
Hari berikutnya. Seperti biasa, Varen menunggu Ticia di depan gereja tempat biasa Ticia beribadah. Varen juga mengajak mamanya. Tapi Varen tidak memberitahu Ticia sebelumnya. Jika dia mengajak mamanya.
Varen juga belum memberitahu Ticia, jika mamanya sudah pulang.
Dari seberang jalan, seorang gadis berambut panjang nan lurus berlari kecil menuju mobil Varen. Gadis tersebut adalah Ticia.
"Itu pacar kamu?" tanya Dina kepada anaknya.
"Iya ma," jawab Varen dengan tersenyum.
Begitu sudah mulai dekat. Varen turun dari mobilnya menyambut sang kekasih. Varen membukakan pintu mobil untuk pacarnya.
Ketika Ticia masuk ke dalam mobil tersebut. Betapa kagetnya dia, melihat sosok paruh baya ada di kursi bagian belakang. Melihat Ticia yang kaget dan sedikit njodil. Membuat Varen dan mamanya tertawa kecil.
"Yank, kenalin ini mama aku." ucap Varen memperkenalkan mamanya kepada kekasihnya.
Dengan sedikit terbelalak Ticia menganggukan kepalanya. Kemudian dia memperkenalkan dirinya kepada mamanya Varen.
Pertama ketemu dengan Ticia. Dina langsung merasa suka kepadanya. Menurut Dina, selain cantik, Ticia juga sopan orangnya. Yang paling penting, Ticia bisa membuat anaknya bahagia.
Dina bisa melihatnya. Varen terlihat sangat bahagia ketika bersama dengan Ticia. Dina juga bisa melihat sikap kekanakan putranya saat bersama Ticia.
"Gi, gimana kalau kamu anter mama pulang!" ucap Dina.
"Pulang kemana ma? Rumah mama kan disini." jawab Varen.
Dina lalu memberitahu anaknya. Jika selama dua tahun ini, dia telah memulai bisnisnya di sebuah kampung wisata dekat pesisir pantai. "Mama nggak bisa lama-lama ninggalin usaha mama sayank," ucapnya.
"Terus mama bisa ninggalin Gio lagi?" pertanyaan Varen itu membuat hati Dina berdenyut.
"Bukan seperti itu sayank," Dina tidak bisa melihat anaknya sedih.
"Kalau kamu mau, kamu boleh kok ikut tinggal sama mama, tapi jarak dengan sekolah kamu juga jauh."
__ADS_1
"Mama nggak sayang sama Gio."
"Sayang, nak.."
Ticia meraih tangan Varen dan menggenggamnya. Ticia ingin meredakan amarah dihati kekasihnya. "Kak, gimana kalau kita anter tante Dina ke tempat tinggalnya, sekalian liburan." ajak Ticia.
"Kenapa mama nggak tinggal sama kita aja sih?" tanya Varen mulai luluh setelah Ticia membujuknya.
"Maafin mama sayank, mama sama papa memutuskan untuk berpisah. Tapi, tapi meskipun kita pisah, mama akan perjuangin hak asuh kamu." ucap Dina dengan sedih. Dia menyesalkan hancurnya rumah tangganya. Tapi dia juga tidak akan mungkin bersama dengan suaminya lagi. Karena suaminya telah memilih Jane sebagai calon istrinya.
Varen ingin sekali marah. Akan tetapi, Ticia dengan lembut menggenggam tangannya. Membuatnya lebih tenang. "Gio nggak akan milih salah satu dari kalian. Kalau kalian cerai, Gio lebih memilih tinggal sendiri di kost." ucap Varen dengan rasa yang berkecambuk dalam hatinya.
Perjalanan menuju tempat tinggal Dina memerlukan waktu 4 jam. Dina mengarahkan laju mobil Varen ke resto miliknya. Awalnya karena marah, Varen tidak mau turun dari mobil. Tapi lagi-lagi karena bujukan Ticia. Varen mau turun dan masuk ke dalam restoran milik mamanya.
"Senyum dong!" ucap Ticia sembari mencubit pipi Varen.
Dina lalu memperkenalkan Varen kepada semua karyawannya. Tentu saja para karyawannya pada kaget. Karena selama ini, mereka berpikiran jika bos mereka adalah seorang wanita yang masih single.
"Enggak, saya sudah menikah, dan sudah memiliki seorang putra, ganteng kan anak saya." dengan bangga Dina memuji anaknya di depan karyawannya.
Padahal saat itu wajah Varen terlihat cemberut. Ticia berkali-kali memintanya untuk tersenyum Tapi Varen hanya akan tersenyum dengan terpaksa.
