Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
81. Indah Hamil


__ADS_3

Varen memaksa ikut Ticia pulang. Bahkan dia meninggalkan tas dan motornya di sekolah. Meskipun Ticia melarangnya. Tapi, Varen tetap saja bersikeras ikut pulang.


Tiba-tiba saja Varen masuk ke dalam mobil Ticia tanpa permisi. Karena Varen yang ngeyel. Akhirnya Ticia pun membiarkan Varen ikut dengannya.


"Motor sama tas kakak?" tanya Ticia sambil menjalankan mobilnya.


"Gue udah bilang ke Rafa, ntar biar di anter dia ke rumah." jawab Varen santai.


Pada saat yang sama. Rosalinda juga hendak pulang. Dia juga mendapat hukuman yang sama seperti Ticia. Dari dalam mobilnya, dia melihat Varen masuk ke dalam mobil Ticia.


"Sial! Apa sih bagusnya dia? Masih cantikan gue kemana-mana." gumam Rosalinda kesal sambil memukul pelan stir kemudinya.


Rosalinda pun berniat untuk membuntuti mobil Ticia. Dia penasaran kemana Ticia dan Varen akan pergi. Tentunya Rosalinda yakin jika mereka tidak mungkin langsung pulang ke rumah.


Benar saja. Ticia melajukan mobilnya ke sebuah tempat wisata yang belum lama launching.


Tempat itu kayak sebuah taman yang sangat luas. Dengan miniatur bangunan yang terkenal dari berbagai negara. Ada juga taman bunga yang indah di kawasan tersebut. Dan lagi, banyak pula tempat yang sangat menarik untuk bersua foto.


Meskipun masih baru. Tapi ketika Ticia dan Varen masuk ke taman tersebut. Suasan masih bisa di bilang sepi. Hanya ada beberapa siswa atau siswi yang sepertinya sedang bolos sekolah.


Mungkin juga karena bukan hari libur jadi masih agak sepi pengunjung.


Varen menggenggam tangan Ticia saat mereka jalan-jalan berkeliling. Tak lupa mereka juga mengambil beberapa foto diri mereka menggunakan ponsel masing-masing.


"Cia, gue seneng deh, akhirnya gue bisa mesra-mesraan sama lo lagi." ucap Varen sembari tersenyum.


Sementara Ticia hanya tersenyum tanpa berniat melepaskan genggaman Varen. Entah kenapa Ticia selalu merasa nyaman saat Varen menggenggam tangannya.


"Duduk sana yuk!" Varen menarik Ticia ke salah satu bangku yang ada di tempat tersebut.


Tempat itu cukup teduh karena berada tepat di bawah pohon yang rindang.


Varen berbaring dan menjadikan paha Ticia sebagai bantalnya. Dengan begitu, dia bisa menatap Ticia dengan leluasa. "Yank, weekend main ke resto mama yuk! nginep di rumah mama!" ajak Varen. Dia kangen liburan bersama Ticia.


"Nggak bisa, weekend gue mau ke rumah kakek, om Daniel mau tunangan." jawab Ticia.

__ADS_1


"Kalau gitu gue ikut, ntar biar gue yang bilang ke ayah.." Varen berubah pikiran dengan cepat. Kemana pun dia ok, asal bersama Ticia.


Varen juga sangat percaya diri jika ayahnya Ticia akan mengizinkannya ikut. Varen memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya Ticia.


"Yank, elus-elus!" rengek Varen seperti bayi.


"Apa sih?" Ticia geli sendiri melihat tingkah Varen.


Varen kemudian menuntun tangan Ticia ke kepalanya. Dengan perlahan Varen mengusapkan tangan Ticia ke kepalanya sendiri. Barulah Ticia ngeh apa yang dimaksud Varen.


Ticia tidak henti-hentinya tertawa melihat tingkah kekanakan Varen. Dia juga nurut aja apa yang dimau Varen. Dengan lembut Ticia mengelus-elus rambut Varen yang berbaring di pangkuannya.


"Kayak anak kecil emang.." ucap Ticia dengan gemas sambil menarik hidung mancung Varen.


Sementara dari tempat yang tidak terlalu jauh. Rosalinda terus menatap keuwuan pasangan itu dengan kesal. Dia tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Varen sebelumnya.


"Awas aja kalian!" gumam Rosalinda seorang diri dengan kesal. Tapi meskipun begitu. Rosalinda tetap saja masih mengintai kemesraan Varen dan Ticia.


****


Begitu pun Anabella yang tidak henti-hentinya memarahi Indah atas kebodohannya. "Kenapa lo simpan semua ini sendiri?" tanya Anabella dengan air mata yang berlinang.


