Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
53. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Sore itu Ticia keluar dari sebuah kafe dengan wajah sedih. Entah apa yang menjadi beban pikirannya. Pandangannya kosong seperti memikirkan hal yang berat.


Sejam yang lalu. Ticia diminta Darwis untuk berdua berdua saja. Tanpa Varen. Ticia tidak tahu apa yang ingin Darwis bicarakan dengan dirinya. Kenapa Darwis meminta hanya berdua saja.


Sesampainya di kafe yang ditunjuk oleh Darwis. Ticai dengan gugup memasuk kafe tersebut. Itu pertama kalinya dia janjian dengan papa kekasihnya, tanpa kekasihnya.


"Ada apa ya, om?" tanya Ticia masih dengan gugup.


"Nggak apa-apa kok. Om cuma ada yang perlu didiskusikan dengan kamu." ucap Darwis membuat Ticia semakin bingung.


"Aku...?"


"Iya." jawab Darwis menganggukan kepalanya pelan.


Tapi tiba-tiba Darwis tertahan untuk mengatakan niat dan tujuannya. Darwis menatap Ticia yang terlihat gugup dan canggung. Antara ingin meneruskan perkataannya atau tidak. Darwis berulang kali menghela nafasnya.


Pilihan itu pilihan yang sulit untuk dirinya. Darwis sadar betul. Jika wanita yang ada di depannya saat ini. Adalah orang yang membuat anaknya bahagia selama lebih dari setengah tahun belakangan.


Akan tetapi, Darwis juga tidak bisa tidak menepati janjinya. Dia seorang lelaki yang harus menepati janjinya.


Selama hampir dua minggu dia bergumul dengan permasalahan tersebut. Bukan sekali dua kali dia menawarkan hal lain kepada Jane. Tapi Jane masih bersikeras ingin menjodohkan anak-anak mereka.


Dan setelah berpikir panjang, akhirnya Darwis memutuskan untuk memenuhi permintaan Jane. Ada alasan tersendiri untuk itu. Mengingat hubungan Varen dengan Ticia tidak akan pernah berujung. Karena jembatan perbedaan keyakinan itu.


"Ada apa sih om?" tanya Ticia lagi. Dia semakin penasaran karena Darwis terus saja terdiam.


"Cia, ini pilihan yang sulit untuk om, sebenarnya." Darwis mulai membuka mulutnya.


Ticia pun mengerutkan keningnya. Dia semakin penasaran lagi. Apa yang sebenarmya ingin papanya Varen diskusiin ke dia.

__ADS_1


"Kamu tahu kan om sama tante Jane, mamanya Rose, memutuskan berpisah karena om ingin memenuhi keinginan Gio, balik dengan mamanya." Darwis terhenti dan menatap Ticia yang sudah sangat penasaran.


"Terus mamanya Rose minta kompensasi. Itu sebenarnya salah om sih, om yang menjanjikan kompensasi untuk mamanya Rose. Tapi om nggak pernah nyangka, jika mamanya Rose akan meminta-"


"Meminta apa om?" Ticia tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.


"Meminta.. Meminta buat menjodohkan Rose dengan Gio."


Dyarrr...


Seketika Ticia merasa terkejut. Apa ini maksud dari papanya Varen mengajak Ticia ketemu. Apa papanya Varen ingin meminta Ticia menyerah dan meninggalkan Varen.


Ticia lalu teringat beberapa hari belakangan. Apa karena ini juga sikap Varen sedikit berubah akhir-akhir ini. Varen jadi lebih manja, dan selalu mengatakan kalau dia tidak ingin berpisah dengan Ticia. Juga mengatakan, jika dia tidak mau disuruh memilih antara mamanya atau Ticia.


Dan juga sikap Varen ke Rose jadi semakin dingin dan kasar. Jika biasanya Varen tidak masalah saat Rose selalu mengikuti mereka. Belakangan ini, Varen selalu marah saat Rose mencoba mendekati mereka. Bahkan meminta Ticia untuk berpindah tempat duduk.


"Jadi maksud om ingin bertemu aku, pengen aku tinggalin kak Varen gitu?" tanya Ticia dengan sedikit emosi.


"Kamu jangan egois Leticia!"


"Aku egois? Kalau aku egois, terus om apa? Itu masalah pribadi om dengan tante Jane, tidak ada hubungannya dengan aku atau kak Varen." Ticia mulai lebih berani.


"Ada. Jelas ada hubungannya dengan Gio." sahut Darwis dengan cepat.


