Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
49. Cinta Adalah Tentang Kepercayaan


__ADS_3

Varen sudah mulai masuk sekolah. Kakinya sudah benar-benar sembuh. Butuh waktu dua minggu untuk Varen memulihkan cideranya sampai benar-benar sembuh.


Varen menuju kelasnya dengan di dampingi Ticia yang setia menemaninya. Varen meminta Ticia untuk kembali ke kelasnya. Tapi Ticia tidak mau. Alasan kenapa Varen tidak ingin Ticia mengantarnya sampai kelas. Karena pasti Ticia akan bertemu dengan Roman, si playboy kelas atas.


Meskipun dia termasuk cowok paling populer di kelasnya. Tapi Varen merasa insecure dengan kemampuan rayuan Roman. Dia punya kekhawatiran kekasihnya lama-lama akan takhluk dengan ucapan manis Roman.


Ticia yang menyadari akan kekhawatiran kekasihnya. Berkali-kali mengatakan kalau dia tidak akan mudah termakan oleh rayuan manis Roman.


"Karena hati gue udah penuh dengan cinta lo, dan tidak ada ruang untuk lelaki lain." ucap Ticia dengan tersenyum dan menatap Varen lekat. Ticia ingin meyakinkan Varen, betapa dia sangat mencintai Varen.


"Uh, manis banget mulutnya." ucap Varen dengan tersenyum, sembari mencubit pipi Ticia.


"Lah lo nggak tahu niat gue?" tanya Ticia dengan wajah serius.


"Niat apa?" Varen menjadi penasaran setelah melihat raut wajah Ticia yang mulai serius.


"Gue kan punya niat terselubung,"


"Niat terselubung?" Varen semakin bingung mendengar ucapan Ticia.


"Iya, gue punya niat terselubung, bikin lo diabetes." jawab Ticia sembari terbahak.


Varen menghela nafas lega saat tahu ternyata Ticia hanyalah bercanda. Padahal Varen sudah merasa takut aja. Takut Ticia memiliki niat hanya ingin mempermainkannya saja.


"Ticia.." sapa Roman yang baru saja masuk ke kelas.


"Hai kak," jawab Ticia.


Tapi di samping Ticia, ada seseorang yang menatap Roman dengan tajam. Dia adalah Varen. Varen bahkan tidak mengedipkan matanya sama sekali saat menatap Roman.


Melihat wajah Varen yang seperti ingin memakan orang. Roman akhirnya memilih untuk pergi. Dan tidak mau berurusan dengan Varen beserta kawan-kawannya.


"Kak Vava, lo takutin dia tahu nggak." gerutu Ticia ketika melihat ekspresi Roman yang berubah.

__ADS_1


"Biarin, siapa suruh sok akrab sama lo." jawab Varen santai.


Ticia sempat memutar bola matanya melihat sikap kekanak-kanakan dari kekasihnya. "Gue ke kelas dulu, udah bel, ntar gue di hukum kalau terlambat masuk ke kelas." pamit Ticia.


Sementara Varen hanya menganggukan kepalanya saja. Tapi matanya terus menatap gadis itu sampai keluar dari kelasnya.


Varen kemudian berdiri dan menghampiri Roman yang duduk di bangku kedua dari depan. "Jangan sok akrab sama cewek gue! Ini peringatan gue yang terakhir!" ucap Varen.


"Jangan kekanak-kanakan deh!" ucap Roman dengan sedikit tersenyum. Roman mulai bosan mendengar ancaman Varen yang hanya itu-itu saja masalahnya.


"Gue yakin kalau lo terus-terusan kayak gini, cepat atau lambat, Ticia pasti akan tinggalin lo!" ucap Roman tidak takut sama sekali menghadapi kemarahan Varen.


Brakk.


"Brengs*k lo," tanpa peringatan Varen memukul pipi Roman.


"Coba lo bilang sekali lagi!" seru Varen meraih kerah baju Roman.


Saat itu teman-teman satu kelas mereka menjadi ribut. Tapi mereka tidak ada yang berani mendekat. Sampai akhirnya teman-teman Varen muncul. Mereka dari kantin sebelumnya.


"Gi, udah Gi!" ucap Iqbal.


Sementara Rafa dan Digta memeluk Varen dan memisahkan tangan Varen yang mencengkeram kerah baju Roman. Sorot mata Varen sangat menakutkan. Sorot mata yang sama seperti setahun yang lalu. Saat dia hendak menghabisi seseorang di club malam, yang menghina ibunya.


"Coba ucapkan sekali lagi, apa yang lo ucapin tadi!" seru Varen meronta dalam pelukan teman-temannya.


