Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
61. Gombalan Lelaki Dingin


__ADS_3

Kabar mengenai putusnya Ticia dengan Varen sudah menyebar di seluruh antero sekolah. Yang pastinya, itu membuat peluang untuk mereka yang mendambakan Ticia maupun Varen.


Bahkan ada beberapa adik kelas yang baru menjadi siswi di sekolah tersebut mengincar Varen. Mereka tahu dari gosip yang beredar tentang kepopuleran Varen. Itu sebabnya mereka berebut ingin mendekati Varen.


Dua minggu mereka menjadi siswi baru di sekolah itu. Setidaknya sudah ada kurang lebih tujuh siswi baru yang ingin mendekati Varen. Mereka berebut mencari perhatian Varen. Ada yang dengan kepercayaan diri, mengajak kenalan Varen. Ada juga yang mengirim surat cinta untuk Varen.


Seperti pagi itu, sewaktu Varen sedang makan di kantin bersama teman-temannya. Tiba-tiba datang dua cewek, yang sepertinya siswi baru. Kedua cewek tersebut, memberi sebuah bingkisan untuk Varen.


"Kak Varen, ini ada sesuatu buat kak Varen." katanya tanpa rasa canggung sama sekali.


"Ini apa?" tanya Varen dengan dingin. Begitulah Varen. Dia akan dingin kepada orang yang belum dia kenal. Apalagi seorang wanita.


"Ini hadiah buat kak Varen, karena kemarin kak Varen udah memenangkan pertandingan." ucap adik kelas tersebut.


"Oh, kasih aja ke Rafa atau Digta, mereka juga ikut tanding kemarin." jawab Varen masih dengan begitu dingin. Bahkan Varen tidak melihat ke arah kedua adik kelas tersebut. Dia masih menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


Untuk memberi muka kepada kedua adik kelasnya. Rafa dengan antusias menerima bungkusan tersebut. Meskipun dia tahu, hadiah cara mereka mendekati Varen. Tapi Rafa masih sangat baik, dibanding Varen. Dia lebih paham bagaimana caranya menghargai orang.


"Makasih ya, mau gabung sini nggak?" tanya Rafa basa basi. Akan tetapi, kedua adik kelas tersebut malah beneran ikut makan bersama mereka.


Saat itu Tika sedang tidak bersama mereka. Dia tidak masuk sekolah karena sakit. Jadi kedua adik kelas itu bisa dengan leluasa gabung bersama keempat lelaki yang menjadi idola di sekolah tersebut.


Biasanya Tika yang selalu menolak para adik kelas yang sok cari perhatian kepada teman-temannya. Tika tidak suka gaya mereka yang genit.


"Kenalin nama kalian dong!" ucap Rafa.


"Gue Ira, dan ini temen gue, namanya Lisa." ucap Ira, salah satu dari kedua adik kelas tersebut.


"Gue Rafa, dan ini temen-temen gue, kalian pasti udah kenal kan?" ucap Rafa dengan percaya diri.


"Belum sih kak, cuma tahu kak Varen aja. Dia kan idola di kelas 10. Hampir semua siswi kelas 10 ngomong kak Varen." jawab Ira melirik Varen yang hanya diam dan menikmati sarapannya.

__ADS_1


"Kayaknya satu sekolah ini semua ceweknya suka deh sama dia. Kemarin aja ada yang ngirimi dia surat cinta, ada coklatnya lagi." ucap Rafa dengan sedikit tertawa. Maksud Rafa ingin mengolok-olok Varen.


"Siapa yang suka sama kak Varen? Secara dia kan selain ganteng, juga keren, jago main basket juga." sahut Ira yang sepertinya suka dengan Varen. Dari tadi hanya dia yang selalu bicara.


"Ada yang nggak suka sama dia, bahkan nolak dia terus," ucap Iqbal juga berniat mengolok-olok Varen yang sedari tadi berekspresi dingin.


"Tuh orangnya datang. Cuma dia nggak tertarik sama Varen." lanjut Iqbal dengan menggerakan kepalanya ke arah Ticia yang baru datang.


"Cia!!!" seru Iqbal melambaikan tangannya.


Mendengar namanya dipanggil. Seketika Ticia menoleh ke arah sumber suara. Saat bersamaan. Varen menoleh ketika Iqbal memanggil Ticia. Dan, tanpa sengaja Ticia beradu pandang dengan Varen.


Melihat Varen bersama wanita lain. Ticia pun tidak mengindahkan panggilan Iqbal. "Playboy.." gumam Ticia dengan sedikit geram.


