Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
93. Rayuan Jane


__ADS_3

Rosalinda keluar dari kelas dengan menangis. Hatinya terasa sangat sakit mendengar ucapan Varen. Juga merasakan malu karena ditolak Varen untuk kesekian kalinya.


"Nggak kasihan sama dia?" tanya Ticia sedikit melunak melihat tangisan Rosalinda.


"Gue harus kejam ke dia, agar dia berhenti mengharapkan gue. Dia juga berhak bahagia." jawab Varen merasa sedikit iba juga melihat tangisan Rosalinda. Tapi itu memang harus dilakukan.


"Ya udah sih, gitu aja nangis, nyesel?" goda Ticia.


"Apaan sih, enggaklah." jawab Varen cepat.


"Anabella belum datang?"


"Belum, tumben-tumbenan jam segini dia belum datang." Ticia agak khawatir. Dia melihat ke arah jam menunjukan pukul 06.50 wib. Sepuluh menit lagi bel masuk akan berbunyi. Tapi Anabella masih belum datang juga.


"Balik ke kelas lo sana!"


"Lo ngusir gue?" tanya Varen kemudian menggelitik pinggang Ticia.


"Kak Vava geli ah," seru Ticia menggeliat dan menepis tangan Varen. Dia tidak tahan geli.


Lagi asyik bercanda. Tiba-tiba Anabella muncul dengan nafas ngos-ngosan. Melihat Ticia dan Varen bermesraan. Anabella pun mulai ngedumel.


"Anj*r pagi-pagi udah mesra-mesraan aja. Nggak kasihan ape sama gue yang bengek gini." gerutunya dengan nafas tersengal-sengal.


"Abis apa sih lo kok sampai ngos-ngosan gitu?" tanya Ticia.


"Abis merangkak kali yank dari rumah." sahut Varen asal.


"Husss.." Ticia memukul lengan Varen karena bicara asal.


"Habis nuntun motor gue, mana jauh lagi." Anabella kembali ngedumel.


"Lah lo cari perkara, motor bukannya dinaikin malah dituntun."


"Akh..." teriak Ticia karena dipukul oleh Anabella dengan cukup keras.


"Laki bini sama aja!" seru Anabella semakin gerah menghadapi Ticia dan Varen yang konyol.


"Ban-nya bocor anj*r.." ucap Anabella dengan engap. Dia buru-buru mencari buku untuk kipas-kipas.


"Uh, kacian.." Ticia mencubit pipi kanan Anabella dengan gemas.


"Lo bawa mobil nggak?" Ticia menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Entar gue nebeng sampai ke bengkel depan ya?!"


"Oke..." jawab Ticia dengan cepat. Melihat Anabella yang berkeringat banyak membuat Ticia merasa kasian.


"Ntar pulang sekolah gue traktir es doger depan bengkel itu,"


"Beneran? Serius?" Ticia menganggukan kepalanya.


"Gue diajak nggak yank?" Varen juga ingin ditraktir Ticia.


"Nggak usah!" sahut Ticia cepat.


"Kecuali kalau lo yang bayarin.." lanjut Ticia membuat Anabella tersenyum senang.


"Cuma es doger kan? Oke, gue traktir kalian berdua nanti siang.." Tentu saja itu urusan yang mudah bagi Varen. Yang terpenting bisa terus bersama kekasihnya. Jangankan es doger, makan di restoran mahal pun dia tidak keberatan.


"Sekalian sama siomay dong, masa es doger doang mana kenyang." Ticia memprovokasi kekasihnya.


"Apa aja yang lo mau, gue beliin." jawab Varen mencubit pipi temben Ticia.


"Tapi, tapi, emang nggak latihan nanti siang? Katanya bulan depan ada kejuaraan lagi?"


"Cuman bolos sehari nggak apalah,"


****


Jane datang ke kantor Darwis. Kebetulan dia ada meeting di hotel milik Darwis. Setelah selesai meeting. Jane berinisiatif datang ke kantor Darwis. Sudah lama, sejak mereka putus. Jane tidak pernah ketemu dengan Darwis.


Juga untuk meminta Darwis supaya menasehati Varen. Agar tidak terlalu membenci Rosalinda. Dia tidak tega melihat anaknya yang selalu murung karena Varen.


Ketika sampai di depan ruangan Darwis. Sekretaris Darwis mengatakan jika Darwis tidak mau diganggu oleh Jane. Perintah itu Darwis sampaikan kepada sekretaris dan assisten pribadinya.