Dengan santai Roman merapikan bajunya. "Kalau lo masih bersikap kekanak-kanakan, Ticia akan tinggalin lo!" ucap Roman tanpa takut.


Varen kembali emosi dan mulai meronta. Ingin sekali Varen memukul Roman sampai Roman tidak lagi bisa bicara.


"Maksud lo apa bilang kayak gitu?" saat itu Digta yang memiliki temtramen hampir sama dengan Varen, terpancing dengan ucapan Roman.


"Dig," Rafa menahan Digta yang hendak mendekat ke Roman. Dengan sikapnya, Rafa yakin Digta pasti akan memukul Roman juga.

__ADS_1


"Maksud gue jelas, Ticia juga butuh kebebasan. Nggak bisa lo seenaknya larang-larang dia buat nggak berteman dengan siapapun."


"Lo udah bosen hidup??" seru Digta yang justru terpancing dengan ucapan Roman.


Tapi, sebelum Digta bisa meraih kerah Roman. Pak guru yang mengajar pada pagi itu lebih dulu masuk kelas mereka, dan membubarkan kerumunan tersebut.


Sepanjang pelajaran berlangsung. Perkataan Roman selalu terngiang-nginang di benak Varen. "Apa gue membatasi kebebasannya?" gumam Varen seorang diri.


Tapi tidak bisa dipungkiri. Selama pacaran, Varen memang sedikit melarang Ticia dekat dengan lelaki lain. Selain Arka cs dan teman-temannya, Varen akan cemburu jika Ticia dekat dengan lelaki lain. Bahkan dengan Nathan pun, Varen merasa cemburu.


Itu sebabnya Ticia jarang sekali ngobrol dengan Nathan setelah berpacaran dengan Varen. Bukan karena takut dengan Varen. Tapi lebih menghargai perasaan Varen.


Seperti Varen yang tidak menanggapi wanita lain selain teman-teman dekat Ticia. Ticia juga ingin menjaga perasaan sang kekasih.


Saat waktu istirahat. Varen menanyakan apa yang menjadi beban pikirannya sepanjang pelajaran berlangsung tadi. Varen hanya ingin tahu, apakah yang diucapkan Roman itu sama dengan apa yang Ticia pikirkan. Jika iya, Varen siap untuk berubah.


Varen memilih halaman belakang sekolah untuk menanyakan hal itu. Karena disana, tempatnya selain teduh juga sepi.


"Kok tumben nanya gitu?" tanya Ticia merasa aneh dengan apa yang dia dengar.


"Gue cuma takut aja lo akan ninggalin gue." jawab Varen dengan jujur.


Ticia menatap dalam-dalam lelaki bertubuh tinggi, dan memiliki bibir tipis kemerahan itu. Keheningan sesaat terjadi.


"Yank, kalau gue emang berlebihan, gue janji gue bakal berubah, tapi gue mohon, jangan pernah tinggalin gue!" Varen menyenderkan kepalanya di bahu Ticia.


Dengan lembut Ticia menangkap kedua pipi Varen dan menatapnya penuh kasih. "Jujur, iya kak. Lo terlalu posesif. Tapi gue tahu itu semua karena lo cinta sama gue." ucap Ticia penuh kelembutan.


"Maafin gue!" lirih Varen dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nggak ada yang perlu dimaafin, hanya saja gue mohon, lo percaya sama gue, kalau gue cinta sama lo."


"Iya, gue janji akan berubah. Itu semua karena gue baru pertama kali jatuh cinta, gue nggak tahu gimana cara membuat wanita yang gue cinta bahagia, yang gue tahu, lo hanya milik gue, dan tidak boleh disentuh orang lain." ucap Varen menjelaskan apa yang dia pikirkan selama ini.

__ADS_1


Ticia tersenyum sambil menatap lelaki yang masih berpikir kekanakan tersebut. "Gue juga sama kayak lo, gue nggak suka lo deket sama wanita lain. Tapi bukan berarti gue ngekang kebebasan lo. Asalkan lo tahu batasannya. Gue nggak masalah kalau lo mau berteman dengan wanita lain. Karena cinta itu juga tentang kepercayaan, gue percaya lo nggak akan sakitin gue, karena gue tahu lo cinta sama gue." ucap Ticia menjelaskan hakikat cinta kepada Varen.


"Gue juga yakin, kalau lo cinta sama gue." ucap Varen menatap dalam-dalam kekasihnya tersebut. Ucapan Varen tersebut sama artinya dengan dia percaya Ticia tidak akan pernah menyakitinya.


__ADS_2