
Begitu Roman keluar dari ruangan tersebut. Ticia dengan keras memukul lengan Varen. Dia bukannya tidak tahu. Sedari tadi Varen terus menatap Roman dengan tajam.
"Aw.. Sakit yank.." erang Varen sambil memegangi lengannya.
"Udah diperban, sekarang keluar gih, gue mau istirahat!" ucap Ticia kembali sewot.
"Masih sakit kepalanya? Gue anter ke dokter ya?!" ucap Varen dengan sangat lembut. Meskipun Ticia selalu sewot kepadanya. Tapi Varen masih saja bersikap lembut kepada Ticia.
"Nggak, cuma pusing aja." Ticia kembali menghindar ketika Varen ingin menyentuh kepala atau pipinya.
"Yank, gue minta maaf karena kemarin lupa hari jadi kita. Lo tahu kan gue pertama kalinya punya pacar, jadi gue belum terbiasa dengan hal-hal kayak gitu. Tapi gue janji, besok-besok gue nggak akan lupa lagi. Suer deh,"
"Kak, gue nggak masalah kalau lo nganggep gue lebay, karena tiap bulan harus rayain anniversary kita-"
"Gue nggak pernah anggep lo lebay, gue anggep lo bidadari gue." entah apa yang ada di dalam pikiran Varen. Sempat-sempatnya dia masih bercanda.
"Gue sama kayak lo, gue nggak suka lihat lo deket sama cewek lain."
"Jadi lo cemburu?" serius Ticia ingin sekali menimpuk kepala Varen dengan bata, karena bercanda mulu.
"Iya, iya gue dengerin.." ucap Varen sembari tersenyum karena Ticia sudah melebarkan matanya.
"Nggak jadi, udah lupa.." Ticia berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Kepalanya terasa sangat pusing. Bahkan darah di lukanya kembali keluar. Perbannya sampai tidak bisa menampung pendarahannya.
"Lo rebahan aja! Biar gue yang ganti perbannya." Varen menuntun Ticia ke tempat tidur. Dengan hati-hati Varen mengganti dan mengobati luka di dahi Ticia.
"Kok sampai kayak gini sih yank?" gumam Varen pelan.
"Aw.."
__ADS_1
"Sakit ya? Maaf, maaf, gue pelan-pelan kok."
Setelah selesai mengganti perban Ticia. Varen menyuruh Ticia untuk istirahat. Sementara dirinya tetap tinggal untuk menjaga Ticia.
"Lo tahu nggak, gue sayank banget sama lo." ucap Varen sambil menciumi tangan Ticia.
"Gue takut banget lo ninggalin gue karena masalah tadi malam." lanjutnya.
"Gue emang mau ninggalin lo. Emangnya lo pikir gue nggak kecewa gitu waktu lihat lo sok perhatian ke cewek lain.."
"Semua itu nggak seperti yang lo pikirin sayank," Varen mulai menjelaskan dari awal sampai akhir. Kenapa dia bisa pergi dengan Rose. Kenapa dia tidak datang ke kafe dimana teman-temannya ngumpul.
Semua Varen jelasin secara detail. Termasuk rencana yang dia susun bersama Rose. Untuk menggagalkan pernikahan orang tua mereka.
Sampai kapanpun, sepertinya Varen tidak akan merelakan papanya nikah dengan wanita lain. Varen bercerita pula tentang papanya yang meminta maaf kepadanya. "Waktu gue kasih papa hadiah, dia kayak seneng banget gitu. Setelah dua tahun, baru kemarin itu gue lihat papa tersenyum lepas." curhat Varen ke Ticia.
Ticia bisa merasakan emosi yang naik turun ketika Varen bercerita. Ada rasa iba di dalam hatinya melihat wajah Varen yang berubah-ubah dari ekspresi marah ke bahagia. Dari bahagia ke marah.
"Ah, nggak mau gue." Varen menolak syarat dari Ticia.
"Kalau gitu tidak ada kesempatan untuk lo lagi." ancam Ticia.
"Kenapa harus minta maaf sih?" Varen masih belum terima, Ticia lebih membela Roman daripada dia, kekasihnya.
