Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
91. Kebaikan Untuk Anaknya


__ADS_3

Sementara di rumah juga marah kepada ayahnya yang melarangnya berhubungan dengan Varen. Ticia tidak habis pikir, ayahnya akan cepat sekali berubah. Hanya karena melihat Varen keluar dari club malam.


Saat makan malam pun Ticia tidak mau keluar dari kamar. Itu harus membuat ibunya mengantar makanan ke kamarnya.


"Nak, ibu bawakan makan malam untuk kamu.." ucap ibunya bersamaan dengan mengetuk pintu kamar Ticia.


"Ticia nggak mau makan buk, biarin aja Ticia sakit.." Ticia membuka pintunya dan hanya menongolkan kepalanya keluar. Dengan sedikit berteriak dia berharap ayahnya mendengar perkataannya.


"Ibu tahu kamu marah, tapi kamu juga harus makan dong, kasihan Varen nanti malah lebih kepikiran lagi." seorang ibu memang lebih tahu apa yang dirasakan oleh anaknya.


Ticia lalu menarik ibunya masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakan makanan di meja samping tempat tidur Ticia. Ibu Ticia kemudian memeluk anaknya yang masih murung.


"Ayah bukannya marah sama Varen, tapi ayah cuma kecewa saja sama Varen. Dia kan masih dibawah umur, nggak seharusnya Varen main ke tempat seperti itu." ucap ibunya dengan lembut sembari mengelus rambut panjang anaknya.


"Ticia juga tahu itu salah, tapi kak Varen tidak mabuk-mabukan buk, dia cuma dengerin curhatan temannya," Ticia masih percaya dengan apa yang dikatakan kekasihnya.


Alasanya, karena dia yakin kekasihnya itu sudah benar-benar berubah. Dan ada beberapa orang yang berani bersumpah untuk membenarkan apa yang Varen ucapkan. Dan itu cukup untuk membuat Ticia percaya.


"Tapi ayah lihat ada dua orang wanita bersama dengan Varen, juga salah satu dari wanita itu masuk ke mobil Varen, dia mabuk berat kata ayah. Mungkin itu yang membuat ayah tidak percaya dengan Varen, ayah mengira jika Varen telah mengkhianati kamu." lanjut ibunya.


Dua orang wanita?


Salah satu masuk ke dalam mobil Varen karena mabuk?


Apa mungkin Tika?


Ticia mengerutkan keningnya. Setahu Ticia hanya Tika satu-satunya wanita yang ada di dalam geng Varen. Tapi Tika bilang dia sudah berhenti minum. Lalu siapa wanita yang satu lagi itu.


Ticia pun mulai bertanya-tanya. Pikiran sudah tidak berpikir positif kepada Varen. Dia lalu teringat perkataan Iqbal beberapa waktu lalu. Tentang seorang pekerja di club malam tersebut yang suka dengan Varen.


"Apa itu dia?" gumam Ticia seorang diri. Dia berniat untuk bertanya secara langsung kepada Varen nanti. Atau besok kalau mereka ketemu.

__ADS_1


"Itu temen kak Varen buk, Ticia juga kenal dia." Ticia sengaja berbohong supaya ibunya juga tidak berpikiran jelek tentang Varen seperti ayahnya.


"Cia, sebenarnya om Krisna datang kesini kemarin, selain dia liburan dengan istri dan anak-anaknya. Om Krisna juga-" ibu Ticia tiba-tiba berhenti di paruh kedua. Dia sepertinya ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Juga apa buk?" Ticia menjadi penasaran.


Ibunya Ticia terdiam. Terdiam cukup lama. Dan membuat Ticia semakin penasaran.


"Juga apa buk?" desak Ticia sambil mengguncang-guncangkan tubuh ibunya pelan. Dia dilanda penasaran yang hebat.


Setelah beberapa saat, ibunya menghela nafas berkali-kali yang terdengar cukup berat. "Om Krisna ingin menjodohkan Samuel dengan kamu." ucapnya membuat Ticia kaget bukan main.


"Jodohin?" tanyanya mengkonfirmasi.


Satu anggukan kepala ibunya memberikan jawaban atas pertanyaannya.


"Lalu ayah setuju?" tanya Ticia lagi.


"Ticia nggak mau dijodohin sama kak Samuel." ucapnya sembari menangis.


