
Semenjak saat itu, Varen sudah jarang masuk sekolah. Sudah tidak lagi latihan basket. Tentunya, teman-temannya khawatir dengan keadaannya.
Juga, Ticia tidak menyangka jika Varen akan patah hati seperti ini. Ketika teman-temannya mencarinya ke rumahnya. Varen sedang tidak ada di rumah. Kata mamanya, Varen sedang fokus dengan bisnis perhotelan yang papanya wariskan.
Mengenai jarangnya Varen masuk sekolah. Varen sudah lapor ke sekolah, dan dia juga home schooling. Mamanya juga bingung, kenapa akhirnya Varen ingin menekuni bisnis itu sekarang.
Dan lagi, kabar dari mamanya. Jika Varen akan mengambil kuliah bisnis di luar negeri. Tentunya itu membuat teman-teman Varen terkejut.
Pasalnya, dulu, mereka pernah berjanji akan kuliah di satu universitas dengan jurusan yang sama juga. Sejurus dengan sekolah kejuruan yang mereka tempuh sekarang.
"Kita tanya Ticia aja, gue yakin dia tahu kenapa Gio berubah sekarang." Digta mencetuskan idenya. Dia yakin jika semua ini pasti ada hubungannya dengan Ticia.
"Bener, gue setuju kata Digta, Gio pasti kayak gini karena Ticia tidak mau balikan sama dia." timpal Tika.
"Dia sekarang juga jarang banget balas wa kita," Iqbal merasa sedih dengan perubahan Varen itu.
Kemudian keempat remaja itu menuju rumah Ticia. Mereka ingin memberitahu Ticia tentang rencana Varen yang ingin kuliah di luar negeri. Serta minta tolong Ticia supaya mau membujuk Varen.
Tak butuh lama, keempat remaja itu sampai di rumah Ticia. Kebetulan juga, Anabella ada di rumah Ticia bersama dengan Indah dan bayinya.
"Wuih, udah gendong bayi aja lo," ucap Iqbal mengolok Indah.
"Anj*r jangan gitulah, lo cepat atau lambat juga akan punya bayi kayak gue." Indah balas mengolok Iqbal.
"Lo udah pantes loh Cia," giliran Rafa mengolok Ticia. Saat itu Ticia sedang memangku bayinya Indah.
"Tapi sayang, bapaknya belum ada.." Iqbal tidak mau melewatkan kesempatan mengolok-olok Ticia. Jarang-jarang kan dia bisa mengolok-olok Ticia begitu.
"Bapaknya kan lo, gimana sih." Tapi Ticia bukanlah cewek yang mudah ditindas. Dia gantian menggoda Iqbal, membuat Iqbal menjadi merah wajahnya. Apalagi, kali ini tidak Varen. Iqbal merasa semakin melayang.
"Ah, jangan gitulah, mentang-mentang Gio yang ada, lo bisa seenaknya rayu gue. Sorry ya, gue temen yang tidak akan pernah nikung temen gue sendiri." Iqbal terus saja nyerocos.
__ADS_1
Sementara Ticia sudah tidak lagi fokus dengan perkataan Iqbal. Dia merasa sedih ketika teringat Varen. Sudah lebih dari sebulan Varen tidak datang ke sekolah. Juga sudah jarang banget ngechat dia.
"Oh ya kak, kak Varen kenapa sih? Dia udah nggak pernah datang ke sekolah, padahal kan sebulan lagi kalian ujian," Anabella sangat tahu apa yang membuat Ticia seketika terdiam dan sedih.
"Itu tujuan kita kesini. Kita mau tanya ke Ticia, sebenarnya apa yang terjadi dengan Varen sebelum dia berubah seperti sekarang." sahut Tika.
"Lo ingat nggak, kapan terakhir kali dia chat lo, atau ketemu sama lo?" tanya Rafa bak seorang detektif handal.
"Udah lama dia nggak chat gue, terakhir ketemu waktu dia anterin gue pulang, dari jengukin kak Digta waktu itu." jelas Ticia sembari kembali mengingat-ingat kapan tepatnya mereka terakhir chattingan. Kalau ketemu, Ticia masih ingat betul.
