Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
70. Kedekatan Tika dan Ticia


__ADS_3

Tika datang ke rumah Ticia. Dia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Awalnya Ticia tidak mau menjawab pertanyaan Tika. Ticia merasa sudah tidak ada yang perlu diomongin tentang Varen.


Varen sudah memiliki kekasih. Dan dia berusaha membuka lembaran baru juga.


Tapi karena Tika terus mendesaknya. Bahkan mengoloknya tidak bisa move on dari Varen. Akhirnya membuat Ticia terprovokasi.


"Papanya kak Vava nemuin gue, dia minta gue putusin kak Vava, karena kak Vava mau dijodohin sama Rosalinda." ucap Ticia.


"Jadi lo nyerah gitu saja?" tanya Tika.


Ticia yang merasa kesal, kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Gue udah berusaha pertahanin cinta gue, tapi akhirnya gue dihadapkan pada pilihan yang sulit." ucapnya dengan amarah. Ticia akan selalu marah ketika teringat hal itu. Dimana dia harus menyerah untuk cintanya dengan pilihan yang sulit.


"Lo tahu gue ama dia beda agama. Dan hubungan beda agama itu tidak akan pernah berujung. Tapi keluarga yang utuh itu akan selamanya. Sementara gue nggak tahu sampai kapan cinta ini ada dihati gue." Tika menganggukan kepalanya. Dia akhirnya dia paham, alasan kenapa Ticia menyerah untuk cintanya. Semua Ticia lakuin karena ingin keluarga Varen kembali utuh.


"Seharusnya om Darwis tidak seegois ini. Masalah antara dia dan mamanya Rosalinda, tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan kalian." Tika sedikit kesal dengan tindakan papanya Varen. Menurut Tika, papanya Varen terlalu kejam sebagai seorang ayah.


"Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Mungkin om Darwis berpikir jika kita tidak akan pernah berujung, makanya dia ingin putus sekarang, supaya kelak sakitnya tidak terlalu dalam." Ticia tidak mau menyalahkan siapapun atas semua kejadian yang dia rasakan.


"Sumpah, lo baik banget, Cia! Pantes kalau Gio sangat mencintai lo." sanjung Tika dengan bangga.


"Dia sekarang udah jadian sama Rosalinda," jawab Ticia sedih.


Tika langsung memeluk Ticia dan mengelus punggung Ticia. "Tapi gue yakin, dia masih sangat mencintai lo. Gue bisa lihat dari cara dia menatap lo tadi." ucapnya.


"Oh iya, gimana sih ceritanya kok Gio bisa jadian sama Rosalinda? Padahal dia pernah bilang kalau dia tidak akan pernah mau menerima perjodohan itu." lanjut Tika masih penasaran.


"Ya mungkin karena dia sudah mulai jatuh cinta sama Rose."


"Nggak mungkin. Gue yakin bukan itu alasannya." Tika paham betul bagaimana Varen. Dia bukan tipe cowok playboy yang dengan cepat ganti pasangan.

__ADS_1


Ticia kembali terdiam. Cukup lama. Sampai pada akhirnya, dia menceritakan semua kepada Tika. Juga tentang Varen yang ingin pindah agama supaya bisa terus bersamanya.


"Gio sampai mau pindah agama supay bisa terus sama lo?" Tika bahkan tidak menyangka sebesar itu cinta Varen ke Ticia.


Ticia menganggukan kepalanya.


"Terus kenapa lo nggak bolehin? Bukannya itu bukti kalau dia sangat mencintai lo?"


"Tapi menurut gue itu bukan cinta kak. Tapi dia terlalu terobsesi sama gue. Gue nggak mau lah sama orang yang rela ninggalin Tuhannya demi apa yang disebut cinta. Orang Tuhannya aja ditinggalin gimana dengan gue nanti?" ucap Ticia yang kembali membuat Tika tertegun. Tika menyadari jika Ticia adalah orang yang bijak dan berpikir dewasa.


