Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
12. Varen Nembak Leticia


__ADS_3

Dokter mengatakan jika Ticia tidak kenapa-napa, tidak ada yang berbahaya dari akibat tendangan itu. Dan itu membuat Ticia dan Varen merasa lega.


Varen mengajak Ticia untuk makan siang dulu sebelum mengantarnya pulang. Ticia hanya menurut apa mau Varen. Ticia juga tahu betapa khawatirnya Varen kepada dirinya.


Varen membelokkan motornya ke sebuah Mall. Mereka berdua kemudian berjalan menuju food court yang ada di dalam Mall tersebut.


"Tadi kenapa lo nggak minta tolong aja sih? Kan jadinya lo nggak dipukul sama mereka," omel Varen yang sebenarnya menunjukan kepeduliannya kepada Ticia.


"Apa karena lo jago karate gitu, jadi lo lawan mereka sendiri gitu?" lanjut Varen yang justru terkesan khawatir.


"Orang kayak gitu emang harus dilawan, biar mereka nggak berani macem-macem lagi," jawab Ticia santai.


"Tapi akibatnya lo kena pukul kan? Gue khawatir tahu nggak.. Jangan lagi lakuin hal kayak tadi ya? Gue takut lo kenapa-napa," Varen meraih tangan Ticia sembari menatapnya dengan lembut.


Deg..


Jantung Ticia berdegup dengan sangat kencang, bahkan mungkin terdengar oleh Varen yang duduk tepat di depannya. Namun, setelah itu Ticia menghindari kontak mata dengan Varen.


"Oh iya kak, tadi kak Tika kayaknya marah banget sama lo." Ticia mengalihkan pembicaraan.


"Udah biarin aja, dia cuma kangen sama orang tuanya." Varen tidak mengalihkan pandangannya sama sekali. Dan itu kembali membuat Ticia salah tingkah.


"Tapi kayaknya kak Tika suka deh sama lo." Sebagai sesama wanita Ticia bisa melihat dengan jelas. Jika Tika menyukai Varen bukan sebagai teman, tapi suka yang lebih ke cinta.


"Kalau lo suka nggak sama gue?" Varen masih menatap Ticia sewaktu bertanya pertanyaan seperti itu.


"Nggak usah ngadi-ngadi deh," Ticia kembali menghindari kontak mata dengan Varen.


Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang. Setelah selesai makan, mereka jalan-jalan sebentar keliling Mall. Varen menawari Ticia beberapa barang pilihannya. Akan tetapi dengan tegas Ticia menolak pemberian itu. Bukan karena dia tidak suka. Tapi dia tidak mau dianggap matre.


"Kalau gitu lo nggak boleh tolak ini!" Varen memberi Ticia sebuah kalung couple. Karena Varen memaksa akhirnya Ticia menerima kalung itu juga.


Ticia tersenyum melihat kalung tersebut. "Kita kayak pacaran aja ya?" ucap Ticia sembari tersenyum.


"Emang pacaran, lo kan pacar gue," sahut Varen cepat dengan senyuman yang mengembang.


"Ish ngaku-ngaku!" Ticia mendorong tubuh Varen pelan. Kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan Varen. Tapi karena kaki Varen yang lebih panjang dari Ticia, jadi dengan mudah Varen bisa mengejar Ticia.


Ketika mereka melintas di sebuah toko sepatu. Ticia menghentikan langkahnya dan kemudian ke dalam toko itu. "Gue mau cari kado buat seseorang bentar," ucap Ticia.

__ADS_1


Varen membulatkan matanya ketika mendengar Ticia ingin membeli hadiah untuk seseorang. Apalagi toko sepatu tersebut adalah toko sepatu khusus pria. Varen pun menjadi kesal.


"Cari kado buat siapa sih?" tanya Varen penasaran.


"Ada deh, pokoknya orang special.." lagi-lagi Ticia memprovokasi Varen.


"Special? Siapa? Pacar lo?" tanya Varen lagi. Kali ini dia bertanya dengan nada marah.


Dengan tertawa Ticia menjawab kalau dia sedang mencar kado buat ayahnya. Ayahnya suka sekali olahraga, makanya Ticia ingin membelikan sepatu olahraga untuk ayahnya.


Mendengar jawaban Ticia membuat Varen bernafas lega. Bahkan Varen membantu Ticia untuk memilih sepatu untuk ayahnya Ticia. Varen sudah beberapa kali bertemu dengan ayahnya Ticia. Jadi dia sedikit memiliki rekomendasi sepatu seperti apa yang cocok untuk ayahnya Ticia.


"Makasih ya kak udah bantuin gue milihin kado buat ayah." ucap Ticia senang.


"Iya, asal lo seneng, gue juga seneng."


