Dia dulu bahkan tidak mau deket ama cewek selain gue. Sekarang dia bisa romantis gitu.." ucap Tika. Dia yang paling lama berteman dengan Varen. Tika juga tahu alasan kenapa Varen tidak mau dekat dengan wanita. Semenjak kepergian mamanya, Varen tidak percaya dengan wanita. Akan tetapi, semenjak ketemu Ticia. Varen berubah drastis.


"Sebagai sahabat kita harus selalu dukung apa yang membuatnya bahagia!" ucap Iqbal seolah mengingatkan Tika akan janjinya. Janji untuk tidak lagi egois karena perasaannya. Janji untuk selalu mendukung apa membuat Varen bahagia.


Tika harus mengesampingkan perasaan sukanya terhadap Varen, demi kebahagiaan Varen. Meskipun awalnya berat, tapi Tika tidak mau egois dan mengorbankan persahabatan yang telah terjalin begitu lama.


"Gue yakin kok, kelak lo juga bakal ketemu seseorang yang mampu membuat lo bahagia," lanjut Iqbal dengan tersenyum kecil. Iqbal menyemangati Tika.


"Ntar mau nggak lo nganterin gue ke makam orang tua gue?" Tika kangen dengan orang tua. Sudah beberapa hari dia tidak menjenguk makam orang tuanya.


"Iya," jawab Iqbal merasa iba kepada Tika. Iqbal tahu, seberapa berat yang Tika harus tanggung. Belum lama dia kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan. Masih harus merelakan perasaan cintanya ke Varen.

__ADS_1


****


Sudah hampir dua minggu, Ticia dan Varen menjadi sepasang kekasih. Kedua remaja itu sangat bahagia dengan hubungan mereka. Selama dua minggu menjalani kisah cinta. Tidak ada pertengkaran yang berarti di dalamnya. Paling hanya ngambek-ngambek sebentar saja.


"Yank, besok ada acara lain nggak selain ke gereja?" tanya Varen.


"Em.. Nggak ada sih, emang kenapa?" tanya Ticia balik.


"Mau nggak main ke rumah gue?"


"Boleh, besok pulang dari gereja langsung ke rumah lo.. Gue selesai dari gereja jam 9 pagi." Ticia sangat antusias, pasalnya itu pertama kalinya Varen mengajaknya pulang ke rumahnya. Ticia juga ingin ketemu dan kenal dengan papa dan mamanya Varen.


Karena Varen juga sudah kenal dengan ayah dan ibunya Ticia.


Selama ini hanya Tika yang tahu tentang kepergiaan mamanya. Itu pun karena Tika dan Varen sudah berteman sejak SMP. Dan keluarga mereka juga cukup dekat.


"Makan dulu ya?" sebelum Varen mengantar Ticia pulang, Varen mengajak Ticia untuk makan terlebih dahulu. Varen mengajak Ticia ke kafe dimana biasanya Varen dan teman-temannya nongkrong.


Malam itu malam minggu ketiga mereka bersama.


Setibanya di kafe tersebut mereka disambut baik oleh teman-teman Varen. Tapi ada yang berbeda dengan biasanya. Terlihat Risma dan Ella, teman Risma. Ada di tempat tongkrongan tersebut.


Ticia memicingkan matanya, apanya dia lakukan disini, batinya.


Sama seperti Ticia, Varen juga tidak tahu kenapa Risma bisa ada di tempat tersebut. Varen bukannya tidak tahu jika Risma berusaha untuk mendekatinya. Meskipun tahu jika dia sudah memiliki pacar. Akan tetapi, Risma masih saja berusaha untuk mendekati Varen. Sikap itu terlihat jelas saat Risma selalu mencari cara untuk mendekatinya dan bahkan sempat meminta nomir teleponnya. Karena tidak mau menyakiti Ticia. Varen selalu menolak permintaan itu.

__ADS_1


"Kenapa sih dia disini?" tanya Ticia ketika hendak turun dari motor Varen.


"Nggak tahu juga sih yank." jawab Varen sambil membuka helm-nya.


"Gue rasa dia pedekate sama Digta deh." imbuh Varen. Varen yakin dengan dugaannya, karena Digta dan Risma terlihat sangat akrab. Mungkin setelah beberapa kali sempat ditolak Varen. Risma mulai mengubah target incarannya. Meskipun tak sepopuler Varen Tapi Digta tak kalah ganteng dan juga anggota tim basket yang sama dengan Varen.


"Hello bro, darimana kalian?" tanya Rafa ketika melihat Varen dan Ticia berjalan mendekat.


"Nemenin Ticia ke gereja." jawab Varen sambil berjabat tangan dengan Rafa dan juga temannya yang lain.


"Malam minggu kok ke gereja, bukannya ke gereja itu harusnya hari minggu ya?" Iqbal sama seperti Varen dulu, waktu pertama kenal dengan Ticia.


"Kalau minggu itu ibadah umun, tapi kalau malam minggu ibadah khusus remaja." jelas Ticia.


"Oh," jawab Iqbal sambil menganggukan-anggukan kepalanya.


"Ah, oh, ah, oh, emang lo ngerti nyet?" tanya Rafa sembari menoyor kepala Iqbal.


"Kagak.." jawab Iqbal dengan tertawa. Dan sekali lagi dia mendapat jitakan dikepala oleh Rafa yang gemes banget dengannya.


Varen dan Ticia kemudian mulai memesan makanan. Tujuannya datang ke tempat itu memang ingin makan. Varen sama sekali tidak memperhatikan Risma dan Ella yang asyik ngobrol dengan Digta di meja sebelah. Varen lebih suka bercanda dengan wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta.


Varen sangat menyukai pribadi wanita tersebut. Dimana dia tidak pernah sama sekali jaga image di depan dia. Wanita itu akan selalu bertingkah lucu dan apa adanya.


Meskipun sudah berpacaran pun. Ticia dan Varen terus saja sama seperti teman. Suka saling ejek, salibg olok. Terkadang juga akan bertingkah romantis yang membuat mereka akan merasa tersipu satu sama lain. Bahkan ketika mereka diam, mereka tidak bisa menyembunyikan ketertarikan mereka satu sama lain. Saat diam, mereka akan saling melirik dan memandang. Mulut boleh bungkam dan berdusta, tapi mata mereka menceritakan segalanya. Betapa kedua muda mudi tersebut saling mencintai.

__ADS_1


__ADS_2