
"Genit aja terus!" ucap Ticia dengan kesal, kemudian melepaskan tangannya. Dia juga tidak tega melihat sang kekasih kesakitan.
"Auh," Varen mengusap-usap telinganya yang merah.
"Nggak genit sayank, jangan ngambek dong!" Varen meraih tangan Ticia. Tapi dengan cepat Ticia menarik tangannya dan melipatnya di dada.
"Yank," Varen menarik bahu Ticia supaya berhadapan dengan dia. Tapi lagi lagi Ticia menolak.
"Kalau ngambek nanti cepet tua loh,"
"Bodo.. Kecuali kalau lo beliin camilan kesukaan gue yang banyak, gue nggak akan marah lagi.."
Varen tersenyum mendengar ucapan Ticia. Dia merasa geli dengan kekonyolan kekasihnya itu. Padahal Varen udah takut aja jika Ticia akan marah dan jauhin dia lagi. Tahunya, dia malah cuma minta dibeliin camilan kesukaannya.
"Iya gue beliin, tapi jangan ngambek lagi!" Varen menarik Ticia dalam pelukannya.
"Beneran?" tanya Ticia masih dengan sewot. Varen tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lalu kemudian Ticia juga ikutan tersenyum dan membuka tangannya yang sedari tadi dia lipat. Ticia memeluk Varen di depan Risma.
Melihat keuwuan Varen dan Ticia membuat Risma menjadi kesal sendiri. Dia pun lantas kembali ke meja sebelumnya. Disana teman-temannya berusaha untuk menenangkan Risma. Mereka juga sempat kaget ketika tahu ternyata Varen dan Ticia sudah pacaran.
"Yaelah yang baru jadian, pelukan di depan umum, emang nggak ada malu-malunya ya lo!!" seru Arka menggoda Ticia.
"Lo kenapa sih nyet, bac*t aja? Iri ya? Makanya punya cewek tuh disayang-sayang, jangan lo selingkuhin mulu.." Ticia tak mau kalah dengan Arka. Dia balik menggoda Arka.
Mendengar ucapan Ticia, seketika melototlah Indah ke pacarnya. Sementara Arka menjadi salah tingkah dengan tatapan tajam dari pacarnya. "Ngapa sih melotot gitu?" tanyanya takut-takut.
"Jangan percaya sama Ticia, dia cuma asal mgebac*t aja." Arka sudah gugup sendiri.
"Kampret emang lo!!" omel Arka sembari melempar Ticia dengan kacang.
Ticia malah terbahak melihat Arka yang gugup karena dipelototi oleh Indah. Kemudian dia berjalan mendekat ke meja mereka dengan terus tertawa. Sementara Anabella juga tak kalah bahagia melihat ekspresi wajah Arka. Dia tahu jika semua itu hanyalah candaan doang. Tapi ekspresi takut Arka itu membuat Anabella dan Ticia tak bisa berhenti tertawa.
__ADS_1
Ticia lalu menarik Anabella supaya pindah ke meja lain bersamanya. "Ikut gue aja, biarin mereka perang dunia kedua.." ucap Ticia masih dengan cekikikan.
"Kampret lo!!" seru Arka berulang-ulang kepada Ticia dan Anabella yang tak bisa berhenti tertawa.
"Lo jangan percaya sama tuh dedemit yank, gue nggak pernah selingkuh.." ucap Arka bingung karena Indah terus aja cemberut.
"Percaya tuh sama Tuhan, jangan sama gue, musrik.." seru Ticia lagi.
"Iya lo kan dedemit, percaya sama lo, musrik.." ucap Arka dengan kesal. Dia sadar, harusnya dia tidak membuat gara-gara dengan cewek itu. Meskipun Arka tahu jika semua itu hanyalah candaan.
"Ya kali ada dedemit cantik kayak gini.." jawab Ticia lagi sambil menjulurkan lidahnya.
"Lihat komuknya Arka, Cia!" ucap Anabella dengan tertawa.
Arka masih berusaha buat meyakinkan Indah. Jika apa yang dikatakan Ticia itu tidak benar. Arka sama sekali tidak pernah selingkuh. Boro-boro mau selingkuh, ada yang mau sama dia aja udah bagus.