Ketika kedua remaja itu berjalan menuju parkiran. Dari kejauhan terdengar suara adzan. Ticia pun lantas bertanya kepada Varen, apakah dia akan sholat dulu atau langsung mengantarnya pulang.


Varen yang sudah sejak lama tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, hanya terdiam mendengar pertanyaan Ticia. Angannya kembali ke masa beberapa tahun silam. Disaat mamanya masih ada bersamanya. Mamanya selalu mengingatkan Varen untuk sholat tepat waktu.


"Kak!" Ticia menepuk lengan Varen, dan itu mengagetkan Varen dari lamunannya.


"Kenapa? Kak Varen muslim kan?" tanya Ticia, dan Varen menganggukan kepalanya pelan.


"Kak, ibadah itu penting dan wajib.. Karena dengan ibadah, selain kita patuh kepada perintahNya, kita juga bisa lebih dekat dengan Dia, Sang Pemberi Hidup." Memdengar ucapan Ticia, seketika Varen menoleh dan menatapnya. Apa yang Ticia katakan, sama dengan apa yang dulu mamanya sering katakan.


"Mulai sekarang kakak harus janji untuk selalu taat beribadah, gue bukannya mau ngatur-ngatur kakak, tapi bagi gue, cowok itu lebih keren jika rajin beribadah, damage-nya nggak ada obat pokoknya." Varen kembali menatap Ticia dalam-dalam. Dia seneng bisa dipertemukan dengan wanita yang mau menasehatinya untuk beribadah.


Lalu kemudian Varen melajukan motornya menuju mesjid terdekat.


"Gue tunggu disini ya kak?" ucap Ticia juga merasa senang karena Varen mau mendengarkan nasehatnya.


Beberapa menit kemudian Varen selesai sholat. Varen lalu mengantar Ticia sampai depan rumahnya. Tapi sebelum Ticia masuk ke dalam rumah. Varen menahan tangannya. "Cia, kita kan beda keyakinan, apa lo masih mau deket atau berteman sama gue?" tanya Varen serius.


Ticia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Varen. Setelah kemudian dia tersenyum kecil. "Kenapa nggak mau? Kan meski kita beda keyakinan bukan berarti kita harus musuhan kan? Bukankah perbedaan itu indah?" jawab Ticia.


"Lagipula menurut gue agama itu urusan spiritual, agama hubungan kita dengan Tuhan. Sedangkan hubungan sesama manusia kan hubungan sosial. Yang terpenting saling menghargai dan menghormati aja," imbuh Ticia panjang lebar.


"Apakah itu juga berarti untuk hubungan yang lebih dari teman?"

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Ticia sambil memicingkan matanya.


"Lo kan tahu gimana perasaan gue ke lo, kenapa selama ini gue selalu gangguin lo."


"Kenapa emangnya?"


"Karena gue suka sama lo," Varen berkata terus terang kepada Ticia. Seketika membuat Ticia terdiam. Dia juga terlihat senang dengan ungkapan hati dari Varen. Ticia menggigit bibir bawahnya untuk menahan supaya tidak tersenyum.


"Tapi gue-"


"Gue nggak butuh jawaban lo. Karena gue udah nganggap lo sebagai pacar gue." Ini termasuk tindakan semena-mena Varen. Tanpa meminta izin Ticia, dia sudah menganggap Ticia sebagai kekasihnya.


"Ish, apaan sih." Ticia merasa geli dengan tingkah kekanak-kanakan Varen.


"Pokoknya lo pacar gue, udah gitu nggak boleh protes!" ucap Varen ngeyel.


"Ish gila lo ya, seenaknya sendiri gitu.." Ticia tidak terima dengan keputusan sepihak Varen.


"Emang, gue emang gila karena lo," sahut Varen cepat.


"Kalau gitu gue kasih waktu 10 detik buat jawab, lo mau nggak jadi pacar gue?"


"10,9,8,1.. waktu habis, karena lo nggak jawab, gue anggep lo terima cinta gue.."


"Lo apa-apaan sih,mana ada habis 8 terus 1, gue aja belum sempat mikir juga." protes Ticia.


"Nggak udah pakai mikir! Terima aja udah!"


"Maksa.."


"Udah pulang sana, udah sore juga ntar lo dicariin orang tua lo!"


Satu hal yang menarik. Ticia tidak langsung menolak dan juga tidak menerima ungkapan cinta dadi Varen. Mungkin karena dia ingin melihat sejauh mana Varen berusaha untuk menunjukan kseriusannya.


"Ya udah kalau gitu aak pulang dulu!" pamit Varen.


"Aak katanya, eek kali ah.." ucap Ticia sembari tertawa.


"Dadah sayank," pamit Varen sekali lagi setelah kemudian dia menjalankan motornya. Sementara hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2