Maksudnya, supaya Jane tidak lagi menganggu dia dan istrinya.


Mendapat penolakan di depan ruangan Darwis. Jane berniat untuk menunggu Darwis di ruang tunggu yang ada di depan ruangannya.


"Maaf bu, pak Darwis tidak ingin bertemu dengan ibu, silahkan ibu pulang!" ucap sekretaris Darwis untuk kedua kalinya.


"Nggak usah urusin aku! Kamu kerja aja!" Jane kekeh untuk menunggu Darwis di sofa itu.


Sementara sekretaris Darwis hanya menghela nafas dalam menghadapi keras kepalanya Jane. Sekretaris itu memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Sesekali dia melirik Jane yang fokus dengan hape-nya.


"Nggak heran sih bu Jane tidak bisa melupakan pak bos, orang pak bos juga ganteng dan keren banget." gumam sekretaris Darwis. Dia memang kagum dengan sosok bos-nya. Akan tetapi, itu hanyalah kekaguman semata. Dia tahu bos-nya sangat mencintai istri dan anaknya.

__ADS_1


Dia sudah kerja dengan Darwis selama hampir lima tahun. Dia tentu saja dia juga tahu cerita Darwis dengan Jane beberapa waktu yang lalu.


"Aduh, kayaknya gue 'dapet' nih.." gumam sekretaris Darwis. Dia merasakan sesuatu yang dingin keluar dari alat reproduksinya. Maka buru-burulah dia pergi ke toilet.


Tapi, belum ada semenit sekretaris itu pergi. Telepon di mejanya berbunyi. Jane yang ada disana pun dengan lancang mengangkat telepon tersebut.


Dan, ternyata itu dari kantor bos-nya. Darwis meminta sekretarisnya untuk menyerahkan dokumen yang dia kerjakan.


Maka dengan cara curang. Jane mengambil dokumen tersebut dan membawanya ke ruangan Darwis.


Tok..Tokk..Tokkk


Tiga kali ketukan terdengar dari luar ruangannya. Darwis yang tidak curiga sama sekali menyuruh orang yang ada di depan pintu tersebut untuk masuk ke dalam.


Tanpa berkata, Jane masuk ke ruangan Darwis. Dia tersenyum melihat Darwis yang masih fokus dengan pekerjaan yang ada di depannya. Jane sangat mencintai lelaki itu. Dia sangat suka melihat Darwis yang sedang seriua bekerja.


"Taruh aja disitu!" perintah Darwis tanpa menoleh.


Jane tiba-tiba mendekat ke kursi kerja Darwia dan merangkul pundak Darwis. Sama seperti saat mereka masih pacaran dulu.


Dengan cepat Darwis menoleh dan kaget ketika melihat Jane ada di dalam ruangannya. "Siapa yang menyuruh kamu masuk?" tanya Darwis sedikit memundurkan kursinya.


Brukkk.


Jane berlutut di depan Darwis dan memeluk pinggang Darwis. "Aku kangen mas." katanya.


"Keluar!!" Darwis berteriak dan mendorong Jane. Kursinya sudah tidak bisa lagi mundur. Karena sudah mentok ke lemari kabinet.


"Maafin aku mas, aku cuma kangen aja sama kamu." Jane berdiri sembari memegangi lututnya.


"Aku kesini mau ngomongin masalah Gio dan Rose." lanjut Jane.


"Antara Gio dan Rose sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, Gio tidak mencintai Rose, sebagaimana aku juga tidak mencintai kamu." jawab Darwis sembari berdiri dan berjalan menuju sofa di depan meja kerjanya.


Dan, jawaban Darwis itu kembali membuat luka di hati Jane.


"Aku cuma mau Gio jangan terlalu kasar atau terlalu benci sama Rose!" ucap Jane sedikit emosi.


Kenapa Darwis harus mengatakannya lagi. Itu membuat Jane menjadi semakin sakit. Apa yang dia lakukan selama dua tahun terakhir hanya sia-sia.


"Kalau kamu tidak mencintai aku, tidak mungkin kamu berniat untuk menikahi aku. Jangan munafik mas!" Jane dengan cepat duduk di pangkuan Darwis.


"Berdiri Jane! Jangan jadi orang yang tidak tahu malu!" seru Darwis berusaha mendorong Jane menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2