"Mana si Arka?" tanya Anabella dengan nada marah.


Dia dan Ticia sama sekali tidak melihat batang hidung Arka. Padahal apa yang menimpa Indah itu juga karena ulahnya.


"Sejak dia gue kabari kemarin malam, dia belum kesini, juga tidak balas chat gue." jawab Indah merasa sangat sedih dengan perubahan sikap pacarnya.


"Emang brengs*k tuh laki, mau enaknya saja, tapi nggak mau tanggung jawab, anj*ng emang dia." seru Ticia dengan marah.


Tapi melihat Indah yang kembali menangis membuat Ticia tidak jadi emosi. Dia kembali memeluk dan menenangkan Indah.


Varen tanpa sengaja melihat story instagram Arka bersama wanita lain. Mereka seperti berada di sebuah kafe. Banyak anak muda yang nongkrong. Dan Arka tidak hanya bersama satu wanita. Melainkan ada beberapa pria dan wanita dalam satu meja itu.


Melihat itu, Varen merasa sangat geram. Di rumah sakit, Indah sedang di rawat karena lemas akibat terus muntah dan mual karena ngidam. Sementara lelaki yang adalah bapak dari bayi itu malah bersenang-senang dengan wanita lain.

__ADS_1


Ya, Indah hamil sekarang. Itu sebabnya dia muntah dan mual terus-terusan.


Varen menarik tangan Ticia menjauh dari Indah. Varen berharap Indah belum melihat story instagram Arka. "Kenapa sih kak?" Ticia sedikit kesal karena Varen menariknya begitu saja saat dia sedang menenangkan Indah.


Varen terus menarik tangan Ticia sampai keluar dari bangsal tersebut. Kemudian Varen menunjukan story instagram milik Arka. Maka, marahlah Ticia melihat apa yang dilakukan Arka.


"Sampah memang, nih cowok emang harus di kasih pelajaran!" ucap Ticia dengan geram.


"Ayo kita samperin dia! Tapi pastiin Indah jangan sampai buka sosmed dulu!" ucap Varen.


Ticia dan Varen pun kembali ke dalam kamar. Mereka ingin memastikan jika Indah belum melihat story instagram Arka. Tapi ternyata mereka terlambat.


Ketika mereka kembali masuk ke kamar dimana Indah dirawat. Mereka berdua sudah mendapati Indah yang menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Anabella sembari memegangi ponselnya.


Bisa dipastikan, jika Indah sudah melihat story instagram milik Arka.


"Cia, Arka sudah sangat keterlaluan! Kita harus cari dia!" ucap Anabella dengan marah pula.


"Lo jaga Indah bentar, gue sama kak Vava mau samperin dia!" ucap Ticia.


"Jangan Cia! Jangan sakiti dia!" pinta Indah dengan masih menangis. Harus diakui, Indah masih cukup kepada lelaki yang bisa dibilang brengs*k itu.


"Jangan sakiti dia kak Varen, gue mohon!" pintanya kepada Varen.


"Lo tenang aja, gue nggak akan sakiti dia. Paling cuma kasih dia pelajaran dikit aja.." ucap Varen dengan santai. Lalu dia menarik tangan Ticia kembali meninggalkan bangsal tersebut.


"Jangan kak! jangan!" Indah kembali memohon untuk lelaki itu. Dia menangis dan hendak turun dari tempat tidurnya. Tapi ditahan oleh Anabella. Dan juga tubuhnya masih sangat lemah.


"In, kenapa lo masih belain tuh cowok brengs*k! Dia aja nggak peduli sama lo!" ucap Anabella pelan. Dia tidak mau mengganggu pasien yang lain.


"Semua ini bukan salah dia, An. Gue yang bodoh, tidak bisa jaga kesucian gue." ucap Indah.


"Tapi setidaknya dia harus tanggung jawab atas anaknya, biar bagaimana pun anak itu adalah darah dagingnya. Tapi dia malah mesra-mesraan dengan wanita lain. Biarin aja, biarin Ticia dan kak Varen kasih dia pelajaran!" Anabella berkata dengan emosi. Dia memeluk Indah yang sepertinya semakin melemah.


"Lo tidur aja!" Anabella membantu Indah berbaring. Mata Indah masih saja basah karena air matanya. Hatinya juga merasa sangat sakit.

__ADS_1


Padahal sebelumnya, Arka tidak pernah begitu. Tapi kenapa dia seperti itu setelah tahu jika Indah hamil. Apakah Arka ingin lari dari tanggung jawabnya.


__ADS_2