Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
38. Kekecewaan Leticia


__ADS_3

Di tempat lain.


Ternyata Ticia telah menyiapkan surprise lain untuk Varen. Dimana hari itu, adalah hari anniversary mereka yang ketiga bulan. Alasan kenapa Ticia mengatakan jika dia punya banyak tugas. Karena, dia ingin memberi kejutan untuk Varen.


Akan tetapi, setelah menunggu selama lebih dari satu jam. Ternyata Varen nggak datang.


Rafa dan yang lain sempat menghubungi Varen. Akan tetapi, ponsel Varen tidak bisa dihubungi. Dan di saat Ticia ingin menghubungi Varen juga. Tanpa sengaja dia melihat story wa Rose yang baru saja diunggah.


Sebelumnya Indah yang mengetahui lebih dulu. Tapi karena dia tidak ingin membuat Ticia sedih. Indah hanya memberitahu story tersebut kepada Anabella. Dan mereka berdua sepakat untuk tidak memberitahu Ticia.


Tapi mereka lupa. Kalau Ticia juga punya nomer wa Rose.


Tentu saja, Ticia menatap dengan seksama video yang dijadikan story oleh Rose tersebut. Terlihat jelas, jika lelaki di dalam video tersebut, adalah Varen.


Maka marahlah Ticia. Sebelumnya, teman-temannya mengeluh karena hape Varen tidak bisa di hubungi. Dan mereka sangat khawatir. Takut terjadi apa-apa dengan Varen. Tapi, sesaat kemudian Ticia tahu jika Varen sedang pergi bersama Rose.


Brakkk..


Ticia berdiri sambil menggebrak meja yang ada di depan. Membuat semua teman-temannya kaget. Tanpa sepatah kata pun, Ticia berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan marah.


"Cia..." seru Indah dan Anabella bersamaan. Mereka berdua yakin jika Ticia sudah melihat story wa Rose.


"Mau kemana lo?" tanya Tika tidak tahu apa yang terjadi dengan Ticia.


"Pulang."


"Kok pulang? Nggak mau nunggu Gio dulu? Gue udah chat dia, gue yakin kalau dia baca pesan gue, dia pasti akan segera kesini." sahut Rafa menahan Ticia yang hendak pergi.


"Ngapain nungguin orang pacaran?" Ticia sudah tidak bisa menahan amarahnya.

__ADS_1


"Maksud lo apa sih?" Tika jadi bingung.


Ticia dengan cepat mengambil ponsel di dalam tasnya. Kemudian menunjukan story Rose kepada Tika dan teman-teman Varen yang lain. "Lo masih yakin dia akan baca pesan lo, dan datang kesini?" tanya Ticia dengan sinis. Hatinya terasa sangat sakit.


"Gue udah bayar semua tagihannya." ucapnya yang terakhir sebelum dia berlari keluar dari kafe tersebut dengan marah.


Di belakangnya, Indah dan Anabella berlari mengikuti Ticia yang sedang marah, kecewa, kesal, campur jadi satu. Ticia terus berlari tanpa tujuan.


"Cia!!" seru Indah dan Anabella yang kewalahan mengejar Ticia yang seolah tidak merasakan capek sama sekali.


"Buruan An," ucap Indah dengan nafas ngos-ngosan. Tapi tidak mau menyerah untuk mengejar Ticia. Indah tahu, jika saat ini Ticia sangat membutuhkan pelukannya.


"Gue..gue..udah nggak kuat, hah..hah.." Anabella berhenti karena sudah tidak kuat lagi.


"Awas Cia.." seru Indah ketika dari arah kanan Ticia melaju mobil dengan kecepatan tinggi.


Ciiitttt


Sekitika Indah dan Anabella berlari menyongsong Ticia yang tergeletak di jalan. Anabella yang tadinya sudah tidak kuat berlari. Karena melihat Ticia yang tergeletak dengan dahi yang berdarah, membuat Anabella menjadi kembali memiliki tenaga untuk berlari.


"Leticia.." seru Indah dan Anabella.


"Kita ke dokter sekarang!" ucap Indah dengan air mata yang tak bisa lagi dia bendung.