Dina kemudian menghidangkan makanan untuk anaknya dan pacar anaknya. Sambil sesekali Dina meminta maaf kepada anaknya. Karena dia telah mengambil keputusan yang mungkin tidak bisa diterima oleh anaknya.
"Mungkin tante Dina punya alasan sendiri mengambil keputusan seperti itu kak, mungkin juga ini yang terbaik untuk mereka. Meskipun mereka berpisah, mereka tetap orang tua kak Vava," ucap Ticia menasehati Varen.
"Iya Gi, kamu kan udah tahu mama tinggal dimana, jadi kalau kamu kangen mama, kamu bisa kesini." sahut Dina.
"Mama sebenarnya ingin kamu tinggal sama mama, tapi nanti sekolah kamu gimana? Kamu mau pindah sekolah yang dekat-dekat sini?" lanjut Dina.
Setelah penjelasan berulang-ulang dari mamanya. Ditambah bujukan Ticia. Akhirnya Varen mulai menerima keputusan papa dan mamanya.
"Sholat dulu gih! Kak Vava belum sholat kan tadi?" Tanpa banyak alasan, Varen kemudian meminta mamanya untuk mengantarnya ke mushola. Sedangkan Ticia tetap tinggal untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh mamanya Varen.
__ADS_1
Melihat anaknya yang begitu patuh dengan perkataan Ticia. Membuat Dina senang sekaligus khawatir. Senang karena ada seseorang yang bisa membuat anaknya nurut. Khawatir karena melihat perbedaan keyakinan diantara pasangan remaja tersebut. Dina khawatir jika mereka kelak putus. Anaknya akan sangat terluka, mengingat anaknya terlihat sangat mencintai kekasihnya.
....
Hamparan pasir putih terbentang luas. Deburan ombak terlihat saling berkejaran dan bergulung satu sama lain. Angin bertiup dengan cukup kencang menyibakkan rambut panjang Ticia.
Pantai berpasir putih tersebut penuh dengan orang-orang yang asyik bermain air dan berenang di tepi laut. Tak sedikit yang hanya duduk menikmati indahnya pemandangan lautan lepas yang menenangkan.
Varen dan Ticia berjalan-jalan menikmati udara pantai yang tidak terlalu panas. Selama tiga bulan pacaran. Itu kali pertama mereka liburan bersama.
Varen merasa sangat senang. Dia selalu menggandeng tangan Ticia sepanjang berjalan-jalan ditepi pantai.
"Mau es kelapa?" tanya Varen ketika mereka lewat di depan penjual es kelapa.
Ticia menganggukan kepalanya. Suasana pantai memang sangat cocok di dampingi dengan minum es kelapa muda.
"Kak Vava kenapa masih sedih?" tanya Ticia ketika duduk di tepi pantai sambil menunggu es kelapa muda.
"Menurut lo, gue harus gimana yank?" tanya Varen sembari menyenderkan kepalanya dibahu Ticia.
"Gue pengen tinggal sama mama, tapi gue juga nggak bisa jauh dari lo. Gue nggak bisa ldr-an. imbuh Varen.
Ticia akhirnya paham apa yanh dipikirkan oleh kekasihnya. Ticia mengarahkan pandangannya ke lautan lepas. Sesaat terdiam, setelah kemudian dia menghela nafasnya pelan.
"Bukankah selama ini kita juga ldr-an?" tanya Ticia pelan. Seketika Varen mengangkat kepalanya dan menoleh, menatap Ticia tajam.
"Ldr paling jauh itu bukanlah terpisah antar jarak. Tapi ldr terjauh itu ketika gue ke gereja, dan lo ke mesjid. Disaat gue berdoa dengan melipat tangan, dan lo dengan menengadahkan tangan. Disaat tangan gue memegang rosario, dan lo memegang tasbih." ucap Ticia dengan suara berat.
"Yank.." Varen menarik Ticia ke dalam pelukannya.
Mereka berdua sama-sama tahu. Bahwa tidak seharusnya mereka bersama. Tapi mereka juga tidak bisa melawan perasaan mereka sendiri. Bahwa hati mereka telah jatuh cinta satu sama lain.
Ticia mengulurkan tangannya. Dia juga memeluk Varen dengan erat. Sama seperti Varen, Ticia juga memiliki kekhawatiran yang sama mengenai hubungan mereka selanjutnya. Meskipun dia selalu bersembunyi dengan kata 'jalani aja dulu'.
__ADS_1