"Jika Gio tidak mau dijodohkan dengan Rose. Itu sama saja Gio tidak lagi menginginkan mama dan papanya bersatu. Kamu harus ingat! Hubungan kalian ini diatas perbedaan keyakinan yang tidak mungkin bisa disatukan. Sementara hubungan om sama tante Dina itu akan terjalin selamanya."


"Om tahu kamu anak yang pinter, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Om pamit dulu!" Darwis berdiri dan meninggalkan Ticia yang mematung ditempatnya.


Maksud dari perkataan Darwis itu sudah sangat jelas. Jika Varen menolak perjodohannya, dia akan kehilangan keluarga yang utuh. Tapi, kalau dia menerima perjodohan Varen akan kehilangan Ticia.

__ADS_1


Tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan. Hubungan berbeda agama itu tidak akan pernah berujung. Dan satu yang pasti, mereka akan berpisah ditengah jalan.


Ketika keluar dari kafe tersebut pikiran Ticia selalu dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan apa yang harus dia lakukan. Ticia ingin melihat Varen bahagia, dan memiliki keluarga yang utuh. Tapi, Ticia juga tidak mau berpisah dengan Varen.


Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Darwis. Jika dia orang yang egois. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Pilihan itu terlalu sulit dia.


Mungkin juga pilihan seperti itu juga yang dirasakan oleh Varen. Dia harus memilih antara keluarga atau cinta.


....


Di tengah kegundahan hatinya. Ticia pergi ke gereja untuk berdoa. Dia ingin meminta petunjuk untuk permasalahan.


Ketika hatimu gelisah. Datanglah kepada Tuhan dan bersujudlah. Taruh semua pengharapan hanya kepadaNya. Dialah jawaban dari segala doamu.


Air mata tidak dapat Ticia bendung. "Berikan petunjuk yang terbaik untuk hambaMu, Tuhan." lirihnya disela isak tangisnya.


Di rumah pun, Ticia masih saja merasa gelisah dengan pergumulannya. Hal itu disadari oleh ibunya. Ibunya yang biasa melihat anaknya ceria. Kali ini dia melihat raut wajah sedih dari putri bungsunya.


"Kamu kenapa sayank? Kamu ada masalah?" tanya ibunya Ticia.


"Berantem sama Varen?" mendengar nama pacarnya disebut. Tanpa sadar Ticia menjadi menangis tanpa kendali. Ticia kemudian memeluk ibunya dan menceritakan semuanya kepada ibunya. Tentang pilihan yang dia hadapi.


Dengan lembut ibunya mengelus rambut panjang putrinya. "Ibu tidak melarang kamu pacaran sama siapapun. Karena ibu tahu, cinta itu tidak bisa ditentukan kepada siapa akan jatuh." ucapnya dengan lembut.


"Hanya saja, ketika kamu jatuh cinta, kamu juga harus siap merasakan sakit hati. Kamu harus siap untuk memilih gimana kedepannya hubungan kalian. Apalagi cinta dengan perbedaan keyakinan. Kamu harus siap untuk berpisah setiap saat, karena perbedaan iman, tidak bisa diseberangi. Cinta kalian tidak akan berujung. Mau tidak mau, perpisahan memang harus terjadi. Entah hari ini, besok, atau nanti." ibu Ticia mencoba memberi pemahaman kepada anaknya.


"Ticia cinta sama kak Varen, buk." ucap Ticia dengan air mata yang sudah berderai.


"Ibu tahu, kalau kamu tidak cinta, tidak mungkin kamu akan dilema seperti sekarang. Tapi kembali lagi, agama kita menganjurkan kita menjalin hubungan dengan orang yang sama-sama percaya dengan Kristus."

__ADS_1


"Dan kamu harus tahu. Jika kamu terus melangkah, kamu akan membuat Varen kehilangan keluarganya yang utuh. Sementara kamu tidak bisa selamanya bersama Varen. Dan saat itu tiba, Varen akan kehilangan segalanya. Dia akan kehilangan kamu, juga keluarganya yang utuh." Ibu Ticia bukan ingin membuat Ticia takut. Akan tetapi, ibunya Ticia mencoba mengingat jauh ke depan apa yang akan terjadi. Bukan mendahulu takdir. Tapi hanya sebuah pandangan yang jauh ke depan. Dan itu semua kesimpulan yang dia pikirkan, dari cerita anaknya.


"Berdoa! Minta Tuhan memberikan jawaban atas pergumulan kamu." Ticia semakin tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menangis tersedu-sedu di dalam dekapan lembut ibunya.


__ADS_2