"Gue nggak apa-apa kok," ucap Ticia berusaha bangun kembali.


Tapi akhirnya dengan paksaan dari pengemudi mobil tersebut. Ticia mau dibawa ke rumah sakit. Menyadari kecerobohannya. Ticia meminta maaf kepada pengendara mobil tersebut. Serta berterima kasih kepadanya. Karena sudah mau mengantarnya ke rumah sakit. Bahkan Ticia di antar juga sampai rumah.


"Istirahat aja, nggak usah mikir yang berat-berat dulu!" Anabella menasehati Ticia supaya tidak memikirkan masalah Varen dulu.

__ADS_1


Ticia mengercapkan matanya. Berusaha menahan air mata yang hendak keluar. Dia tidak ingin kedua sahabatnya melihat dirinya sedih.


"Gue tahu lo kuat, tapi kalau lo pengen nangis, menangislah! Jangan dipendam sendiri kesedihan lo!" Indah memeluk Ticia dengan erat. Barulah setelah itu, Ticia tidak bisa lagi menahan air matanya. Ticia menangis tersedu di pelukan Indah dan Anabella.


Sepuluh menit berlalu. Perasaan Ticia sudah mulai membaik. "Makasih ya, kalian udah baik banget sama gue."


"Udah, istirahat aja, luka lo masih sakit kan?" tanya Anabella. Ticia menganggukan kepalanya. Bukan kepalanya yang sakit. Tapi hatinya yang sangat sakit.


....


Varen sampai di rumah sudah pukul sepuluh malam. Dia ambil ponselnya ternyata ponselnya mati karena habis baterai. Begitu dia menyalakan ponselnya, betapa kagetnya dia karena banyak banget pesan masuk dari teman-temannya. Tapi tidak ada sama sekali pesan dari kekasihnya, Ticia.


Di antara puluhan pesan yang masuk. Ada satu pesan yang menarik perhatian Varen. Pesan itu dikirim oleh Rafa. Isi pesan tersebut adalah sebuah video yang menunjukan kafe yang telah di sulap menjadi tempat yang begitu romantis. Dan yang paling membuat Varen terkejut. Dalam video tersebut, Rafa mengatakan jika semua itu disiapkan oleh Ticia sebagai kejutan hari jadinya dengan Varen yang ketiga bulan.


Varen terbelalak mendengar penjelasan Rafa dalam video tersebut. Rafa juga menasehati Varen supaya meminta maaf kepada Ticia. Karena sepertinya Ticia sangat kecewa.


Tanpa pikir panjanh Varen lalu kemudian berusaha menghubungi Ticia. Tapi panggilannya tidak dijawab sama sekali oleh Ticia. Chat-nya juga sama sekali tidak dibaca apalagi dibalas.


Varen ingin ke rumah Ticia. Tapi hari sudah sangat larut. Dia memilih untuk menahan keinginannya dan menunggu sampai besok pagi.


Tapi perasaan Varen tidak bisa tenang. Dia merasa sangat gelisah. Alasan kenapa Ticia tidak mau menjawab teleponnya. Karena Ticia sedang marah kepada Varen. Dan Varen sadar akan hal tersebut.


"Kok gue bisa lupa sih, anniversary kita. Ah..." Varen juga tidak curiga sama sekali waktu Ticia bilang dia banyak tugas. Tapi teman-temannya memaksanya untuk terus datang.


Varen juga tidak ingat kalau Rose adalah teman sekelas Ticia. Jadi Varen tidak curiga ketika Ticia bilang banyak tugas. Sementara Rose punya banyak waktu luang. Varen benar-benar lupa.


Semalaman Varen tidak bisa memejamkan matanya. Dia sangat menyesal kenapa dia tidak ingat hari jadiannya.


Mungkin karena dia yang belum pernah punya pacar sebelumnya. Dan dua bulan sebelumnya, Ticia yang selalu mengingatkannya. Mungkin kali ini Ticia ingin menguji apakah Varen ingat dengan hari jadian mereka atau nggak.

__ADS_1


Tapi ternyata Varen benar-benar lupa. Padahal Ticia sudah mempersiapkan sesuatu yang romantis untuk hari jadi mereka.


__ADS_2