
Di sebuah restoran kelas menengah yang berada di pesisir pantai. Ada seorang wanita paruh baya yang sedang melayani para pembeli. Meskipun lebih tua daripada pelayan yang lain. Tapi semangat wanita tersebut tidak kalah dengan yang lain.
Dengan penuh semangat, dia mengatur para pekerja lainnya untuk segera menghidangkan makanan pesanana pelanggan. Dengan sopan pula, dia menyambut para tamu yang datang ke restoran dengan menu andalannya ialah ikan bakar.
"Silahkan bapak makanannya, selamat menikmati!" ucapnya dengan ramah dan sopan.
Pujian demi pujian dilontarkan oleh para pengunjung yang sudah lama berlangganan di resto tersebut. Para pengunjung memuji keramahan dan kesopanan wanita yang diketahui sebagai pemilik resto tersebut.
Bukan hanya karena attitude pemiliknya. Tapi juga karena rasa masakan yang enak, dan harganya yang terjangkau.
Resto tersebut telah berdiri selama dua tahun. Dengan memanfaatkan view yang indah, yang langsung menghadap ke pantai. Resto tersebut tidak butuh waktu lama untuk bisa memikat hati pada pelancong.
Ibu Dina selaku pemilik resto tersebut, sangatlah pandai dalam hal masa memasak. Hanya butuh waktu dua tahun, dia bisa mampu mengubah tempat yang dulunya hanyalah pondok kecil. Berubah menjadi sebuah restoran yang lumayan besar, dengan memiliki belasan karyawan.
"Eh,, maaf.. maaf, saya nggak lihat-lihat, maaf.." ucap bu Dina ketika tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang yang baru saja masuk ke dalam resto tersebut.
Lelaki paruh baya dan bertumbuh tinggi tersebut hanya tersenyum sambil membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan. Lelaki paruh baya tersebut adalah Darwis. Dia datang ke tempat tersebut karena lapar, setelah ia menikmati indahnya pantai yang tidak pernah sepi pengunjung tersebut.
Darwis datang bersama Jane. Mereka sengaja menghabiskan weekend ke pantai tersebut. Mereka datang hanya berdua, tanpa anak-anak mereka.
"Kamu nggak apa-apa mas?" tanya Jane sambil membantu membenahi baju Darwis.
"Maaf, saya nggak-"
"Mas Dar..wis." bu Dina berkata dengan gugup. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum pahit ketika melihat seorang wanita bersama dengan Darwis. Karena terlihat jika hubungan mereka bukanlah hubungan antara rekan bisnis.
"Dina," Darwis sempat kaget melihat wanita yang telah meninggalkan dia selama dua tahun tersebut.
"Din..Dina," bukan hanya Darwis yang kaget melihat bu Dina sang pemilik resto tersebut. Jane juga tidak menyangka jika dia akan ketemu sahabatnya di tempat tersebut.
Dina secara spontan berbalik badan dan keluar dari restoran tersebut. Dia tidak berharap ketemu dengan lelaki itu. Dan tidak ingin lelaki itu tahu jika dialah pemilik dari resto tersebut.
__ADS_1
"Din!! Dina!!" Darwis berlari menyusul wanita yang masih berstatus sebagai istrinya tersebut.
"Mas Darwis!!" Jane mengikuti Darwis yang sedang berusaha mengejar Dina.
"Din!" Darwis berhasil meraih tangan Dina.
"Kamu kemana aja?" tanyanya. Ada rasa rindu dan kecewa di dalam hati Darwis yang sulit untuk di ungkapkan.
"Lepasin mas!" pinta Dina dengan menarik tangannya.
"Nggak akan! Kamu bilang dimana kamu tinggal saat ini?"
"Buat apa mas tahu?"
"Aku masih suami kamu,"
"Sejak saat mas tidak percaya sama aku, aku bukan lagi istri mas."
Darwis menyadari keberadaan Jane di belakangnya. Dia menjadi bingung apa yang akan dia lakukan setelah ini. Jauh di dasar hatinya. Dia masih sangat mencintai istrinya. Tapi dia juga tidak mau menyakiti Jane. Karena selama Dina pergi. Jane-lah yang selalu ada buat dia.
"Kamu boleh marah sama aku, atau benci sama aku. Tapi jangan pernah lupain anak kita, Gio." ucap Darwis masih menahan tangan Dina.
