Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
62. Menjenguk Tika


__ADS_3

"Ticia, pulang bareng yuk!" ajak salah satu dari teman seangkatan Varen.


"Makasih kak, tapi gue bareng sama Anabella kok." Ticia masih selalu sopan menolak tawaran dari teman, atau kakak kelasnya.


"Ticia, Anabella, gue duluan ya!" seru Indah. Seperti biasa, dia pulang bersama dengan pacarnya, Arka.


Anabella dan Ticia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya saja. Anabella lalu berjalan menuju motornya. Sementara Ticia menunggu di depan sekolah.


Saat Ticia berjalan ke depan sekolah. Banyak diantara teman atau kakak kelasnya yang menghentikan motor mereka. Menawarkan untuk mengantar Ticia. Akan tetapi, Ticia menolak tawaran mereka, dengan alasan dia pulang dengan Anabella.


"Gue anter yuk!" ucap Iqbal menghentikan laju motornya di depan Ticia.


"Nggak usah, makasih.." jawab Ticia cepat.


"Yaelah, biasa aja mukanya!" Iqbal mengusap wajah Ticia dari atas ke bawah. Tidak sampai disitu, Iqbal juga mengacak-acak rambut Ticia.


"Kak Iqbal!! Awas aja, gue aduin ke kak Varen kalau lo ngajakin gue kencan terus!" ancam Ticia sembari merapikan kembali rambutnya yang berantakan.


"Pede amat lo, jurik! Siapa juga yang ngajakin lo kencan?" Bukannya takut dengan ancaman Ticia. Iqbal malah tertawa dan mendorong kepala Ticia pelan.


"Eh, tunggu, tunggu, kalau gue ngajak lo kencan nggak salah dong, lo kan udah putus sama Gio. Gimana kalau kita kencan beneran?" ucap Iqbal sambil memainkan alisnya.


"Nggak mau!! Gue takut dibunuh sama kak Tika.." sahut Ticia dengan cepat.


"Apa hubungannya sama Tika? Anj*r nih anak bikin gosip aja.." omel Iqbal kembali mendorong kepala Ticia.


Ticia kembali ngomel karena Iqbal terus-terusan mendorong kepala Ticia. Meskipun pelan, tapi itu cukup membuat rambutnya kembali berantakan.


"Lo ngapain nyet, dorong-dorong kepala Ticia?" tanya Varen yang sudah ada di sebelahnya.


"Nggak dorong kok, cuma tadi ada kutu, gue bantuin ambil dari rambutnya." Iqbal menjadikan kutu sebagai kambing hitam.


"Enak aja, gue nggak kutuan!!" Ticia merasa tidak terima dengan ucapan Iqbal yang secara tidak sengaja mengatai jika Ticia kutuan.


"Kak Vava, kak Iqbal godain gue mulu. Pakai segala ngajakin kencan." Ticia mengadu kepada Varen.


"Eh buset nih anak, nggak cuma bercanda aja, lo tahu kan, tipe gue tuh yang kayak Angel. Dia mah tipis, nggak ada greget-gregetnya.." Iqbal mencati alasan. Dia melihat Varen yang melotot ke arahnya. Dia tidak ingin Varen menjadi salah paham.


"Siapa lagi tuh Angel? Buset pacar lo banyak banget sih kak, nggak kasian sama kak Tika." ucap Ticia.


"Lo masih hubungan sama Angel?" tanya Varen yang juga kenal dengan wanita bernama Angel.


"Yup, kemarin kita dugem bareng. Dia nanyain lo mulu, kenapa lo udah nggak pernah ke club malam lagi." jawab Iqbal dengan santai tanpa melihat di sebelahnya, ada orang yang sudah pasang muka cemberutnya.


Saat Ticia menatap Varen. Saat itu Varen nampak sedikit gugup. Dia tidak pernah cerita ke Ticia, jika dia dulu sering main ke club malam bersama teman-temannya.

__ADS_1


Karena Ticia terus menatapnya dengan tajam. Varen kemudian memukul lengan Iqbal dengan cukup keras. Varen juga menggerakan bola matanya. Mengisyaratkan kepada Iqbal untuk menoleh ke arah Ticia. Sekaligus memperingati Iqbal untuk tidak sembarangan bicara, dengan gestur nya tanpa berkata.


Iqbal yang paham dengan maksud isyarat Varen, malah justru terbahak. Iqbal merasa lucu dengan tingkah kedua orang itu. Katanya putus. Tapi mereka masih sama-sama saling cemburu. Benar-benar konyol.


Tapi kemudian terlintas dalam pikiran Iqbal untuk menggoda Ticia. "Lo mau tahu siapa Angel?" tanyanya.


"Dia tuh cewek yang kerja di club malam, orangnya cantik, body-nya wuih mantap, dia juga suka sama Gio, tapi Gio emang bod*h, malah milih cewek datar kayak lo." tanpa menunggu jawaban Ticia. Iqbal melanjutkan perkataannya.


"Meskipun gue nggak cantik, tapi setidaknya gue wanita baik-baik." jawab Ticia dengan menjulurkan lidahnya. Tapi begitu menoleh ke Varen. Dia akan mengeluarkan wajah cemberutnya lagi.


