Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama

Diiman Yang Berbeda Tapi Amin Yang Sama
60. Best Friend Forever


__ADS_3

"Kak, maaf ya, gue terpaksa lakuin ini. Gue cuma mau lihat, apakah Ticia masih suka sama lo atau nggak." ucap Anabella dengan takut-takut. Apa yang dia lakukan sebenarnya hanya untuk menguji apakah Ticia masih suka dengan Varen atau tidak.


Anabella penasaran apa alasan Ticia memutuskan hubungannya dengan Varen. Tidak mungkin hanya karena Varen yang dijodohkan dengan Rosalinda. Karena malam itu juga dengan tegas Varen menolak perjodohan tersebut.


Anabella juga tahu, jika Ticia bukan orang yang mudah menyerah dengan tantangan yang dia hadapi. Jika begitu, bukankah dia akan menyerah dengan hubungan yang beda keyakinan dengan Varen.


Anabella yakin ada alasan lain. Kenapa Ticia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Varen.


"Iya, tapi apa lo yakin, Ticia nggak akan marah sama lo?" tanya Varen khawatir jika persahabatan antara Ticia dan Anabella akan terpengaruh karena hal itu.


"Tenang aja kak, Ticia itu dewasa kok orangnya, meskipun dia kadang konyol." ucap Anabella dengan tertawa kecil.


"Itu yang buat gue nggak rela pisah sama dia, karena konyolnya itu." ucap Varen juga ikutan tertawa kecil sambil melirik Ticia yang sedang makan.


"Kelihatan banget kan dia kesel?" ucap Anabella lagi. Varen menoleh sebentar ke arah Ticia, kemudian menganggukan kepalanya pelan.


Varen jelas melihat wajah Ticia yang manyun sambil berusaha tetap tenang. Setiap Varen melirik ke arah Ticia. Saat itu Ticia sedang menatapnya dengan kesal. Tapi, begitu Varen menoleh. Ticia akan pura-pura tidak melihatnya. Ticia akan mengalihkan pandangannya.


"Yuk kita samperin!" ajak Anabella.


Anabella dan Varen pun kembali ke meja semula. Di meja tersebut, Ticia dan Indah sedang menikmati makanan mereka. Anabella bukannya tidak tahu, Indah sedang menatapnya dengan kesal. Tapi demi bisa mendapatkan informasi, Anabella berusaha mengabaikan kekesalan Indah.


Anabella dan Varen terus aja ngobrol dan tidak menghiraukan tatapan tajam Indah. Sementara Ticia berusaha keras untuk terlihat biasa-biasa saja.


Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Keempat murid tersebut kembali ke kelas masing-masing.


Sampai di kelas. Sepanjang pelajaran berlangsung Ticia tidak seperti biasanya. Dia terlihat murung dan tidak berbicara sama sekali. Hal itu disadari oleh Indah dan Anabella.

__ADS_1


Karena hari pertama masuk sekolah. Pelajaran masih belum penuh. Jam 10 mereka sudah pulang. Indah mengajak Ticia untuk nongkrong dulu di kafe dekat sekolah mereka.


Ticia mengiyakan, tapi masih dengan murung. Indah tidak tega melihat wajah murung sahabatnya. Indah sempat memarahi Anabella atas tindakannya sebelumnya. "Kenapa lo tega sama Ticia? Dia salah apa sama lo?" bisik Indah dengan geram.


"Lo lihat aja, jangan mengacau!" jawab Anabella dengan tersenyum kecil.


Tentu saja Indah semakin marah melihat ekspresi Anabella yang sama sekali tidak merasa bersalah. Brakk.. Indah menggebrak meja dengan marah. "Lo keterlaluan ya An, gue nggak nyangka lo kayak gini sama Ticia. Gue kira lo sahabat, tapi ternyata lo musuh dalam selimut.." ucap Indah dengan marah.


"Terus kenapa? Apa gue salah kalau gue deketin kak Varen? Kak Varen juga udah putus kan sama Ticia?" tanya Anabella dengan santai.


"Lo bener-bener!" Indah semakin geram mendengar jawaban Anabella.


"Lo tahu kan kalau kak Varen itu pacar sahabat lo?"


"Mantan pacar, tepatnya." sahut Anabella dengan cepat.


"Terserahlah, mau pacar atau mantan pacar, yang jelas Ticia sama kak Varen masih sama-sama suka." Indah tidak bisa mengontrol emosinya.