Ya, malam itu setelah dari rumah sakit. Varen mampir ke rumahnya. Malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan untuk Ticia dan Varen. Dengan matanya sendiri, dia melihat Varen menangis sembari memohon supaya mereka balikan. Tapi saat itu, Ticia menolaknya.
"Kalian bertengkar?" tanya Rafa lagi.
Ticia menggelengkan kepalanya pelan. Ticia kemudian mengembalikan bayi Indah ke pangkuan Indah. Dia takut jika tanpa sadar dia akan melukai bayi itu. Karena pikirannya saat itu sedang tidak fokus.
"Dia memohon supaya gue kasih dia kesempatan, tapi gue tolak, gue maunya berteman saja, tapi dia nggak mau, dia maunya kita kembali pacaran." ucap Ticia menjelaskan semua.
"Ya. Gue masih sayang sama dia sampai saat ini gue juga masih sayang, tapi gue lebih sayang sama Tuhan gue." tutur Ticia.
"Gue takut gue semakin tidak bisa melepaskan dia. Sementara gue sadar, cinta hanya mempertemukan kita bukan menyatukan kita." imbuh Ticia.
Semua orang terdiam. Mereka tidak tahu mau ngomong apa. Karena cinta berbeda agama memang tidak akan pernah bisa bersatu. Kecuali salah satu dari mereka mau mengalah.
"Cia, kita juga mau minta tolong! Tolong bujukin Varen supaya jangan kuliah di luar negeri, kita bukannya mau menghalangi pendidikannya yang kebih baik, tapi kita pernah janji untuk terus bareng-bareng." mohon Rafa.
"Iya Cia, coba bujuk dia, siapa tahu dia mau berubah pikiran setelah lo bujuk!" timpal Digta juga merasa sedih jika harus terpisah dari Varen. Mereka sudah sekian lama selalu bersama. Jadi rasanya ada yang kurang jika salah satu dari mereka tidak ada.
Ticia sudah menangis saat itu. Tidak menduga jika Varen akan benar-benar meninggalkannya. Apa menjadi teman sangat tidak pantas untuknya. Sampai-sampai Varen harus memutuskan kuliah di luar negeri.
"Udah sayank, jangan nangis lagi!!" Anabella memeluk Ticia yang terlihat menyedihkan.
__ADS_1
****
Ticia akhirnya berhasil mengajak Varen ketemu. Mereka bertemu di taman kota. Lama tidak ketemu dengan Varen. Ticia pangling dengan penampilan Varen yang lebih dewasa. Memakai jas dan berdasi. Varen kelihatan dewasa dan masih saja tampan.
"Kenapa? Gue ganteng?" tanya Varen masih seperti biasanya.
"Bukan lagi, udah kayak bos-bos muda gitu." jawab Ticia sembari tersenyum.
"Gimana kabar lo? Udah lama nggak ketemu, lo masih aja cantik." puji Varen sambil duduk di sebelah Ticia.
Selama sebulan ini dia berusaha menyibukan diri supaya bisa melupakan Ticia. Tapi tetap saja, dia sama sekali tidak bisa melupakan Ticia. Semakin dia berusaha, semakin dia ingat.
"Benar apa kata orang."
"Kenapa?"
"Banyak orang bilang kalau cinta pertama itu dibawa mati, memang benar, semakin gue lupain lo, semakin gue ingat sama lo, mungkin seumur hidup gue nggak bisa lupain lo." Varen sangat berterus terang. Mungkin itulah ungkapan hatinya yang paling dalam.
"Tapi kita kan juga berhak bahagia, meskipun kita nggak bersama." ucap Ticia juga dengan sedih.
"Kak, bisa nggak kakak nggak usah kuliah di luar negeri!"
"Kenapa? Lo takut gue akan jatuh cinta sama wanita lain?" Varen masih bisa bergurau waktu itu.
"Bukan, hanya saja, temen-temen kakak nggak rela berpisah sama kakak." Varen akhirnya paham, kenapa tiba-tiba Ticia ingin bertemu dengan dia. Pasti teman-temannya yang meminta Ticia supaya membujuknya.
"Lagipula kalau kak Varen jatuh cinta sama wanita lain juga hak kakak, gue kan cuma mantan pacar."
"Cinta gue cuma buat lo!" sahut Varen dengan cepat.
Ticia yang merasa gugup, memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan itu. Dia tidak mau semakin jauh lagi.
__ADS_1