Mendengar nama anaknya disebut. Tanpa terasa air mata Dina mengalir dengan begitu deras. Sejujurnya dia sangat merindukan putra semata wayangnya. Selama ini bukannya dia tidak pernah ingin ketemu anaknya. Tapi dia merasa takut. Takut jika dia akan di kurung oleh suaminya jika suaminya menemukan dia. Sementara dia sudah tidak mau tinggal bersama suaminya, karena suaminya tidak mempercayainya.
Hubungan tanpa adanya kepercayaan satu sama lain. Tidak akan membuat hubungan tersebut berjalan dengan baik. Hanya akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan.
"Pulang ya! Kalau kamu nggak mau pulang demi aku, setidaknya pulang demi anak kita!" bujuk Darwis.
Tanpa sadar, ucapan Darwis tersebut membuat Jane menjadi marah. Dia menarik tangan Darwis yang menahan tangan Dina. "Mas, kamu nggak hargai perasaan aku," protesnya.
"Jane, kamu tahu kan dia adalah ibunya Gio, anak aku. Aku nggak mau terus-terusan melihat anak aku satu-satunya bersedih karena kangen sama ibunya." Dalam pikiran Darwis, semua yang dia lakukan demi kebahagiaan anaknya. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Jane.
__ADS_1
"Din, please! Demi Gio." ucapnya kembali membujuk Dina.
Darwis sangat tahu. Dina sangat mencintai anaknya. Dina tidak akan mau membuat anaknya bersedih.
"Gio terus-terusan nanyain kamu, dia kangen sama kamu." lanjut Darwis semakin membuat Dina tak kuasa membendung air matanya. Demi anaknya sendiri, Darwis tidak mengindahkan wajah cemberut Jane.
.....
Pukul 10 malam, Varen baru tiba di rumah. Seperti biasa setelah menunggu Ticia ibadah di gereja. Dia dan Ticia nongkrong di tempat biasa dia dan teman-temannya nongkrong.
Saat Varen turun dari mobil. Dia sempat mengerutkan keningnya tatkala melihat mobil papanya terparkir di garasi rumah mereka. "Tumben papa pulang?" gumamnya seorang diri, setelah kemudian dia masuk ke dalam rumah.
Ketika dia berjalan melewati ruang tamu. Terdengar suara 'klik' dan seketika lampu di ruangan tersebut menyala semua. "Baru pulang sayank?" Varen di kagetkan dengan suara yang tidak asing lagi baginya.
Seketika Varen menoleh ke arah sumber suara tersebut. Sesosok wanita yang dia sangat rindukan, berdiri di depannya. Matanya berkali-kali berkedip, memastikan jika dia tidaklah bermimpi.
Cairan putih bening menetes di pipinya. Seakan tidak percaya jika sosok itu beneran mamanya. Varen hanya berdiri tanpa bergerak maju. Matanya terus menatap sosok wanita dengan rambut pendeknya.
"Mama kangen banget sama kamu sayank," sesosok wanita paruh baya tersebut berjalan dan mulai memeluk putra yang dia rindukan.
"Mama kemana aja? Kenapa mama tinggalin Gio?" tanya Varen dalam isak tangisnya. Rindu yang dia pendam selama dua tahun. Akhirnya terobati dengan pelukan yang masih saja menghangatkan.
"Maafin mama sayank, maafin mama!" Ibu dan anak tersebut tidak bisa membendung tangis bahagia mereka. Perasaan yang terikat satu sama lain.
"Mama jangan tinggalin Gio lagi! Kalau mama pergi, Mama harus ajak Gio! Gio nggak mau ditinggal sendiri lagi!" ucap Varen tidak mau lagi kehilangan mamanya.
Sementara Dina tidak berani berjanji apapun kepada anaknya. Varen masih terlalu muda untuk mengerti permasalahan kedua orang tuanya.
"Udah malam, yuk waktunya istirahat!" sahut papanya Varen.
"Mama tidur sama kamu aja ya? Mama masih kangen banget sama kamu.." itu hanyalah alasan Dina saja. Yang sebenarnya dia tidak mau tidur sekamar dengan papanya Varen. Dia mau pulang dan menginap untuk anaknya. Bukan untuk suaminya.
__ADS_1
Suami yang lebih percaya omongan orang dibandingkan perkataan istrinya sendiri. Membuat Dina merasa sakit di dalam hatinya.