Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
73. Dia Calon Istri Lo


__ADS_3

Hari semakin hari. Varen masih mencari waktu yang pas untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Rosalinda. Bahwa dia belum bisa membuka hatinya untuk Rosalinda.


Sebenarnya bukan hal sulit untuk mengatakan kebenarannya. Tapi Varen juga harus memikirkan apa yang terjadi setelahnya.


Varen tidak ingin menyakiti Rosalinda. Meskipun itu sangat kecil kemungkinan Rosalinda tidak terluka. Varen juga tidak mau, Ticia yang akan disalahkan atas kejujurannya tersebut.


Varen sedikit menyesal sih karena semua itu. Kenapa dia harus menggunakan Rosalinda untuk membuat Ticia cemburu. Tapi akhirnya malah itu membuatnya menjadi lelaki kejam.


Setelah pelajaran olah raga. Varen dan teman-temannya ganti baju di toilet. Pada saat bersamaan. Mereka melihat Ticia dan kedua temannya sedang berlaro mengelilingi halaman sekolah.


"Lihat noh Ticia dihukum lari keliling halaman." ucap Iqbal sambil menunjuk ke arah Ticia yang sedang dihukum berlari.


"Ticia, semangat.." seru Digta sambil tertawa dengan mengangkat kedua lengannya.


"Lo kenapa lari-lari? Di kejar siapa sih?" Iqbal tak kalah jaih dengan Digta. Dia bertanya dengan konyol dengan terbahak-bahak pula.


Sementara Ticia tidak mengindahkan ledekan Digta dan Iqbal. Dia hanya mengacungkan kepalan tinjunya ke arah mereka yang terlihat sangat senang.


"Anj*r, baru kali ini gue dihukum kayak gini." gerutu Indah sembari menutupi wajahnya.


"Sama." sahut Anabella masih masuk akal. Dia terlihat biasa saja tanpa berniat menutup wajahnya seperti yang dilakukan Indah.


"Lo pikir gue nggak? Mana tuh cecunguk ledekin mulu." ucap Ticia dengan kesal.


"Kan karena lo, kita dihukum gini!" omel Indah kepada Ticia.


"Iya maaf deh, nanti setelah ini gue traktir makan di kantin." ucap Ticia merasa bersalah kepada kedua temannya.


*Beberapa menit yang lalu di kelas Ticia*


Ticia sedang mengobrol bersama Anabella sembari tangannya masih aktif mencatat pelajaran yang ada di papan tulis.


"Gila, cowok yang itu ketemu di Mall, dia telepon gue terus, anj*r, males banget gue sumpah." ucap Ticia pelan.


"Yang mana?" tanya Anabella tanpa menghentikan kegiatan mencatatnya.


"Yang tinggi banget kayak tiang listrik itu." jawab Ticia juga melakukan hal sama.


"Oh, yang cakep itu yak?"

__ADS_1


"Cakep apanya? Kayak tiang listrik gitu." ucap Ticia tak puas.


Mendengar Ticia dan Anabella yang sedang cerita. Indah pun menjadi kepo. Dia memutar kepalanya dengan cepat. "Halah bilang aja kalau lo masih belum bisa move on dari kak Varen." ucap Indah pelan supaya tidak terdengar oleh Rosalinda yang ada di sampingnya.


"Nggak usah sok tahu!" ucap Ticia mendorong kepala Indah.


"Ngaku aja!" ucap Indah lagi.


"Iya, ngaku aja lo!" sahut Anabella juga. Akhirnya karena membuat Ticia menjadi kesal sendiri.


Tanpa sadar Ticia menggebrak mejanya. Tentu saja tindakan Ticia tersebut membuat seisi kelas menjadi kaget. Terutama guru yang sedang menulis di papan tulis.


"Itu kenapa malah ribut sendiri?" tanya bu guru dengan kaget.


Sementara Ticia dan kedua temannya malah justru semakin ribut karena saling menuduh dan menyalahkan. Jadinya ketiga remaja itu di hukum dengan mengelilingi halaman sekolah sebanyak tujuh kali putaran.


*ON*


Varen memperhatikan Ticia yang masih berlari dihalaman sekolah. Melihat keringat yang membasahi dahi Ticia. Membuat Varen ingin sekali menghapusnya.


"Gue baru sadar kalau ternyata Ticia tuh cakep banget yak?" gumam Rafa sembari terus memperhatikan Ticia dan kedua temannya.


"Lo mau dihajar sama Gio?" bisik Iqbal sembari menatap wajah Varen yang suram.