Indah yang tahu jika Ticia itu hanya bercanda, hanya tersenyum kecil melihat kekasihnya ketakutan sendiri. Itu artinya Arka beneran suka sama dia. "Iya, gue percaya kok.." jawab Indah sembari mencubit pipi Arka. Dan itu membuat Arka menjadi lega sekaligus senang.
"Va!!" tiba-tiba Dika memanggil Varen.
"Kenapa?" tanya Varen saat dia berbalik.
"Lo kan cakep yak? Kenapa sih mau sama dia?" tanya Dika menunjuk Ticia yang ada di sebelah Varen. Memang begitu kelakuan Arka dan kedua temannya jika bersama Ticia. Mereka akan selalu saling olok.
"Heh, anda nggak lihat apa? Saya kan juga cakep.." sahut Ticia dengan percaya diri.
"Cakep katanya,, hoek.." Dika menyangkal pengakuan Ticia, dia juga berpura-pura akan muntah.
"Iyain aja ngapain sih Dik?" Adi menyahut dengan tertawa juga.
"Tanya aja kak Varen, gue cakep atau nggak! Gue cakep nggak kak?" tanya Ticia sembari menatap Varen dengan mata yang melotot. Sementara Varen hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Hais, lo ganteng-ganteng tapi buta yak, ginian lo bilang cakep, kayak mak lampir gini.." Dika dan Adi secara bersamaan maju dan mengacak-acak rambut Ticia. Membuat Ticia mencak-mencak. Setelah kemudian Adi dan Dika berlari mendahului mereka, sembari menjulurkan lidahnya.
"Setan lo ya, awas aja.. Tunggu pembalasan gue!!" seru Ticia dengan kesal. Ticia lalu merapikan rambutnya kembali dibantu oleh Varen.
Dengan lembut Varen membantu membenahi rambut Ticia yang berantakan karena ulah Adi dan Dika. Varen juga hanya tersenyum melihat semuanya itu. Dia tahu jika itu hanyalah bercanda.
"Ntar siang datang ya di lapangan kemarin!" ucap Varen sembari membenahi rambut Ticia.
"Emang nanti siang ada pertandingan lagi kak?" tanya Anabella. Varen lagi lagi hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia terbilang cukup dingin kepada wanita lain. Bukan hanya wanita, tapi dia akan dingin dengan orang yang tidak dekat dengan dia, meskipun dia mengenal orang tersebut.
"Oh ya, beli camilannya nanti pulang dari tanding ya?" ucap Varen ketika mereka akan berpisah jalan. Kelas Varen dari kantin belok ke kiri, sedangkan kelas Ticia dari kantin belok ke kanan.
"Yak, tapi belinya yang banyak!" jawab Ticia.
"Siap bu bos.." ucap Varen sambil mengangkat tangannya, seolah memberi hormat kepada Ticia. Dan itu membuat Ticia tertawa.
"Selamat belajar, sayank.." bisik Varen di telinga Ticia. Ticia sempat melirik Varen dan tersenyum kecil, setelah kemudian dia menganggukan kepalanya beberapa kali.
Setelah berpisah, Anabella mulai bertanya apakah Ticia dengan Varen sudah pacaran. Ticia menganggukan kepalanya sebagai tanda jawaban sudah.
"Gue rasa Varen itu benar-benar buta," ucap Arka yang masih ada di belakang Ticia dan Anabella.
"Kak Arka ah," Indah menyikut pelan perut kekasihnya.
"Bercanda doang yank," ujar Arka.
"Balik sana lo!!" usir Ticia sambil mendorong tubuh Arka menjauh dari Indah. Dengan cepat Ticia lalu menarik tangan Indah dan Anabella sambil sedikit berlari, buru-buru masuk ke kelasnya.
"Dasar.." Arka hanya tersenyum melihat kekonyolan tiga cewek tersebut.
Ticia yang baru masuk ke kelas bersama Indah dan Anabella, mendapat sindirian tajam dari Risma dan teman-temannya. "Si ganjen datang," katanya sambil memutar bola matanya tepat saat Ticia masuk ke kelas.
__ADS_1
Ticia dan kedua sahabatnya saling berpandangan. Setelah mereka bertiga malah tertawa terbahak-bahak. Tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Tapi itu cukup memancing emosi Risma dan teman-temannya yang berpikir jika ketiga remaja tersebut sedang menertawakan mereka.