"Bener lo masih suka sama kak Varen?" tanya Anabella kepada Ticia yang merasa terpukul dengan pertengkaran yang terjadi antara Indah dan Anabella karena dirinya.


"Jujur aja Cia, jangan bohongin perasaan lo, kalau sebenarnya lo masih suka kan sama kak Varen?" Indah memeluk Ticia yang terdiam dan terlihat sangat sedih.


Di dalam pelukan Indah. Barulah Ticia bisa menangis tersedu-sedu. Ticia tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Dia masih mencintai lelaki itu. Dia cemburu melihat kedekatan Anabella dengan lelaki itu.


Anabella tersenyum kecil. Bukannya dia tidak bersimpati kepada sahabatnya. Tapi akhirnya dia berhasil membuat Ticia mengaku jika dia masih menyukai Varen. Meskipun Ticia tidak mengatakannya. Tapi Anabella tahu dari tangisan yang Ticia yang begitu menyedihkan.


"Kalau lo masih cinta, kenapa lo putusin kak Varen, Cia?" tanya Anabella.

__ADS_1


Ticia mengusap air matanya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Anabella.


"Lo udah nggak anggep kita sahabat lo lagi, makanya lo nggak mau berbagi kesedihan lo sama kita?" tanya Anabella lagi.


Beberapa saat terdiam. Akhirnya Ticia menceritakan alasan kenapa dia memutuskan hubungannya dengan Varen. Ticia mengatakan jika papanya Varen menemuinya dan meminta dia buat mengakhiri hubungan mereka.


"Lo bukan orang yang mudah diintimidasi," sahut Anabella tidak percaya jika Ticia akan semudah itu menyerah. Itu bukan seperti Ticia yang dia kenal.


"Gue harus gimana An? Gue cinta sama kak Varen, tapi gue nggak mau egois. Kalau gue terus sama dia, dia akan kehilangan keluarganya yang utuh, karena papanya harus nikahin mamanya Rose, sementara jika gue lanjut sama dia, itu berarti gue jahat sama dia." Ticia kembali mengusap air mata yang kembali menetes. Merasakan hatinya yang sakit.


"Suatu saat, gue ama dia juga bakal berpisah. Dan pada saat itu juga, dia kehilangan segalanya. Kehilangan gue, dan juga keluarga yang lebih dulu hilang." lanjut Ticia dengan sedih.


"Jadi lo korbanin hati lo untuk dia, supaya dia bisa memiliki keluarga yang utuh lagi?" Ticia menganggukan kepalanya. Jujur, saat itu Anabella benar-benar bangga memiliki sahabat seperti Ticia, yang rela korbanin perasaannya demi kebahagian orang lain.


"Papa dan mamanya akan selalu bersama dia, sementara gue kan, entah kapan, pasti akan pergi dari hidupnya. Di dunia ini, yang paling menyayangi dan mencintai kita adalah papa dan mama kita." lanjut Ticia.


Indah dan Anabella memeluk Ticia dengan begitu erat. Mereka tidak tahu seperti apa rasa sakit yang dialami Ticia saat ini. Yang mereka tahu, Ticia wanita yang kuat. Dan mereka akan selalu mendukungnya.


"Jadi kayaknya lo cocok deh sama kak Varen, kalian kan seiman." ucap Ticia dengan tersenyum kecil.


"Nggak, gue nggak mau dapat bekas sahabat gue." jawab Anabella dengan sedikit berseru. Dia tidak benar-benar ingin berhubungan dengan Varen. Dia sengaja melakukannya untuk membuat Ticia cemburu. Dan akhirnya mengetahui alasan kenapa Ticia menyerah dengan hubungannya.


"Tadi aja lo genit ke kak Varen.." Indah mendorong kepala Anabella untuk meluapkan kekesalannya yang sudah menumpuk sedari pagi.


"Gue kan cuma pengen bikin Ticia cemburu, dan menggali informasi aja. Lagian siapa suruh dia pendem semua ini sendiri." jawab Anabella.


"Tapi kak Varen kalau dilihat dari dekat, ganteng banget anj*r, kayak Kim Taehyung BTS." Anabella terpesona dengan ketampanan Varen.

__ADS_1


"Kalau jelek, mana munngkin gue mau." sahut dengan tertawa.


"Ciee...." Indah dan Anabella juga ikutan tertawa. Akhirnya Ticia merasa lega karena bisa mengungkap isi hatinya. Setidaknya beban pikirannya bisa lebih ringan setelah dia berbagi cerita dengan sahabat-sahabatnya.


__ADS_2