Ticia kembali memukul lengan Varen dengan cukup keras. Karena membuat Varen sedikit berteriak karena rasa sakit. "Lo udah sembarang mukul orang sampai berdarah kayak tadi, masih nanya kenapa harus minta maaf?" omel Ticia dengan marah.
"Siapa suruh dia berani pegang-pegang lo." Varen masih berusaha membela diri. Dia merasa tidak bersalah sama sekali, setelah memukul Roman sampai seperti tadi.
"Oh jadi lo lebih suka lihat gue jatuh? Dia nolongin gue jalan karena gue hampir terjatuh tadi. Ah, terserah. Nggak mau minta maaf juga nggak apa-apa, balik ke kelas sana! Gue mau sendiri.." Ticia memunggungi Varen dengan marah.
__ADS_1
"Iya, iya, gue minta maaf ke Roman, entar. Jangan marah dong yank," Varen menarik pundak Ticia. Tapi Ticia masih belum mau menoleh.
"Yank, ntar gue bakal minta maaf ke Roman. Jangan marah lagi dong sayank."
"Janji?" Ticia tiba-tiba berbalik dengan mengangkat jari kelingkingnya.
"He em, janji. Asal bikin lo seneng, gue bakal lakuin semuanya apa yang lo minta." Varen tersenyum dengan sangat manis. Dia bersyukur bisa kembali memenangkan hati Ticia. Sebelumnya dia udah ketakutan duluan. Dia takut Ticia akan marah besar kepadanya.
Setelah suasana agak tenang. Ticia masih belum bisa memejamkan matanya. Sementara Varen sudah mulai tertidur di kursi samping tempat tidur.
Ticia menoleh, menatap wajah polos Varen saat tertidur. Ticia terlihat tersenyum melihat betapa tampannya lelaki yang terus-terusan menganggunya dari pertama dia masuk ke sekolah tersebut.
Wajah dengan kulit tan. Hidung yang kecil sedikit mancung. Bulu mata yang lentik seperti wanita. Bibir yang tipis kemerahan. Benar-benar wajah yang begitu menarik. Begitu tampan.
Tapi ketampanan itu menyimpan begitu banyak kesedihan yang tidak bisa diungkapkan. Guratan tipis di dahinya menandakan betapa lelaki itu berusaha untuk menahan kesedihannya.
Ticia benar-benar tersihir oleh ketampanan dan kelembutan pria tersebut. Meskipun semalaman dia menangis dan berkata tidak akan mau berurusan lagi dengan pria tersebut. Tapi begitu dia melihat wajah yang menyimpan banyak kesedihan tersebut. Hati Ticia mulai kembali luluh.
"Untuk saat ini, gue hanya mau mencintai lo kak. Untuk masalah ke depannya, dipikir nanti. Yang gue mau hanya cinta lo, saat ini.." gumam Ticia sembari menyentuh lembut pipi Varen.
Masalah ke depannya, yang dimaksud Ticia ialah merujuk pada perbedaan keyakinan mereka. Ticia dan Varen sadar betul. Jika hubungan mereka tidak akan pernah berujung. Tapi mereka memilih untuk menghadapinya nanti. Untuk saat ini, mereka hanya ingin fokus kepada cinta mereka sekarang.
"Cia, jangan tinggalin gue sayank! Leticia.. Leticia,,, sayank..." Varen bergumam dalam tidurnya. Tangannya seperti meraih sesuatu di udara. Sepertinya dia mimpi buruk.
"Ticia, jangan tinggalin gue sayank. Gue cinta banget sama lo.." masih dengan mata terpejam. Varen terus bergumam supaya Ticia jangan meninggalkan dia.
"Gue nggak punya siapa-siapa selain lo, sayank.. Please jangan tinggalin gue!!" Hati Ticia merasa berdenyut mendengar gumaman Varen dalam tidurnya.
"Kak Vava, bangun! Gue disini, gue nggak kemana-mana.." ucap Ticia menggenggam tangan Varen dengan erat. Barulah setelah merasakan tangannya ada yang memegang. Varen mulai kembali tenang. Dan masih lelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya Ticia juga terlelap dengan terus menggenggam tangan Varen.