Ibunya pun kemudian memeluknya. Dia juga dilema. Dia tahu, hubungan anaknya dengan Varen tidak akan permah bisa bersatu. Tapi dia juga tidak tega melihat anaknya bersedih.


Ternyata pada saat itu. Ayahnya Ticia sudah berdiri di depan pintu kamar anaknya. Dia mendengar pembicaraan anaknya dengan istrinya.


Merasakan sakit ketika mendengar anaknya menangis. Ayahnya Ticia kemudian nyelonong masuk ke dalam kamar. Dia melihat Ticia yang menangis dalam pelukan ibunya.


Hatinya terasa sesak saat Ticia bertanya kepada ibunya. Kenapa ayahnya tega menyakiti Ticia.


"Ayah bukannya tega Cia, ayah sayang sama kamu, ayah hanya tidak mau kamu akan merasakan sakit, saat cinta kamu sudah besar untuk Varen, tapi kamu sadar jika kalian tidak akan pernah bisa bersama. Kalian berbeda sayank." sahut ayah Ticia berjalan mendekat anaknya.


Mungkin ini pertama kalinya ayah Ticia mengecewakan Ticia. Selama ini apa yang Ticia mau. Ayahnya akan berusaha memenuhinya.

__ADS_1


"Tapi Ticia cinta sama kak Varen yah." ucap Ticia dengan terisak.


"Makan ya! Ayah nggak mau kamu sakit." ucap ayahnya mengalihkan topik pembicaraan. Karena biar bagaimanapun, cepat atau lambat Ticia dan Varen akan berpisah.


Karena seiring berjalannya waktu. Ticia dan Varen akan semakin dewasa. Dan cepat atau lambat akan sadar, jika mereka berbeda. Dan perpisahan itu tidak bisa dihindari.


"Ayah suapin ya!" ucap ayahnya dengan lembut.


Ticia yang masih marah dengan ayahnya. Pada akhirnya tetap mau membuka mulutnya. Dia tetaplah anak kecil kesayangan ayahnya. Kelembutan dan perhatian ayahnya membuat Ticia tidak bisa terus-terus ngambek dengan ayahnya.


Sementara di mata ayah dan ibunya. Ticia tetaplah anak kecil kesayangan mereka. Setelah putra sulungnya meninggal. Mereka lebih fokus dan lebih perhatian kepada Ticia.


Karena mereka tahu rasanya kehilangan anak. Dan tidak mau merasakannya lagi. Meskipun itu sebenarnya permintaan yang mustahil. Tapi setidaknya, mereka ingin mencurahkan semua cinta mereka untuk anaknya yang masih ada.


"Ambilin tissue buk, nih udah gede masih ingusan." goda ayahnya dengan tersenyum.


"Ayah..." seru Ticia dengan manja. Membuat ayah dan ibunya tertawa gemas melihat anak mereka yang manja.


Setelah sudah cukup larut malam. Ayah dan ibunya Ticia menyelimuti Ticia yang sudah berbaring di kasur. Dengan lembut ibunya Ticia mengucapkan selama malam, sembari mengecup kening anaknya.


Saat giliran ayahnya melakukan hal yang sama seperti ibunya. Ticia menahan tangan ayahnya. Dan memohon supaya ayahnya tidak menerima perjodohan yang ditawarkan oleh sahabatnya.


"Please yah! Ticia nggak mau dijodohin!" ucap Ticia dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Udah malam, bobok! Besok sekolah.." ayahnya masih saja tidak mau menjanjikan apapun kepada Ticia.


"Yah..."


"Ayah udah ngantuk, mau bobok dulu, kamu juga bobok! Selamat malam sayank." ucap ayahnya sembari mengecup kening Ticia dengan lembut. Kemudian buru-buru keluar dari kamar Ticia.


Sementara ibunya Ticia menatap tajam suaminya. Dia tahu, beban apa yang ada di dalam pikiran suaminya. Guratan tipis di keningnya menandakan betapa berat beban pikirannya saat ini.

__ADS_1


Sebagai orang tua, apalagi seorang ayah. Tentunya ayah Ticia tidak mau membuat keputusan yang nanyinya akan dia sesali seumur hidupnya. Apa yang dia lakukan tentunya semua demi kebaikan anaknya.


__ADS_2