"Beda cerita kalau dia pindah karena keinginannya sendiri, bukan karena gue. Karena gue nggak mau menanggung akibat dari apa yang dia lakuin." imbuh Ticia.


"Jadi itu sebabnya dia marah?"


"Iya, dia mikir kalau selama ini gue cuma mainin dia. Terus dia bilang mau menghargai semua wanita yang ngejar dia. Mungkin itu alasannya kenapa dia akhirnya memutuskan menerima perjodohan itu." jawab Ticia dengan suara serak karena menahan kesedihannya.


"Lo masih cinta sama dia?" tanya Tika lagi.


"Menangislah kalau lo ingin nangis, Cia!" Tika sudah sempat melihat air mata Ticia yang jatuh di pipinya.


"Yang bisa gue lakuin sekarang hanyalah mendoakan supaya kak Vava bisa bahagia dengan Rosalinda." Saat itu tanpa diharapkan. Air mata Ticia mengalir dengan sendirinya. Mungkin karena Ticia sudah tidak bisa menahan rasa yang berkecambuk di dalam hatinya.


"Lo orang baik, lo juga cantik, gue yakin lo akan dapat pengganti yang lebih baik dari Gio." Tika memeluk Ticia lebih erat. Dia tidak kuat melihat kesedihan Ticia. Tanpa diduga, Tika juga ikut meneteskan air matanya.


"Makasih ya kak, seandainya kakak gue masih ada, gue pasti jodohin dia sama kak Tika." ucap Ticia dengan tersenyum, dan sembari mengusap air matanya.


"Emang lo punya kakak?"


"Hmm, tapi dia sudah meninggal."

__ADS_1


"Udah jangan nangis lagi, nanti gue ikutan sedih." ucap Tika yang membuat Ticia tersenyum senang.


Masih jelas diingatan Ticia dan Tika. Awal mereka bertemu. Saat itu Ticia adalah murid baru yang berani melawan Tika. Bahkan sering bertengkar setiap kali ketemu. Tapi siapa sangka, jika Ticia dan Tika akan menjadi sangat akrab. Bahkan mengatakan jika mereka adalah kakak beradik.


"Kak, ingat nggak awal kita ketemu dulu?" tanya Ticia sambil tersenyum mengingat kejadian setahun yang lalu.


"Ingat bangetlah, lo plintir tangan gue," ucap Tika dengan sewot.


"Emang murid baru yang songong lo." lanjut Tika dengan memajukan bibirnya. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum.


Ticia pun ikutan tertawa. "Maafin gue ya kak," ucapnya sembari memeluk Tika.


"Iya." jawab Tika lembut.


"Tapi gue salut sih sama keberanian lo. Karena lo akhirnya gue dan yang lain sudah tidak mau melakukan perundungan lagi. Kasian tahu si cupu."


"Ciee, kak Tika, kayaknya agak gimana ya sama kak Nathan." olok Ticia.


"Nggak usah ngegosip lo!" Tika memukul lengan Ticia pelan.


"Gue cuma merasa bersalah aja, dulu gue udah jahat banget sama Nathan."


"By the way, makasih ya karena lo udah nyadarin gue ama yang lain kalau apa yang kita lakuin itu tidak berfaedah."


"Eh, lo ingat nggak sih? Kejadian itu juga adalah awal mula Gio suka sama lo?" Ticia terdiam mendengar perkataan Tika.


Bagaimana bisa Ticia lupa. Kejadian itulah awal mula hubungannya dengan Varen terjalin. Karena pada saat itu, Varen jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ticia.


"Sorry, gue nggak bermaksud bikin lo sedih," Tika menyadari kesalahannya. Dia langsung meminta maaf kepada Ticia.

__ADS_1


"Its ok. i am fine. Gue cuma butuh waktu aja kok buat lupain dia." Ticia tersenyum kepada Tika. Ticia tidak mau membuat Tika menjadi merasa bersalah. Karena masalah sebenarnya ada di dalam dirinya yang belum bisa lupain Varen sepenuhnya.


__ADS_2