Padahal baru tadi pagi. Varen mengirim pesan yang romantis untuk dia. Meskipun dia tidak membalasnya. Tapi itu cukup membuatnya berbunga.


"Lo cemburu?" tanya Anabella ssembari tersenyum kecil.


"Nggaklah, ngapain cemburu." sanggah Ticia. Tapi, nada bicara dan raut wajah Ticia tidak bisa bohong. Terlihat jelas jika Ticia cemburu.


"Udah ah, ngapain sih, buruan, mau pesan apa? Biar gue yang pesenin!" Ticia sedikit kesal, karena Anabella selalu bisa menebak isi hatinya. Apa mungkin itu yang disebut sahabat.


....


Varen mendekati Ticia yang sedang memesan makanan. Varen sengaja menyenggol tubuh Ticia. "Ntar pulang sekolah, jengukin Tika yuk!" ajak Varen.


"Emang kak Tika kenapa?" tanya balik Ticia dengan sedikit ketus.


"Sakit dia, dirawat juga." jawab Varen masih dengan kelembutan yang sama seperti biasanya.


"Kak Tika sakit apa?" Ticia menjadi panik saat mendengar Tika dirawat karena sakit.

__ADS_1


"Magh katanya."


"Nanti siang kita jenguk dia ya?!"


"Gue jenguk sendiri aja, lo ngajak Rosalinda aja, atau ajak tuh adik kelas itu." Ticia berkata dengan masam.


Varen menoleh ke arah dimana teman-temannya sedang ngobrol dengan kedua adik kelasnya tadi. Kemudian senyuman mengembang di wajah Varen. Dia menyadari jika Ticia sedang cemburu. Maka berbungalah hati Varen.


"Oh, lo nyium bau cuka nggak sih?" tanya Varen dengan tersenyum senang.


Ticia yang tahu, jika Varen dengan menyindirnya. Tanpa berkata lagi, Ticia meninggalkan Varen dengan membawa nampan makanan. Tentu saja, Varen terus mengikutinya. Bahkan Varen duduk di sebelah Ticia.


"Ngapain sih kesini? Tuh dicari cewek lo!" ucap Ticia merasa risi dengan tatapan Varen. Tepatnya gugup, bukan risi.


"Nih cewek gue disini, disamping gue.." jawab Varen dengan santai. Dan masih dengan menatap Ticia lekat.


Setelah hampir sebulan, semenjak Ticia memutuskan hubungan mereka. Varen masih saja terus mengganggu Ticia. Dia masih belum rela harus putus secara sepihak dengan Ticia. Varen masih memperlakukan Ticia dengan baik dan lembut. Sebagaimana dia memperlakukan orang yang special.


Sejauh ini, memang Ticia adalah wanita yang paling special untuk dirinya. Belum ada yang bisa menggantikannya dihati Varen.


"Nggak usah ngeliatin mulu bisa nggak sih?" pinta Ticia dengan geram. Dia takut tidak bisa mengendalikan rasa gugupnya di depan Varen.


Sama seperti Varen. Selama sebulan, semenjak dia memutuskan hubungannya dengan Varen. Ticia belum terlihat dekat dengan lelaki lain. Karena sebenarnya dalam hatinya. Dia masih mencintai Varen. Lelaki dingin diluar, tapi manja dan konyol. Lelaki yang tidak pernah menyerah mendekati dia. Sampai akhirnya dia jatuh cinta kepada lelaki itu.


Varen memang terlihat begitu dingin. Tapi dia akan menjadi sangat lembut jika di depan Ticia. Bahkan juga akan manja kepada Ticia.


"Kenapa? Gue kan orang yang selalu bersyukur." Ticia memicingkan matanya mendengar jawaban Varen yang tidak nyambung.


"Maksudnya?"


"Gue kan orang yang selalu bersyukur, makanya gue selalu menikmati keindahan Tuhan, meskipun hanya dengan menatapnya saja. Lo kan anugerah Tuhan yang paling indah." jawab Varen dengan santai. Bahkan dengan menopang kepalanya, dan terus menatap Ticia.

__ADS_1


Dan tentu saja jawaban Varen itu membuat Ticia menjadi tersipu. Juga membuat Indah dan Anabella menjadi heboh sendiri. Akhirnya mereka mendengar lelaki terdingin di sekolahnya mengeluarkan jurus gombalan maut-nya.


"Aw, so sweet." ucap Indah tanpa mengeluarkan suara. Dia dengan Anabella tersenyum bahagia mendengar gombalan Varen ke Ticia. Apalagi melihat Ticia yang menahan senyumnya dengan wajah memerah.


__ADS_2