Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
79. Pertengkaran Ticia Dengan Rosalinda


__ADS_3

Ticia kembali ke kelas ketika bel masuk sudah berbunyi. Disusul oleh Varen yang terus mengikutinya. Varen sedang membujuk Ticia supaya tidak lagi marah kepadanya. Pasalnya, setelah menerima bungkusan yang berisi donat dari adik kelasnya. Varen dicuekin oleh Ticia.


"Cia, jangan cuekin gue terus dong!" ucapnya sambil mengikuti Ticia yang kembali ke kelasnya.


"An, bantuin gue dong!" rengek Varen seperti anak kecil.


Sedangkan Anabella hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan Varen. Dia bahkan tidak pernah membayangkan. Jika laki-laki yang terkesan dingin dan cuek itu. Bisa bertingkah kekanakan seperti itu. Hanya karena seorang wanita.


"Yank,,," rengek Varen lagi. Kali ini dia menangkup wajah Ticia dan menatapnya.


"Jangan diemin gue, please!" ucapnya lembut.


Ticia bahkan tidak berani menatap mata Varen. Ticia mengalihkan pandangannya. Dia sebenarnya bukan marah atau apalah. Hanya saja, entah kenapa dia kesal aja gitu. Saat adik kelas itu memberi Varen perhatian yang lebih.


"Kayaknya banyak yang suka sama kakak, kenapa nggak di terima aja?" ucap Ticia tanpa berani menatap mata Varen.


"Gue maunya lo, yang gue butuh cuma cinta lo, bukan cinta orang lain." ucap Varen masih menatap Ticia lekat.


Varen meraih salah satu tangan Ticia. Dan menuntunnya untuk menyentuh dadanya. "Rasakan dengan hati lo, jantung gue hanya berdebar karena lo." ucap Varen lagi yang membuat Ticia menjadi ikutan berdebar.


Ticia melepaskan tangan Varen. Kemudian berjalan dengan cepat masuk ke kelasnya. Akan tetapi, Varen tidak menyerah. Dia menyusul Ticia sampai ke dalam kelasnya.


Varen mendahului Anabella yang hendak duduk di kursinya. Membuat Anabella tersenyum geli, lalu memilih duduk di bangku yang biasa Indah duduki, atau disamping Rosalinda.


Kebetulan saat itu Rosalinda sedang pergi ke toilet.


"Ntar pulang bareng ya!" ucap Varen yang duduk di sebelah Ticia.


"Nggak bisa, gue bawa mobil dan lagi ntar siang gue mau jengukin Indah sama Anabella." jawab Ticia dengan sedikit ketus.


"Ya udah kalau gitu gue ikut!" ucap Varen.


"Terserah." jawab Ticia lagi singkat.


"Jangan marah lagi, ya!" mohon Varen sembari meraih tangan Ticia.


"Gue janji nggak akan ladenin adik-adik kelas itu lagi, atau wanita lain. Pokoknya cuma ada lo seorang." Varen mencium tangan Ticia. Tapi dengan cepat Ticia menarik tangannya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu. Rosalinda masuk ke dalam kelas dan melihat Varen yang mencium tangan Ticia. Hatinya terasa begitu sakit. Melihat lelaki yang dia cintai memperlakukan wanita lain dengan penuh kasih sayang. Bahkan dia tidak pernah menerima perlakuan seperti itu selama dekat dengan Varen kemarin-kemarin.


"Cewek lo lihat tuh!" gumam Ticia sembari menarik tangannya yang terus digenggam oleh Varen.


Sejenak Varen menoleh. Dia melihat Rosalinda yang terlihat lesu. Tidak seperti biasanya. Ada rasa bersalah dihatinya melihat keadaan Rosalinda. Akan tetapi Varen tidak mau terjerat oleh rasa bersalahnya. Dia tidak mencintai Rosalinda. Dan tidak mau memberi harapan palsu kepada Rosalinda.


"Cewek gue kan lo," ucap Varen masih menatap Ticia.


"Udah balik ke kelas sana!" pinta Ticia masih berusaha menarik tangannya. Tapi Varen tidak mau melepaskan genggaman tangannya.


"Bilang dulu kalau lo cinta sama gue!"


"Nggak!" sahut Ticia dengan cepat.


"Nggak salah maksudnya?"


Ticia menoleh menatap Varen yang begitu percaya diri. Meskipun apa yang dikatakan memang benar. Nggak salah kalau dia mencintai lelaki itu. Tapi Ticia masih malu untuk mengakuinya.


"Balik nggak? Kalau nggak, ntar siang nggak boleh ikut jenguk Indah!" ancam Ticia. Dan ancaman itu berhasil. Tanpa menjawab lagi, Varen akhirnya berdiri dari tempat duduk Anabella.


"Belajar yang bener!" ucapnya dengan lembut sembari menyentuh kepala Ticia. Sebelum akhirnya dia keluar dari kelas Ticia tanpa menyapa Rosalinda.