"Lo cantik kok, lebih cantik dari Angel." sahut Varen yang tidak mau terus-terusan dipelototin oleh Ticia.


"Tuh beg* kan? Kayak ginian aja dibilang cantik, lihatnya dari sedotan kali yak," ucap Iqbal sembari tertawa.


Dan saat itu juga, Anabella menghentikan motornya di depan motor Varen. Karena yang ditunggu Ticia memanglah Anabella. Tanpa banyak kata, Ticia kemudian pamit dan naik ke motor Anabella.


"Loh Cia, nggak mau gue anter aja? Katanya mau jengukin Tika?" tanya Varen mengikuti laju motor Anabella.


"Nggak perlu!!" jawab Ticia dengan ketus.


Anabella mempercepat laju motornya karena permintaan Ticia. Tapi karena Varen mengendarai motor sport. Varen bisa dengan mudah mengusul Anabella dan Ticia. Juga, laki sama perempuan itu berbeda dalam menggunakan kecepatan kendaraan mereka.


Di belakang mereka ada Iqbal terus tersenyum melihat pasangan konyol itu. Sementara Rafa dan Digta sudah duluan tadi. Mereka akan ke rumah sakit, membesuk Tika yang sedang dirawat.


*Di kamar rawat Tika..


"Nggak usah deket-deket!" Ticia mendorong Varen yang selalu mendekatinya.


"Udah nggak ada tempat duduk lagi, tuh lihat!" jawab Varen sambil menunjuk sofa yang sudah penuh oleh ketiga temannya.


Ticia lalu berdiri dan memilih duduk di ranjang bersama Tika. "Kak Tika udah makan?" tanya Ticia dengan penuh perhatian.


"Udah barusan." jawab Tika dengan tersenyum senang.


"Ngapain ikutan kesini, hmm?" Ticia merasa kesal karena terus mengikutinya.


"Kenapa sih?" protes Varen. Tidak terima jika Ticia menolak untuk dia dekati.


"Gue nggak mau deket-deket, playboy!" jawab Ticia masih dengan ketus.


"Apaan sih yank, playboy apanya? Lo jangan dengerin bac*tannya Iqbal, gue sama Angel cuma sebatas kenal." Varen paham apa yang membuat Ticia tidak mau di deketin.


"Cinta gue cuma buat lo doang, sumpir.." imbuh Varen.


"Haiyah, apaan, tadi pagi aja udah godain adik-adik kelas,"

__ADS_1


"Bilang aja lo cemburu kan?" Varen merasa senang.


"Nggak ada!"


Tok tok tok


Lagi seru-serunya lihat pertunjukan, perdebatan Varen dengan Ticia. Pintu kamar rawat Tika di ketuk. Kemudian masuklah seorang perawat untuk memberikan obat kepada Tika.


"Sus, bisa periksa aku nggak?" tanya Digta tiba-tiba mendekat ke ranjang Tika.


"Emang matanya kenapa mas?" tanya suster itu sambil terus melakukan pekerjaannya, menyuntikan obat melalui infus.


"Nggak tahu ya sus, kok tiba-tiba mata aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari suster, apa mungkin karena cinta pada pandangan pertama ya?" ucap Digta menggombali suster di rumah sakit.


"Anj*r anak didik Gio tuh, mulut-mulut buaya." seru Iqbal yang kegirangan sendiri.


"Ngapain jadi gue disangkut-sangkutin!" omel Varen.


"Iyalah, lo kan bucin. Sekarang gue tanya, lo lagi apa?" tanya Iqbal.


"Lagi berdiri, lo juga tahu."


"Berdiri di sebelah siapa?"


Varen menoleh dan melihat Ticia yang ada disrbelahnya. Maka tersenyumlah Varen. Dengan penuh semangat dia menjawab, "berdiri disebelah semesta gue."


"Nah, mulut buaya kan." seru Iqbal.


"Anj*r, nggak nyangka gue, Gio sang kulkas berjalan bisa ngebucin juga." sahut Rafa tak kalah bahagia. Dia sampai ngakak.


"Mulut lo juga sama kayak Digta dan Gio, hanya saja, cewek yang lo gombalin pada jijik." ucap Iqbal dengan terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Rafa yang kesal.


"Anj*r, kayak lo nggak aja, sampai sekarang lo kan belum bisa dapatin Angel." Rafa balas mengolok Iqbal.


"Tenang, semua butuh proses," dalih Iqbal menutupi rasa malunya.


"Proses apaan, orang Angel suka-nya sama Gio. Tiap ketemu yang dia tanyain Gio terus." ledek Rafa lagi.


"Emang Gio tuh serakah kok. Lo kan udah ada Ticia, biar yang lain buat kita, kasihan Iqbal tuh ditolak mulu sama cewek." Digta juga meledek Iqbal.


Memang sejauh ini. Dari keempat lelaki itu. Hanya Iqbal yang belum pernah pacaran. Sekalinya suka cewek. Eh, ceweknya justru suka sama temannya sendiri.


"Gue emang belum niat pacaran." dalih Iqbal kembali menutupi rasa malunya.


"Kasihan.." gumam Ticia juga sembari tertawa dengan sedikit meledek.

__ADS_1


"Berisik.."


__ADS_2