Mendengar perkataan Rafa membuat Varen menjadi menyesal. Apa yang dikatakan Rafa memang benar. Ticia memang seorang gadis yang sangat cantik. Dengan wajah yang terlihat selalu ceria. Dan juga kuncir kuda dengan poni sedikit membuatnya tampak sangat cantik.


Tanpa berkata, Varen mempercepat langkahnya. Karena jam istirahat juga hampir tiba. Varen kemudian berjalan menuju kantin. Diikuti oleh teman-temannya, tanpa Tika. Karena Tika sudah kembali ke kelas.


Tak lama kemudian, Varen keluar dari kantin dengan membawa tiga minuman. Sepertinya akan dia berikan ke Ticia dan kedua temannya.


Benar saja. Ketika Ticia dan kedua temannya selesai mengelilingi halaman sekolah sebanyak tujuh kali. Mereka pun bergegas ke kantin untuk segera minum karena capek.


"Nih buat kalian." ucap Varen menyodorkan tiga minuman dalam cup kepada Ticia dan kedua temannya.


"Em, makasih kak." ucap Ticia menerima minuman tersebut.


"Makasih kak Varen.." ucap Indah dan Anabella bersamaan. Mereka kemudian dengan segera meminum minuman tersebut.


"Tahu aja kalau kita haus banget," ucap Indah dengan nafas yang masih ngos-ngosan.

__ADS_1


"Kenapa kalian bisa dihukum?" tanya Varen sembari berjalan pelan bersama Ticia, Indah dan juga Anabella.


"Gara-gara Ticia tuh kak," Anabella menyalahkan Ticia.


"Apaan, kalau bukan karena kalian yang godain gue, nggak mungkin gue sampai gebrak meja segala." Ticia membela diri.


"Kita kan cuma ngomong apa adanya, lo kan emang nggak bisa move on-"


Ticia dengan segera menginjak kaki Indah. Kadang-kadang si Indah memang tidak bisa melihat suasana. Kalau saja Ticia tidak menghentikannya. Mungkin saja Varen akan jadi besar kepala. Atau mungkin malah merasa ilfil kepada Ticia.


"Nih anak mulutnya ember banget," omel Anabella sambil menoyor kepala Indah.


"Ya, maaf." ucap Indah dengan cengar cengir nggak jelas.


Varen berjalan bersama dengan Ticia. Mereka juga mengobrol seperti sebelum mereka putus. Sudah lama mereka berdua tidak ngobrol sedekat itu lagi.


"Cia, mama pengen ketemu sama lo. Kangen katanya." ucap Varen menyampaikan pesan mamanya. Sebenarnya mamanya Varen sudah berpesan kepada Varen seminggu yang lalu. Tapi baru kali ini Varen memiliki kesempatan menyampaikan pesan itu kepada Ticia.


Selama ini, Varen tidak memiliki kesempatan ngobrol dengan Ticia. Karena setiap kali Varen bertemu dengan Ticia. Rosalinda akan buru-buru menjauhkan mereka.


"Oh, ya? Kalau gitu sampaiin ke tante Dina, hari minggu jam 10 pagi, ketemu di Mall!" ucap Ticia yang sebenarnya juga kangen sama mamanya Varen.


"Iya nanti gue sampaiin ke mama. Mama sekarang udah tinggal lagi dirumah." ucap Varen.


"Bagus dong, tante Dina sama om Darwis rujuk?" tanya Ticia ketinggalan jauh masalah keluarga Varen. Karena menurut Ticia. Dia tidak punya hak untuk ikut campur urusan keluarga Varen lagi.


"Oh, pasti karena kak Varen mau dijodohin, jadi mereka akhirnya rujuk." imbuh Ticia.


"Ada waktu nggak? Gue pengen cerita banyak banget sama lo." ucap Varen.


"Ada sih, tapi bukannya lebih baik jika kak Varen cerita ke Rosalinda? Dia kan calon istri kakak,"


"Harus berapa kali sih gue bilang, kalau gue nggak cinta sama dia," ucap Varen pelan tapi terdengar sedikit amarah ketika mengatakannya.


"Kak Gio!!!" dari kejauhan terdengar seruan Rosalinda yang memanggil Varen.


"Gue duluan ya kak!" pamit Ticia saat Rosalinda berlari mendekat ke mereka.


Sementara Varen berhenti untuk menunggu Rosalinda yang berlari ke arahnya. Karena bel istirahat sudah berbunyi. Rosalinda buru-buru mencari Varen.

__ADS_1


__ADS_2