Lagi-lagi, Rosalinda merasakan hatinya seperti tertusuk ribuan jarum. Sakit dan perih.


"Ternyata lo munafik ya Cia!" ucap Rosalinda dengan geram.


"Maksud lo?" tanya Ticia tidak tahu kenapa Rosalinda menuduhnya munafik.


"Selama ini lo cuma pura-pura ikhlas kan, kak Gio dekat sama gue? Padahal di belakang gue, lo rayu-rayu kak Gio dengan memanfaatkan mamanya?" ucap Rosalinda dengan marah. Dia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.


Melihat lelaki yang dia cintai perhatian kepada wanita lain. Membuat Rosalinda menjadi sangat marah.


"Maksud lo apa bilang kayak gitu ke Ticia?" justru Anabella yang tersulut dengan perkataan Rosalinda terhadap Ticia.


Bahkan kalau Ticia tidak menahan tangannya. Mungkin Anabella sudah menjambak Rosalinda, saking kesalnya.


"Gue tahu lo kecewa karena kak Varen menolak lo, tapi itu bukan berarti lo bisa berbicara tidak masuk akal seperti itu." ucap Ticia masih bisa mengontrol amarahnya.

__ADS_1


"Gue sama sekali tidak pernah memanfaatkan tante Dina. Tante Dina kangen sama gue, dan gue cuma memenuhi keinginannya ketemu sama gue. Lo bisa tanya sendiri sama tante Dina!" lanjut Ticia.


Penjelasan Ticia tersebut justru membuat Rosalinda menjadi semakin marah. Dia merasa tidak terima jika mamanya Varen lebih dekat dengan Ticia dibanding dirinya. Dia merasa diolok-olok oleh Ticia, karena tidak bisa dekat dengan mamanya Varen seperti dirinya.


"Jika bukan karena lo itu munafik, tante Dina juga nggak akan sesayang ini sama lo. Itu karena lo aja yang bermuka dua." ucap Rosalinda.


"Cukup ya Rose! Gue udah berusaha nahan amarah gue, tapi lo lama-lama sudah keterlaluan!" ucap Ticia dengan marah.


"Lo nuduh gue bermuka dua, emang apa yang udah lakuin? Ha?" tanya Ticia masih dengan marah.


Anabella tidak berusaha menahan Ticia. Karena memang Rosalinda yang sudah sangat keterlaluan.


"Harusnya lo ngaca sebelum ngatain gue bermuka dua, lo mikir apa yang udah mama lo lakuin!" Ticia sudah tidak lagi bisa menahan amarahnya. Dia bahkan menyinggung tentang mamanya Rosalinda yang membuat Rosalinda menjadi geram.


Sebenarnya bukan maksud Ticia menyinggung tentang mamanya Rosalinda. Tapi dia merasa tidak terima aja dengan hinaan Rosalinda yang mengatakan dia bermuka dua. Padahal selama ini Ticia tidak pernah melakukan hal yang sejurus dengan tuduhan Rosalinda.


Brakk..


"Maksud lo apaan bawa-bawa mama gue?" Rosalinda marah dan menggebrak meja yang ada di depannya.


"Lo nggak tahu apa-apa tentang mama gue, jadi jangan sok menilai orang seenaknya!" Rosalinda semakin marah.


"Lo juga nggak tahu apa-apa tentang gue! Jadi jangan sok menilai gue seenak jidat lo."


"Tapi itu memang kenyataan!! Kenyataan kalau lo itu bermuka dua, lo pura-pura menerima hubungan gue sama kak Gio, padahal lo rayu dia lagi supaya dia ninggalin gue. Lo pura-pura berkorban demi keluarga kak Gio, padahal lo sebenarnya nggak rela kan kak Gio dekat dengan wanita lain. Lo itu munafik! Lo itu bermuka dua! Lo pelakor!"


Plakk..


Ticia menampar pipi Rosalinda dengan begitu keras.


"Lo????" Rosalinda memegangi pipinya yang merah. Dengan menatap Ticia tajam.


"Kesabaran gue ada batasnya Rose! Lo terus-terusan nuduh gue munafik, lo bilang gue pelakor. Lo tahu jika cinta tidak bisa dipaksa. Dan seharusnya bukan gue yang harus berkorban, tapi mama lo!!!"


"Karena semua yang terjadi di keluarga kak Varen, itu adalah ulah mama lo!" Ticia tersulut dengan perkataan Rosalinda yang membuatnya emosi.


Pertengkaran pun tidak bisa terhindarkan. Rosalinda menjambak rambut Ticia. Tapi dengan sekali gerakan, Ticia mengunci tangan Rosalinda. Rosalinda pun berteriak-teriak meminta Ticia melepaskan kunciannya.

__ADS_1


Sampai akhirnya guru yang mengajar di jam pelajaran pertama datang. Guru tersebut kemudian membawa Ticia dan Rosalinda ke ruang guru untuk menghadap guru BP.


__ADS_2