
Varen pulang ke rumah dengan tubuh yang sudah basah kuyup. Tak lama setelah dia meninggalkan Ticia, karena marah. Hujan turun dengan cukup deras. Akan tetapi Varen tidak menghentikan laju motornya. Dia terus menerobos derasnya hujan dengan hatinya yang sakit.
Mama dan papanya yang sedang ngobrol di ruang tamu menjadi cemas melihat keadaan anak mereka. "Gio, kamu kok basah kuyup gini?" tanya mamanya cemas.
"Mama sama papa punya kabar gembira untuk kamu. Tapi kamu buruan ganti baju, supaya tidak masuk angin!" Dina meminta Varen untuk segera ganti baju. Dia juga tidak sabar memberitahu anaknya tentang pembatalan pertunangannya.
Tapi, Varen tidak menjawab perkataan mamanya. Dia terus saja berjalan menuju kamarnya tanpa berkata sepatah katapun. Pandangannya juga kosong. Dan tidak bersemangat sama sekali.
Sesampainya di kamar. Varen masuk ke kamar mandi. Air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya. Varen meninju dinding kamar mandi dengan tangannya. Sesaat kemudian dia menangis sesegukan. Hatinya benar-benar hancur saat itu.
"Hiks..hiks.." Varen merintih dibawah guyuran air dari shower.
"Akh...." Dia kembali meninju dinding kamar mandi yang tak bersalah.
Setelah sejam berlalu. Dina dan Darwis merasa ada yang aneh dengan sikap anaknya. Mereka pun memutuskan untuk melihat anaknya ke kamar. Dua kali mengetuk pintu tidak ada sahutan dari Varen. Akhirnya mereka berdua masuk ke kamar Varen yang tidak terkunci.
Dina dan Darwis tidak melihat anak mereka. Tapi mereka mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi di kamar Varen.
Tok tok tok
"Gi, kamu masih mandi?" tanya Darwis sembari mengetuk pintu kamar mandi Varen. Tidak ada sahutan.
"Nak, kamu masih mandi?" giliran Dina yang mengetuk pintu kamar mandi. Masih belum ada sahutan dari Varen.
"Mas, udah satu jam sejak Gio naik ke atas, kenapa dia belum juga keluar ya?" tanya Dina sudah mulai merasa cemas.
"Gio!! Gio!!" seru Darwis lagi. Tapi Varen tidak menyaut panggilan papanya.
"Mas, coba buka langsung aja pintunya!" pinta Dina semakin cemas.
Darwis mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut. Ternyata tidak terkunci. Darwis pun masuk dan melihat anaknya yang duduk di bawah guyuran air, masih dengan pakaian yang lengkap.
Darwis buru-buru mematikan kran shower. Dan mendekati Varen yang menundukan kepalanya diantara kedua lututnya. "Kamu kenapa Gio?" tanya Darwis cemas melihat keadaan anaknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanyanya lagi sambil meraih tangan Varen yang terasa sangat dingin.
"Ma, Gio kenapa ini?" seru Darwis yang membuat Dina menjadi panik. Dina awalnya tidak mau masuk ke dalam kamar mandi anaknya. Karena Dina tidak mau membuat anaknya malu. Meskipun Varen anak kandungnya, tapi Varen sudah dewasa. Akan sangat tidak baik jika dia melihat anaknya yang sudah dewasa dalam keadaan telanjang.
Tapi karena teriakan suaminya yang terdengar panik. Dina akhirnya masuk ke dalam kamar mandi Varen. Dia tidak lagi memikirkan hal lain. Yang dia pikiran adalah anaknya.
Beruntung ketika dia masuk. Varen masih berpakaian lengkap. Hanya saja dia terlihat seperti orang depresi.
"Gio kamu kenapa sayang?" tanya Dina tak kalah panik dari sebelumnya. Dina mendekati Varen dan memegang kepala Varen.
Varen pun mendongakan kepalanya menatap mamanya. Air mata masih berlinang di pipi Varen. Wajahnya yang tampan terlihat sangat pucat.
Melihat penampilan anaknya semakin membuat Dina panik. "Kamu kenapa sayang? Bilang sama mama!" tanyanya dengan ikutan menangis.
Varen tidak langsung menjawab pertanyaan mamanya. Dia masih menangis sesegukan dalam pelukan mamanya.
Akhirnya Darwis membantu anaknya berganti pakaian. Dan Dina membuatkan teh hangat untuk anaknya. Juga meminta bi Suti untuk menyiapkan makan malam untuk anaknya.
Varen menengguk sedikit minuman tersebut. "Pa, Gio mau dijodohin dengan Rose, tapi Gio perlu mengenal Rose dulu sebelum tunangan." ucap Varen tiba-tiba.
Tentu saja, perkataan Varen tersebut membuat Dina dan Darwis menjadi terkejut. "Kamu mau dijodohin sama Rose?" tanya Darwis tidak percaya dengan apa yang dia dengar sebelumnya.
"Iya."
"Kamu yakin? Terus hubungan kamu sama Leticia?" tanya Dina juga masih ragu dengan perkataan anaknya.
"Aku sama Ticia sudah tidak mungkin bersama. Aku mau mencoba menjalani hubungan dengan Rose, siapa tahu kita cocok." jawab Varen dengan yakin. Tapi terdengar jika nada bicaranya seperti orang yang sedang marah.
"Tapi papa jangan bilang ke tante Jane atau Rose dulu. Biarin Gio yang mulai deketin Rose." ucap Varen lagi.
Dina dan Darwis setuju dengan permintaan anak mereka. Dan mereka mengurungkan niat untuk mengatakan apa yang akan mereka sampaikan sebelumnya. Karena Varen meminta mereka untuk tidak lagi membahas soal Ticia di depannya.
****
__ADS_1
Pagi-pagi, setelah sampai di sekolah. Varen sengaja ke kelas Ticia. Tapi bukan untuk mencari atau mengganggu Ticia. Tapi untuk mencari Rosalinda.
Varen duduk di sebelah Rosalinda, tepatnya di depan Ticia. Saat itu Ticia bersama Indah dan Anabella sedang ngobrol seperti biasa. Tentu saja sikap Varen yang tidak seperti biasanya membuat Indah dan Anabella menjadi curiga.
Indah dan Anabella saling berpandangan. Sementara Ticia hanya diam dengan wajah yang cemberut. Sesekali melirik Varen yang sedang bicara dengan Rosalinda.
"Kak Gio kesini cari Ticia?" tanya Rosalinda yang merasa gugup berada disebelah Varen.
"Nggak. Gue nyari lo," jawab Varen cepat.
"Cari.. gue?" tanya Rosalinda semakin gugup.
"Iya. Ntar siang ada waktu nggak? Kalau nggak, lihat gue tanding ya!" ucap Varen sambil melirik Ticia yang duduk tepat di belakangnya. Sama seperti pertama kali dia meminta Ticia untuk melihatnya bertanding.
"Boleh, nanti gue nggak kemana-mana kok." ucap Rosalinda dengan senang. Itu pertama kalinya Varen meminta Rosalinda secara langsung untuk melihat Varen tanding.
Brakk..
Ticia menggebrak meja di depannya pelan. "Gue mau ke toilet bentar." ucapnya kemudian meninggalkan kelas dengan sedikit kesal.
Melihat Ticia keluar dari kelasnya. Varen tersenyum kecil. Kemudian wajahnya kembali terlihat dingin.
"Gue tunggu kehadiran lo nanti siang ya, Rose!" ucap Varen kemudian pamit kembali ke kelasnya sendiri.
Sepeninggalan Varen, diam-diam Rosalinda tersenyum penuh kebahagiaan. Akhirnya dia bisa meluluhkan hati lelaki yang sudah lama dia sukai.
Di toilet, Ticia berkali-kali membasuh wajahnya. Entah kenapa dia merasa hatinya sangat sakit melihat Varen mulai dekat dengan Rosalinda. Dia juga berkali-kali menepuk-nepuk pipinya pelan.
"Sadar Cia, ini yang lo mau. Tapi kenapa hati gue rasanya sakit banget." gumamnya sembari memegangi dadanya yang terasa sesak. Berkali-kali Ticia menghela nafasnya untuk melegakan dadanya yang terasa amat sesak.
"Ini yang terbaik buat lo, Cia.." gumamnya lagi sambil memukul-mukul pelan dadanya.
"Asalkan dia bahagia, gue harus berusaha ikhlas." gumamnya seorang diri. Sekali lagi Ticia membasuh wajahnya. Setelah akhirnya dia keluar dari toilet dan kembali ke kelas dengan perasaan yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1